Meditasi Harian 16 Januari 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa I

image

CINTA KOTAK-KOTAK

Bacaan:
1Sam.9:1-4.17-19~10:1a; Mzm.21:2-3.4-5.6-7; Mrk.2:13-17

Renungan:
Kaum ortodoks Yahudi pada zaman Tuhan Yesus punya kebiasaan untuk memisahkan semua orang menjadi 2 kelompok: mereka yang dengan sangat ketat menaati Hukum Musa dari menit ke menit, dan mereka yang tidak melakukannya.
Kelompok kedua dianggap warga kelas dua. Kaum ortodoks menghindari pergaulan dengan mereka, menolak berbisnis dengan mereka, menolak pemberian apapun dari mereka, melarang pernikahan dengan mereka, dan menolak menghadiri perayaan apapun bersama mereka, termasuk perjamuan makan.
Inilah latar belakang yang membuat kita mendapat gambaran yang jelas akan kenapa para ahli Taurat dan orang Farisi mempertanyakan Tuhan Yesus yang makan bersama para pemungut cukai dan orang berdosa.
Jawaban Tuhan Yesus sederhana, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit!” (Mrk.2:17)

Kekristenan adalah panggilan untuk “menyembuhkan“. Panggilan ini menuntut kerendahan hati untuk mengampuni ketika disakiti, mengasihi sekalipun tidak dihargai, dan melihat semua orang, siapapun dia, sebagai berharga di mata Tuhan. Kenyataan bahwa manusia diciptakan seturut gambar dan rupa Allah (Imago Dei), seharusnya menyadarkan kita bahwa sesulit apapun itu, kita dipanggil untuk memandang dan mengasihi wajah Allah dalam diri sesama.
Cinta tidak pernah boleh bersyarat, cinta tidak berada dalam batasan kotak-kotak. Tidak ada dalam kamus kekristenan, bahwa kita hanya perlu bergaul dengan mereka yang hidupnya sempurna saja, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” (Roma 3:23)

Tuhan dan Penyelamat kita telah menunjukkan teladan yang sangat jelas. Dia datang ke dunia untuk menyelamatkan “kita semua“, tanpa kecuali. Dalam kesadaran ini, marilah kita merenungkan hidup kita, keluarga, sahabat, kenalan, rekan kerja, komunitas, dan kebersamaan apapun yang kita miliki. Hadirlah bersama mereka yang terucapkan, terpinggirkan, diperlakukan tidak adil, diasingkan, tidak dimengerti, dan dianggap sampah oleh masyarakat. Hadirlah dengan hati yang mencinta, dan bawalah cahaya Iman dalam hidup mereka, agar mereka mengalami belaskasih Bapa melalui hidup dan karyamu sebagai rasul Kristus yang sejati. Kita semua adalah manusia yang tidak sempurna yang dipanggil untuk mencintai sesama yang tidak sempurna, secara sempurna.
Hidup itu penuh warna, jangan dijadikan satu warna. Belajarlah melihat wajah Allah dalam setiap bentuk kehidupan. Bahwa benar ada kecenderungan dosa dalam diri setiap orang, hendaknya tidak membuat kita lupa bahwa, “Bencilah dosa, tetapi cintailah pendosa.” Demikian kata St. Isaac dari Syria.
Itulah sebabnya kita selalu memerlukan bantuan rahmat Allah, hembusan Roh-Nya dalam hidup kita, untuk memurnikan cinta kita.
Mulailah melayani lebih sungguh, mengasihi lebih sungguh, dan mengampuni lebih sungguh.

Semoga Perawan Suci Maria, yang sekalipun hatinya dihembusi pedang dukacita, tetapi tetap dipenuhi sukacita Iman, boleh menjadi teladan cintakasih. Semoga Bunda kita membimbing kita dengan kasih keibuannya, untuk mengenal dan merangkul cinta tak bersyarat, bukan cinta kotak-kotak. Cinta yang selalu bisa melihat gambar dan rupa Allah dalam diri sesama. Dengan hatimu yang berkobar-kobar dalam cinta akan Allah, bawalah semua orang untuk mengalami belas kasih Bapa, dan bimbinglah tangan mereka untuk menyentuh Hati-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 42: 1-4, 6-7

Mazmur Tanggapan –  Mzm. 29: 1a, 2, 3ac-4, 3b, 9b-10

Bacaan II – Kisah Para Rasul 10: 34-38

Bacaan Injil – Matius 3: 13-17

MEMANDANG TUHAN DALAM KEMANUSIAAN

Kasih adalah kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang begitu kuat. Bagaikan tetesan air yang secara yang sekilas terlihat begitu lembut dan tak berdaya, tetapi seiring waktu sanggup menciptakan lubang pada sebuah batu, demikianlah di sepanjang sejarah umat manusia kita melihat, bahwa meskipun kehadiran “si jahat” begitu nyata dalam begitu banyak kekacauan, peperangan, kematian, kemiskinan, ketidakadilan dan berbagai bentuk manifestasi lainnya, pada akhirnya Kasih selalu menjadi cahaya menyilaukan untuk menghalau kegelapan.

