Sukacita itu berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem

Peristiwa Natal di Bethlehem

Peristiwa Natal di Bethlehem

 

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11 – 12)

 

Saudara-saudari terkasih,
Hari Raya Natal merupakan suatu perayaan iman akan Allah yang menjadi manusia karena Kasih. Kata “Natal” sendiri mempunyai suatu makna yang mendalam. Bagi banyak orang, termasuk mereka yang belum atau tidak beriman, mendengar atau membayangkan arti kata “Natal” saja sudah membawa kegembiraan, sukacita, dan senyum bahagia. Bagi sebagian orang, Natal mungkin hanya identik dengan pesta, Santa Claus dan hadiah, lampu-lampu hias dan pohon natal yang bernyala dengan indah, atau mungkin aneka kue dan makanan yang lezat.
Akan tetapi, gambaran keliru akan arti Natal yang diciptakan oleh dunia modern saat ini, seringkali mengaburkan kita dari kenyataan dan misteri agung yang terjadi dalam Kandang hina di suatu kota kecil bernama Bethlehem.
Diawali dengan kabar sukacita dari Allah melalui malaikat-Nya, Gabriel, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, kemudian kepada Yosef, yang kemudian menjadi suami-Nya. Maria mungkin hanyalah seorang gadis sederhana, tetapi jawaban Imannya membuat gadis ini menjadi luar biasa, terberkati di antara semua wanita, mengguncangkan surga dalam sukacita, dan menempatkannya sebagai permata terindah dalam kekristenan. Seandainya tidak ada “Fiat” Maria, keselamatan tidak akan datang ke dalam dunia, dan selamanya kita akan tinggal dalam kegelapan. Pernyataan “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, menjadikan Maria sebagai saksi pertama dari sukacita Injil bagi seluruh umat manusia.
Dalam diri Yosef, suaminya, kita pun bisa melihat kebesaran hati yang berasal dari relasi pribadi-Nya yang mesra dengan Allah. Ketaatannya kepada hukum Tuhan, semakin sempurna dan nyata dalam ketaatannya menerima tugas sebagai suami Perawan Maria dan bapa pemelihara Tuhan kita Yesus Kristus. Sama seperti Maria, Yosef memberikan kita teladan bagaimana berjalan di tengah kegelapan iman. Kegelapan tidak lagi gelap bagi mereka, karena mereka telah dibutakan oleh cahaya kasih Ilahi.
Melalui permenungan akan peristiwa, tempat, dan tokoh lainnya dari peristiwa Natal ini, kita pun dapat merefleksikan bagaimana kita sendiri menyikapi kedatangan Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana Maria tergerak menempuh perjalanan mengunjungi Elisabeth untuk membagikan kabar sukacita, mengajar kita untuk tidak pernah menyimpan segala karunia, talenta, dan berkat Tuhan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbagi, agar orang lain turut mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu. Itulah kepenuhan sukacita kita.
Ketiadaan tempat menginap, pintu-pintu yang tertutup, ketukan dan salam tak berbalas, menggambarkan hati manusia yang seringkali tertutup terhadap keselamatan dari Allah, suatu ketakutan untuk meninggalkan manusia lama, keengganan untuk memutuskan persahabatan dengan dosa, suatu tindakan yang melukai hati Tuhan sebab memperlihatkan bagian terburuk dari hati manusia yang tidak mau disentuh dan diubah oleh sentuhan rahmat Ilahi.
Bahwa para Majus dari Timur keluar dari negeri mereka untuk melakukan perjalanan mengikuti cahaya bintang, mengungkapkan suatu sikap iman seperti Abraham yang keluar meninggalkan negerinya menuju Tanaj Terjanji. Bagaikan mempelai wanita dalam Kidung Agung yang keluar dari peraduannya untuk mencari Sang Kekasih yang telah melukainya dalam nyala api cinta. Inilah yang dimaksud oleh St. Yohanes dari Salib dalam kata-katanya, “Untuk memperoleh Yesus Kristus, Sang Segala, lepaskanlah segala.”

