Meditasi Harian 9 Juli 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

JANGAN SALAH PILIH !

Bacaan:

Yes.6:1-8; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Mat.10:24-33


Renungan:

Kendati berawal dari Timur, Iman Kristiani sama sekali tidak mengenal atau memiliki paham mistik Timur “Yin-Yang“. Analogi demikian “mungkin” dapat dibenarkan dalam penerapan hidup bermasyarakat lainnya, tetapi tidak pernah boleh ada dalam hidup beriman seorang Kristen. Kita tidak pernah dibenarkan untuk mencari titik keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau antara Terang dan Gelap. Iman Kristiani tidak mengenal daerah neutral. Sikap suam-suam kuku, berdiri di antara 2 pilihan, haram hukumnya bagi seorang Kristen. Hanya ada 2 pilihan: Anda berdiri di pihak ALLAH, atau berdiri di pihak Si Jahat. Jangan salah pilih! Kesalahan memilih berakibat kehilangan hidup kekal dan kemuliaan surgawi. Pilihlah ALLAH dan lakukanlah Karya-Nya! Memilih ALLAH berarti menolak Setan dengan segala perbuatan dan tawarannya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.10:32-33). 

Seperti serafim yang memurnikan kenajisan dengan sentuhan bara pada bibir Yesaya (Yes.6:6-7), demikian pula santapan Ekaristi telah menyentuh bibir rohani kita. Daya hidup Ekaristi telah mengalir dan memurnikan panggilan kita, serta mengobarkan Api Kerasulan yang mendorong kita untuk bekerja segiat-giatnya bagi Kerajaan Allah. Jangan jadi orang Kristen setengah-setengah!

Semoga Santa Perawan Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada ALLAH, menyertai perjalanan panggilan kita agar setiap kali Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita menjadi rasul-rasul Ekaristi yang dengan lantang menjawab,  “Ini aku, utuslah aku!” (Yes.6:8).
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Oktober 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XXVII

image

KALAHKANLAH SI JAHAT !

Bacaan:
Yl.1:13-15 & 2:1-2; Mzm.9:2-3.6.16.8-9; Luk.11:15-26

Renungan:
Kejahatan itu bukan sekadar suatu kenyataan, melainkan pribadi yang benar-benar ada. Bukan sekadar realitas, melainkan entitas. Meskipun terkadang dapat disalah mengerti dengan penyakit-penyakit zaman ini, Si Jahat bukanlah sekadar sejenis penyakit yang tidak bisa dijelaskan pada situasi, tempat atau, keadaan dimana manifestasinya terjadi.
Dia adalah pribadi yang nyata, yang dengan racun kedosaannya telah merusak relasi umat manusia dengan Allah, dan menjadi akar penyebab rupa-rupa kemunduran beriman, kerusakan, peperangan, penderitaan, serta berbagai bentuk kejahatan di segala zaman.
Dengan berbagai cara ia melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.
Di sepanjang sejarah kemanusiaan, Si Jahat ini dikenal dengan berbagai nama: Beelzebul, setan, bapa segala dusta, pangeran kegelapan, iblis, lucifer, ho diabolos, si pendakwa, penguasa dunia, hanyalah sebagian dari sekian banyak namanya.

Tidak hanya dalam Injil Lukas yang kita baca hari ini, di berbagai bagian dalam Kitab Suci kita diyakinkan akan adanya konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan iblis di pihak lain.
Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya peperangan itu. Untuk menekankan kengeriannya, St. Petrus Rasul, Paus Pertama kita, mengatakan bahwa Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Ptr.5:8). Demikian pula St. Paulus Rasul memperingatkan kita akan kelicikan si jahat yang dengan begitu lihainya “menyamar sebagai malaikat Terang” (bdk.2Kor.11:14).
Dalam hidup para kudus kita tahu bahwa mereka pun dicobai iblis dengan begitu nyata, dan merekantelah keluar sebagai pemenang atasnya.
Maka, sangatlah disayangkan bahwa kesadaran akan eksistensi si jahat di zaman sekarang ini dianggap oleh banyak orang, termasuk oleh sebagian orang di dalam Gereja, sebagai suatu kebodohan dan berbau tahyul, bagian dari film dan kisah novel yang fiksi belaka.

