HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI SANTA PERAWAN MARIA

image

Bacaan I
2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16
Mazmur Tanggapan
Mazmur 89: 2-3,4-5,27,29
Bacaan II
Roma 4: 13,16-18,22
BACAAN INJIL
Matius 1: 16.18-21.24a
atau
Lukas 2: 41-51a

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Yosef, Suami dari Santa Perawan Maria dan Bapa Pemelihara dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sesudah Santa Perawan Maria, Santo Yosef adalah orang Kudus terbesar dan paling dihormati dalam Gereja.
Kenapa Gereja begitu menghormati St. Yosef, bahkan menjadikannya sebagai Pelindung Gereja universal?
Dalam Kitab Suci sendiri, tidak pernah tercatat sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef.
Kalau demikian, dimanakah letak kebesaran St. Yosef?
Kebesaran St. Yosef nampak dalam penyerahan dirinya secara total kepada kehendak Allah, tanpa banyak bicara. Dialah hamba yang lurus, bijaksana, tekun, dan setia. Dengan penuh tanggung jawab, St. Yosef memelihara Keluarga Kudus, menjaga serta melindunginya.
Kitab Suci mencatat betapa lurusnya hati St. Yosef, yang ketika mengetahui bahwa St. Maria sudah mengandung sebelum mereka berumah tangga, hendak menceraikannya secara diam-diam, karena tidak ingin mempermalukan St. Maria dan tidak ingin mendatangkan fitnah dan bahaya lainnya atas Perawan Suci.
Kitab Suci juga mencatat bagaimana St. Yosef bergumul dalam Tuhan, untuk sungguh-sungguh memikirkan keputusannya, membawanya dalam doa setiap hari.
Karena itu, manakala malaikat Tuhan menampakkan diri untuk memberitahukan bahwa St. Perawan Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dalam kesetiaannya kepada Allah, St. Yosef menerima tugasnya untuk menjadi Bapa Pemelihara Keluarga Kudus.
Salah satu ujian terakhir St. Yosef, yang juga tercatat dengan begitu indahnya dalam Kitab Suci, adalah peristiwa diketemukannya Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, setelah dengan susah payah dicari selama tiga hari. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef. Dalam keheningan, sekali lagi dia menunjukkan kebijaksanaan sejati yang tidak sedikitpun mempertanyakan rancangan Tuhan. Tanpa kata-kata, seluruh hidup St. Yosef adalah suatu pemberian diri yang total dan kepercayaan tanpa batas kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kenyataan bahwa St. Yosef melakukan semuanya itu di dalam suatu kegelapan iman, dan keberaniannya untuk melangkah di dalam gelap, menunjukkan betapa cahaya Tuhan bersinar begitu cemerlang di dalam hatinya, sehingga malam tidak lagi gelap baginya.

Bagi kita di masa sekarang ini, St. Yosef adalah teladan beriman. Bagi para pekerja, St. Yosef adalah teladan bagaimana menunaikan segala tugas dan tanggung jawab dengan hasil akhir yang mengagumkan dan mendatangkan pujian bagi karya Allah. Bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam dunia yang serba instan dan modern ini, St. Yosef sungguh menjadi gambaran sempurna dari keluhuran Sakramen Perkawinan. Ketika menerima St. Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan kendati bukan ayah biologis dari Tuhan Yesus, perhatian dan kasih sayang yang total dari St. Yosef, menjadi tamparan bagi banyak pasangan hidup dewasa ini yang dengan mudahnya menyerah di saat mengalami berbagai tantangan dan badai pergumulan hidup. St. Yosef mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang tak bersyarat. Kenyataan bahwa St. Maria tetap Perawan sesudah menikah sampai wafatnya St. Yosef, sekali lagi menjadi refleksi Iman bagi keluarga-keluarga Kristiani maupun bagi mereka yang menjalani hidup berelasi hanya sebagai sarana pemuas hawa nafsu belaka, bahwa cinta yang sejati tidak harus memiliki.

Hari Raya St. Yosef mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai luhur dari Sakramen Perkawinan, akan hidup sebagai keluarga Kristiani yang sejati, serta bagaimana menjadi hamba Allah yang lurus, tekun, setia, dan bijaksana, sehingga pada senja hidup kita, sebagaimana St. Yosef, kita pun boleh mendengar suara lembut dari surga yang menyambut kita, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Antifon Komuni bdk. Mat.25:21)

Terpujilah nama Yesus, Maria, dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya.

Pax, in aeternum.
Fernando