Meditasi Harian, 17 Juli 2017 ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

LEBIH DARI SEGALANYA

Bacaan:

Kel.1:8-14.22; Mzm.124:1-3.4-6.7-8; Mat.10:34-11:1

Renungan:

Panggilan mengikuti Tuhan di jalan-Nya membawa seorang beriman pada tuntutan suci, untuk menempatkan Allah serta mengasihi Dia di atas segala-galanya, jauh melampaui cinta bakti kepada orang tua serta semua yang terdekat di hati, dan melepaskan kelekatan akan segala sesuatu yang disebut sebagai harta milik, serta menyerahkan diri dengan hati tak terbagi dan tanpa syarat pada desakan untuk mendahulukan kehendak Allah, melebihi segala harapan dan cita-cita yang kamu dambakan dalam kesementaraan dunia ini. “Haruskah saya menaati mereka yang membesarkanku dan kehilangan Dia yang menciptaku?” Inilah pertanyaan St. Agustinus dari Hippo yang dapat menjadi dasar permenungan kita akan tuntutan Injil hari ini. Kenyataan bahwa kita tercipta karena Cinta, sudah lebih dari cukup sebagai alasan bagi kita untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi kemuliaan-Nya. Sembah bakti kita secara total dan mutlak kepada Allah, sama sekali tidak menimbulkan pertentangan antara hukum pertama dan keempat dari “Dekalog“, malah semakin memperjelas tatanan relasi manusia dengan Allah dan sesamanya dalam karya keselamatan. 

Maka, sangatlah disayangkan apabila kita harus menutup mata, telinga dan hati terhadap panggilan Tuhan yang lemah lembut, hanya karena kita tidak ingin mengecewakan orang tua, mereka yang terdekat di hati, atau lebih menyedihkan lagi, bilamana kita mengabaikan kehendak Allah hanya karena tidak sanggup kehilangan persahabatan dengan dunia. Itulah sebabnya, panggilan Kristiani menuntut pula kehendak bebas manusia untuk mengalami kemiskinan roh, suatu bentuk pengosongan diri, sebagaimana terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri, Putra Allah dan Tuhan kita. Kalau seorang rasul Kristus sungguh merindukan surga dan persatuan sempurna dengan Allah, biarlah hatinya tidak melekat pada apapun selain Allah. “Solo Dios Basta – Allah saja Cukup“, demikian kata St. Teresa dari Avila.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.10-38-39). Kendati demikian, “Jangan takut!” Kuatkan hatimu dan buatlah keputusan heroik beriman untuk merangkul, menapaki jalan-Nya, tergantung, bahkan mati di salib demi Allah dan Kehendak-Nya. Lebih baik kamu kehilangan seluruh dunia dengan segala kemuliaan yang ditawarkannya, daripada kehilangan Allah dan ganjaran kehidupan kekal. Lebih baik berjalan bersama Tuhan di tengah kegelapan, daripada berjalan sendirian tanpa Tuhan di tengah cahaya. “Adiutorium nostrum in nomine Domini qui fecit caelum et terram” (Mzm.124:8). Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para pengaku iman, menyertai jalan panggilanmu menuju Putranya.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 30 Maret 2016 ~ RABU DALAM OKTAF PASKAH

image

KENALILAH KELUMPUHANMU

Bacaan:
Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35

Renungan:
Kisah para Rasul hari ini bercerita mengenai mujizat yang dikerjakan oleh Petrus di depan Gerbang Indah. Saat naik ke Bait Allah, dengan ditemani oleh Yohanes, Petrus menyembuhkan seorang yang telah puluhan tahun mengalami kelumpuhan fisik. Untuk menjalani hidup dengan kelumpuhan fisik sejak lahirnya, tentu menjadi penderitaan teramat berat bagi pria malang itu. Seorang beriman pun dalam situasi hidup demikian, mungkin saja dapat tergoda pula untuk mempertanyakan Kerahiman Allah. Akan tetapi, bila direnungkan lebih mendalam, sebenarnya dunia saat ini menyaksikan bentuk kelumpuhan yang jauh lebih berat, yakni kelumpuhan mental dan spiritual.
Hidup beriman kita saat ini sungguh ditantang oleh rupa-rupa situasi hidup dimana Allah seolah tidak ada.

Korupsi serta ketidakadilan yang merajalela dan memiskinkan harkat maupun martabat manusia; budaya instan yang menyebabkan orang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan; penyesatan konsep ketuhanan yang berujung pada radikalisme, yang membenarkan teror dan pembunuhan dengan mengatasnamakan Tuhan; pasutri yang tidak bisa menerima kemalangan dalam hidup perkawinan dan kemudian memutuskan untuk berhenti berjalan bersama; pembelaan hak-hak asasi dan kesetaraan secara keliru, yang justru merusak bahkan mematikan kodrat kemanusiaan; perkembangan teknologi dan rekayasa genetika, yang merubah peradaban manusia menjadi tak ubahnya komoditas, atau ibarat produk yang dapat dipilih dari katalog; serta berbagai bentuk kelumpuhan mental dan spiritual lainnya.
Disadari atau tidak, sama seperti kedua murid yang berjalan pulang ke Emaus, ketika diperhadapkan pada misteri salib kehidupan yang tak terpahami, kita sering mengalami suatu kelumpuhan yang membuat kita berhenti melangkah maju menuju Allah. Ketika mengalami aneka pergumulan hidup yang menyulitkan, mendukakan, dan mengecewakan; tak jarang kita mengalami kelumpuhan rohani dan lupa akan janji-janji Tuhan dalam Kitab Suci.

Kekristenan tanpa salib adalah palsu. Demikian pula salib tanpa kebangkitan adalah kesia-siaan. Tetapi, syukur kepada Allah bahwa kita tidak hanya mengimani Dia yang mati bagi dosa-dosa kita, tetapi juga mengimani Dia yang bangkit dari kematian sebagai Pemenang atau maut. Perjalanan ke Emaus sebenarnya menggambarkan pula perjalanan peziarahan hidup beriman kita. Kegagalan memahami misteri salib dapat menjadikan hidup beriman terasa seperti beban bukannya kuk yang mendatangkan sukacita.
Banyak orang memilih berhenti memandang salib, dan memilih memalingkan wajah mereka dari salib.
Padahal di balik salib ada sukacita kebangkitan. Ada misteri iman yang sungguh memuliakan dalam makam yang kosong, yang menjadikan kita manusia-manusia Paskah.

Renungkanlah kebenaran Sabda Tuhan hari ini. Kalau pria malang yang lumpuh sejak lahirnya saja dapat disembuhkan oleh Petrus karena kuasa nama Tuhan kita Yesus Kristus, apalagi kamu, yang setiap hari menyambut Tubuh Tuhan dalam Misa Kudus? Kalau hati kedua murid saja begitu berkobar-kobar di tengah jalan karena Tuhan menerangkan isi Kitab Suci serta meneguhkan mereka dengan janji-janji-Nya yang kekal, tidakkah Ia dapat melakukan jauh lebih besar lagi melalui dirimu, yang telah menjadi satu dengan-Nya dalam santapan Ekaristi?

Jadi, jikalau demikian, “Apa sebenarnya yang kurang?
Yang kurang adalah “Kesadaran“.
Pemazmur hari ini seolah menjadi seruan kesadaran bagi kita semua. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4)
Untuk itu, mohonkanlah bimbingan Roh Kudus, agar kamu dapat mengenali Dia yang senantiasa menemani perjalananmu dengan Sabda-Nya, dan peganglah janji-janji-Nya, agar hatimu senantiasa dikobarkan untuk karya kerasulan.
Mintalah tuntunan Roh untuk membimbingmu dengan kelembutan sekaligus ketegasan, agar kamu dapat mengenali Dia saat Imam memecah-mecahkan Hosti dan mengangkat Piala keselamatan.
Dengan demikian, kamu akan memiliki relasi pribadi yang mesra dan penuh hormat dengan-Nya. Kamu akan menyentuh Hati-Nya dan menjawab kehausan-Nya akan jiwa-jiwa.
Kamu akan mencintai Bunda Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Kamu akan berdiri teguh dan bangga akan Iman Katolikmu, dan tidak akan mengkompromikannya dalam situasi apapun.

Semoga Santa Perawan Maria, teladan beriman yang sejati, menyertai peziarahan hidup beriman kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kitapun dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Kenalilah kelumpuhanmu, dan berdirilah!
Kita bukanlah anak-anak kegelapan. Kita adalah anak-anak Paskah, putra-putri Cahaya.
Bangkitlah! Bercahayalah!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 21 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XX

image

INILAH TANDA PENGENALMU
Peringatan Wajib St. Pius X, Paus

Bacaan:
Rut.1:1,3-6,14b-16,22; Mzm.146:5-10; Mat.22:34-40

Renungan:
Hidup seorang Kristiani bukanlah suatu hidup tanpa penderitaan, tanpa sakit, tanpa pergumulan, tanpa pencobaan.
Bagaikan sebuah bahtera, putra-putri Gereja Katolik dipanggil untuk beriman sekaligus merasul, sambil mengarungi lautan kehidupan di tengah badai.
Laut yang tenang tidak pernah menjadikan seorang pelaut menjadi mahir.
Iman kita dimurnikan di dalam badai. Ke dalam malam gelap kita dipanggil untuk bercahaya.
Maka, sebagaimana Israel dalam Perjanjian Lama, dan yang kembali diingatkan melalui dialog tanya jawab antara Tuhan Yesus dan seorang ahli Taurat dalam bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk tidak pernah lupa Hukum Tuhan yang paling utama, yang olehnya kita seharusnya dikenal.
Identitas ke-Katolik-an bukanlah sekadar membuat Tanda Salib setiap saat, menghadiri Misa Kudus secara rutin, atau berdoa Rosario setiap hari (bahkan ada yang menggunakannya secara keliru sebagai aksesoris tubuh).
Meskipun tanda-tanda lahiriah dan partisipasi kita dalam liturgi Gereja sungguh perlu, buah dan tanda pengenal terbesar bagi setiap orang Katolik adalah “Kasih“.

Seorang Kristen haruslah pertama-tama dikenal karena cintanya akan Allah dan sesama yang meluap dari kedalaman jiwanya.
Bahwa segenap hidup, kerja, dan pelayanan kita harus senantiasa didasarkan dan diarahkan pada cinta yang total kepada Allah dan sesama.
Tidak cukup bahwa kita melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah, melainkan seberapa besar kasih yang kira curahkan saat melakukan itu semua.
Tidak mungkin seorang beriman yang tekun menghadiri Misa Kudus setiap hari untuk mengatakan mengasihi Allah, bila pada kenyataannya dia justru mengabaikan dan lewat begitu saja saat berjumpa dengan kaum miskin dan papa di sepanjang perjalanannya menuju ke Gereja.
Seorang guru rohani boleh saja membagikan pengetahuan dengan bahasa yang memukau, tetapi tanpa cinta, tembok-tembok ketegaran hati para pendengar tidak akan runtuh, dan mereka tidak akan pernah diubahkan oleh pengajarannya.
Seorang Bapa Pengakuan hanya dapat memenangkan jiwa para pendosa di ruang pengakuan, manakala dia mendengarkan dengan hati yang berbelas kasih.
Seorang istri dapat diberi kekuatan untuk mengampuni pengkhianatan cinta suaminya, manakala hatinya dipenuhi cinta akan Allah, yang kemudian menggerakkan hatinya untuk memegang tangan suaminya dan memberikan pengampunan.
Selama kasih Allah memenuhi hidup mereka, keluarga-keluarga Kristiani tidak akan dengan begitu mudahnya mengatakan kata menyerah pada bahtera rumah tangganya.
Teladan hidup Naomi dan Rut dalam bacaan pertama hari ini menjadi kesaksian nyata bagaimana imannya tidak goyah, karena kasih Allah memenuhi hatinya.
Kendati dianiaya, dihalang-halangi untuk beribadah, dirampas haknya, bahkan kehilangan nyawa karena imannya, hanya relasi cinta yang mesra dengan Allah sajalah yang membuat seorang beriman tidak gentar dan tidak kehilangan damai di hati.
Cinta yang sejati harus selalu siap menderita, terluka, mengampuni, memberi secara total dan tak bersyarat.

Inilah sebagian kecil dari begitu banyak alasan kenapa siapa pun yang menyebut diri pengikut Kristus, haruslah terlebih dahulu sungguh-sungguh memahami dan menjalani hukum cintakasih sebagai dasar hidup berimannya. Konsekuensi kekristenan yaitu salib akan sulit dirangkul, manakala seorang beriman belum sepenuhnya menjawab “Ya” kepada panggilan cintakasih.
Setiap kali kita memandang Salib Tuhan, yang kita dapati disana bukanlah ketiadaan cinta, melainkan kelimpahan cinta.
Tuhan kita Yesus Kristus telah memberikan kita suatu teladan cinta yang paripurna, yaitu semakin dalam paku itu menghujam tangan dan kaki-Nya di salib, semakin berat penderitaan sakit yang Ia alami, cinta-Nya akan umat manusia justru tidak pernah berkurang, melainkan semakin bertambah, serta tercurah sebagaimana dilambangkan oleh darah dan air yang mengalir dari lambung-Nya.
Dalam terang iman Kristiani, Beata Ibu Teresa dari Kalkutta berkata, “Saya mendapati suatu paradoks, yaitu apabila kita mencintai orang lain sampai terluka, kita justru tidak akan semakin terluka, melainkan semakin mencinta.