Dalam keprihatinan akan sikap acuh tak acuh demikian, Beato Paus Paulus VI kemudian mengatakan, “Janganlah jawaban kami ini mengejutkan anda karena terlalu sederhana dan bahkan berbau tahyul atau tidak nyata: Salah satu kebutuhan yang terbesar adalah pertahanan dari yang jahat yang disebut Iblis…Kejahatan itu bukan hanya kekurangan sesuatu, tetapi suatu perilaku yang aktif, suatu makhluk rohani yang sudah rusak dan menjadikan orang rusak. Suatu kenyataan yang mengerikan…Sangatlah berlawanan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja bila ada yang menolak untuk mengakui adanya kenyataan ini…atau yang menerangkannya sebagai suatu kenyataan semu, suatu personifikasi yang berangan-angan dan terkonsep untuk sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita…Masalah Iblis dan pengaruh yang dapat ditimbulkannya pada perseorangan dan juga pada komunitas, masyarakat, dan peristiwa merupakan suatu bab yang sangat penting dari doktrin Katolik, yang hanya sedikit sekali diperhatikan saat ini…Sebagian orang mengira bahwa kompensasi yang cukup mengenai hal itu dapat diperoleh pada studi psikoanalitik dan psikiatrik atau dalam pengalaman-pengalaman spiritual…Orang takut untuk jatuh dalam teori Manikeanisme lagi atau dalam penyimpangan yang menakutkan dari bayangan dan tahyul. Dewasa ini orang lebih cenderung tampil dengan kuat dan tidak berprasangka…Doktrin kita menjadi tidak pasti, gelap seperti adanya kegelapan yang meliputi iblis.” (Pope Paul VI, L’Osservatore Romano, November 23, 1972)

Salah satu tugas perutusan Gereja adalah untuk menyadari eksistensi si jahat, dan memeranginya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.
Ini adalah peperangan iman yang harus disadari oleh putra-putri Gereja. Berdirilah di tempat yang tepat.
Seseorang tidak dapat memihak Allah dan disaat bersamaan bersepakat dengan Setan dengan segala perbuatannya.
Tidak mungkin menyebut diri putra-putri Allah dan seorang Katolik sejati, tetapi di saat bersamaan menggunakan kontrasepsi, menyetujui hukuman mati, melakukan aborsi dan membenarkan euthanasia, menebar kebencian dan permusuhan, menjadi budak seks dan narkotika, mengakui pernikahan sesama jenis dan rekayasa genetika, berpegang pada jimat, melakukan praktik sihir dan guna-guna, percaya pada ramalan, serta berbagai bentuk tipu daya si jahat lainnya.

Maka, siapapun yang hendak berdiri di pihak Allah, haruslah dengan tegas menolak setan dengan segala perbuatannya.
Tidak boleh beriman setengah-setengah. Berimanlah sepenuhnya atau tidak sama sekali.
Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Lukas.11:23)
Kita dipanggil untuk menyadari peperangan iman ini dan memenangkannya bersama Tuhan.
Sebab setan, demikian ujar Sri Paus St. Gregorius, tidak memiliki apa-apa di dunia ini, dan dia maju ke medan pertempuran dalam keadaan telanjang. Jika engkau dengan ‘mengenakan segala pakaian duniawi’ berperang melawan setan, maka engkau akan segera tersungkur ke tanah, sebab Engkau mengenakan sesuatu yang dapat dicengkeram olehnya.” (St. Josemaría Escrivá)

