Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Meditasi Harian 28 Desember 2015 ~ PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR

TUMPULNYA HATI NURANI

image

Bacaan:
1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18

Renungan:
Salah satu indikasi seorang semakin jauh dari Tuhan dan jalan-jalan-Nya adalah tumpulnya Hati Nurani.
Ketika seorang mengalami ketumpulan hati nurani, maka dia akan mengabaikan apa yang baik dan benar. Kegemarannya bukanlah melakukan kehendak Tuhan, melainkan membuat jurang pemisah antara dia dan Allah, melukai Hati Tuhan, dan menjadi tuli terhadap Suara Tuhan yang bergema di hatinya. Seiring dengan itu, hidupnya mulai mengalami ketiadaan rahmat, dan tindak tanduknya semakin menciptakan permusuhan antara dia dengan Allah.

Itulah yang terjadi dengan Herodes dalam Injil hari ini. Raja Herodes telah menjadi gelap hati, kemudian secara tahu dan mau menolak Sang Cahaya.
Keinginannya untuk membunuh Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus berbuah pada keluarnya titah pada waktu itu untuk melakukan pembantaian teramat biadab, yakni pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem.
Bacaan pertama hari ini, hendaknya mencerahkan budi kita untuk merefleksikan hidup beriman kita, apakah kita pun pernah mengalami tumpulnya hati nurani. Rasul Yohanes mengatakan,
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1Yoh.1:5-6)

Di sepanjang sejarah kemanusiaan, termasuk hidup kita sendiri, kita pun melihat dan menyaksikan banyak hal yang sulit dimengerti oleh hati manusia yang mencintai Allah.
Bagaimana mungkin orang sanggup meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri di pasar, menggorok leher sesama manusia, memperkosa wanita-wanita tak berdaya sampai mati dalam trauma berat, dan semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan dan Agama?

Ada banyak hal dan peristiwa dalam dunia saat ini dimana kegelapan seolah merajai hati manusia, sehingga mendorong banyak orang untuk bertanya, “Dimanakah Allah?

Dalam Injil hari ini kita membaca bagaimana ketumpulan hati nurani dalam diri Raja Herodes, membuat dia tega membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Akan tetapi dunia dimana kita hidup saat ini pun setiap hari menjadi saksi bagaimana para Ibu begitu tega membunuh anak-anak mereka, dengan keji melenyapkan darah daging mereka sendiri melalui tindakan aborsi terencana, atau membuang anak-anak mereka setelah terlahir, untuk dibiarkan mati tergeletak di jalan-jalan dunia ini.

Dalam jeritan kemanusiaan, Beata Teresa dari Kalkutta (Mother Teresa) pun dengan sedih mengatakan,
Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.

Di saat dunia kini seolah mengalami ketiadaan Allah – ketiadaan Sang Kasih, Pesta Kanak-Kanak Suci di Hari Keempat dalam Oktaf Natal mengajak kita sekalian untuk menyadari kebenaran ini.
Tuhan selalu Ada. Dunia boleh saja menyebarkan kebohongan, dan mengatakan Dia sudah mati atau tidak ada.
Tetapi sesungguhnya, Tuhan selalu Ada.
Kitalah yang seringkali menolak kehadiran-Nya, membiarkan diri kita tenggelam dalam lumpur dosa yang berujung pada tumpulnya hati nurani.
Maka, bila kita sungguh ingin memiliki kedamaian dan sukacita, datanglah mendekat kepada Bayi Yesus dalam palungan di Bethlehem.

Hanya Dia yang terbaring seolah tak berdaya dalam rupa insani, yang sanggup untuk melembutkan hatimu serta membawa cahaya dalam jiwamu.
Bila Terang itu telah berdiam di hatimu, maka kamu pun akan sanggup membawa cahaya untuk menerangi lorong-lorong dunia ini dan mengenyahkan kegelapan.
Inilah panggilan kita, suatu kerasulan suci untuk menjadi pembawa damai.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi pemandu yang aman bagi kita, untuk menjalani hidup Kristiani secara otentik dan meyakinkan, sekalipun karenanya kita mungkin saja harus menghadapi kemartiran seperti Kanak-Kanak Suci dari Bethlehem.
Jangan Takut!
Kristus telah datang ke dalam dunia, dan telah memenangkan kita dengan Darah Suci-Nya. (bdk.1Yoh.1:7)
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm.124:8)
Berlututlah di hadapan Sang Bayi Suci, dan berilah dirimu diubahkan oleh-Nya. Kemudian berdirilah seperti seorang Kesatria, dan menangkanlah dunia ini dalam nama-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Jumat V Prapaska

image

SIAP SEDIALAH UNTUK DITOLAK

Bacaan:
Yer.20:10-13; Mzm.18:2-3a.3bc-4.5-6.7; Yoh.10:31-42

Renungan:
Meskipun bangsa Yahudi melihat betapa mengagumkan karya Allah yang bekerja di dalam diri Tuhan Yesus, pengajaran-Nya yang penuh hikmat dan kuasa, penyembuhan yang Ia kerjakan, pengusiran roh-roh jahat yang Ia lakukan, bahkan sekalipun mereka melihat sendiri bagaimana Yesus membangkitkan orang mati, toh mereka tetap menolak Yesus.
Keberatan utama yang menyebabkan bangsa Yahudi menolak Yesus bukanlah pada “perbuatan baik” yang Ia kerjakan, melainkan pada pengakuan Yesus akan Diri-Nya sebagai “Anak Allah”.
Dalam bacaan hari ini kita mendapati kenyataan lain dari penolakan banyak orang untuk menerima sukacita Injil.
Terlepas dari banyaknya perbuatan baik yang kita lakukan bagi sesama, tak jarang kita ditolak bukan karena perbuatan-perbuatan baik itu, melainkan semata-mata karena kita adalah seorang Kristen, putra-putri Allah.
Di banyak negara dan tempat, setiap hari kita mendengar dan menyaksikan putra-putri Gereja menderita penganiayaan, penolakan, bahkan dibunuh karena Kristus. Banyak karya misi yang bertujuan memberi hidup dan mengembalikan martabat manusia ditolak semata-mata karena karya baik itu dilakukan oleh anak-anak Allah.
Kita pun terkadang mengalami penolakan serupa dalam karya kerasulan kita.
Mengalami perlakuan demikian, dalam bacaan pertama kita bisa mengerti akan rasa frustasi dan kekecewaan yang dialami oleh Nabi Yeremia. Tidak hanya Yeremia, di sepanjang sejarah pun kita menyaksikan dalam hidup para kudus, baik nabi, rasul, martir, serta para saksi iman, bagaimana mereka mengalami penolakan, rasa frustasi dan kekecewaan serupa dari sesama mereka, bahkan penolakan itu datang dari orang-orang yang terdekat dengan mereka.
Sejenak kita bisa memahami pula latar belakang dari seruan terkenal Improperia, yang sering kita dengarkan dalam Liturgi pada Jumat Agung, Popule meus, quid feci tibi? Aut in quo contris tavite? Responde mihi!” ~ “Hai umat-Ku, apa salah-Ku padamu? Kapan Aku menyusahkanmu? Jawablah Aku!”
Penolakan akan selalu ada. Akan tetapi, waspadalah!
Jangan sampai karena tidak ingin ditolak dalam melakukan perbuatan baik, kita kemudian berkompromi dengan dunia, dan menanggalkan identitas Kristiani kita, ke-Katolik-an kita.
Sekolah dan rumah sakit Katolik begitu dikenal karena kualitasnya, tetapi jangan pernah lupa apa yang menjiwai itu semua.
Anda mungkin seorang atlit Katolik yang meraih prestasi luar biasa dalam suatu pertandingan olahraga, tetapi jangan pernah lupa semangat Iman yang memampukan anda melalui berbagai hal untuk sampai disitu.
Seorang pengacara Katolik dapat memenangkan banyak perkara di pengadilan, tetapi jangan pernah memutarbalikkan apa yang adil dan benar, hanya karena uang dan ketakutan kehilangan klien.
Kita semua dipanggil untuk menjadi Katolik sejati, yang membawa Kristus di tengah dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, “apapun” resikonya.
Sama seperti Tuhan dan Penyelamat kita mengalami penolakan, demikian pula kita.
Inilah konsekuensi dari Iman Kristiani kita.
Kendati demikian, belajarlah dari Tuhan Yesus dan para kudus. Di tengah semua penolakan, kekecewaan, air mata, dan ketika darah mereka harus mengalir, bahkan sampai kehilangan nyawa karenanya, dalam kesetiaan iman mereka tetap dipenuhi dengan cinta yang meluap-luap akan sesama, untuk melayani dan mengasihi tanpa batas.
St. Josemaría Escrivá mengatakan, “Seandainya seluruh dunia dengan segala kekuatannya melawanmu, mengapa hal tersebut merisaukan hatimu? Engkau, majulah terus!”
Semoga kita selalu menemukan kekuatan pada Salib Tuhan. Semoga Perawan Suci Maria, hamba Allah yang setia, selalu menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya dalam menjalankan tugas kerasulan kita dengan gembira, dipenuhi sukacita Injil, agar semua orang boleh melihat perbuatan kita yang baik, dan memuliakan Allah Bapa di surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu IV Prapaska

