Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 7 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVIII

image

SANGKAL DIRI ~ PIKUL SALIB

Bacaan:
Ul.4:32-40; Mzm.77:12-16,21; Mat.16:24-28

Renungan:
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat.16:24)
Pesan Injil hari ini begitu jelas, namun seringkali gagal dimengerti dalam kepenuhan makna oleh kita, para pengikut Kristus.
Sebelum benar-benar menyebut diri pengikut Kristus, seorang beriman harus sungguh memahami dan menghidupi 2 hal berikut ini.

Pertama, penyangkalan diri. Artinya siapapun kamu, sebesar atau sedasyat apapun rahmat Tuhan yang bekerja di dalam dan melalui dirimu, jangan pernah sekali-kali tergoda untuk menjadikan dirimu sebagai pusat perhatian. Dalam karya kerasulanmu, dalam pelayanan kasihmu, hendaknya Kristus semakin besar dan dirimu semakin kecil. Kristus-lah yang harus dikenal, bukan dirimu. Kristus-lah yang harus dipuji, bukannya dirimu. Milikilah kerendahan hati untuk menyadari bahwa kamu semata-mata adalah alat. Sebuah kuas dapat menghasilkan lukisan yang indah pada kanvas, tetapi pada akhirnya sebuah kuas tetaplah sebuah kuas. Mahakarya yang dihasilkan melalui dia semata-mata lahir dari ketaatan dan kesetiaannya untuk digerakkan oleh Sang Seniman, yaitu Kristus sendiri.
Suatu ketaatan dan kesetiaan yang nampak paling nyata dan teruji dalam ketaatan serta kesetiaanmu kepada Bapa Suci, para Uskup dan Pembesarmu.
Hidup seorang rasul Kristus yang sejati harus senantiasa berpusat pada Kristus, berkarya di tengah dunia sambil tetap mengarahkan pandangan dan seluruh pemberian diri sebagai persembahan terbaik dan berkenan bagi Kristus.
Tidak ada ruang untuk pemuliaan diri, karena perkara kerasulan dan pelayanan bukanlah soal “aku”, melainkan “DIA”.

Kedua, memanggul salib. Seorang harus memiliki kesiapsediaan untuk mati. Tidak mungkin menyatakan diri siap memanggul salib, tanpa kesediaan untuk mati di puncak kalvari.
Salib bukan aksesoris, bukan kebanggaan semu, dan bukan pembenaran untuk menolak diberi kuk lebih besar. Oleh karena itu, manakala seseorang menyatakan diri siap memanggul salib, hendaknya pernyataan ini sungguh telah direfleksikan secara mendalam dan didasari kesiapsediaan untuk menerima segala konsekuensi dari salib itu. Ini berarti “ada-ku” menjadi “ada-Nya”. Aku mati terhadap diriku untuk beroleh makna dan kepenuhan hidup di dalam Dia.

Tentu saja semua orang beriman, tanpa kecuali, akan mendapati dirinya seringkali sulit untuk memposisikan hidup dan karya kerasulannya sejalan dengan 2 tuntutan suci ini.
Kita semua perlu banyak bersabar terhadap diri kita, sebagaimana Tuhan kita selalu bersabar terhadap kita. Sekalipun jalan pemurnian ini tidak mudah, milikilah kerendahan hati dan penyerahan diri untuk senantiasa mau dibentuk dan disempurnakan oleh Tuhan, Kekasih jiwa kita.
Hidup yang berpusat pada Ekaristi sungguh membantu dalam menguatkan kita di jalan kesempurnaan ini. Adalah baik pula meluangkan waktu, misalnya pada setiap hari Jumat, baik secara pribadi maupun dalam komunitas, untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan melalui devosi Jalan Salib.
Dengan demikian, seorang beriman dapat belajar menghayati dan merangkul salib dan mati terentang pada salibnya, karena telah memeditasikan dalam pandangan cinta di setiap devosi Jalan Salib akan kenyataan iman ini. Dengan merenungkan setiap perhentian Via Crucis, dia telah mendapati bahwa Tuhan dan Penyelamat-nya telah lebih dahulu menapaki tapak-tapak derita itu, dan telah mengubahnya menjadi tapak-tapak cinta.

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Penolong Yang Baik, senantiasa menyertai kita di jalan pemurnian ini, dalam naungan mantol ke-Ibu-annya, sehingga pada senja hidup kita didapati Putra-nya sebagai sahabat yang setia, dan beroleh ganjaran mahkota kemuliaan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XIII

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kej.19:15-29; Mzm.26:2-3,9-10,11-12; Mat.8:23-27

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan menjadikan seorang pelaut menjadi handal.
Demikian halnya iman kristiani tumbuh menjadi lebih kuat di dalam badai pergumulan hidup.
Orang seringkali menjadi lupa berdoa, bersyukur, dan melayani kehendak Tuhan di tengah segala kelimpahan “susu dan madu“.
Tuhan tidak pernah mencobai manusia, apalagi melebihi kemampuan mereka. Namun, terdorong oleh belas kasih-Nya yang besar, Dia “mengijinkan” manusia mengalami semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan.
Ibarat seorang ibu, yang harus berhenti menyusui anaknya pada usia tertentu, kemudian menurunkan anaknya dari pangkuannya, untuk membiarkan anaknya belajar merangkak dan berjalan.
Si anak pasti merasa kesulitan, bahkan mungkin menangis, marah dan kecewa, karena tidak bisa lagi berdiam di pangkuan ibunya, apalagi harus mengalami jatuh bangun dalam usahanya untuk merangkak dan berjalan.
Tetapi, si ibu melakukannya untuk kebaikan, demi pertumbuhan dan kedewasaan si anak.
Siapapun yang memahami maksud si ibu, tidak akan menyalahkan dia.
Demikianlah pula gerak cinta Tuhan. Dia mengijinkan kita mengalami rupa-rupa pergumulan dan kesulitan hidup yang kita sebut “salib kehidupan“, untuk memurnikan kita.
Seringkali di dalam malam gelap kehidupannya, orang mulai menjadi lebih rendah hati, tahu bersyukur dan berserah, berdoa tak kunjung putus, dan caranya bersikap dan bergaul dengan Tuhan menjadi lebih “sopan“, lebih “tahu diri“, bahwa hidup kita hampa tanpa Dia, dan hanya akan menemukan makna di dalam Dia.
Oleh karena itu, belajarlah untuk setia menantikan pertolongan Tuhan di tengah badai hidupmu. Pada waktu yang tepat, seturut waktu dan kehendak-Nya, Ia akan meredakan laut yang bergelora, dan membimbingmu dengan selamat ke pelabuhan yang tenang.
Kalaupun badai seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan berlalu, maka anda mungkin termasuk dalam bilangan kekasih Allah yang secara khusus dipilihnya untuk mengalami cinta-Nya yang lebih dalam. Bukankah dibandingkan perahu-perahu lain yang melalui badai itu sendirian, anda jauh lebih beruntung karena memiliki Yesus dalam perahu?
Keyakinan bahwa “selagi ada Tuhan dalam perahu saya, maka saya percaya bahwa perahu ini tidak akan pernah terbalik“, itu sudah lebih dari cukup bagi mereka yang dipanggil secara khusus pada persatuan cinta yang sempurna dengan Allah.
Keyakinan iman sebagaimana diungkapkan dengan begitu indah oleh St. Teresa dari Avila yang dalam kobaran api cinta berkata, “Solo Dios basta – Allah saja cukup“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Pekan II Paskah

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kis.6:1-7; Mzm.33:1-2.4-5.18-19; Yoh.6:16-21

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan membuat seorang pelaut mahir.
Keindahan iman kristiani nampak bukan di dalam ketiadaan pencobaan, melainkan bahwa kita dapat tetap berdiri di tengah badai pencobaan.
Dalam bacaan yang kita renungkan hari ini, Bunda Gereja (sebutan bagi Gereja Katolik yang diibaratkan sebagai Ibu dari semua gereja) dilambangkan oleh penginjil sebagai perahu yang sedang melintasi lautan, yaitu dunia ini.
Pelayarannya menuju ke pantai seberang, yakni tanah air surgawi, bukanlah pelayaran melewati air yang tenang, melainkan melalui gelombang dan badai pencobaan dunia ini.
Berulang kali di sepanjang sejarah, Gereja diperhadapkan pada berbagai kesukaran besar, saat dimana perahu hampir tenggelam karena tingginya gelombang, bocor karena menghantam batu, dan patah layar karena ganasnya hembusan angin yang begitu kencang.
Bahkan saat inipun ada rupa-rupa serangan baik dari luar maupun dari dalam Gereja sendiri, yang menganiaya dan menghantar begitu banyak orang beriman untuk menjemput maut dalam kemartiran, menyerang martabat Imamat dan mematikan benih-benih panggilan dalam hedonisme serta konsumerisme, berusaha dengan berbagai cara untuk memberi definisi baru bagi pernikahan maupun arti keluarga, serta budaya kematian yang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan pada akhirnya menghadapi ajal seolah-olah tidak pernah hidup.
Di dalam badai kejahatan dunia yang telah memalingkan wajah dari Sang Pemberi Hidup itulah, Gereja dipanggil bertolak lebih dalam dan menebarkan jala, untuk bertahan di dalam badai gelombang dan angin kencang.
Di tengah semua kegilaan itu, kita diminta untuk tetap beriman, berharap dan mencinta.
Ketakutan menghadapi dunia dengan segala kejahatannya bersumber dari kekurangan iman, harapan, dan cinta.
Ketika dunia begitu kuat menarikmu untuk tenggelam di dalam kejahatannya, berpeganglah lebih kuat lagi pada Tuhan. Hanya Dialah tempat perlindungan kita yang aman.
Tanpa Yesus, kita pasti binasa. Gereja dapat bertahan, karena Tuhan dan Penyelamat kita ada di dalam perahu.
Belajarlah untuk menantikan pertolongan Tuhan dengan setia di tengah badai. Pada waktu yang tepat, dalam kuasa cinta-Nya, Dia akan meredakan hantaman gelombang dan hembusan angin yang kencang, dan membawa kita ke pelabuhan yang tenang, tujuan akhir perjalanan kita yang membahagiakan.

