2 Bapa Suci bertemu, Paus Fransiskus mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI untuk mengucapkan Salam Natal

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

 

VATICAN CITY (AP) Hari Senin kemarin, Paus Fransiskus telah mengunjungi pendahulunya, Paus Emeritus Benediktus XVI, untuk saling mengucapkan salam Natal.

Foto yang dirilis oleh surat kabar Vatikan menunjukkan dua Bapa Suci ini, mengenakan jubah putih identik kecuali tambahan cape untuk Paus Fransiskus (untuk menandakan Paus yang sekarang bertahta), mereka mengobrol di ruang duduk di dalam rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI. Mereka juga berdoa bersama di kapel pribadi. Paus Emeritus Benediktus XVI terlihat berada dalam kondisi yang sehat, meskipun harus menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri selama doa bersama.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

 

 

Ini adalah pertama kalinya interior rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI ditampilkan untuk umum: Ruang duduk dan furnitur yang serba putih. Sebuah karangan bunga Adven dengan keempat lilin sudah menyala semua (tanda Natal sudah semakin dekat) terlihat menghiasi meja kopi.

Sejak Paus Emeritus Benediktus XVI mengundurkan diri pada bulan Februari, kedua Paus ini hanya pernah bertemu sekali di hadapan publik, untuk upacara resmi Vatikan pada bulan Juli. Mereka juga telah terkadang bertemu secara pribadi atau berbicara melalui telepon.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.

Renungan Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

MINGGU ADVEN IV ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Yesaya 7: 10-14

Mazmur Tanggapan – Mazmur 24: 1-2. 3-4b. 5-6

Bacaan II – Roma 1: 1-7

Bacaan Injil – Matius 1: 18-24

 

Dia Hadir Dalam Kesederhanaan

Imanuel. Allah beserta kita. Inilah inti pewartaan sabda di Minggu Adven IV ini. Demikianlah tanda Iman yang dijanjikan Allah di tengah kekacauan Kerajaan Yehuda kepada Raja Ahaz [1]. Suatu janji yang memperoleh kegenapannya saat Maria menjawab “Ya” untuk mengandung Putra Allah, saat Yusuf bangkit dari “Malam Gelapnya” untuk merangkul kehendak Allah dengan menerima Maria sebagai isterinya [2]. Suatu janji yang baru dapat dimengerti sepenuhnya dalam terang kemuliaan Paska [3], sebagaimana diperkenalkan oleh rasul Paulus melalui salam terpanjang dari semua suratnya.

Berbeda dengan Raja Ahaz yang melelahkan Allah [4] dengan ketegaran hatinya, dalam diri Maria & Yusuf, Gereja melihat suatu teladan beriman. Iman untuk mempercayai Tuhan di dalam kegelapan. Mereka adalah orang-orang yang sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan mereka, terdapat Iman yang sejati, tanpa syarat dan dipenuhi kepercayaan tanpa batas. Disaat sukacita Natal semakin mendekat, di Minggu Adven IV ini, Gereja mengajak kita untuk mendekati tanda-tanda Iman dari Tuhan dalam kesederhanaan, dengan hati yang dipenuhi cinta akan Allah dan kehendak-Nya. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya mengapa suatu janji keselamatan harus diawali dengan kegelapan iman, dimana Maria & Yusuf diminta untuk menjawab “Ya” kepada kehendak Allah, disaat fakta yang ada memberi mereka begitu banyak alasan untuk menjawab “Tidak”. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya kesederhanaan Tuhan yang mau masuk dalam kehidupan sejarah manusia dalam diri Kanak-Kanak Yesus di Bethlehem. Akal budi kita sulit menerima kenapa Sang Anak Domba, harus menjalani hidup yang dipenuhi penolakan, penyangkalan, dan tanpa suara digiring untuk diadili layaknya seorang penjahat. Akal budi kita tidak bisa menyelami cinta Bapa dalam diri Putra-Nya, yang rela mati di Kalvari dalam keadaan yang teramat hina dan keji. Akal budi kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan yang demikian nyata dalam kesederhanaan Ekaristi/Hosti Kudus. Akal budi kita tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan dalam roti kecil, bahwa dengan menyantap roti yang satu dan sama, kita benar-benar menyantap Tubuh Tuhan sendiri dan menjadi satu kesatuan dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja-Nya.

Apa yang tidak bisa diterima dan dilihat oleh sepenuhnya akal budi, hanya bisa dimengerti dalam kuasa cinta. Allah adalah Cinta/Kasih. Karena itu, kita yang tercinta karena Cinta, hanya bisa mendekati dan memahami Dia dalam cinta. Dia yang kekurangan cinta dengan sendirinya kekurangan iman, kekurangan pengharapan. Teramat sulit baginya untuk melihat kehadiran Tuhan yang paling nyata dalam kesederhanaan sakramen-sakramen Gereja, apalagi untuk menerima buah-buah melimpah dari semua anugerah Ilahi itu.

