Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Oktober 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XXVII

image

KALAHKANLAH SI JAHAT !

Bacaan:
Yl.1:13-15 & 2:1-2; Mzm.9:2-3.6.16.8-9; Luk.11:15-26

Renungan:
Kejahatan itu bukan sekadar suatu kenyataan, melainkan pribadi yang benar-benar ada. Bukan sekadar realitas, melainkan entitas. Meskipun terkadang dapat disalah mengerti dengan penyakit-penyakit zaman ini, Si Jahat bukanlah sekadar sejenis penyakit yang tidak bisa dijelaskan pada situasi, tempat atau, keadaan dimana manifestasinya terjadi.
Dia adalah pribadi yang nyata, yang dengan racun kedosaannya telah merusak relasi umat manusia dengan Allah, dan menjadi akar penyebab rupa-rupa kemunduran beriman, kerusakan, peperangan, penderitaan, serta berbagai bentuk kejahatan di segala zaman.
Dengan berbagai cara ia melawan Allah, dan bekerja untuk menggagalkan maksud-maksud Allah.
Di sepanjang sejarah kemanusiaan, Si Jahat ini dikenal dengan berbagai nama: Beelzebul, setan, bapa segala dusta, pangeran kegelapan, iblis, lucifer, ho diabolos, si pendakwa, penguasa dunia, hanyalah sebagian dari sekian banyak namanya.

Tidak hanya dalam Injil Lukas yang kita baca hari ini, di berbagai bagian dalam Kitab Suci kita diyakinkan akan adanya konflik besar antara kekuatan Allah dan kebaikan di satu pihak, melawan kejahatan di bawah pimpinan iblis di pihak lain.
Tak dapat diragukan betapa hebat dan sengitnya peperangan itu. Untuk menekankan kengeriannya, St. Petrus Rasul, Paus Pertama kita, mengatakan bahwa Iblis “berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum mencari orang yang dapat ditelannya.” (1Ptr.5:8). Demikian pula St. Paulus Rasul memperingatkan kita akan kelicikan si jahat yang dengan begitu lihainya “menyamar sebagai malaikat Terang” (bdk.2Kor.11:14).
Dalam hidup para kudus kita tahu bahwa mereka pun dicobai iblis dengan begitu nyata, dan merekantelah keluar sebagai pemenang atasnya.
Maka, sangatlah disayangkan bahwa kesadaran akan eksistensi si jahat di zaman sekarang ini dianggap oleh banyak orang, termasuk oleh sebagian orang di dalam Gereja, sebagai suatu kebodohan dan berbau tahyul, bagian dari film dan kisah novel yang fiksi belaka.

Dalam keprihatinan akan sikap acuh tak acuh demikian, Beato Paus Paulus VI kemudian mengatakan, “Janganlah jawaban kami ini mengejutkan anda karena terlalu sederhana dan bahkan berbau tahyul atau tidak nyata: Salah satu kebutuhan yang terbesar adalah pertahanan dari yang jahat yang disebut Iblis…Kejahatan itu bukan hanya kekurangan sesuatu, tetapi suatu perilaku yang aktif, suatu makhluk rohani yang sudah rusak dan menjadikan orang rusak. Suatu kenyataan yang mengerikan…Sangatlah berlawanan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja bila ada yang menolak untuk mengakui adanya kenyataan ini…atau yang menerangkannya sebagai suatu kenyataan semu, suatu personifikasi yang berangan-angan dan terkonsep untuk sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita…Masalah Iblis dan pengaruh yang dapat ditimbulkannya pada perseorangan dan juga pada komunitas, masyarakat, dan peristiwa merupakan suatu bab yang sangat penting dari doktrin Katolik, yang hanya sedikit sekali diperhatikan saat ini…Sebagian orang mengira bahwa kompensasi yang cukup mengenai hal itu dapat diperoleh pada studi psikoanalitik dan psikiatrik atau dalam pengalaman-pengalaman spiritual…Orang takut untuk jatuh dalam teori Manikeanisme lagi atau dalam penyimpangan yang menakutkan dari bayangan dan tahyul. Dewasa ini orang lebih cenderung tampil dengan kuat dan tidak berprasangka…Doktrin kita menjadi tidak pasti, gelap seperti adanya kegelapan yang meliputi iblis.” (Pope Paul VI, L’Osservatore Romano, November 23, 1972)

Salah satu tugas perutusan Gereja adalah untuk menyadari eksistensi si jahat, dan memeranginya dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus.
Ini adalah peperangan iman yang harus disadari oleh putra-putri Gereja. Berdirilah di tempat yang tepat.
Seseorang tidak dapat memihak Allah dan disaat bersamaan bersepakat dengan Setan dengan segala perbuatannya.
Tidak mungkin menyebut diri putra-putri Allah dan seorang Katolik sejati, tetapi di saat bersamaan menggunakan kontrasepsi, menyetujui hukuman mati, melakukan aborsi dan membenarkan euthanasia, menebar kebencian dan permusuhan, menjadi budak seks dan narkotika, mengakui pernikahan sesama jenis dan rekayasa genetika, berpegang pada jimat, melakukan praktik sihir dan guna-guna, percaya pada ramalan, serta berbagai bentuk tipu daya si jahat lainnya.

Maka, siapapun yang hendak berdiri di pihak Allah, haruslah dengan tegas menolak setan dengan segala perbuatannya.
Tidak boleh beriman setengah-setengah. Berimanlah sepenuhnya atau tidak sama sekali.
Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Lukas.11:23)
Kita dipanggil untuk menyadari peperangan iman ini dan memenangkannya bersama Tuhan.
Sebab setan, demikian ujar Sri Paus St. Gregorius, tidak memiliki apa-apa di dunia ini, dan dia maju ke medan pertempuran dalam keadaan telanjang. Jika engkau dengan ‘mengenakan segala pakaian duniawi’ berperang melawan setan, maka engkau akan segera tersungkur ke tanah, sebab Engkau mengenakan sesuatu yang dapat dicengkeram olehnya.” (St. Josemaría Escrivá)

Sebagaimana si jahat mencobai Tuhan Yesus, kita pun harus selalu mewaspadai kehadirannya, yang meskipun seringkali tidak begitu kentara dan tersembunyi dengan begitu cerdiknya, tetapi selalu ada di balik berbagai peristiwa hidup beriman kita.
Lawanlah si jahat dengan imanmu, dengan doa-doamu, dengan hidupmu yang benar dan berkenan di hadapan Tuhan dan sesama.
Doa Agung yang diajarkan oleh Tuhan kita pun dengan jelas mengajak kita untuk berani meminta Bapa agar “membebaskan kita dari segala yang jahat.
Putra-putri Gereja hendaknya bercahaya untuk mengenyahkan kegelapan, mengusir setan dengan segala kuasanya, dan menyatakan hadirnya Kerajaan Allah di tengah dunia.
Jangan Takut!
Jika Tuhan di pihak kita, tidak ada yang perlu ditakutkan.

Di saat ini, berdoalah juga bagi Gereja Kudus, khususnya bagi Sinode Keluarga yang masih sementara berlangsung di Roma. Si jahat saat ini mencoba menyerang Gereja dengan melemahkan serta merusak kesejatian Keluarga dan Sakramen Pernikahan. Ini nyata dari usaha sebagian pihak untuk merubah Ajaran Gereja mengenai itu.
Ada usaha pula untuk memaklumkan dosa pribadi dan sosial di balik selubung Teologi mengenai Kerahiman Tuhan, namun ternyata memiliki kemiripan yang sesat dari gagasan serupa di masa Reformasi.
Semoga Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga ini, senantiasa dibimbing oleh Roh Kudus, sehingga buah-buah Sinode nantinya, dapat menjadi senjata Iman Gereja Katolik dalam mengalahkan niat-niat si jahat yang ingin merusak keutuhan Keluarga dan Sakramen Pernikahan.
Pandanglah Salib Tuhan, disanalah kamu akan selalu menemukan kekuatan untuk melawan si jahat.
Pada akhirnya, kejahatan akan dikalahkan oleh kuasa Allah.
Bersama Santa Perawan Maria, marilah kita menjadi rasul-rasul doa, dengan mendaraskan Rosario Suci, sebagai senjata ampuh untuk mengenyahkan kegelapan dunia ini.
Berperanglah, bercahayalah, dan rebutlah sebanyak mungkin jiwa dari genggaman si jahat, demi kemuliaan Allah.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 7 Oktober 2015 ~ Pesta Santa Maria Ratu Rosario Suci

image

DOA MENGUBAH SEGALANYA

Bacaan:
Kis.1:12-14 atau Yun.4:1-11; Mzm.86:3-6.9-10; Luk.1:26-38 atau Luk.11:1-4

Renungan:
Doa selalu sanggup mengubah segala sesuatu. Pertempuran di Lepanto adalah salah satu dari sekian banyak bukti kuasa doa, terutama doa Rosario. Bagaimana dalam keadaan dimana kemenangan seolah mustahil, armada Kristen yang kalah jumlah dapat mengalahkan armada Kesultanan Turki, tepat pada tanggal 7 Oktober 1571.
Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur, hari ini dan sepanjang bulan ini, dipersembahkan oleh Gereja Kudus kepada St. Maria Ratu Rosario Suci.
Karena doa Rosario dan ke-pengantara-an Maria, Tuhan Allah berkenan menganugerahi umat beriman kemenangan dan sukacita di dalam Dia.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi-Nya. Seringkali rahmat Tuhan itu semakin dirasakan justru dalam peristiwa-peristiwa paling menyulitkan, paling mendukakan, paling mencekam dalam hidup kita.
Dalam keadaan dimana segala daya upaya manusia seolah tak membuahkan hasil, pada waktu itu roh yang dihembuskan ke dalam jiwa kita sewaktu penciptaan berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan, membuat jiwa semakin rendah hati untuk berlutut dalam doa dengan tangan terentang ke atas, dengan pandangan ke arah salib, untuk memohon belas kasih Allah.

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam. Yang senantiasa berseru, “Abba – Bapa“. Bahwa kita boleh menyapa Allah sebagai Bapa, itupun seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, yang memberanikan kita untuk menapaki padang gurun dunia ini. Suatu keyakinan bahwa Bapa tidak mungkin menelantarkan anak-Nya, apalagi membiarkannya binasa.
Di dalam Dia, tidak ada doa yang dibiarkan tak terjawab. Entah jawabannya, “Ya“, “Tidak“, atau “Belum Saatnya“, Tuhan selalu mendengarkan dan menjawab doa kita.

Akar kerisauan kita, ketidakmengertian kita, maupun kesulitan kita untuk menerima jawaban Tuhan, sebenarnya bersumber dari kegagalan kita untuk berlaku sebagai seorang anak.
Kita menyapa Dia “Bapa“, namun itu tidak disertai dengan cinta bakti sebagaimana layaknya seorang “Anak“.
Kita berteriak memanggil Dia “Bapa“, tetapi dalam hidup harian tak jarang kita tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang “Anak.”
Meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni; meminta pertolongan, tetapi tidak pernah menolong; meminta rezeki, tetapi tidak pernah memberi, apalagi untuk memberi dari kekurangan; meminta keselamatan jiwa sendiri, tetapi tidak mau merasul untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa sesama; mengharapkan hujan berkat, tetapi menutup keran berkat bagi orang lain; meminta kekudusan, tetapi dengan tahu dan mau berulang kali jatuh dalam dosa yang sama; mengarahkan pandangan ke surga, tetapi tidak mau peduli untuk mengajak orang lain agar mengarahkan pandangan yang sama ke surga, malah lebih jahat lagi, turut serta menjadi rekan kerja si jahat, dan menyeret sesamanya ke dalam jurang kebinasaan, ke dalam kegelapan kekal.

Maka, sebenarnya doa tidak pernah tak terjawab. Doa itu selalu terjawab. Bagaimana kita memahami jawaban Tuhan, sangat ditentukan oleh relasi pribadi kita dengan Dia. Suatu relasi mesra, sebagaimana dimiliki oleh Ibu kita, Maria.
Keterpesonaan cinta yang memampukan Maria dalam segala situasi hidup, seberat apapun itu, bahkan sekalipun diselubungi awan ketidakmengertian, namun Maria tetap bersukacita dan berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38)

Maria adalah teladan kerasulan doa. Dia tidak hanya menjadi teladan para guru rohani di puncak gunung kemuliaan, melainkan terlebih merupakan teladan bagi mereka yang baru mulai menapaki pendakian rohani menuju Allah. Lewat lereng dan lembah hidup, selama engkau melangkah dengan Rosario di tangan, Salam Maria didaraskan dari bibirmu, dan asalkan kamu sungguh mau merendahkan diri untuk dibentuk Tuhan, maka perjalananmu dalam doa perlahan-lahan akan mulai memurnikan dan membawa jiwamu pada kesempurnaan.
Jangan pernah mau dibodohi oleh si jahat untuk berhenti berjalan naik, untuk berhenti mendaki dalam doa. Rosario adalah senjata yang sangat ampuh mengalahkan setan dan segala kuasa jahatnya. Doa Rosario itu semakin bernilai apabila dilakukan dalam kekeringan dan ketiadaan niat untuk berdoa. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam.

Dengan meneladani dan memiliki cinta yang sempurna seperti Maria, yang mencari kehendak Tuhan siang dan malam, setiap orang beriman pada akhirnya akan menyadari bahwa sejatinya doa itu bukanlah soal meminta, melainkan “mencinta“.
Pada saat engkau menyadari itu, pada waktu itulah mata rohanimu akan terbelalak karena menyadari bahwa “Sungguh…doa mengubah segala sesuatu.
Suatu kesadaran yang disertai keheningan dalam kekaguman serta rasa syukur.

Semoga doa yang diajarkan oleh Tuhan kita, tidak hanya memberanikan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, melainkan juga menyadarkan kita untuk sungguh bersikap sebagaimana layaknya seorang anak.
Dan kiranya St. Maria Ratu Rosario Suci membimbing kita dengan tuntunan kasih keibuannya, agar di Bulan Rosario ini kita menjadi pribadi, keluarga, dan komunitas yang berdoa.
Semoga Salam Maria yang kita daraskan menjadi rangkaian bunga mawar yang indah di Tahta “Abba – Bapa” kita.
Tetaplah berdoa bagi Sinode Keluarga, yang kini memasuki hari-4, dan mohonkanlah karunia pertobatan dan doa bagi semua orang, khususnya mereka yang masih bersikeras mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa, tanpa Tuhan.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 6 Oktober 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXVII

image

SELALU ADA WAKTU UNTUK TUHAN

Bacaan:
Yun.3:1-10; Mzm.130:1-2.3-4ab.7-8; Luk.10:38-42

Renungan:
Selama ratusan tahun, bacaan Injil hari ini kerap kali digunakan untuk membandingkan dua bentuk kehidupan beriman dalam Gereja Katolik. Marta melambangkan hidup aktif, sedangkan Maria melambangkan hidup kontemplatif.
Suatu pembandingan yang kadang kala secara keliru dimengerti oleh sebagian orang, dan dijadikan pembenaran untuk saling merendahkan salah satu bentuk kehidupan.
Hidup manusia memang harus dan mutlak perlu diarahkan kepada Allah, untuk memandang Dia dalam kuasa cinta. Itulah kontemplasi.
Namun, ini bukan berarti semua orang beriman dipanggil untuk meninggalkan dunia ini dalam pengasingan di gurun, gunung, atau hutan, dan secara total membaktikan diri kepada Allah.
Bahwa Tuhan memanggil insan-insan Allah ke jalan suci tersebut, itu memang benar, tetapi tidak semua.
Pada kenyataannya, sebagian besar umat beriman, hidup tengah dunia, di tengah segala hiruk-pikuk dan kesibukan dunia, di dalam keluarga, profesi kerja, serta bersentuhan dengan bagian-bagian terburuk dari dunia ini.
Apa hidup beriman di tengah semuanya itu sesuatu yang salah? Apa kita semua harus menjadi pertapa?
Tentu saja tidak secara harafiah.

Maka, Injil hari ini hendaknya dimengerti bukan untuk sekadar membandingkan 2 bentuk kehidupan, yang masing-masing tentu punya keutamaan dan keindahan tersendiri.
Injil hari ini berbicara tentang panggilan untuk hidup di hadirat Allah.
Marta memang melakukan karya yang baik. Andaikan dia tidak mempersiapkan segala sesuatu, tentu banyak hal dalam rumah itu akan berada dalam ketidakaturan. Pelayanan yang dia lakukan merupakan ungkapan bahwa diapun ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan.
Namun, Tuhan Yesus mengingatkan Marta bahwa kendati pelayanan itu memang selayaknya dilakukan, jangan sampai melupakan apa yang paling penting, yaitu mendengarkan Dia, mencintai Dia.
Hidup di tengah dunia dengan segala kesibukannya, bukanlah pembenaran untuk tidak memiliki waktu untuk duduk di kaki Tuhan dan mendengarkan Dia.
Bahkan, serohani apapun pelayanan dan karya baik yang kita lakukan, bukanlah pembenaran untuk mengesampingkan hidup doa.
Jam adorasi, brevir, rosario, lectio divina, dan doa pribadi atau komunitas lainnya, tidak boleh dipersingkat, dilakukan secara terburu-buru, apalagi ditiadakan, hanya karena dapat mengganggu jadwal kita yang lain.
Mereka yang tekun menjalankannya, pada akhirnya akan menemukan, bahwa sekalipun berada pada situasi dimana doa lisan sama sekali tidak bisa dilakukan, selalu ada waktu untuk doa batin.
Anda dapat tetap melakukan segala perkara, sambil tetap hidup di hadirat Tuhan.

Selalu ada waktu untuk Tuhan. Tidak mungkin tidak.
Selalu ada waktu untuk Misa Kudus, untuk merenungkan Firman-Nya, untuk mendaraskan Rosario dan doa-doa pribadi atau komunitas.
Lihatlah bagaimana para kudus seperti Beata Teresa dari Kalkutta, Dorothy Day, Louis Martin dan Marie-Azélie Guérin Martin, dapat selalu menemukan waktu untuk diam dalam keheningan bersama Tuhan, justru di tengah kesibukan hidup, keluarga/komunitas, dan karya mereka di dalam dunia.
Mereka hidup dalam kesadaran bahwa segala pekerjaan, pelayanan, segenap hidup dan karya mereka adalah ungkapan kontemplasi mereka. Suatu kesadaran batin untuk memandang Allah dalam kerja.

