Meditasi Harian 21 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XX

image

INILAH TANDA PENGENALMU
Peringatan Wajib St. Pius X, Paus

Bacaan:
Rut.1:1,3-6,14b-16,22; Mzm.146:5-10; Mat.22:34-40

Renungan:
Hidup seorang Kristiani bukanlah suatu hidup tanpa penderitaan, tanpa sakit, tanpa pergumulan, tanpa pencobaan.
Bagaikan sebuah bahtera, putra-putri Gereja Katolik dipanggil untuk beriman sekaligus merasul, sambil mengarungi lautan kehidupan di tengah badai.
Laut yang tenang tidak pernah menjadikan seorang pelaut menjadi mahir.
Iman kita dimurnikan di dalam badai. Ke dalam malam gelap kita dipanggil untuk bercahaya.
Maka, sebagaimana Israel dalam Perjanjian Lama, dan yang kembali diingatkan melalui dialog tanya jawab antara Tuhan Yesus dan seorang ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk tidak pernah lupa Hukum Tuhan yang paling utama, yang olehnya kita seharusnya dikenal.
Identitas ke-Katolik-an bukanlah sekadar membuat Tanda Salib setiap saat, menghadiri Misa Kudus secara rutin, atau berdoa Rosario setiap hari (bahkan ada yang menggunakannya secara keliru sebagai aksesoris tubuh).
Meskipun tanda-tanda lahiriah dan partisipasi kita dalam liturgi Gereja sungguh perlu, buah dan tanda pengenal terbesar bagi setiap orang Katolik adalah “Kasih“.

Seorang Kristen haruslah pertama-tama dikenal karena cintanya akan Allah dan sesama yang meluap dari kedalaman jiwanya.
Bahwa segenap hidup, kerja, dan pelayanan kita harus senantiasa didasarkan dan diarahkan pada cinta yang total kepada Allah dan sesama.
Tidak cukup bahwa kita melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah, melainkan seberapa besar kasih yang kira curahkan saat melakukan itu semua.
Tidak mungkin seorang beriman yang tekun menghadiri Misa Kudus setiap hari untuk mengatakan mengasihi Allah, bila pada kenyataannya dia justru mengabaikan dan lewat begitu saja saat berjumpa dengan kaum miskin dan papa di sepanjang perjalanannya menuju ke Gereja.
Seorang guru rohani boleh saja membagikan pengetahuan dengan bahasa yang memukau, tetapi tanpa cinta, tembok-tembok ketegaran hati para pendengar tidak akan runtuh, dan mereka tidak akan pernah diubahkan oleh pengajarannya.
Seorang Bapa Pengakuan hanya dapat memenangkan jiwa para pendosa di ruang pengakuan, manakala dia mendengarkan dengan hati yang berbelas kasih.
Seorang istri dapat diberi kekuatan untuk mengampuni pengkhianatan cinta suaminya, manakala hatinya dipenuhi cinta akan Allah, yang kemudian menggerakkan hatinya untuk memegang tangan suaminya dan memberikan pengampunan.
Selama kasih Allah memenuhi hidup mereka, keluarga-keluarga Kristiani tidak akan dengan begitu mudahnya mengatakan kata menyerah pada bahtera rumah tangganya.
Teladan hidup Naomi dan Rut dalam bacaan pertama hari ini menjadi kesaksian nyata bagaimana imannya tidak goyah, karena kasih Allah memenuhi hatinya.
Kendati dianiaya, dihalang-halangi untuk beribadah, dirampas haknya, bahkan kehilangan nyawa karena imannya, hanya relasi cinta yang mesra dengan Allah sajalah yang membuat seorang beriman tidak gentar dan tidak kehilangan damai di hati.
Cinta yang sejati harus selalu siap menderita, terluka, mengampuni, memberi secara total dan tak bersyarat.

Inilah sebagian kecil dari begitu banyak alasan kenapa siapa pun yang menyebut diri pengikut Kristus, haruslah terlebih dahulu sungguh-sungguh memahami dan menjalani hukum cintakasih sebagai dasar hidup berimannya. Konsekuensi kekristenan yaitu salib akan sulit dirangkul, manakala seorang beriman belum sepenuhnya menjawab “Ya” kepada panggilan cintakasih.
Setiap kali kita memandang Salib Tuhan, yang kita dapati disana bukanlah ketiadaan cinta, melainkan kelimpahan cinta.
Tuhan kita Yesus Kristus telah memberikan kita suatu teladan cinta yang paripurna, yaitu semakin dalam paku itu menghujam tangan dan kaki-Nya di salib, semakin berat penderitaan sakit yang Ia alami, cinta-Nya akan umat manusia justru tidak pernah berkurang, melainkan semakin bertambah, serta tercurah sebagaimana dilambangkan oleh darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya.
Dalam terang iman Kristiani, Beata Ibu Teresa dari Kalkutta berkata, “Saya mendapati suatu paradoks, yaitu apabila kita mencintai orang lain sampai terluka, kita justru tidak akan semakin terluka, melainkan semakin mencinta.

Dari hidup dan ajaran St. Pius X, seorang Paus kudus yang kita peringati hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai seorang Katolik, kita punya Obat Cinta yang amat ampuh, yaitu Sakramen Ekaristi.
Mereka yang sungguh-sungguh bertekun dalam Misa Kudus, dan sering menerima Komuni Kudus sebagai santapan rohani, bila itu dilakukan dengan disposisi batin yang tepat, maka pada akhirnya Sakramen Ekaristi, Hidup Tuhan yang menyatu dengan hidupmu, akan mengubah dirimu menjadi semakin secitra dengan-Nya. Pada akhirnya, Roti Surgawi itu akan mengubahmu menjadi rasul-rasul cinta yang militan. Bagaikan seorang pembawa api, kamu akan membakar seluruh dunia dalam cinta akan Tuhan.
Semoga Ibu Maria menyertai niat sucimu untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, putra-putri Ekaristi, sehingga melalui hidup dan karyamu, semua orang akan mengaku “Benar. Yesus sungguh adalah Putra Allah, Tuhan Yang Hidup.
Kiranya dalam diri setiap pengikut Kristus, cintakasih akan selalu dan selalu menjadi tanda pengenal yang pertama dan terutama.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

image

KETIKA CINTA MULAI MATI

Bacaan:
2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42

Renungan:
Meskipun tekanan individualisme dan hedonisme saat ini cenderung mendorong manusia untuk memberi definisi baru dari cinta, Iman Kristiani sejak masa Gereja purba/perdana tidak pernah membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, antara mencintai Yang Mahatinggi dan mencintai sesama yang paling hina-dina dan menderita, termasuk yang paling sulit dicintai sekalipun.
Tidak mungkin mengatakan mencintai Allah tanpa memiliki cinta yang sama besarnya kepada sesama.
Adalah suatu tragedi kegagalan cinta yang terjadi, manakala seseorang melangkahkan kaki ke Gereja untuk menghadiri Misa Kudus, tetapi dalam perjalanannya justru mengabaikan mereka yang miskin, menderita, dilecehkan martabatnya, dikucilkan, dibuang, diperlakukan tidak adil, yang seolah tanpa harapan, bahkan yang membenci dan melukai kita di sepanjang perjalanan.
Pandangan dan hati seorang Kristiani memang harus selalu diarahkan ke surga, tetapi ini bukan menjadi pembenaran untuk tidak mau ambil pusing melihat penderitaan yang ada di dunia, apalagi menolak untuk mencintai sesama di tengah itu semua.
Kita dipanggil untuk berjumpa dengan Allah, tetapi haruslah dimengerti bahwa bertemu dengan Allah “dalam” sesama manusia merupakan bagian terpenting dari perjumpaan antara Allah dengan manusia.
Maka, kegagalan manusia memandang dan berjumpa dengan Allah dalam dunia sekarang ini, secara jujur haruslah diakui sebagai kegagalan manusia untuk memandang dan menjumpai Dia dalam sesama.
Tentu saja, cinta yang sejati haruslah selalu dan selalu “tak bersyarat“.
Sifat tak bersyarat dari cinta menuntut pula dari kita kesediaan untuk mencintai sampai “terluka“. Banyak orang Kristen mengalami kegagalan mencintai sesama, karena mereka berhenti melangkah saat mengalami luka ketika mencintai. Langkah cinta itu terhenti dikarenakan ketidaksiapan untuk menyadari sifat tak bersyarat dari cinta, yang haruslah pula selalu “mengampuni“, sesulit apapun itu.
Ingatlah baik-baik akan hal ini, setiap kali kita menemukan kesulitan untuk mencintai sampai terluka, atau merasa sulit untuk mengampuni, pandanglah Yesus Yang Tersalib, dan jika engkau memang merasa tuntutan cinta itu tidak adil atau terlampau berat, bawalah perkaramu di hadapan Salib Tuhan.
Orang yang sungguh memahami misteri Salib, ketika membawa perasaan terluka dan sulit mengampuni di hadapan Yesus Yang Tersalib, akan menemukan dirinya tertunduk malu dalam suatu ketidakpantasan yang suci, karena apa yang kita alami, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Dia alami.
Mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi menolak untuk mencintai sampai terluka, dan enggan untuk mengampuni, mungkin sudah saatnya memikirkan jalan lain, karena jalan seorang Kristiani adalah jalan Salib, yang dipenuhi luka, dan menemukan sukacita dalam pengampunan.
Belajarlah mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Ketika kita bertanya, “Apa yang telah kau perbuat bagiku untuk layak kucintai?“, pada saat itulah Cinta kita mulai Mati.