Dari hidup dan ajaran St. Pius X, seorang Paus kudus yang kita peringati hari ini, kita diingatkan bahwa sebagai seorang Katolik, kita punya Obat Cinta yang amat ampuh, yaitu Sakramen Ekaristi.
Mereka yang sungguh-sungguh bertekun dalam Misa Kudus, dan sering menerima Komuni Kudus sebagai santapan rohani, bila itu dilakukan dengan disposisi batin yang tepat, maka pada akhirnya Sakramen Ekaristi, Hidup Tuhan yang menyatu dengan hidupmu, akan mengubah dirimu menjadi semakin secitra dengan-Nya. Pada akhirnya, Roti Surgawi itu akan mengubahmu menjadi rasul-rasul cinta yang militan. Bagaikan seorang pembawa api, kamu akan membakar seluruh dunia dalam cinta akan Tuhan.
Semoga Ibu Maria menyertai niat sucimu untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, putra-putri Ekaristi, sehingga melalui hidup dan karyamu, semua orang akan mengaku “Benar. Yesus sungguh adalah Putra Allah, Tuhan Yang Hidup.
Kiranya dalam diri setiap pengikut Kristus, cintakasih akan selalu dan selalu menjadi tanda pengenal yang pertama dan terutama.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 6 Agustus 2015 ~ Pesta Tuhan Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya

image

KALAHKANLAH DUNIA UNTUK KEMULIAAN

Bacaan:
Dan.7:9-10,13-14; Mzm.97:1-2,5-6,9; 2Ptr.1:6-19; Mrk.9:2-10

Renungan:
Hari ini Gereja merayakan peristiwa Yesus berubah rupa dalam kemuliaan, didampingi nabi Musa yang memberikan hukum Tuhan bagi Israel, dan Nabi Elia sebagai yang terbesar dari para Nabi perjanjian lama, serta disaksikan oleh ketiga rasul, yakni Petrus, Yakobus dan Yohanes.
Perayaan ini semakin bermakna dalam hidup kekristenan sekarang ini, yang kini ditandai dengan perjuangan untuk melawan arus dunia, disaat hampir semua orang justru mengikuti dengan tahu dan mau akan nilai-nilai baru yang bertentangan dengan Iman Kristiani, dan disaat semakin banyak jiwa kini terseret arus dunia yang menyesatkan.
Panggilan kita adalah panggilan untuk mengalami misteri salib agar beroleh kemuliaan.
Di masa sekarang ini kita dituntut untuk lebih berani lagi mewartakan iman, apapun konsekuensinya, meskipun harus bertentangan dengan pandangan mayoritas. Untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, membawa damai di tengah konflik, di tengah desakan radikalisme dan fanatisme, memperjuangkan martabat pernikahan dan keluarga yang sejati, mempertahankan nilai-nilai kehidupan, dan melawan budaya kematian. Sementara itu, secara pribadi kita pun bergumul dalam pemurnian diri, untuk melepaskan keterikatan dan persahabatan dengan dosa, sehingga pada akhirnya menjadi pemenang dalam Iman.

Tentu saja, berbagai bentuk pergumulan tadi mengharuskan kita untuk turun ke dalam lembah kekelaman, serta mengalami penderitaan teramat hebat.
Itulah sebabnya kemuliaan dan sukacita Tabor seolah memberikan penghiburan dan penguatan, bahwa bila kita setia menapaki jalan salib dalam peziarahan hidup ini, pada akhirnya kita akan turut serta mengalami kemuliaan bersama Tuhan.
Peristiwa Transfigurasi adalah antisipasi sukacita surga yang memberikan penghiburan rohani bahwa kelak, bagi mereka yang setia dalam karya kerasulan, inilah ganjaran yang akan diterimanya. Ganjaran kebahagiaan tak terkatakan bersama para Kudus, dalam kemuliaan dan persatuan cinta Allah Tritunggal Mahakudus.
Maka, janganlah cemas, kuatir atau gentar. Kuatkanlah hati, sekalipun kamu harus melawan arus, dibenci, menderita, bahkan kehilangan nyawamu karena tidak mau menyamakan diri dengan dunia ini.
Sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita peroleh kelak.
Kalahkanlah dunia, dan engkau akan beroleh ganjaran kemuliaan kekal

Semoga Perawan Suci Maria senantiasa menemani kita dan menjadi Bintang Timur untuk menunjukkan jalan yang aman, agar pada senja hidup kita boleh tiba di tanah air surgawi, serta mengambil bagian dalam kemuliaan Yesus, Putra-nya.

Pax, in aeternum.
Fernando