Ini Aku…Jangan Takut!

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI SANTA PERAWAN MARIA

image

Bacaan I
2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16
Mazmur Tanggapan
Mazmur 89: 2-3,4-5,27,29
Bacaan II
Roma 4: 13,16-18,22
BACAAN INJIL
Matius 1: 16.18-21.24a
atau
Lukas 2: 41-51a

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Yosef, Suami dari Santa Perawan Maria dan Bapa Pemelihara dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sesudah Santa Perawan Maria, Santo Yosef adalah orang Kudus terbesar dan paling dihormati dalam Gereja.
Kenapa Gereja begitu menghormati St. Yosef, bahkan menjadikannya sebagai Pelindung Gereja universal?
Dalam Kitab Suci sendiri, tidak pernah tercatat sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef.
Kalau demikian, dimanakah letak kebesaran St. Yosef?
Kebesaran St. Yosef nampak dalam penyerahan dirinya secara total kepada kehendak Allah, tanpa banyak bicara. Dialah hamba yang lurus, bijaksana, tekun, dan setia. Dengan penuh tanggung jawab, St. Yosef memelihara Keluarga Kudus, menjaga serta melindunginya.
Kitab Suci mencatat betapa lurusnya hati St. Yosef, yang ketika mengetahui bahwa St. Maria sudah mengandung sebelum mereka berumah tangga, hendak menceraikannya secara diam-diam, karena tidak ingin mempermalukan St. Maria dan tidak ingin mendatangkan fitnah dan bahaya lainnya atas Perawan Suci.
Kitab Suci juga mencatat bagaimana St. Yosef bergumul dalam Tuhan, untuk sungguh-sungguh memikirkan keputusannya, membawanya dalam doa setiap hari.
Karena itu, manakala malaikat Tuhan menampakkan diri untuk memberitahukan bahwa St. Perawan Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dalam kesetiaannya kepada Allah, St. Yosef menerima tugasnya untuk menjadi Bapa Pemelihara Keluarga Kudus.
Salah satu ujian terakhir St. Yosef, yang juga tercatat dengan begitu indahnya dalam Kitab Suci, adalah peristiwa diketemukannya Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, setelah dengan susah payah dicari selama tiga hari. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef. Dalam keheningan, sekali lagi dia menunjukkan kebijaksanaan sejati yang tidak sedikitpun mempertanyakan rancangan Tuhan. Tanpa kata-kata, seluruh hidup St. Yosef adalah suatu pemberian diri yang total dan kepercayaan tanpa batas kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kenyataan bahwa St. Yosef melakukan semuanya itu di dalam suatu kegelapan iman, dan keberaniannya untuk melangkah di dalam gelap, menunjukkan betapa cahaya Tuhan bersinar begitu cemerlang di dalam hatinya, sehingga malam tidak lagi gelap baginya.

Bagi kita di masa sekarang ini, St. Yosef adalah teladan beriman. Bagi para pekerja, St. Yosef adalah teladan bagaimana menunaikan segala tugas dan tanggung jawab dengan hasil akhir yang mengagumkan dan mendatangkan pujian bagi karya Allah. Bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam dunia yang serba instan dan modern ini, St. Yosef sungguh menjadi gambaran sempurna dari keluhuran Sakramen Perkawinan. Ketika menerima St. Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan kendati bukan ayah biologis dari Tuhan Yesus, perhatian dan kasih sayang yang total dari St. Yosef, menjadi tamparan bagi banyak pasangan hidup dewasa ini yang dengan mudahnya menyerah di saat mengalami berbagai tantangan dan badai pergumulan hidup. St. Yosef mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang tak bersyarat. Kenyataan bahwa St. Maria tetap Perawan sesudah menikah sampai wafatnya St. Yosef, sekali lagi menjadi refleksi Iman bagi keluarga-keluarga Kristiani maupun bagi mereka yang menjalani hidup berelasi hanya sebagai sarana pemuas hawa nafsu belaka, bahwa cinta yang sejati tidak harus memiliki.

Hari Raya St. Yosef mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai luhur dari Sakramen Perkawinan, akan hidup sebagai keluarga Kristiani yang sejati, serta bagaimana menjadi hamba Allah yang lurus, tekun, setia, dan bijaksana, sehingga pada senja hidup kita, sebagaimana St. Yosef, kita pun boleh mendengar suara lembut dari surga yang menyambut kita, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Antifon Komuni bdk. Mat.25:21)

Terpujilah nama Yesus, Maria, dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya.

Pax, in aeternum.
Fernando