image

BAPA KAMI

Bacaan:
Yes.49:8-15; Mzm.145:8-9.13cd-14,17-18; Yoh.5:17-30

Renungan:
Menyapa Allah sebagai “Bapa” merupakan salah satu anugerah terindah dari panggilan kita sebagai seorang Kristiani. Tetapi, sapaan ini menuntut dari kita tanggung jawab untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang “Anak”.
Untuk berjalan seirama dengan gerak cinta Bapa, menghendaki apa yang Dia kehendaki, meratapi apa yang Dia ratapi, dan mencintai apa yang Dia cintai.
Adalah tidak mungkin pula menyapa Bapa dalam doa, tanpa diikuti oleh kata “Kami”. Oleh karena itu, martabat luhur kita sebagai seorang anak hanya akan menemukan kepenuhan makna dalam kesatuan kita dengan Gereja. Di dalam Gereja kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian, dan bersama seluruh umat Allah, putra-putri Bapa, kita boleh dengan lantang berseru “Bapa Kami”.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, Putra terkasih Bapa. Dialah gambaran sempurna bagaimana menjadi seorang Anak.

Pax, in aeternum.
Fernando

Kebahagiaan Yang Kita Cari Memiliki Sebuah Nama

Seeking God

Manusia senantiasa mencari TUHAN

MINGGU BIASA II (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 49: 3.5.6

Mazmur Tanggapan – Mzm 40: 2. 4ab. 7-8a. 8b-9. 10

Bacaan II – 1 Korintus 1: 1-3

Bacaan Injil – Yohanes 1: 29-34

 

KEBAHAGIAN YANG KITA CARI MEMILIKI SEBUAH NAMA

“Aku rindu menanti-nantikan Tuhan…Ia membuat aku melagukan madah baru untuk memuji-muji nama-Nya.” (Mzm.40: 2a.4ab) Demikianlah pemazmur menungkapkan cintanya kepada Tuhan. Cinta yang dipenuhi kerinduan. Suatu kerinduan akan Allah yang kemudian diberi nama “Agama”. Darimana kerinduan ini berasal? Allah sendirilah yang telah menaruh ke dalam hati kita, kerinduan untuk mencari dan menemukan-Nya. Santo Agustinus dari Hippo berkata, “Engkau telah mencipta kami bagi diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Kerinduan ini diberikan-Nya bagi kita, agar kita senantiasa mencari Dia dalam cinta, sehingga manakala pada akhirnya menemukan Dia, hati kita akan meluap dalam kebahagiaan yang tak terkatakan.

Untuk menjawab kerinduan manusia, dalam belas kasih-Nya yang teramat besar, Allah berkenan mengungkapkan diri-Nya dengan berbagai cara. Di masa lampau, Ia menyapa kita dengan perantaraan para Nabi, namun pada zaman akhir ini, Ia menyapa kita dan membiarkan kita menemukan dia dalam diri Yesus Kristus, Putra-Nya. “Kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan yang berhak kamu nikmati, memiliki nama dan wajah, yaitu Yesus dari Nazaret,” demikian kata Paus emeritus Benediktus XVI.