Sebagaimana si jahat mencobai Tuhan Yesus, kita pun harus selalu mewaspadai kehadirannya, yang meskipun seringkali tidak begitu kentara dan tersembunyi dengan begitu cerdiknya, tetapi selalu ada di balik berbagai peristiwa hidup beriman kita.
Lawanlah si jahat dengan imanmu, dengan doa-doamu, dengan hidupmu yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.
Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita pun dengan jelas mengajak kita untuk berani meminta Bapa agar “membebaskan kita dari segala yang jahat.
Putra-putri Gereja hendaknya bercahaya untuk mengenyahkan kegelapan, mengusir setan dengan segala kuasanya, dan menyatakan hadirnya Kerajaan Allah di tengah dunia.
Jangan Takut!
Jika Tuhan di pihak kita, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Di saat ini, berdoalah juga bagi Gereja Kudus, khususnya bagi Sinode Keluarga yang masih sementara berlangsung di Roma. Si jahat saat ini mencoba menyerang Gereja dengan melemahkan serta merusak kesejatian Keluarga dan Sakramen Pernikahan. Ini nyata dari usaha sebagian pihak untuk merubah Ajaran Gereja mengenai itu.
Ada usaha pula untuk memaklumkan dosa pribadi dan sosial di balik selubung Teologi mengenai Kerahiman Tuhan, namun ternyata memiliki kemiripan yang sesat dari gagasan serupa di masa Reformasi.
Semoga Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga ini, senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus, sehingga buah-buah Sinode nantinya, dapat menjadi senjata Iman Gereja Katolik dalam mengalahkan niat-niat si jahat yang ingin merusak keutuhan Keluarga dan Sakramen Pernikahan.
Pandanglah Salib Tuhan, disanalah kamu akan selalu menemukan kekuatan untuk melawan si jahat.
Pada akhirnya, kejahatan akan dikalahkan oleh kuasa Allah.
Bersama Santa Perawan Maria, marilah kita menjadi rasul-rasul doa, dengan mendaraskan Rosario Suci, sebagai senjata ampuh untuk mengenyahkan kegelapan dunia ini.
Berperanglah, bercahayalah, dan rebutlah sebanyak mungkin jiwa dari genggaman si jahat, demi kemuliaan Allah.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 16 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XV

image

MELEPASKAN BEBAN DOSA DAN MEMIKUL SALIB
(Peringatan St. Perawan Maria dari Gunung Karmel)

Bacaan:
Kel.3:13-20; Mzm.105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat.11:28-30

Renungan:
Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk “melepaskan“.
Apa yang harus dilepaskan?
Dosa.
Kenapa harus dilepaskan?
Karena dosa adalah beban berat yang diletakkan iblis dalam perjalanan peziarahan kita menuju Allah, yang membuat kita merasa begitu kepayahan, terbebani dengan hebatnya, depresi dan jatuh dalam jurang keputusasaan, yang pada akhirnya membuat banyak orang berhenti dan tidak mau berjalan lagi, bahkan tak jarang mengalami kebinasaan karena beban dosa yang amat berat itu.
Maka, ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Marilah datang kepada-Ku, kalian semua yang letih lesu memikul beban berat, Aku akan memberikan kelegaan bagimu,” seruan lembut Tuhan itu bagaikan panggilan di tengah padang gurun untuk mendekat ke mata air dan minum sampai sepuasnya.
Untuk beroleh kelegaan, hanya satu yang perlu kamu lakukan yaitu “melepaskan“.

Pertanyaannya, “Beranikah kamu untuk melepaskan?
Keengganan untuk melepaskan merupakan kelekatan dengan dosa, yang tidak akan membuatmu mencapai mahkota kemuliaan.
Lepaskanlah dirimu dari persahabatan dengan dosa. Engkau tentu saja mengenal dirimu sendiri, dan tahu betul beban apa, halangan terberat apa, atau dosa apa yang menghalangi kamu untuk melangkah maju menuju Allah.
Entah itu dosa kerakusan, penyangkalan kuasa Allah, pornografi, nafsu seksual yang menyimpang, iri hati, kebiasaan bergosip, apapun bentuk dosa itu, “Lepaskanlah!”, “Bertobatlah!”.
Beranilah berkata “Tidak” kepada si jahat, dan jawablah “Ya” kepada Allah.
Sesudah engkau berani “melepaskan“, maka Tuhan akan menggantikan “beban” itu dengan memberimu suatu “kuk“.
Kuk ini sungguh berbeda dengan beban, karena bila beban membuatmu berhenti berjalan menuju Allah, maka kuk ini bagaikan sepasang sayap yang akan membuatmu melesat dan terbang tinggi bagai rajawali, yang menjadikan perjalananmu menuju Allah terasa enak dan lebih ringan.