Penolakan Herodes dan nafsu membunuhnya yang berujung pada pembantaian kanak-kanak suci Bethlehem, menunjukkan bahwa ketika manusia secara sukarela menjadi budak dosa dan maut, dia sanggup melakukan hal-hal yang merupakan kekejian dan jahat di mata Tuhan, serta merusak citra Allah dalam diri-Nya. Kita pun bisa melihat hal yang sama saat ini di sekitar kita, dimana orang sanggup membunuh saudara dan saudarinya dalam nama Tuhan maupun ideologi yang keliru, bahkan lebih jahat dari Herodes, setiap hari kita mendengar maupun melihat ibu-ibu yang tega menggugurkan kandungannya, membunuh darah dagingnya sendiri.
Kenyataan bahwa para penggembala adalah yang pertama tiba untuk memberi hormat di depan Sang Bayi mungil Bethlehem, seolah memberikan suatu kenyataan bahwa seringkali misteri Ilahi lebih mudah diterima oleh hati yang sederhana, mereka yang merangkul putri kemiskinan adalah mereka yang pada akhirnya beroleh mutiara yang paling berharga. Mereka yang lemah lembut hatinyalah yang pada akhirnya akan memandang Allah.

Saudara-saudari terkasih,
Perayaan Natal pun adalah suatu perayaan keluarga. Sebagaimana Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dan dibesarkan dalam sebuah Keluarga Kudus yang mencintai hukum Tuhan serta saling mengasihi, demikian pula peristiwa Natal mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya untuk memelihara kehidupan bukannya melenyapkannya, untuk berpegang teguh pada moral Kristiani dan Ajaran Sosial Gereja. Tentu saja ini merupakan tantangan dan perjuangan Iman tersendiri di tengah dunia yang semakin mengerdilkan peran keluarga dalam membangun dunia, di saat penghargaan akan martabat manusia semakin rendah, dan di saat banyak orang mencoba memberikan makna dan bentuk baru yang keliru akan pernikahan dan keluarga. Di tengah kemerosotan tatanan hidup yang demikian, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya sukacita Natal, dan menghalau kegelapan. Jadilah keluarga yang kudus dan merasul! Jadilah putra-putri Gereja yang dengan dipenuhi sukacita Injil.

Kita kini hidup di tengah dunia yang semakin kehilangan sentuhan dengan yang ilahi. Gambaran-gambaran yang keliru dan kegemerlapan perayaan Natal palsu yang ditampilkan oleh dunia sekuler saat ini, telah mengaburkan iman kita dari kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dalam sebuah kandang hina Bethlehem. Ini pulalah yang selalu membawa Gereja pada kesadaran akan misinya bagi kaum miskin papa dan menderita, sekaligus mengingatkan Gereja untuk tidak jatuh dalam bahaya kemapanan dan kegemilangan harta. “Bagi saya, lebih baik Gereja itu rapuh, terluka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, ketimbang Gereja yang sakit lantaran tertutup dan sibuk memperhatikan kemapanannya sendiri,” demikian kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Saudara-saudari terkasih,
Makna Natal yang sejati adalah perayaan kasih Allah akan dunia. Suatu kabar sukacita yang secara sempurna terangkum dalam kata-kata St. Yohanes Rasul, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Sang Bayi mungil dari Bethlehem ini menjadi tanda bahwa kebesaran Allah bukan saja terlihat pada kemahakuasaan-Nya, melainkan juga dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati-Nya. Di saat banyak pemimpin dunia yang mencoba menunjukkan bahwa kekuasaan dan kehormatan hanya bisa didapat dari ketakutan, peperangan, pemaksaan kehendak, perbudakan dan dorongan untuk menghalalkan segala cara, serta melihat jabatan dan kekuasaan sebagai milik yang harus dipertahankan, di tengah segala semuanya itu misteri Natal menjadi tanda perbantahan, dimana Tuhan, Sang Raja Alam Semesta, justru memancarkan kemuliaan dan kuasa-Nya dalam kerapuhan dan ketidakberdayaan seorang Bayi. Dia dihormati dan disembah oleh surga dan bumi, karena kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya, dan menjadi manusia. “Allah menjadi manusia, supaya manusia menjadi Allah,” demikian gambaran indah dan tepat dari St. Athanasius mengenai misteri agung ini.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi penunjuk jalan yang aman bagi kita menuju Yesus, Putera-Nya, agar lewat tuntutan kasih keibuan dan doa-doanya, kita semakin dipenuhi sukacita yang berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem. Dia yang lahir dalam kesederhanaan, dalam kerapuhan seorang bayi, kiranya membuat kita tersungkur dalam kekaguman akan misteri agung cintakasih Allah ini.

Bersama dengan St. Josemaria Escriva, saya berdoa bagi anda sekalian, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.”
Selamat Natal. (vft)

Komersialisasi & Penyimpangan Tradisi Iman dari Perayaan Santa Claus / Sinterklas

Perayaan Santa Claus atau Sinterklas merupakan bagian yang kini tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Natal.
Namun, di banyak daerah dan negara, perayaan iman ini saat ini telah menyimpang dari tujuan awalnya dan cenderung mengaburkan arti Natal, yang berpusat pada kelahiran Putra Allah dalam diri Kanak-Kanak Yesus.
Santa Claus / Sinterklas telah menjadi tokoh komersil dan seringkali perayaannya di awal Desember telah menimbulkan berbagai dampak negatif lainnya, mulai dari kemacetan, pesta-pora, lahan bisnis, dll.

Karena itu, adalah tepat bagi kita untuk saat ini mencoba mengingat lagi siapa sebenarnya Santa Claus / Sinterklas, yang aslinya dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Santo Nikolaus.

Bersama Gereja Katolik sedunia, setiap tanggal 6 Desember ( hari ini ), kita memperingati Santo Nikolaus dari Myra, Uskup dan Pengaku Iman.

Santo Nikolaus a.k.a Santa Claus / Sinterklas tidak pernah hidup di Kutub Utara.
Santo Nikolaus lahir pada tahun 300-an di Parara, Asia Kecil dari sebuah keluarga yang kaya raya. Sejak masa mudanya ia sangat menyukai cara hidup bertapa dan melayani umat. Ia kemudian menjadi seorang pastor/imam yang sangat disukai umat. Harta warisan dari orangtuanya dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan amal, terutama untuk menolong orang-orang miskin. Sebagai pastor/imam, ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Yerusalem, ia dipilih menjadi Uskup dari kota Myra dan berkedudukan di Lycia, Asia Kecil (sekarang: Turki).
Santo Nikolaus dikenal di mana-mana. Ia termasuk orang kudus yang paling populer, sehingga dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya. Namun riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, selain bahwa ia dipilih menjadi Uskup kota Myra pada abad-4 yang berkedudukan di Lycia. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin. Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, ia menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat.

Ketenaran namanya sebagai uskup melahirkan berbagai cerita sanjungan. Sangat banyak cerita yang menarik dan mengharukan. Salah satu cerita yang terkenal ialah cerita tentang tiga orang gadis yang diselamatkannya: konon ada seorang bapa tak mampu menyelenggarakan perkawinan ketiga orang anak gadisnya. Ia orang miskin. Karena itu ia berniat memasukkan ketiga putrinya itu ke tempat pelacuran. Hal ini didengar oleh Uskup Nikolaus. Pada suatu malam secara diam-diam Uskup Nikolas melemparkan tiga bongkah emas ke dalam kamar bapa itu. Dengan demikian selamatlah tiga puteri itu dari lembah dosa. Mereka kemudian dapat menikah secara terhormat.

Cerita yang lain berkaitan dengan kelaparan hebat yang dialami umatnya. Sewaktu Asia Kecil dilanda paceklik/kemarau panjang yang hebat, Nikolaus mondar-mandir ke daerah-daerah lain untuk minta bantuan bagi umatnya. Ia kembali dengan sebuah kapal yang sarat dengan muatan gandum dan buah-buahan. Namun, tanpa sepengetahuannya, beberapa penjahat yang dirasuki iblis bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Segera Nikolaus membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan seketika itu juga para penjahat hitam itu berbalik menjadi pembantunya yang setia.

Nikolaus adalah Santo Nasional & Pelindung Negara Rusia. Kisah tentang tertolongnya ketiga puteri di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Santo Nikolaus sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisi yang paling populer ialah tradisi pembagian hadiah kepada anak-anak pada waktu Pesta Natal oleh orangtuanya melalui ‘Sinterklas’. Tradisi ini diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolaus sebagai tukang sulap bernama Santa Claus. “Sinterklas”, yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak nakal.

Santo Nikolaus meninggal dunia di Myra pada akhir abad-4, dan dimakamkan di Gereja Katedral Katolik di kota itu. Relikuinya kemudian dicuri orang pada tahun 1807. Sekarang relikui itu disemayamkan di sebuah Gereja Katolik di Bari, Italia.

Kalau kita hendak memperingati beliau, maka hendaknya kita merayakannya dengan melakukan karya pelayanan cintakasih kepada sesama, bukan dengan pesta-pora, konvoi kendaraan, menjadikannya lahan bisnis, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kita memperingati-nya dengan berusaha melihat & mencintai dan melayani Yesus dalam diri semua orang di sekitar kita.

View on Path