Pax, in aeternum.
Fernando

Cinta… cinta… cinta…

MINGGU BIASA VII ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Imamat 19: 1-2. 17-18

Mazmur Tanggapan – Mzm.103: 1-2. 3-4. 8. 10. 12-13

Bacaan II – 1 Korintus 3: 16-23

Bacaan Injil – Matius 5: 38-48

 

CINTA…CINTA…CINTA…

Saudara-saudari terkasih,

Dalam salah satu tradisi suci Kristiani diceritakan bahwa, di usia senjanya, Rasul Yohanes ditanya oleh murid-muridnya, “Guru, kenapa setiap hari engkau hanya berbicara tentang Cinta, cinta, dan cinta? Apakah tidak ada hal lain yang diajarkan oleh Yesus selain Cinta?” Dengan penuh kelembutan hati seorang bapa, Rasul Yohanes menjawab, “Karena dari seluruh ajaran Yesus, tidak ada satupun yang lebih penting selain Cinta, cinta, dan cinta.”

Hari ini Yesus memberi suatu Hukum Baru untuk menyempurnakan hukum yang lama. Pernyataan sabda, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi,” (Mat.5:38b) tidak boleh semata-mata dilihat sebagai pembenaran terhadap pembalasan dendam, melainkan sebenarnya hendak mengingatkan umat Allah di masa Pejanjian Lama, yakni mereka yang mengenal Allah dengan pemahaman yang sangat terbatas, bahwa pembalasan dendam ada batasnya, sebab dari semula kebencian dan dendam bukanlah kehendak Allah, jangan sampai kita menuruti dorongan kebencian dalam diri kita, sehingga pada akhirnya, kita melakukan tindakan yang justru berakibat putusnya relasi kita dengan Allah dan sesama. Sebab, sebagaimana kata pemazmur, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, lambat akan marah dan penuh kasih setia.” (Mzm.103:8) Berulang kali Allah memperkenankan manusia mengenal Dia, agar sebagaimana Dia dikenal, demikian juga manusia, yang diciptakan oleh-Nya dan secitra dengan-Nya, seharusnya dikenal. Dengan perantaraan Musa, Allah kembali mengingatkan umat kesayangan-Nya dengan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku ini Kudus. Janganlah engkau membenci saudaramu di  dalam hatimu…melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (bdk.Im.19:2.17-18) Kita kembali diingatkan akan kemurnian panggilan kita. “Panggilanku adalah Cinta,” demikianlah kata St. Theresia dari Lisieux. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini bagaikan sebuah jendela bagi kita untuk melihat ke dalam hati Tuhan, asal segala Cinta, dan serentak tersungkur dalam keharuan dan rasa malu yang mendalam dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan kita. Pesan Injil hari ini, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna adanya,” (Mat.5:48) merupakan panggilan untuk membentuk diri kita hari demi hari agar semakin serupa dengan-Nya, suatu panggilan yang menuntut kita untuk melepaskan segala sesuatu, entah dosa, kenginan-keinginan pribadi, kelekatan, dan segala hal lain yang di luar Allah, suatu panggilan untuk mengosongkan diri dari dunia, serta memenuhi diri kita dengan Allah dan kehendak-Nya. Karena belas kasih-Nya, Allah telah mengijinkan saudara dan saya untuk mendekati Dia dalam kelimpahan cinta. Namun, untuk bersatu secara sempurna dengan-Nya dalam cinta, adalah penting bagi kita untuk memahami hakekat Cinta Sejati di dalam Dia, yang berbeda dengan cinta semu yang ditawarkan oleh dunia.