Tentu saja pada akhirnya, Kasih akan selalu menang atas dunia, karena sejak awal mula dunia ini tercipta oleh Kasih, yakni Allah sendiri. Kasih Allah ini semakin nyata saat Pencipta menjadi ciptaan, ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, Putra-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Dalam terang iman inilah, Gereja mengakhiri Masa Natal dengan merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam peristiwa Pembaptisan Tuhan, misteri Inkarnasi terlihat semakin jelas ketika Tuhan menjawab keheranan Yohanes, yakni bahwa Ia mengosongkan diri dengan masuk ke dalam air, sehingga ketika keluar dari air, Ia memenuhi diri-Nya dengan penggenapan akan seluruh kehendak Allah. Bagi orang lain pada waktu itu, pembaptisan Yohanes di sungai Yordan merupakan pembaptisan pertobatan. Akan tetapi, saat Tuhan kita merendahkan diri dengan turun ke dalam air untuk dibaptis, Dia membawa seluruh dosa umat manusia untuk ditenggelamkan dalam samudera belas kasih Allah. Itulah saat dimana  Allah memulai suatu perjanjian baru dengan umat-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya yang terkasih. Dalam peristiwa pembaptisan Tuhan ini, secara samar-samar kita mulai melihat misteri Salib, yang merupakan paripurna dari tindakan kasih Allah.

Hari ini Gereja merenungkan saat dimana “Hamba Yahwe” memulai tugas perutusan-Nya, seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan I. Seorang hamba yang berkenan di hati Tuhan. Roh Allah dalam rupa burung merpati disertai suara dari surga, menjadi pernyataan yang tak terbantahkan bahwa Yesus sungguh adalah Putra Allah. Dialah yang diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, sebagaimana dinyatakan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul, untuk menyatakan pada dunia bahwa Allah sungguh beserta kita. Hari ini seluruh penghuni surga memadahkan mazmur pujian untuk memuliakan Allah, yang telah mengutus Putra-Nya.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memandang Tuhan dalam kemanusiaan. Dalam misteri Pembaptisan Tuhan, kita boleh melihat betapa berharganya kita di dalam hati Allah. Betapa Tuhan tidak pernah melupakan kita, meskipun kita telah melupakan Dia. Betapa Ia tetap mencintai kita, meskipun kita telah berhenti mencintai Dia.

Hari ini Gereja kembali mengingatkan keluhuran martabat kita sebagai putra-putri Allah, yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan, untuk menjadi Imam, Nabi dan Raja. Pesta Pembaptisan Tuhan juga merupakan  suatu seruan Gereja bagi kita untuk bertobat, untuk meninggalkan segala yang bukan Allah, dan memenuhi diri kita dengan segala hal yang menyenangkan hati Allah. Kita dipanggil untuk bersama Yesus tenggelam dalam lautan belas kasih Allah, sehingga kita boleh keluar sebagai putri-putri Allah yang bermandikan cahaya kemuliaan. Untuk menjawab panggilan ini, sudah pasti ada yang harus dikorbankan, ada yang harus dilepaskan, malahan bagi beberapa orang, dia harus melepaskan semua hal yang terdekat di hatinya. Suatu malam pemurnian yang dapat menghanguskan baik tubuh maupun jiwa.

Namun, ketahuilah ini! Dengan berbagai tawarannya, dunia saat ini telah menipu dan membutakan banyak orang, dengan berbagai berhala-berhala yang dengan angkuhnya menjanjikan kesempurnaan bilamana manusia memilikinya. Pemujaan akan tubuh dan kecantikan yang membuat banyak orang jatuh dalam depresi serta keputusasaan, kapitalisme dan manipulasi pasar modal yang dengan kerakusan telah semakin memperlebar jurang antara kaum miskin dan golongan kaya, berbagai bentuk investasi masa depan yang membuat kita tidak lagi merindukan surga, kehausan akan kekuasaan dan kesuksesan di berbagai bidang serta profesi kerja yang membuat manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan, dan berbagai berhala lainnya. Tentu saja tidaklah salah menginginkan suatu kehidupan dalam dunia yang lebih baik. Akan tetapi, Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa sekalipun kita memiliki semuanya, janganlah hati kita melekat pada semua hal itu. Sebagai seorang Kristiani, kita harus memiliki mata iman yang tajam, untuk melihat secara bijaksana. Saat ini si jahat mencoba meyakinkan kita, bahwa kesempurnaan kemanusiaan kita seolah-olah tergantung pada apa yang kita miliki, seakan-akan kepemilikan akan semua hal itulah yang membuat kita sempurna sebagai manusia.

Pahamilah ini! Kesempurnaan kemanusiaan kita hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Kesempurnaan kemanusiaan kita tidak terletak dalam memiliki segala, melainkan melepaskan segala. Apapun yang diletakkan Tuhan ke dalam tangan kita, jadikanlah semua itu sebagai kurban yang harum dan berkenan di hati Allah. Kesejatian hidup hanya bisa ditemukan di dalam panggilan untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. Sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba-hamba Allah yang setia, yang mengingini apa yang Tuhan ingini, dan mencintai apa yang Tuhan cintai, untuk melihat segala yang kita miliki, bukan sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan dalam semangat pengosongan diri, mempergunakan semuanya itu bagi perluasan Kerajaan Allah. Semoga perawan Maria, putri ketaatan dan teladan pengosongan diri, menjadi Bintang Timur yang selalu membimbing dan mendoakan kita, untuk menjadi hamba yang setia dalam karya Allah di tengah dunia. (VFT)