Sebagaimana mereka, demikian pula hendaknya kita.
Entah mahasiswa, tentara, dokter, supir taksi, pemulung, ibu rumah tangga, karyawan, hakim, politikus, apapun profesi hidup kita, selama kita membawa Tuhan di dalam semuanya itu, itulah doa kita. Asalkan kita melakukannya dalam kesadaran, integritas, dedikasi, dan motif adikodrati, itu merupakan persembahan yang harum dan berkenan bagi Tuhan. Itulah kontemplasi kita.
Memiliki hidup doa bukanlah tanda kelemahan. Memiliki kerinduan untuk berlutut dalam Misa Kudus setiap hari bukanlah tanda ketidakberdayaan melihat hidup.
Sebaliknya, itu adalah ungkapan heroik seorang abdi Allah, seorang ksatria iman, yang sepenuhnya sadar bahwa hidupnya berasal dari Allah, yang memberinya kekuatan untuk mengalahkan dunia.

Injil hari ini mengajak kita pula untuk rendah hati. Gereja dan dunia kita saat ini mengalami rupa-rupa penyesatan, kesulitan, pergumulan, dan penderitaan.
Situasi ini telah mendatangkan keprihatinan, bahkan membangkitkan banyak pribadi-pribadi yang dengan niat baik, sungguh ingin memberikan jawaban dan solusi atas berbagai permasalahan Gereja dan dunia saat ini.
Namun, di tengah segala usaha dan niat baik itu, jangan pernah melupakan apa yang paling penting. Pilihlah selalu yang terbaik, sebagaimana dilakukan oleh Maria, yaitu duduk diam di kaki Tuhan, untuk mendengarkan Dia.
Pada akhirnya, hidup yang dipenuhi kerendahan hati untuk duduk berdiam di hadirat Allah dan mendengarkan Dia, akan berbuah pemurnian diri dan kekudusan, sebagaimana bangsa Niniwe menanggapi seruan pertobatan yang dibawa oleh Nabi Yunus.

Di tengah situasi sulit dan menantang hidup beriman yang dihadapi Gereja Katolik saat ini, marilah kita juga mengingat dan mendoakan Bapa Suci dan para Bapa (Uskup) Sinode Keluarga di Roma, yang kini memasuki hari-3.
Semoga mereka senantiasa bersandar pada bimbingan Roh Kudus, untuk mendengarkan Dia.
Dengan demikian, Sinode ini bukan sekadar parlemen atau sidang dunia, dimana masing-masing orang menyuarakan pandangan mereka, melainkan mereka sungguh mendengarkan Tuhan, untuk menyuarakan apa yang menjadi kehendak-Nya, dan demi Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 4 Oktober 2015 ~ MINGGU BIASA XXVII

image

JANGAN BERTEGAR HATI !

Bacaan:
Kej.2:18-24; Mzm.128:1-2.3.4-5.6; Ibr.2:9-11; Mrk.10:2-16

Renungan:
Sejak awal penciptaan, Sakramen Pernikahan selalu bersifat monogami dan tak terceraikan antara seorang pria dan seorang wanita. Hukum Tuhan ini sedemikian jelas sehingga tidak ada celah bagi interpretasi yang berbeda, apalagi untuk memberinya makna baru dengan dalih supaya lebih sesuai dengan arus zaman.
Ketegaran hati manusialah yang seringkali mengaburkan dan berujung penolakan terhadap kebenaran ini.
Itulah sebabnya, putra-putri Gereja Katolik harus senantiasa membawa cahaya dan sukacita iman lewat kesaksian hidup yang meyakinkan.
Iman Kristiani hendaknya diwartakan secara otentik dan dihidupi secara total, kendati seringkali harus melawan arus zaman.
Iman kita adalah harga mati dan tidak bisa dinegosiasikan. Iman bukanlah gaya hidup yang dapat usang dan berganti seiring waktu.
Sabda Tuhan hari ini kembali mengajak kita untuk melihat martabat luhur dan kekudusan Sakramen Pernikahan serta kesejatian Keluarga dalam terang Iman.

Kendati didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, Gereja Katolik tidak menciptakan definisi dari Sakramen Pernikahan. Demikian pula segala institusi buatan manusia pun tidak.
Allah sendirilah yang telah menetapkannya.
TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:18.21-22.24)

Maka, manakala Gereja Katolik saat ini membela mati-matian martabat Pernikahan dan kesejatian Keluarga dari berbagai usaha si jahat yang mencoba merusaknya, itu sama sekali bukanlah sikap yang usang, ketinggalan zaman, apalagi diartikan secara diskriminatif dan tidak manusiawi.
Justru segala bentuk serangan terhadap kebenaran sejati inilah yang sebenarnya mendatangkan pengrusakan terhadap martabat hidup manusia, serta mengaburkan citra Allah dalam dirinya.

Sakramen Pernikahan adalah suatu panggilan yang Ilahi, di dalamnya kita dapat memandang pula gambaran cinta Kristus kepada Gereja sebagai Mempelai-Nya.
Sebagian besar umat beriman dipanggil untuk menapaki jalan panggilan luhur ini. Dan sebagaimana Firman-Nya, bahwa tidak ada satupun manusia boleh menceraikan atau merusak apa yang telah disatukan Tuhan, maka perceraian dan segala usaha merusak pernikahan maupun kesejatian keluarga, merupakan kekejian serta perlawanan terhadap rancangan indah dari Allah.

Amatlah mendukakan bahwa saat ini, bukan hanya mereka yang tak beriman, melainkan justru banyak orang yang menyebut diri pengikut Kristus, kini mulai meragukan, mempertanyakan, bahkan tak jarang menyerah di jalan suci dan luhur ini.
Jangan sampai kata-kata Tuhan Yesus menjadi teguran nyata bagi kita, bahwa “ketegaran hatimulah” yang telah membutakan serta membuatmu berpaling dari kesempurnaan kemanusiaan ini.

Dunia saat ini mengalami ketiadaan Allah yang luar biasa, suatu kegelapan iman dan penolakan terhadap Sang Cinta, melebihi masa-masa sebelumnya dalam sejarah.
Ketegaran hati dunia telah membuat banyak pasangan suami-istri jatuh dan menyerah dari panggilan untuk mencintai ketidaksempurnaan secara sempurna; pada ketidaksetiaan dan perzinahan; pada pemusnahan kehidupan dengan tindakan aborsi dan Euthanasia; pada kontrasepsi dan penciptaan maupun rekayasa kehidupan layaknya produk buatan pabrik; pada menjadi budak uang dan ambisi berkuasa, sampai lupa menyediakan waktu untuk orang yang mereka kasihi; pada kemajuan teknologi dan komunikasi, yang bukannya mendekatkan, melainkan semakin menjauhkan satu sama lain; pada interpretasi baru akan arti pernikahan maupun keluarga; dan pada hawa nafsu dunia yang menyesatkan.

Berjaga-jagalah sebab setan, si ular tua, saat ini mencoba melemahkan Gereja dengan menyerang Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga.
Si jahat tahu, bahwa tanpa Sakramen Pernikahan dan Keluarga Kristiani yang sejati, tidak akan ada putra-putri Cahaya, tidak akan ada mereka yang memberi diri dalam panggilan suci, tidak akan ada karya kerasulan, tidak akan ada pewarisan Iman, tidak akan ada Gereja.

Dalam bagian akhir Injil hari ini, Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya mengenai keagungan Sakramen Pernikahan dan pentingnya Keluarga, dengan mengundang anak-anak datang kepada-Nya, sambil mengecam mereka yang mencoba menghalangi kehadiran anak-anak.
Maka, celakalah kamu, hai putra-putri kegelapan, yang mencoba merubah Ajaran Gereja dengan lobi-lobi kotormu; yang kini telah mengubah undang-undang di banyak negara untuk memberi definisi baru bagi Pernikahan, sebagai bukan lagi antara pria dan wanita; yang melegalkan aborsi, suatu tindakan keji untuk membunuh dengan dalih kemanusiaan maupun alasan medis; yang membenarkan bahkan memaksakan penggunaan berbagai bentuk kontrasepsi untuk menghalangi kehadiran anak-anak sebagai buah cinta; yang menghina Allah dengan rekayasa genetika untuk penciptaan manusia dari meja riset dan laboratorium; dan yang menentang panggilan prokreasi atas pertimbangan ekonomi, gejolak sosial serta politik.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa mujizat pertama yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dilakukan di Kana, di tengah Pernikahan, di dalam Keluarga. Oleh karena itu, Sabda Tuhan hari ini kiranya membaharui panggilan kita, serta pandangan iman kita akan Sakramen Pernikahan dan kesejatian Keluarga.
Tentu saja ada rupa-rupa tantangan dalam hidup pernikahan, akan selalu ada rupa-rupa pergumulan untuk melangkah bersama sebagai keluarga.
Tetapi, “Jangan Takut!
Pandanglah selalu salib Tuhan kita dan temukanlah kekuatan disana.
Santapan Ekaristi, Firman Tuhan, doa, puasa, matiraga, serta karya kerasulan hendaknya menjadi sumber kekuatanmu.
Bukankah Tuhan selalu ada di dalam kamu dan kamu di dalam Dia? Jika Tuhan berada di pihakmu, kenapa takut atau kuatir? Bersukacitalah!
Asalkan kamu selalu setia untuk melangkah bersama Dia, maka mujizat di Kana akan terjadi juga di dalam pernikahanmu, di dalam keluargamu. Tuhan selalu sanggup mengubah air menjadi anggur. Percaya saja!