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Pertama. Cinta sejati selalu siap untuk terluka. Cinta tanpa luka, bukanlah cinta. Cinta tanpa salib, bukanlah cinta. Cinta tanpa kerelaan untuk melepaskan, bukanlah cinta. Sama seperti Yesus yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, demikianlah kita diminta untuk mengosongkan diri dari segala ke-Aku-an dan membiarkan kehendak Allah memenuhi diri kita. Sama seperti Kristus yang terluka, dimana semakin paku menghujam menembus tangan dan kaki-Nya, yang ada bukan kekurangan cinta melainkan kelimpahan cinta, demikianlah juga hendaknya kita. Kesejatian cinta kita semakin sempurna bilamana kita menerima segala luka, ketidakadilan, fitnah, hinaan, perlakuan kasar, dan berbagai kemalangan lainnya yang ditimpakan kepada kita oleh sesama kita, serta membiarkan luka cinta ini menghantar kita pada hakekat cinta yang kedua, yakni, mengampuni. Cinta sejati selalu bersedia untuk mengampuni. Pengampunan bagi jiwa merupakan suatu obat ilahi yang memurnikan jiwa dan memampukannya untuk mencintai tanpa syarat dan tanpa batas. Sama seperti Kristus, yang selalu dan selalu mengampuni, demikian juga hendaknya kita. Keengganan untuk mengampuni sama artinya dengan tunduknya jiwa pada belenggu setan, membiarkan diri kita untuk dirantai oleh amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan bagaikan kunci yang membebaskan kita dari belenggu dosa, yang membuat kita terlepas dari rantai amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan mengubah kemanusiaan kita yang rusak karena dosa, menjadi sempurna dalam segala keutuhannya. Bilamana kita sungguh-sungguh menerima hakekat cinta ini, dan hidup di dalam kesejatian cinta yang demikian, maka pada saat itulah kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa adalah sempurna.

Saudara-saudari terkasih,

Sejak awal, Kekristenan telah menjadi penyangkalan terhadap dunia. Nilai-nilai Kristiani serta berbagai tuntutan moral yang terkandung dalam panggilan Kristiani, seolah bertentangan dengan dunia ini. Kita dipanggil untuk merasul di tengah dunia, yang awalnya tercipta karena Cinta, tetapi yang sekarang memalingkan wajahnya dari Sang Cinta. Perang saudara, pembunuhan massal, diskriminasi, kemiskinan dan kelaparan, aborsi, perceraian, hubungan bebas dan narkotika, semuanya seolah menjadi tanda zaman bahwa dunia ini semakin kehilangan arti Cinta yang sejati. Di tengah semuanya ini, kita semua dipanggil sebagai putra-putri Sang Cinta, untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, sekaligus menjadi tanda iman dan seruan pertobatan, agar dunia ini, yang telah dibawa si jahat ke dalam jurang kegelapan yang dingin karena ketiadaan cinta, kelak boleh kembali dihangatkan oleh kobaran api cinta. Jadilah pelita-pelita yang dengan segala daya upaya dan karya, membawa cahaya bagi sesama. Semoga Perawan Tersuci Maria, Bunda Gereja, senantiasa memohonkan karunia-karunia Roh Kudus bagi hidup dan karya kita, agar karenanya, kita boleh mendatangkan api yang membakar seluruh dunia dalam nyala api cinta. (By: Verol Fernando Taole)