Tentu saja rupa-rupa halangan dan rintangan lainnya akan tetap ada, akan selalu ada binatang buas yang mencoba menerkam kamu di sepanjang perjalanan. Namun, dengan kuk yang dipasang Tuhan atasmu, dengan komitmen untuk memikul salib yang diletakkannya atas bahumu, engkau akan terus berjalan maju diterangi sukacita Injil, dan pada akhirnya akan tiba pada tujuan akhir perjalananmu, yaitu beristirahat bersama Allah.
Jiwa kita tidak akan pernah beroleh ketenangan, sebelum beristirahat di dalam Dia.
Belajarlah dari Hati Tuhan yang lemah lembut dan rendah hati, maka jiwamu akan senantiasa beroleh ketenangan.
Panggilanmu adalah panggilan untuk melepaskan segala, untuk beroleh Allah, Sang Segala.

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, yang kita peringati hari ini, melindungi kita dalam mantol ke-Ibu-annya, dan menjadi bagaikan Bintang Timur yang menuntun kita menuju Yesus, Putranya.
Per Mariam ad Iesum.
Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan V Paskah

image

PAX VOBIS ~ DAMAI SEJAHTERA BAGIMU

Bacaan:
Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11.12-13ab.21; Yoh.14:27-31a

Renungan:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh.14:27ab)
Ungkapan salam damai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ini beberapa kali kita temukan dalam Injil. Salam damai serupa juga sering kita saat membaca surat-surat para Rasul maupun para Bapa Gereja perdana, yang terus-menerus diserukan oleh Gereja melalui karya kerasulannya, dan menjadi seruan kasih persaudaraan dalam liturgi suci, sampai hari ini.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa sejatinya, dalam panggilan hidup Kristiani terkandung pula panggilan untuk selalu membawa “damai“, dimanapun dan dalam situasi apapun kita ditempatkan oleh Tuhan.
Damai ini berbeda dengan damai yang ditawarkan oleh dunia ini, karena dunia mengartikan damai sebagai ketiadaan masalah, pelarian dari kenyataan hidup. Damai yang dibawa oleh Yesus melampaui ketiadaan masalah, yaitu keberanian untuk berdiri dalam iman di tengah segala permasalahan dan badai pergumulan hidup, tanpa ketakutan dan keraguan, dalam keyakinan bahwa tidak ada dukacita, penderitaan, maupun bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Ini hanya dapat disadari sepenuhnya, manakala seseorang memiliki pergaulan yang mesra dengan Allah.
Teladanilah hidup Bunda tersuci kita Maria, Ratu Damai. Hidupnya yang senantiasa dipenuhi kedamaian di tengah malam gelap bagi jiwanya, yang menembus kedalaman jiwanya bagaikan sebuah pedang, menjadi kesaksian sukacita Injil yang sejati bagi dunia, sekaligus memberikan semangat bagi Gereja untuk membawa damai melalui hidup dan karya putra-putrinya, dan melihatnya sebagai suatu panggilan suci serta tugas Ilahi, yang digambarkan dengan begitu indah dan tepat dalam doa damai dari tradisi Fransiskan, “Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadilah pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadilah pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadilah pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadilah sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Untuk menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni.”
Inilah sukacita Injil yang kita wartakan. Inilah damai sejahtera sejati yang kita bawa di sepanjang hari-hari hidup kita yang singkat laksana bayang berlalu ini.
Damai…damai…damai…

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando