Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 Maret 2016~SENIN DALAM OKTAF PASKAH

image

PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN

Bacaan:
Kis.2:14,22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Mat.28:8-15

Renungan:
Disadari atau tidak, Kekristenan adalah suatu perjumpaan dengan peristiwa. Peristiwa ini bukanlah peristiwa biasa, karena untuk memahami dan merangkulnya sebagai Kebenaran, seseorang memerlukan Iman. Itulah sebabnya, diperhadapkan dengan berbagai peristiwa hidup yang tak dimengerti, manusia seringkali sulit menerima itu sebagai kebenaran.
Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, setelah mendengar kebenaran kebangkitan Tuhan, yang diberitakan para serdadu, justru menjadi takut dan memilih menutupi kebenaran.
Lain halnya dengan para wanita pengikut setia Tuhan kita. Ketika menemukan kebenaran bahwa makam telah kosong, mereka mengalami kegelapan iman yang menakutkan, namun seketika juga mendatangkan sukacita yang besar. Sukacita iman yang membuat mereka berlari dalam kuasa cinta untuk membagikan kabar sukacita Injil ini.
Disini kita melihat 2 sikap yang berbeda dalam menanggapi kebenaran janji Tuhan.
Anda dapat memilih menjadi “saksi” dari kebenaran itu dan mewartakannya dalam hidup dan karya, atau memilih “diam” dan mengubur kebenaran itu,  karena telah nyaman dalam kesementaraan kemuliaan duniawi yang membinasakan baik tubuh maupun jiwa.
Berdirilah teguh dalam Iman, peganglah janji Tuhan, dan saksikanlah bagaimana dia melakukan perkara-perkara besar dalam dan melalui hidupmu.
Suatu sikap beriman yang dengan begitu indah diungkapkan hari ini oleh pemazmur, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm.16:8)
Hari ini biarlah sapaan Tuhan dan Penyelamat kita kembali bergema, “Jangan Takut!” (Mat.28:10)
Semoga kita sekalian, sebagaimana Ibu kita Maria, senantiasa diterangi oleh cahaya iman, agar dapat mengambil sikap yang tepat disaat peristiwa hidup menghantar kita pada perjumpaan dengan Sang Kebenaran.
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kis.2:32)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 25 Desember 2015 ~ HARI RAYA NATAL

SUKACITA YANG BERASAL DARI SEORANG BAYI

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11 – 12)

image

Saudara-saudari terkasih,

Hari Raya Natal merupakan suatu perayaan iman akan Allah yang menjadi manusia, karena Kasih. Kata “Natal” sendiri mempunyai suatu makna yang sangat dalam. Bagi banyak orang, termasuk mereka yang belum atau tidak beriman, mendengar atau membayangkan arti kata “Natal” saja sudah membawa kegembiraan, sukacita, dan senyum bahagia. Bagi sebagian orang, Natal mungkin hanya identik dengan pesta, Santa Claus dan hadiah, lampu-lampu hias dan pohon natal yang bernyala dengan indah, atau mungkin aneka kue dan makanan yang lezat.
Akan tetapi, gambaran keliru akan arti Natal yang diciptakan oleh dunia modern saat ini, seringkali mengaburkan kita dari kenyataan dan misteri agung yang terjadi dalam kandang hina di suatu kota kecil bernama Bethlehem.
Diawali dengan kabar sukacita dari Allah melalui malaikat-Nya, Gabriel, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, lalu kepada Yosef, yang kemudian menjadi suami-Nya. Maria mungkin hanyalah seorang gadis sederhana, tetapi jawaban Imannya membuat gadis ini menjadi luar biasa, terberkati di antara semua wanita, mengguncangkan surga dalam sukacita, dan menempatkannya sebagai permata terindah dalam sejarah kekristenan. Seandainya tidak ada “Fiat” Maria, keselamatan tidak akan datang ke dalam dunia, dan selamanya kita akan tinggal dalam kegelapan. Pernyataan “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, menjadikan Maria sebagai saksi pertama dari sukacita Injil bagi seluruh umat manusia.

Dalam diri Yosef, suaminya, kita pun bisa melihat kebesaran hati yang berasal dari relasi pribadi-Nya yang mesra dengan Allah. Ketaatannya kepada hukum Tuhan, semakin sempurna dan nyata dalam ketaatannya menerima tugas sebagai suami Perawan Maria dan bapa pemelihara Tuhan kita Yesus Kristus. Sama seperti Maria, Yosef memberikan kita teladan bagaimana berjalan di tengah kegelapan iman. Kegelapan tidak lagi gelap bagi mereka, karena mereka telah dibutakan oleh cahaya kasih Ilahi.
Melalui permenungan akan peristiwa, tempat, dan tokoh lainnya dari peristiwa Natal ini, kita pun dapat merefleksikan bagaimana kita sendiri menyikapi kedatangan Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana Maria tergerak menempuh perjalanan mengunjungi Elisabeth untuk membagikan kabar sukacita, mengajar kita untuk tidak pernah menyimpan segala karunia, talenta, dan berkat Tuhan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbagi, agar orang lain turut mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu. Itulah kepenuhan sukacita kita.

Ketiadaan tempat menginap, pintu-pintu yang tertutup, ketukan dan salam tak berbalas, menggambarkan hati manusia yang seringkali tertutup terhadap keselamatan dari Allah, suatu ketakutan untuk meninggalkan manusia lama, keengganan untuk memutuskan persahabatan dengan dosa, suatu tindakan yang melukai hati Tuhan sebab memperlihatkan bagian terburuk dari hati manusia yang tidak mau disentuh dan diubah oleh sentuhan rahmat Ilahi.
Bahwa para Majus dari Timur keluar dari negeri mereka untuk melakukan perjalanan mengikuti cahaya bintang, mengungkapkan suatu sikap iman seperti Abraham yang keluar meninggalkan negerinya menuju Tanah Terjanji. Bagaikan mempelai wanita dalam Kidung Agung yang keluar dari peraduannya untuk mencari Sang Kekasih yang telah melukainya dalam nyala api cinta. Inilah yang dimaksud oleh St. Yohanes dari Salib dalam kata-katanya, “Untuk memperoleh Yesus Kristus, Sang Segala, lepaskanlah segala.

Penolakan Herodes dan nafsu membunuhnya yang berujung pada pembantaian kanak-kanak suci Bethlehem, menunjukkan bahwa ketika manusia secara sukarela menjadi budak dosa dan maut, dia sanggup melakukan hal-hal yang merupakan kekejian dan jahat di mata Tuhan, serta merusak citra Allah dalam diri-Nya. Kita pun bisa melihat hal yang sama saat ini di sekitar kita, dimana orang sanggup membunuh saudara dan saudarinya dalam nama Tuhan maupun ideologi yang keliru, bahkan lebih jahat dari Herodes, setiap hari kita pun mendengar maupun melihat banyak ibu yang tega menggugurkan kandungannya, membunuh darah dagingnya sendiri.

Kenyataan bahwa para penggembala adalah yang pertama tiba untuk memberi hormat di depan Sang Bayi mungil Bethlehem, seolah memberikan suatu kenyataan bahwa seringkali misteri Ilahi lebih mudah diterima oleh hati yang sederhana, mereka yang merangkul putri kemiskinan adalah mereka yang pada akhirnya beroleh mutiara yang paling berharga. Mereka yang lemah lembut hatinyalah yang pada akhirnya akan memandang Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Perayaan Natal pun adalah suatu perayaan keluarga. Sebagaimana Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dan dibesarkan dalam sebuah Keluarga Kudus yang mencintai hukum Tuhan serta saling mengasihi, demikian pula peristiwa Natal mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya untuk memelihara kehidupan bukannya melenyapkannya, untuk berpegang teguh pada moral Kristiani dan Ajaran Sosial Gereja. Tentu saja ini merupakan tantangan dan perjuangan Iman tersendiri di tengah dunia yang semakin mengerdilkan peran keluarga dalam membangun dunia, di saat penghargaan akan martabat manusia semakin rendah, dan di saat banyak orang mencoba memberikan makna dan bentuk baru yang keliru akan pernikahan dan keluarga. Di tengah kemerosotan tatanan hidup yang demikian, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya sukacita Natal, dan menghalau kegelapan. Jadilah keluarga yang kudus dan merasul! Jadilah putra-putri Gereja yang dengan dipenuhi sukacita Injil.

Kita kini hidup di tengah dunia yang semakin kehilangan sentuhan dengan yang ilahi. Gambaran-gambaran yang keliru dan kegemerlapan perayaan Natal palsu yang ditampilkan oleh dunia sekuler saat ini, telah mengaburkan iman kita dari kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dalam sebuah kandang hina Bethlehem. Ini pulalah yang selalu membawa Gereja pada kesadaran akan misinya bagi kaum miskin papa dan menderita, sekaligus mengingatkan Gereja untuk tidak jatuh dalam bahaya kemapanan dan kegemilangan harta. “Bagi saya, lebih baik Gereja itu rapuh, terluka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, ketimbang Gereja yang sakit lantaran tertutup dan sibuk memperhatikan kemapanannya sendiri,” demikian kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Saudara-saudari terkasih,

Makna Natal yang sejati adalah perayaan kasih Allah akan dunia. Suatu kabar sukacita yang secara sempurna terangkum dalam kata-kata St. Yohanes Rasul, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Sang Bayi mungil dari Bethlehem ini menjadi tanda bahwa kebesaran Allah bukan saja terlihat pada kemahakuasaan-Nya, melainkan juga dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati-Nya. Di saat banyak pemimpin dunia yang mencoba menunjukkan bahwa kekuasaan dan kehormatan hanya bisa didapat dari ketakutan, peperangan, pemaksaan kehendak, perbudakan dan dorongan untuk menghalalkan segala cara, serta melihat jabatan dan kekuasaan sebagai milik yang harus dipertahankan, di tengah segala semuanya itu misteri Natal menjadi tanda perbantahan, dimana Tuhan, Sang Raja Alam Semesta, justru memancarkan kemuliaan dan kuasa-Nya dalam kerapuhan dan ketidakberdayaan seorang Bayi. Dia dihormati dan disembah oleh surga dan bumi, karena kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya, dan menjadi manusia. “Allah menjadi manusia, supaya manusia menjadi (partisipatif) Allah,” demikian gambaran indah dan tepat dari St. Athanasius mengenai misteri agung ini.

Marilah kita berdoa agar di Tahun Yubileum Kerahiman ini, kita semua semakin menyadari belas kasih Bapa yang mengutus Putra-Nya untuk masuk ke dalam dunia. Kedatangan Kristus telah membuka Pintu Kerahiman Allah bagi dunia.
Berdoalah bagi mereka yang saat ini harus merayakan Natal dalam berbagai situasi sulit kehidupan, dalam penganiayaan dan peperangan, dalam kesepian dan keterasingan, dalam penjara dan belenggu dosa, dalam kemiskinan dan ketidakadilan, dalam sakit dan sakratul maut. Semoga cahaya Kristus menerangi hidup kita semua, mendatangkan perubahan hati untuk memandang Bayi Kudus di Bethlehem, dalam keheningan yang mendamaikan serta membebaskan.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi penunjuk jalan yang aman bagi kita menuju Yesus, Putera-Nya, agar lewat tuntutan kasih keibuan dan doa-doanya, kita semakin dipenuhi sukacita yang berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem. Dia yang lahir dalam kesederhanaan, dalam kerapuhan seorang bayi, kiranya membuat kita tersungkur dalam kekaguman akan misteri agung cintakasih Allah ini.

Bersama dengan St. Josemaria Escriva, saya berdoa bagi anda sekalian, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.

Regnare Christum volumus !

SELAMAT NATAL

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++