Di bulan Rosario ini, marilah kita mengarahkan pandangan kepada Perawan Suci Maria. Mujizat di Kana terjadi karena Bunda Maria yang memintanya. Dialah gambaran kesempurnaan Gereja. Dia tampil bersama Santo Yosef sebagai teladan beriman suami-istri, sebagai keluarga Kudus.
Maka, adalah baik dan sungguh pantas bagi setiap keluarga Katolik untuk berlindung dan mempercayakan hidup rumah tangga mereka pada kasih keibuan Maria, untuk menyentuh Hati Yesus Yang Mahakudus melalui Hati Tersuci Maria.
Marilah kita juga membawa Sinode Keluarga 2015 yang hari ini akan dibuka di Kota Suci Roma.
Semoga Roh Kudus menyertai Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa Sinode, untuk tetap setia dalam kemurnian Ajaran Iman, dan membuahkan segala yang baik lewat Sinode ini, bagi keluhuran martabat Sakramen Pernikahan serta kesejatian keluarga, untuk menjawab berbagai tantangan dalam Pernikahan dan Keluarga Kristiani saat ini.
Yakinlah, bahwa sebagaimana Allah sendiri yang telah menetapkan Sakramen Pernikahan dan membentuk keluarga-keluarga Kristiani, Allah jugalah yang akan menyertai “Ecclesia Domestica” ini senantiasa.
Pada akhirnya, ketegaran hati pasti akan dikalahkan oleh kuasa Cinta Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 25 Agustus 2015 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXI

image

HUKUM ATAU HUKUMAN ?

Bacaan:
1Tes.2:1-8; Mzm.139:1-3,4-6; Mat.23:23-26

Renungan:
Salah satu keindahan dan kebanggaan Gereja Katolik adalah kesetiaannya terhadap Kitab Suci dan Tradisi, yang nampak begitu jelas pada kesatuan dan universalitas, adanya suksesi apostolik dan hierarki, ketaatan pada hukum kanonik, dogma serta ajaran magisterium gereja, yang secara konsisten telah membimbing dan menjaga Gereja Katolik dalam kemurnian, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus sendiri sebagai Sang Pendiri.
Akan tetapi, perlu dimengerti bahwa hukum dan aturan, tradisi dan ajaran itu ada untuk melayani umat. Ketaatan kita dimaksudkan sebagai ketaatan yang “membebaskan“, yang membawa kita pada persatuan mesra dengan Allah secara sehat dan benar.
Hukum diberikan untuk menjadikan hidup beriman kita lebih baik, bukan sebaliknya kita diperbudak oleh hukum itu secara keliru, yang menjadikan kita kehilangan esensi utama dari hukum itu, sebagaimana dikatakan dalam Injil hari ini, yakni “keadilan, belas kasih, dan kesetiaan“.

Tentu saja siapapun yang tunduk di bawah Hukum Tuhan, dan yang diberikan tugas untuk memastikan Hukum itu ditaati oleh seluruh umat Allah, yaitu Gereja Katolik yang Kudus, sungguh dituntut untuk menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kebenaran.
Menjelang Sinode Keluarga di Roma pada bulan Oktober nanti, melalui bacaan Injil hari ini kita diminta untuk melihat realita hidup umat dalam terang iman.
Saat ini ada kebutuhan pastoral yang mendesak akan pelbagai situasi hidup menggereja, yang akan sulit diatasi bila masing-masing pihak, entah mereka yang menyebut diri kaum tradisional, progresif, moderat, konservatif, liberal, atau juga mereka yang tidak mau terjebak dalam pengkotak-kotakan dan label demikian, tidak dengan penuh kerendahan hati dan dikobarkan oleh cinta akan Allah dan sesama untuk duduk bersama mencari solusi yang tepat.
Dialog dalam kasih persaudaraan harus ada dan mutlak perlu. Kasih akan Allah dan umat-Nya, hendaknya mengatasi kepentingan pribadi dan kelompok.
Kita hidup di zaman yang sungguh menantang hidup beriman kita. Bagaimana kita mengkomunikasikan iman di tengah berbagai pergeseran nilai, budaya kematian, dan penolakan akan eksistensi Allah. Sementara itu, hidup menggereja saat ini harus bergumul dengan berbagai tantangan yang memerlukan jawaban mendesak.
Pernikahan bermasalah, komuni bagi mereka yang memiliki halangan kanonik, desakan kelompok dan orientasi seksual tertentu untuk diakui, menurunnya statistik umat maupun panggilan khusus di berbagai negara, budaya konsumerisme dan hedonisme yang mulai melunturkan nilai-nilai iman dan arti keluarga maupun pernikahan, pemahaman hak asasi yang keliru yang berujung pada pembenaran untuk melenyapkan kehidupan bukannya mempertahankan kehidupan, kesenjangan sosial disertai kemiskinan dan ketidakadilan yang menyengsarakan, kemajuan teknologi dan komunikasi yang seringkali justru anti sosial dan anti Tuhan, serta berbagai masalah lainnya.

