Meditasi Harian ~ Rabu dalam Oktaf Paskah

image

MENEMUKAN TUHAN DALAM SABDA DAN EKARISTI

Bacaan:
Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35

Renungan:
Kekristenan tanpa salib adalah palsu. Kita dipanggil untuk menapaki jalan penderitaan sama seperti Tuhan kita. Memang benarlah demikian.
Akan tetapi, seorang beriman harus mewaspadai bahaya terlalu larut dalam penderitaan dan dukacita, dalam kekecewaan dan kegagalan, dalam badai dan pencobaan, sampai tidak bisa mengenali Tuhan di balik itu semua.
Hidup beriman kita memang memuncak pada salib tetapi tidak berhenti disana, melainkan pada sukacita kebangkitan.
Kedua murid dalam perjalanan ke Emaus gagal melihat hal itu. Mereka terlalu dikejutkan oleh Yesus yang tergantung di salib, sehingga melupakan semua ajaran dan janji Tuhan yang digenapi dalam kebangkitan-Nya.
Mereka bahkan awalnya tidak mengenali kehadiran Yesus yang menemani perjalanan mereka.
Baru kemudian seiring perjalanan, mereka mulai menemukan kembali imannya, manakala Yesus secara perlahan menerangkan isi Kitab Suci kepada mereka. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)
Berbahagialah mereka yang dengan tekun mendengar dan merenungkan sabda Tuhan, sehingga hatinya senantiasa “berkobar-kobar” (bdk.Luk.24:32) dalam cinta akan Tuhan.
Pada akhirnya, kedua murid menjadi saksi Kebangkitan dan mengenali Tuhan Yang Bangkit pada saat Ia “memecah-mecahkan roti” (bdk.Luk.24:35).
Mata iman kedua murid terbuka dan mereka mengenali Tuhan seutuhnya saat Ia merayakan Sakramen Ekaristi.
Tidakkah mengagumkan bahwa Kitab Suci mencatat dan menerangkan dengan terang-benderang bahwa pengenalan seutuhnya akan Tuhan Yang Bangkit ditemukan hanya di dalam Sakramen Ekaristi?
Maka, berbahagialah kamu, putra-putri Gereja Katolik, yang setiap hari diundang ke Perjamuan Tuhan untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan dalam Ekaristi Kudus.
Gereja tanpa Ekaristi adalah cacat, karena hanya di dalam Ekaristi, mata iman kita dapat sepenuhnya terbuka dan mengenali Tuhan Yang Bangkit.
Inilah kekayaan Iman Katolik kita, syukurilah dan kecaplah betapa baiknya Tuhan yang senantiasa membimbing kita dengan Sabda-Nya, serta menguatkan kita untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dalam santapan Tubuh dan Darah-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando