Meditasi Harian 19 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XX

image

IA MEMANGGILMU, BEKERJALAH !

Bacaan:
Hak.9:6-15; Mzm.21:2-3,4-5,6-7; Mat.20:1-16a

Renungan:
Allah memanggil setiap orang beriman, masing-masing secara pribadi, untuk melayani Dia dalam karya kerasulan. Setiap orang dipanggil-Nya pada waktu, situasi, keadaan yang berbeda dalam peziarahan hidupnya. Sebagian orang malah dipanggil dan menjawab undangan Tuhan untuk melayani “pagi-pagi benar“, sedari masa mudanya.
Yang dimaksud dengan upah “sedinar” sehari adalah ganjaran “kehidupan kekal” bersama Dia, yaitu boleh mengambil bagian dalam kebahagiaan abadi bersama Dia.
Suatu bentuk kehidupan dan kebahagiaan yang tidak dapat dibandingkan dengan segala kesia-siaan dunia ini.
Akan tetapi, hendaknya kita selalu disadarkan, bahwa kendati demikian, kita justru dipanggil untuk melayani dan berkarya bagi Allah “di tengah dunia” ini, bukan melarikan diri atau mengasingkan diri dari dunia ini. Kita dipanggil untuk menghadirkan Kerajaan Allah bagi semua yang hidup.
Siapapun kamu, berapapun usiamu saat ini, Tuhan memanggilmu untuk menjadi rekan kerja-Nya dalam karya penebusan dunia ini.

Dalam segala waktu, kamu harus senantiasa memiliki jiwa merasul, kamu harus menjadi tanah yang subur bagi benih Injil, hidupmu harus berbuah baik. Untuk mempercakapkan Kristus dalam keluargamu, komunitasmu, lingkungan pergaulanmu. Untuk mempersembahkan segenap kerja, buah karya, dan pelayananmu dalam suatu nilai adikodrati, karena dilakukan dengan dedikasi sedemikian rupa sehingga mendatangkan kekaguman, bukan kepadamu, melainkan kepada Allah yang berkarya di dalam dan melalui dirimu. Kesaksian akan sukacita Injil dalam dirimu, haruslah nampak secara nyata dan gemilang melalui karya dan pelayananmu, di lingkungan atau profesi kerja apapun dimana dan kemana Tuhan membawa serta menempatkanmu.
Tidak mungkin mengatakan bahwa dirimu telah mengikuti Kristus dengan penuh sukacita, sementara kamu justru menyimpan sukacita itu bagi dirimu sendiri, tanpa niat mempergunakan dan melipatgandakan talenta yang diberikan Tuhan kepadamu.
Sukacita Injil yang sejati haruslah senantiasa dibagikan. Kamu yang tergila-gila akan Kristus wajib membawa semua orang yang kamu jumpai, bahkan seluruh dunia pada ketergila-gilaan cinta yang sama akan Dia.
Mereka yang sungguh-sungguh mencintai Kristus, adalah mereka yang merasul, yang setiap hari, menit dan detik berusaha memenangkan bukan hanya jiwanya, melainkan sebanyak mungkin jiwa-jiwa kepada pengenalan dan persatuan cinta dengan Allah.
Inilah jawaban atas panggilan Tuhan untuk berkarya di kebun anggur-Nya.

Tentu saja keadilan Tuhan berbeda dengan keadilan manusia. Bagi setiap orang yang dipanggil-Nya dan menjawab panggilan-Nya, upah yang diberikan adalah adil dan sama, yakni “sedinar sehari“. Semua beroleh ganjaran yang sama, yakni “Surga“.
Kendati ada tingkatan di surga, semua yang setia di kebun anggur Tuhan, berhak memperoleh “Firdaus” yang sama.
Mereka yang merindukan surga, hendaknya membuang jauh-jauh iri hati dalam dirinya. Tuhan dapat memanggil siapa saja seturut kehendak hati-Nya, pada waktu yang tepat dalam pertimbangan-Nya.
Kamu hanya perlu menjawab “Ya“, bukan mempertanyakan kepada siapa, atau kenapa cara Tuhan memanggil dan bekerja seringkali begitu jauh berbeda dalam kehidupan pribadi manusia yang satu dengan yang lain?
Kenapa kuk maupun cobaan yang diizinkan Tuhan untuk menimpa, berbeda antara saya dengan dirinya?
Jangan bertanya “Apa upahku?
Rasul St. Paulus telah menjawab pertanyaanmu itu, “Upahmu adalah boleh mewartakan tanpa upah.
Melayani dan berkarya bagi Allah adalah kehormatan, bukan sekadar tugas semata yang mengandaikan adanya upah.