Tuhan hadir dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, dalam kesederhanaan kita pun dipanggil untuk melayani Dia, untuk setia melakukan perkara-perkara kecil dengan cinta yang besar. Sama seperti kemuliaan Tuhan hanya dapat dilihat oleh mata manusia saat Ia merendahkan diri, dan masuk dalam kehidupan manusia dalam kesederhanaan Bethlehem, demikian pula Terang Kristus hanya bisa menyinari dunia melalui diri kita bilamana orang melihat ketekunan kita melakukan segala karya yang dipercayakan Tuhan dalam kesederhanaan dan cinta yang besar.

Jadilah keluarga yang bersekutu dalam doa dan sabda, suami-istri yang setia, anak-anak yang penuh hormat dan bakti. Jadilah seorang Imam yang kudus dan memiliki kehausan akan jiwa-jiwa. Jadilah seorang perawat yang merawat para pasien dengan cinta kasih Kristus. Jadilah seorang pelukis yang senantiasa menceritakan karya mengagumkan Tuhan dalam lukisan-lukisanmu. Jadilah seorang ahli rekayasa genetika yang melakukan penelitian yang beretika dan menghargai martabat hidup manusia. Jadilah seorang  pemimpin negara yang jujur dan adil. Apapun panggilan, profesi dan karya yang kalian lakukan (sebagaimana Tuhan memanggilmu), lakukanlah itu dalam kesederhanaan, ketekunan dan kesadaran untuk menjadikannya sebagaia suatu persembahan yang  berkenan di hati Allah. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang senantiasa mencari wajah-Nya [5]. Dengan demikian terang kemuliaan Tuhan akan bersinar dalam dirimu dan dengan seluruh dunia akan berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (VFT)



[1] Bdk. Yesaya 7: 14

[2] Bdk. Matius 1: 24

[3] Bdk. Roma 1: 4

[4] Bdk. Yesaya 7: 13

[5] Bdk. Mazmur 24: 6

Renungan Minggu Adven III (Minggu Gaudete)

MINGGU ADVEN III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I: Yesaya 35: 1-6a, 10

Mazmur Tanggapan: Mazmur 146: 7, 8-9a, 9bc-10

Bacaan II: Yakobus 5: 7-10

Bacaan Injil: Matius 11: 2-11

Pengharapan yang mendatangkan Sukacita

Yohanes Pembaptis tampil sebagai seorang nabi akhir dari Perjanjian Lama, yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Pewartaan Yohanes Pembaptis menggemakan suatu seruan pertobatan untuk memperoleh janji Allah dalam diri Yesus, Putra-Nya. Saat dimana padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga, dimana  kemuliaan Tuhan dan semarak Allah kita akan bercahaya.[1]

Kenyataan hidup dunia sekarang ini yang diwarnai dengan berbagai kesukaran, seringkali memperhadapkan orang-orang kristen pada pertanyaan akan janji, kehadiran dan keadilan Tuhan. Kita harus selalu ingat bahwa hidup kristiani adalah sebuah kesaksian pengharapan. Pengharapan akan janji-janji Tuhan. Suatu pengharapan yang menuntut kesetiaan untuk percaya di saat seolah-olah tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun seolah-olah tidak ada dasar untuk berharap.“Kuatkanlah hati, janganlah takut!” [2]

Bagaikan seorang petani yang menantikan hujan awal dan akhir [3] , demikianlah setiap orang kristen hendaknya bersabar serta bertekun dalam iman, dan membiarkan keadilan sepenuhnya berada di tangan Allah, karena Ia adalah Hakim di pintu gerbang. [4]

Kesukaran akan selalu ada. Meskipun demikian, janganlah takut akan dunia. Takutlah akan Tuhan, yang telah mengalahkan dunia. Kekuatiran akan kesukaran hidup, kelekatan akan dunia, apalagi ketakutan akan hari Tuhan, bukanlah cara bersikap dari seorang kristen. Setiap saat kita harus mempersiapkan diri dan siap-sedia menantikan hari Tuhan. Kita justru harus mendambakan akan hari itu, bahkan ingin mempercepatnya.  Adveniat regnum tuum! [5]

Ketika murid-murid Yesus menyampaikan pertanyaan Yohanes Pembaptis, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” [6], Yesus menanggapi bukan dengan jawaban “Ya”. Yesus memberi pernyataan yang justru jauh lebih jelas daripada sekedar menjawab “Ya”, suatu pernyataan tak terbantahkan akan kuasa Allah yang bekerja dalam diri-Nya.

“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” [7]

Gereja Katolik sedunia memasuki Minggu Adven III, yang dikenal juga dengan nama Minggu Gaudete (Bersukacitalah)

Gereja Katolik sedunia memasuki Minggu Adven III, yang dikenal juga dengan nama Minggu Gaudete (Bersukacitalah) 

Sama seperti Yesus, demikianlah setiap orang kristen seharusnya dikenal. Bukan sekedar apa yang dikatakan, tetapi apa yang dilakukan. Adalah tidak mungkin berbicara tentang Yesus, kalau hidup kita tidak menjadi kesaksian akan Dia yang menyembuhkan, yang memberkati hidup setiap orang. Pewartaan Kerajaan Allah yang kita lakukan harus nyata dalam perbuatan, dalam karya kita. Zelo zelatus sum pro Domino Deo exercituum.[8] Itulah yang selalu harus kita pikirkan dan lakukan. Tidak ada cara lain yang lebih baik dalam menunjukkan pengharapan sejati akan kedatangan Tuhan. Dunia boleh saja memalingkan wajah mereka dari Penciptanya, tetapi kamu, taklukkanlah dunia! Jadilah terang! Hidup kita, kerja kita, seluruh diri kita harus menjadi suatu kesaksian iman bahwa inilah seorang kristen sejati. Bukan soal seberapa hebat karya kita, karena seperti kata Beata Ibu Teresa dari Calcutta, bahwa sebenarnya “dalam hidup ini kita tidak perlu melakukan hal-hal besar. Kita hanya perlu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Bukan soal berapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan berapa banyak cinta yang kita curahkan saat melakukan hal-hal itu. Bukan soal berapa banyak yang kita beri, melainkan seberapa banyak cinta yang kita curahkan dalam pemberian itu.”

Anda bisa menjadi seorang guru yang penuh dedikasi, penyapu jalan yang rajin, dokter yang menentang aborsi, hakim yang adil, pedagang yang jujur, politisi yang memperjuangkan kepentingan umum, seorang ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anaknya dalam kelimpahan cinta, dan berbagai karya lainnya. Sekecil dan sesederhana apapun karya kita, asalkan kita melakukannya dengan cinta, kesetiaan akan Iman Gereja, dan menjadikannya sebagai persembahan yang harum dan berkenan di hati Allah, maka dengan sendirinya tanda-tanda iman ini akan bercahaya dan mendatangkan sukacita bagi dunia, sehingga orang boleh melihat segala karya kita yang baik dan memuliakan Bapa di surga. Panggilan kita adalah untuk menguduskan diri, menguduskan kerja, serta menguduskan dunia melalui kerja. Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, dan engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu.[9]

Semuanya itu hanya mungkin dilakukan bila kita memiliki kerendahan hati untuk dibentuk dan dipakai Tuhan bagi kemuliaan-Nya. Yohanes Pembaptis sudah menunjukkan siapa Sang Guru kerendahan hati. Di hadapan kita, telunjuk kenabian Yohanes Pembaptis teracung dengan jelas, “Ecce Agnus Dei qui tollit peccatum mundi!” [10]. Dia yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia.

Masa Adven ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan kerendahan hati Tuhan. Sebagaimana Tuhan dan Guru kita telah lebih dahulu mengosongkan diri-Nya, kita pun diajak untuk mengosongkan diri dari segala yang bukan Allah, sehingga Dia dapat memenuhi diri kita dan berkarya seluas-luasnya dalam diri kita, agar orang melihat dan mendengar Tuhan melalui hidup & karya kita. Dengan demikian, sebagai orang-orang yang dibebaskan, kelak kita boleh masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, diliputi kegirangan dan sukacita abadi.[11] (VFT)

“Gaudete, gaudete! Christus est natus ex Maria virgine, gaudete!”[12]


[1] Bdk. Yesaya 35:1-2

[2] Yesaya 35:4b

[3] Bdk. Yakobus 5:7b

[4] Yakobus 5:9c

[5] Datanglah kerajaan-Mu! (Doa Bapa Kami)

[6] Matius 11:3b

[7] Matius 11:4-5

[8] Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan semesta alam. (1 Raja-Raja 19:10a)

[9] Jalan, pasal 359

[10] Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia! (Yohanes 1:29)

[11] Bdk. Yesaya 35:10

[12] Bersukacitalah, bersukacitalah! Kristus telah lahir dari perawan Maria, bersukacitalah! (Himne Gaudete)