Meditasi Harian, 26 Juli 2017 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVI

CINTA BUTUH BUKTI BUKAN JANJI

Bacaan:

Sir.44:1.10-15; Mzm.132:11.13-14.17-18; Mat.13:16-17

Renungan:

Tanah yang baik memberi jalan bagi benih yang ditanam untuk tumbuh, berkembang dan berbuah. Jika diumpamakan tanah itu adalah kita manusia dan benih adalah Firman Allah, maka keterbukaan terhadap rahmat Allah dengan segenap daya upaya kita untuk mengasihi Dia, sungguh menentukan bagaimana hidup kita diubahkan oleh kabar sukacita Kerajaan Allah. Tidak semua yang datang untuk berjumpa dan mendengar perkataan Tuhan dapat pula menangkap dan mengerti. Ada yang menerima dengan penuh sukacita dan seketika hidupnya diubahkan oleh pengalaman kasih Allah itu, ada pula yang memiliki kekuatiran akan konsekuensi hidup kekristenan kemudian mundur perlahan-lahan, dan banyak pula yang tidak sanggup melihat kenyataan bahwa ia harus berubah serta tidak sanggup mendengar perkataan yang keras dan menuntut itu, lalu pada akhirnya menolak dan meninggalkan jalan Tuhan.

Memang benar, bahwa rahmat Allah sendiri sanggup mengubahkan hidup kita. Kendati demikian, biasanya rahmat Allah bekerja lebih leluasa dalam diri mereka yang sungguh merindukan Dia, serta melakukan segala upaya untuk mencari wajah-Nya. Ia mendekat secara lebih mesra kepada mereka yang dalam kepasrahan seorang anak, memberanikan diri untuk datang mendekat kepada-Nya. Maka, secara sederhana dan tegas dapat diminta dari kita, “Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan, ‘Buktikanlah!'” Ini bukan pertama-tama melalui tindakan-tindakan heroik yang mengagumkan seperti memberikan nyawa demi iman atau kasih akan sesama. Tidak serta-merta seperti itu.

Untuk mengalami kebesaran kasih Allah dan kelimpahan rahmat-Nya, seorang beriman dapat memulainya dari kesetiaan pada perkara-perkara kecil. Dimulai dari hal-hal yang seringkali amat mendasar dan mungkin terlalu sederhana, seperti bangun pagi-pagi benar untuk mempersembahkan hari kita kepada-Nya, memberikan waktu sejenak setiap hari untuk merenungkan Firman-Nya dalam Kitab Suci, mempersiapkan sarapan dan memastikan anak-anak berangkat ke sekolah tepat waktu, memberikan tempat duduk kita di bus kepada mereka yang lanjut usia, tidak melakukan pungutan liar melebihi ketentuan di kantor, memberikan salam dan dukungan semangat kepada mereka yang berbeban karena tekanan hidup, mengakhiri hari dengan pemeriksaan batin dan memohon pengampunan untuk menit-menit yang gagal dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan, serta berbagai tindakan-tindakan kecil dan sederhana lainnya. Memang kecil dan sederhana, seolah tidak berdampak signifikan untuk merubah keburukan dunia ini, tetapi sebagaimana dosa datang karena kejatuhan satu orang dan keselamatan dunia datang pula karena “Satu Orang”, yakinlah persembahan dirimu, sekecil dan sesederhana apapun, bila dilakukan karena kobaran api cinta, pada akhirnya akan sanggup menyentuh dan menggetarkan Hati Allah, Sang Cinta, untuk mengarahkan pandangan belas kasih-Nya kepada-Mu dan mencurahkan rahmat-Nya secara melimpah ke dalam dan melalui dirimu. Pada waktu itu sekali lagi kamu akan mendengar suara-Nya yang amat lembut, “Berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar” (Mat.13:16).

Bersama Gereja Kudus, hari ini kita memperingati pula dengan penuh syukur akan suami istri yang amat saleh, Santo Yoakim dan Santa Anna. Mereka berdua telah menunjukkan keteladanan kesetiaan dalam perkara-perkara kecil sehari-hari, dan pada akhirnya mempersembahkan permata terindah dalam Kekristenan, yakni putri mereka, Perawan Maria yang terberkati. Inilah keteladanan hidup yang sungguh menjadi persembahan yang harum dan berkenan di Hati Tuhan, dan menghasilkan buah yang disyukuri oleh seluruh umat manusia. Santa Maria, bimbinglah kami menuju Putra-mu, dalam keteladanan beriman sebagaimana ditunjukkan ayah dan ibumu, Santo Yoakim dan Santa Anna.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Renungan Harian 13 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV


BAHAGIA ITU SEDERHANA


Bacaan:

Yes.10:5-7.13-16; Mzm.94:5-6.7-8.9-10.14-15; Mat.11:25-27



Renungan
:

Mereka yang tahu bersyukur adalah mereka yang telah menemukan kebahagiaan beriman dalam kesederhanaan, dalam ketidak punyaan, dalam kemiskinan roh. Demikian pula dapat dikatakan, bahwa kepemilikan akan kesementaraan dunia, merupakan awal ketidak bahagiaan. Ini bukanlah paham sosialis komunis, melainkan berakar dalam hakekat Kekristenan itu sendiri. Ini bukan pula penolakan atau larangan bagi kita untuk memiliki sesuatu dalam hidup, tetapi milikilah tanpa melekatkan hatimu kepada apa yang kamu miliki. Dengan demikian, sesungguhnya kuk yang dipasang atasmu itu enak, dan bebanmupun ringan. Sadarilah bahwa hidupmu semata-mata adalah kasih karunia Allah. Ibarat seorang anak yang terpesona menyaksikan barisan semut yang mencari makan, mulailah memiliki keterpesonaan cinta, dalam kesadaran akan betapa kecilnya dirimu di hadapan kebesaran dan kemahakuasaan Allah. Hidup kerasulan, pelayanan, dan doa-doamu seharusnya adalah agar “Ia harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil” (Yoh.3:30).

Sebab bukankah apa yang kamu dapatkan, semata-mata adalah anugerah-Nya? Nafas hidup, kesehatan, keluarga, rumah, pekerjaan, harta benda, pakaian dan perhiasan yang menutupi tubuh, kesehatan, kenyamanan hidup, bahkan kepemilikan dalam bentuk yang paling kecil sekalipun, semuanya berasal dari-Nya? Maka, kalau apa yang kamu dapatkan, yang kamu punya, dan kamu sebut milikku, semuanya berasal dari Allah, tidakkah sudah sewajarnya pula bila kamu memilikinya tanpa kelekatan, dan mempersembahkan semuanya sebagai persembahan yang indah, harum dan berkenan di hadirat-Nya?

Sesungguhnya bahagia itu sederhana. Bahagia itu sangat ditentukan oleh kesediaan untuk “melepaskan“. Melepaskan bukan dalam arti kehampaan tanpa beroleh apa-apa, tetapi dalam kesadaran bahwa kita telah menemukan dan memiliki Dia, yang sungguh berharga, jauh melebihi semua yang telah kita lepaskan. St. Yohanes dari Salib mengungkapkannya dengan sangat tepat dan indah, yaitu bahwa “untuk memiliki Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“. Bahagia itu sederhana. Saking sederhananya, sampai sulit dirangkul oleh mereka yang dianggap bijak dan pandai oleh dunia ini. Paus Emeritus Benediktus XVI mengatakan, “Kebahagiaan yang kamu cari, kebahagiaan yang berhak kamu nikmati, memiliki nama dan wajah, yaitu Yesus dari Nazareth“. Dialah wajah belas kasih Bapa. Selama kamu masih mencari kebahagiaan diluar Dia, dan tidak melepaskan diri dari kelekatan akan dunia, sesungguhnya kamu tidak akan benar-benar bahagia. Demikian pula sebaliknya. Selama kamu senantiasa memandang Dia, dan mengajak semua orang melalui hidup kerasulanmu, untuk mengarahkan pandangan, serta merubah arah hidup kepada-Nya, kamu akan selalu menyaksikan perkenanan dan penyertaan Tuhan dengan kuasa-Nya atas hidupmu. Olehnya, seperti Santa Teresa Avila kamupun akan berkata, “Allah saja Cukup!

Teladanilah kesederhanaan beriman Bunda kita Maria, hamba Allah yang paling berkenan di Hati Tuhan. Ia selalu mensyukuri segala perkara yang dinyatakan Tuhan dalam hidupnya. Kiranya keteladanan berimannya yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah, menjadi bagian hidup beriman kita pula. 
Regnare Christum volumus!
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Renungan Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

MINGGU ADVEN IV ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Yesaya 7: 10-14

Mazmur Tanggapan – Mazmur 24: 1-2. 3-4b. 5-6

Bacaan II – Roma 1: 1-7

Bacaan Injil – Matius 1: 18-24

 

Dia Hadir Dalam Kesederhanaan

Imanuel. Allah beserta kita. Inilah inti pewartaan sabda di Minggu Adven IV ini. Demikianlah tanda Iman yang dijanjikan Allah di tengah kekacauan Kerajaan Yehuda kepada Raja Ahaz [1]. Suatu janji yang memperoleh kegenapannya saat Maria menjawab “Ya” untuk mengandung Putra Allah, saat Yusuf bangkit dari “Malam Gelapnya” untuk merangkul kehendak Allah dengan menerima Maria sebagai isterinya [2]. Suatu janji yang baru dapat dimengerti sepenuhnya dalam terang kemuliaan Paska [3], sebagaimana diperkenalkan oleh rasul Paulus melalui salam terpanjang dari semua suratnya.

