Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan II Paskah

image

PERCAYA SAJA DAN LAKUKANLAH !

Bacaan:
Kis.5:34-42; Mzm.27:1.4.13-14; Yoh.6:1-15

Renungan:
Siapapun yang hendak memulai perjalanan kerasulannya bagi karya Allah, sedari awal harus selalu ingat bahwa pada akhirnya itu bukan karya kita, melainkan karya Allah.
Pengakuan dan penerimaan sepenuhnya akan kenyataan ini akan sangat membantu bila diperhadapkan pada gerak cinta Tuhan yang seringkali membuat kita bertanya, “Quo vadis, Domine?”
Kemana Tuhan mengarahkan panggilan kita, apa sebenarnya maksud dari tindakan-Nya, bagaimana mungkin sesuatu yang baik bisa muncul dari keadaan ini, bukankah lebih jika Tuhan melakukan begini, dan rupa-rupa pertanyaan lainnya seringkali muncul dalam karya kerasulan.
Para rasul mengalami hal serupa dalam peristiwa perbanyakan roti dan ikan, sebagaimana yang kita renungkan hari ini.
Pahamilah hal ini!
Allah dapat mendatangkan segala yang baik, bahkan dari atau melalui keadaan yang paling buruk sekalipun.
Allah tetap masuk akal, sekalipun seringkali tindakan-Nya, tuntutan-Nya, kehendak dan rencana-Nya terkesan tidak masuk akal.
Kita diminta untuk beriman dan taat. Percaya saja dan lakukanlah!
Dan jangan berharap dorongan atau tuntutan untuk percaya dan taat itu akan datang selalu dari Tuhan melalui pewahyuan pribadi. Panggilan kepada ketaatan suci dapat datang dari uskup-mu, prelat-mu, superior-mu, pembimbing rohanimu, bapa pengakuanmu, komunitasmu, orang-orang terdekat yang lebih maju daripadamu dalam hidup rohani, bahkan jangan heran bilamana itu dapat saja berasal dari orang yang berpapasan denganmu di tengah jalan.
Bila Beata Teresa dari Kalkuta menerima panggilan Tuhan yang berbicara lewat seruan sederhana seorang pengemis, “Aku Haus …”, dan taat melakukannya dengan setia, kendati sesudah itu dia dibawa ke dalam malam gelap, dimana Tuhan seolah tidak pernah berkata-kata dengan begitu jelasnya lagi hingga menjelang akhir hidupnya … tidakkah kamu juga seharusnya tidak perlu terkejut bilamana Tuhan melakukan hal yang serupa denganmu?

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan II Paskah

image

JANGAN TAKUT !

Bacaan:
Kis.5:27-33; Mzm.34:2.9.17-18.19-20; Yoh.3:31-36

Renungan:
Seorang yang mengaku 100% Katolik haruslah juga menjadi 100% Warga Negara yang baik.
Akan tetapi, adalah keliru jika menjadi warga negara yang baik diartikan sebagai pembenaran untuk membela posisi pemerintah yang jelas-jelas bertentangan dengan iman dan moral Kristiani.
Kita tidak dapat berdiri di atas dasar nasionalisme dan patriotisme keliru, yang menuntut kita untuk menyangkal apa yang baik dan benar dari kemanusiaan.
Dalam bacaan hari ini, Petrus dan para rasul diperhadapkan kepada Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin), lembaga tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara Yahudi.
Ketidaktaatan Petrus dan para rasul akan perintah Sanhedrin bukanlah penolakan terhadap kewajiban mereka sebagai warga negara, melainkan penolakan terhadap dosa, karena mereka diminta untuk menyangkal kebenaran oleh institusi yang harusnya menjunjung tinggi kebenaran.
Iman Kristiani kita tidak pernah bertentangan dengan kehidupan bermayarakat, berbangsa dan bernegara. Justru iman itulah yang menjadi panduan yang aman dan pasti akan bagaimana kita seharusnya hidup sebagai warga negara yang baik.
Seorang Katolik tidak mungkin menjadi seorang warga negara yang baik, manakala ia mengikuti opini publik untuk membenarkan hukuman mati, aborsi, rekayasa genetika, pernikahan sesama jenis, euthanasia, korupsi berjamaah, pembunuhan massal atas nama agama dan ras, diskriminasi dan perbudakan, penindasan kebebasan berpendapat, serta berbagai kemerosotan moral lainnya, yang saat ini dengan bangga dan begitu jahatnya didukung oleh pemerintahan di banyak negara.
Jadilah seorang Katolik yang sejati, saksi-saksi Kebangkitan, yang menerangi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dengan senantiasa membawa ke dalamnya Yesus Kristus, Cahaya Kebenaran yang sejati.
Jangan takut membela apa yang baik dan benar, bahkan sekalipun itu akan mendatangkan kematian bagimu! Takutlah akan Allah, yang telah mengalahkan maut untuk memberi hidup!

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA KABAR SUKACITA

image

SEANDAINYA DIA MENJAWAB TIDAK

Bacaan I
Yes.7:10-14; 8:10
Mazmur Tanggapan
Mzm.40:7-8a.8b-9.10.11
Bacaan II
Ibr.10:4-10
BACAAN INJIL
Luk.1:26-38

Renungan:

“Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan.” (Lumen Gentium, 56)

Seandainya waktu di dunia ini pernah berhenti, maka itu sangat mungkin terjadi pada hari dimana Perawan Suci menerima Kabar Sukacita dari Allah melalui malaikat Gabriel.
Ada suatu momen keheningan mendalam yang terjadi pada hari itu, saat dimana seluruh penghuni surga membungkuk untuk melayangkan pandangan ke bumi dalam keheningan, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, untuk mendengar jawaban apa yang hendak dia berikan.
Sebuah jawaban yang akan menentukan keselamatan seluruh umat manusia.
Kenyataan bahwa Tuhan begitu menghormati kebebasan manusia, dan tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita, sebagaimana nyata dalam diri Maria di hari itu, semakin membuat momen itu mendebarkan bagi seluruh alam semesta.
Datang atau tidaknya Sang Penyelamat ke dalam dunia, sepenuhnya tergantung pada jawaban Maria.
Maria bisa saja menjawab “Tidak”.

Akan tetapi, dalam diri dan “Fiat/Ya” Maria, setiap orang beriman boleh memandang dan merenungkan dalam kekaguman akan rahmat Allah yang bekerja di dalam diri Maria.
Itulah juga sebabnya kenapa malaikat Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan menyebut dia sebagai yang “penuh rahmat.”
Karena, sama seperti sebelum Allah menciptakan manusia, terlebih dahulu Dia menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dalam kebaikan, sehingga bisa menjadi kediaman yang membahagiakan bagi manusia, demikian pula sebelum mengutus Putra-Nya yang terkasih ke dalam dunia, Allah sungguh-sungguh memilih dan menetapkan wanita terbaik, seorang Perawan Suci, serta menghujaninya dengan segala kelimpahan rahmat sebagai Bunda Allah.

“Fiat” Maria hendaknya menjadi “Fiat” kita juga. Jawaban “Ya” Maria hendaknya menjadi jawaban “Ya” kita juga, tidak hanya disaat kehendak Tuhan begitu jelas kelihatan, melainkan juga disaat jawaban “Ya” itu menuntut kita untuk melangkah di dalam kegelapan malam.
Sama seperti Maria, milikilah keberanian iman untuk percaya sekalipun tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.
Dalam keadaan sesulit apapun dalam hidup, ketika iman kita diuji, bahkan kendati seluruh dunia mendesak kita untuk mempertanyakan rancangan Tuhan, biarlah suara Tuhan ini selalu bergema di hati kita, “Jangan Takut! Percaya saja!”
Semoga Hari Raya Kabar Sukacita ini mengingatkan kita akan begitu besar belas kasih Allah atas umat-Nya, sambil meneladani Perawan Suci Maria yang menemukan kebebasan sejati dalam penyerahan diri secara total dan bebas kepada kehendak Allah.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Pax, in aeternum.
Fernando