Ribuan tahun yang lalu, secara tersamar Allah telah memperkenalkan kedatangan Putra-Nya kepada umat-Nya melalui nubuat Nabi Yesaya akan Hamba Yahwe. Hamba Yahwe ini, yakni Yesus Kristus, akan membawa para bangsa pada pengenalan akan Allah secara sempurna, dan menghantar umat Allah dari kegelapan kepada cahaya Ilahi. (Bdk.Yes.49:5-6) Di dalam Dia, manusia akan menemukan keagungan Allah, jawaban atas kerinduan mereka. Di dalam Dia, semua orang percaya akan dikuduskan sebagai milik-Nya, umat kesayangan-Nya. Demikianlah Paulus mengungkapkan anugerah agung ini, dalam salamnya kepada jemaat di Korintus. (Bdk.1Kor.1:2) Lebih jauh lagi, dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Pembaptis menyebut Yesus, Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. (Bdk.Yoh.1:29b) Pada saat itu, Yohanes Pembaptis secara resmi memperkenalkan kepada dunia siapa Yesus, dan sekaligus mengungkapkan rancangan keselamatan Tuhan dalam Hamba penderita ini.

Misa Tridentine

Misa Tridentine

Oleh karena itu, hari ini Gereja mengajak kita semua untuk memandang Anak Domba Allah, Sumber Kebahagiaan dan Sukacita kita. Dalam diri Yesus, Allah tidak hanya memperkenankan kita memandang dan menemukan Dia. Dalam diri Yesus, Sang Anak Domba Allah, Allah sendiri mengurbankan diri-Nya, dan untuk menebus dosa kita serta memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya, yang telah dirusak oleh dosa melalui tipu muslihat si jahat. Kurban Suci inilah yang dianugerahkan-Nya kepada Gereja sebagai sumber kebahagian dan sukacita sejati. Inilah anugerah terindah yang setiap hari kita rayakan dalam Misa Kudus, yakni bahwa Allah bukan hanya berkenan untuk dicari, ditemukan, dan dipandang, melainkan lebih dari itu, Dia berkenan menjadi kurban pepulih dan santapan surgawi bagi kita, agar kita mengambil bagian secara sempurna dalam kemuliaan-Nya. Dalam Misa Kudus, Sang Kebahagiaan Sejati ini, memiliki sebuah nama yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup Gereja, dan yang telah menjadi sumber hidup Gereja sejak berdirinya sampai akhir akhir zaman nanti. Itulah Ekaristi.

Setiap hari, anda dan saya dapat menemukan Dia dalam Ekaristi. Dengan menyantap Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya, kita menjadi satu dengan Dia, sekaligus menemukan keutuhan kita dalam kesatuan dengan Gereja, Tubuh Mistik Kristus. Karena itu, setiap orang yang menjauhkan diri dari Ekaristi, sebenarnya menjauhkan diri dari Allah, dan memisahkan diri dari kesatuan dengan seluruh Gereja. Betapa malangnya hidup yang demikian. Tidak ada sengsara yang lebih mengerikan daripada keterpisahan dengan Kristus, Sang Sumber Hidup.

Cintailah Misa Kudus. Datanglah menyambut Tubuh dan Darah Tuhan setiap hari.  Dia selalu merindukan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam kurban Ekaristi. Inilah sumber dan daya hidup Gereja. Inilah obat Ilahi yang memulihkan kemanusiaan kita, sekaligus menyempurnakan ke-Ilahi-an kita. Inilah sumber kekuatan yang memampukan kita untuk mengasihi dan melayani, sehingga sebuah keluarga dapat senantiasa bersekutu dalam doa serta saling mengasihi, seorang Imam dapat menjadi gembala yang baik bagi domba-dombanya, seorang suster/biarawati dapat merawat para penderita kusta dengan penuh cinta, seorang hakim dapat menolak suap dan memutuskan perkara dengan adil, seorang pemuda dapat mengatakan tidak pada narkotika dan obat-obatan terlarang, serta pasangan suami-istri dapat tetap setia dalam Sakramen Pernikahan di tengah segala badai pergumulan hidup. Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Ekaristi, senantiasa menemani kita dalam peziarahan di dunia ini, dan menghantar kita pada pengenalan akan Allah secara sempurna, sehingga kita boleh bersatu dengan Sang Anak Domba Allah, yang menghapus dosa-dosa dunia. ( Verol Fernando Taole )