Tentu saja Gereja tidak pernah boleh merubah ajarannya untuk menyesuaikan diri dengan arus zaman yang menyesatkan. Tentu saja tidak boleh ada interpretasi baru yang mencoba membenarkan kecenderungan dan keengganan meninggalkan dosa atas dasar Kerahiman yang keliru, sebagaimana disarankan oleh kelompok tertentu dalam Gereja.
Akan tetapi, inilah realita hidup umat yang tidak mungkin untuk sekadar menjawab “Tidak” terhadap desakan perubahan, dan menjatuhkan vonis atau menolak perubahan hukum sebagai harga mati tanpa kepedulian akan pesan Injil akan keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Wajah Gereja dapat senantiasa dibaharui tanpa harus merubah Kitab Suci dan Tradisi.
Dalam Injil hari ini, harus dimengerti bahwa kritikan Yesus tidak pernah dimaksudkan sebagai pernyataan akan kekeliruan Hukum Taurat. Tentu saja tidaklah demikian.
Yang dikritik Yesus adalah bagaimana bangsa Yahudi bersama para pemukanya menjalankan Hukum Tuhan secara harafiah, cinta semu yang terukir dalam buku aturan bukannya terukir di hati, yang bukannya semakin menambah kecintaan mereka akan Allah dan sesama, tetapi justru semakin mengerdilkan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan, yang harusnya menjiwai hukum itu.
Keprihatinan Yesus inilah, yang seharusnya menjadi keprihatinan kita saat ini.
Seorang Katolik harusnya menjadi teladan dalam ketaatan pada Hukum Tuhan karena cinta, bukannya menjalani hukum Tuhan itu sebagai beban layaknya seorang terhukum yang dijatuhi hukuman berat.

Gereja Katolik bukanlah menara gading yang tak tersentuh. Iman Katolik bukanlah sesuatu yang hanya dikagumi tetapi sulit dijalani. Sejarah dan Hukum Gereja Katolik harus dilihat secara utuh, bukan hanya terjebak utopia atau kenangan akan masa jayanya, dan tidak menyadari akan Bahtera yang bocor sana-sini dan hampir tenggelam.
Sejak awal kelahiran Gereja 2000 tahun yang lalu, Iman Katolik adalah Iman yang hidup, yang mendatangkan sukacita, pembebasan, pertobatan, yang membawa kembali domba-domba yang hilang ke dalam satu kawanan.
Lihatlah Gereja perdana yang hidup begitu dinamis dan merasul. Mereka memiliki ketaatan mutlak pada hukum Tuhan, karena menjalankannya dalam keadilan, belas kasih dan kesetiaan.
Cinta akan Allah dan sesama-lah yang menggerakkan hati mereka untuk merasul serta membawa umat pada kecintaan akan Hukum Tuhan, sebagaimana dikatakan oleh Rasul St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi.
Maka, kiranya Injil hari ini meruntuhkan tembok-tembok kekerasan hati kita dalam memandang hukum Tuhan.
Semoga mereka yang diserahi tugas untuk memelihara Hukum Tuhan dalam Gereja, tidak sekadar memegang teguh hukum itu tanpa kepedulian terhadap realita umat, tetapi membahasakannya lewat kata dan tindakan keadilan, belas kasih, dan kesetiaan yang “nyata“, yang membawa orang pada kecintaan akan hukum itu, dan pada kesadaran bahwa sebenarnya “tidak ada satu iota pun” dari hukum itu yang harus dihapus atau dirubah, melainkan hati kitalah yang harus diubah untuk mengerti dan menjalankannya secara benar dan tepat.

Komunikasi kasih adalah dasar yang perlu ada agar Hukum Tuhan dapat dijalankan dan ditaati dengan penuh sukacita. Hidup “doa“, sebagaimana dikatakan oleh Bapa Suci Paus Emeritus Benediktus XVI, adalah “jawaban” atas segala permasalahan dalam Gereja saat ini.
Mari kita berdoa agar Sinode Keluarga yang akan berlangsung di Roma pada bulan Oktober nanti, dapat berjalan dalam bimbingan Roh Kudus, agar para Bapa Sinode yakni para Uskup kita dari seluruh dunia, dalam kesatuan dengan Bapa Suci Paus Fransiskus, dapat menghasilkan buah-buah Roh dalam tanggapan pastoral yang otentik dan sungguh menjadi jawaban terhadap berbagai permasalahan hidup beriman dan sosial umat Katolik saat ini.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Gereja, sebagaimana pesan Tuhan Yesus Kristus Putranya, menyertai Gereja Katolik dalam peziarahannya agar tidak pernah menyimpang dari kemurnian iman, dan untuk senantiasa berjalan menuju Allah dengan penuh sukacita Injil.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++