Kenyataan bahwa Tuhan justru berkenan memanggilmu dari tengah kerumunan orang banyak, itu seharusnya sudah lebih dari cukup dijadikan alasan bagimu untuk bersyukur.
Kalau dipikirkan lebih jauh, bukankah kamu bukan sekadar orang upahan biasa, melainkan justru adalah putra-putri Raja, ahli waris kerajaan-Nya?
Bekerja bersama Kristus sebagai rekan kerja dalam karya penebusan-Nya berarti “meraja” bersama Dia.
Itulah kebahagiaanmu, sekaligus dukacitamu. Kenapa dikatakan dukacita?
Perhatikanlah salah satu bagian Injil hari ini dengan seksama. Toh kendati hari sudah hampir malam, ketika jam kerja sudah hampir berakhir, ketika Kerahiman Tuhan seolah sudah mendekati paripurna, dikatakan bahwa Tuhan masih keluar memanggil untuk mencari mereka yang ingin bekerja bagi Dia, dan Ia “masih” menemukan orang di jalan yang tidak bekerja, sehingga dalam keheranan Tuhan pun bertanya, “Mengapa kalian menganggur saja disini sepanjang hari?
Jawaban mereka lebih mengejutkan dan menyayat hati, tidak hanya mendukakan hati Allah, melainkan seharusnya membuat siapapun yang menyebut diri seorang rasul Kristus tertunduk malu karena masih kurang berbuah dalam karya kerasulan.
Mereka menjawab karena “Tidak ada orang yang mengupah (mempekerjakan) kami.
Hai rasul-rasul Kristus, inilah yang seharusnya menjadi dukacitamu, yaitu bahwa masih ada begitu banyak orang di zaman sekarang ini yang belum mendengar dan diubahkan oleh sukacita Injil. Banyak di antara mereka justru sudah dibaptis, tetapi iman mereka tidak berbuah malah mulai luntur oleh tekanan dunia dan karena “tidak ada yang mengajak mereka untuk merasul, untuk menjadi rekan kerja Kristus.

Kamu mungkin termasuk dalam kategori mereka yang tidak tahu bagaimana menjadikan hidup berimannya untuk berbuah. Injil hari ini menyapa kamu, “Kenalilah Imanmu! Kenalilah Kristus!“. Temukanlah saudara-saudari seiman yang telah mendahului kamu dalam menjawab panggilan Tuhan untuk merasul, dan katakan pada mereka dengan penuh kesungguhan, bahwa kamu juga ingin hidupmu berbuah, sebagaimana mereka telah berbuah. Bahwa kamu rindu untuk merasul, sebagaimana mereka telah lebih dahulu merasul, kemudian belajarlah dari dan bersama mereka.
Bagi kamu yang berada dalam kategori mereka yang telah menjawab panggilan Tuhan untuk bekerja di kebun anggur-Nya, Injil hari ini seharusnya menjadi teguran keras, suatu cambuk kerasulan bagimu.
Temukanlah jiwa-jiwa, dan menangkanlah jiwa-jiwa!“.
Jadilah rasul Kristus yang mencari dan menemukan yang hilang, seturut teladan Kristus sendiri.
Bila kamu seorang rasul Kristus, semoga selagi masih hidup dan bernafas di dunia ini, “tidak akan pernah didapati” di antara keluargamu, teman-temanmu, satu sekolah denganmu, rekan kerja atau yang seprofesi denganmu, di antara mereka yang duduk bersamamu, seperjalanan denganmu, bahkan yang tanpa disengaja makan siang bersama atau menikmati minum teh di sore hari bersamamu, semoga di antara mereka tidak akan pernah didapati ada yang berkata, “Jangankan merasul bagi Kristus, berbicara untuk memperkenalkan Tuhan Yesus kepada saya, atau sekadar membagikan sukacita Injil dalam Iman Kristiani kepada saya pun dia tidak pernah“.
Inilah dukacita Allah yang seharusnya menjadi dukacitamu.

Sebagai putra-putri Gereja Katolik, Allah merindukanmu untuk merasul dan menjadi tanda kehadiran-Nya bagi dunia. Oleh karena itu, berusahalah dengan segenap daya upaya, agar Kristus semakin dikenal dan dicintai melalui hidup, karya, dan pelayananmu.
Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai kerasulanmu supaya senantiasa berbuah, agar Tuhan Yesus, Putranya yang terkasih, semakin dicintai, dipuji dan dimuliakan di seluruh dunia.

Fidei Defensor ~ Fernando

2 thoughts on “Meditasi Harian 19 Agustus 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XX

  1. Wah…..hati saya bergetarrrrrrr membaca refleksi ini….ihik…Sungguh keras menegur sifat masa bodoh dan suam-suam kuku, yg selama ini menggayuti zona nyaman kehidupan rohani kita…..

    • Iya, kita hidup di zaman dimana tidak cukup hanya mengatakan, “Yang penting saya tidak ikut-ikutan terbawa arus zaman”. Kita justru dipanggil untuk berjalan di atas air dalam Iman, untuk mendekat ke tempat dimana Kristus berada.
      Kita harus melawan arus utk sampai kesana, dan sambil berjuang melawan arus, kita pun tidak pernah boleh lupa utk juga menyelamatkan mereka yg kita dapati hampir tenggelam di sepanjang perjalanan.
      Kristus pernah menyelamatkan kita (berulang kali malah) saat kita hampir tenggelam saat berjalan di atas air krn kencangnya terpaan angin dan kurangnya iman. Maka, sebagaimana tangan kita pernah dipegang Tuhan agar tdk tenggelam, sudah sepantasnya kita yg menyebut diri pengikut-Nya, yg telah tumbuh semakin kuat di dalam Dia, juga melakukan hal yg sama, dgn menyelamatkan mereka yg baru memulai “perjalanan kesempurnaan” ini, mereka yg mulai tenggelam, sebagaimana dulu pernah kita alami.

Comments are closed.