Berbeda dengan Raja Ahaz yang melelahkan Allah [4] dengan ketegaran hatinya, dalam diri Maria & Yusuf, Gereja melihat suatu teladan beriman. Iman untuk mempercayai Tuhan di dalam kegelapan. Mereka adalah orang-orang yang sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan mereka, terdapat Iman yang sejati, tanpa syarat dan dipenuhi kepercayaan tanpa batas. Disaat sukacita Natal semakin mendekat, di Minggu Adven IV ini, Gereja mengajak kita untuk mendekati tanda-tanda Iman dari Tuhan dalam kesederhanaan, dengan hati yang dipenuhi cinta akan Allah dan kehendak-Nya. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya mengapa suatu janji keselamatan harus diawali dengan kegelapan iman, dimana Maria & Yusuf diminta untuk menjawab “Ya” kepada kehendak Allah, disaat fakta yang ada memberi mereka begitu banyak alasan untuk menjawab “Tidak”. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya kesederhanaan Tuhan yang mau masuk dalam kehidupan sejarah manusia dalam diri Kanak-Kanak Yesus di Bethlehem. Akal budi kita sulit menerima kenapa Sang Anak Domba, harus menjalani hidup yang dipenuhi penolakan, penyangkalan, dan tanpa suara digiring untuk diadili layaknya seorang penjahat. Akal budi kita tidak bisa menyelami cinta Bapa dalam diri Putra-Nya, yang rela mati di Kalvari dalam keadaan yang teramat hina dan keji. Akal budi kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan yang demikian nyata dalam kesederhanaan Ekaristi/Hosti Kudus. Akal budi kita tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan dalam roti kecil, bahwa dengan menyantap roti yang satu dan sama, kita benar-benar menyantap Tubuh Tuhan sendiri dan menjadi satu kesatuan dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja-Nya.

Apa yang tidak bisa diterima dan dilihat oleh sepenuhnya akal budi, hanya bisa dimengerti dalam kuasa cinta. Allah adalah Cinta/Kasih. Karena itu, kita yang tercinta karena Cinta, hanya bisa mendekati dan memahami Dia dalam cinta. Dia yang kekurangan cinta dengan sendirinya kekurangan iman, kekurangan pengharapan. Teramat sulit baginya untuk melihat kehadiran Tuhan yang paling nyata dalam kesederhanaan sakramen-sakramen Gereja, apalagi untuk menerima buah-buah melimpah dari semua anugerah Ilahi itu.

Tuhan hadir dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, dalam kesederhanaan kita pun dipanggil untuk melayani Dia, untuk setia melakukan perkara-perkara kecil dengan cinta yang besar. Sama seperti kemuliaan Tuhan hanya dapat dilihat oleh mata manusia saat Ia merendahkan diri, dan masuk dalam kehidupan manusia dalam kesederhanaan Bethlehem, demikian pula Terang Kristus hanya bisa menyinari dunia melalui diri kita bilamana orang melihat ketekunan kita melakukan segala karya yang dipercayakan Tuhan dalam kesederhanaan dan cinta yang besar.

Jadilah keluarga yang bersekutu dalam doa dan sabda, suami-istri yang setia, anak-anak yang penuh hormat dan bakti. Jadilah seorang Imam yang kudus dan memiliki kehausan akan jiwa-jiwa. Jadilah seorang perawat yang merawat para pasien dengan cinta kasih Kristus. Jadilah seorang pelukis yang senantiasa menceritakan karya mengagumkan Tuhan dalam lukisan-lukisanmu. Jadilah seorang ahli rekayasa genetika yang melakukan penelitian yang beretika dan menghargai martabat hidup manusia. Jadilah seorang  pemimpin negara yang jujur dan adil. Apapun panggilan, profesi dan karya yang kalian lakukan (sebagaimana Tuhan memanggilmu), lakukanlah itu dalam kesederhanaan, ketekunan dan kesadaran untuk menjadikannya sebagaia suatu persembahan yang  berkenan di hati Allah. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang senantiasa mencari wajah-Nya [5]. Dengan demikian terang kemuliaan Tuhan akan bersinar dalam dirimu dan dengan seluruh dunia akan berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (VFT)



[1] Bdk. Yesaya 7: 14

[2] Bdk. Matius 1: 24

[3] Bdk. Roma 1: 4

[4] Bdk. Yesaya 7: 13

[5] Bdk. Mazmur 24: 6