Meditasi Harian, 15 Juli 2017 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

TAKUTMU BEDA DENGAN TAKUTKU

Bacaan:

Kej.49:29-32 dan 50:15-24; Mzm.105:1-2.3-4.6-7; Mat.10:24-33

Renungan:

Perasaan takut punya kuasa yang besar. Seorang dapat menjadi sangat cemas atau melarikan diri karena rasa takut. Akan tetapi, rasa takut dapat pula menghantar kita untuk berdiri teguh dalam iman, dan melakukan tindakan-tindakan heroik sebagai ungkapan nyata dari iman kita. Berlawanan dengan si jahat yang menanamkan benih ketakutan, dan membuat banyak orang berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan nyawanya, sambil menghambakan diri kepada kedagingan; rasa takut yang suci akan Allah adalah obat penawar, yang melenyapkan ketakutan akan kehilangan nyawa. Rasa takut yang suci akan Allah membuahkan kebijaksanaan, kedewasaan rohani, dan discernment yang tepat dalam menjalani hidup. Darinya lahir keberanian yang luar biasa untuk menjadi saksi-saksi kebangkitan, rasul-rasul Kristus yang berani mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, serdadu-serdadu Kristus yang siap-sedia menghalau kegelapan dan maju dalam pertempuran iman secara heroik. Bersaksilah melalui hidupmu kekristenanmu yang sungguh-sungguh memantulkan cahaya kemuliaan Tuhan. Hindarilah segala perbuatan yang dapat menciderai karya Allah di dalam dan melalui dirimu, kemudian mulailah lebih giat lagi bersaksi akan karya-karya mengagumkan yang dikerjakan-Nya di dalam dan melalui dirimu. 

Apapun profesi hidupmu, mulailah melihat panggilan adikodrati di dalamnya. Hidupmu adalah Altarmu di hadapan Tuhan. Kamu adalah rekan kerja Allah dalam karya keselamatan dunia. Persembahkanlah hanya keharuman di atas Altar kerjamu itu, bukan kejahatan dan perbuatan lainnya yang tidak berkenan di Hati Tuhan. Tentu ini bukanlah suatu pemberian hidup tanpa risiko. Tak jarang kamu dapat kehilangan kehormatan, karir cemerlang, sahabat, harta milik, keluarga, segalanya, bahkan nyawamu sendiri. Tetapi disinilah letak keindahan panggilan kristiani kita, yaitu “melepaskan segala demi beroleh Kristus, Sang Segala“, kata St. Yohanes dari Salib. Jangan takut! Wartakanlah apapun juga risikonya. Takutlah akan Tuhan yang mengingatkan kita bahwa, “Barangsiapa mengakui Aku di hadapan manusia, dia akan Kuakui juga di depan Bapa-Ku yang di surga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, dia akan Kusangkal di hadapan Bapa-Ku yang di surga” (Mat.10:32-33). Ketakutan sejati selalu berbuah cinta bakti serta penyerahan diri seutuhnya kepada Allah dan kehendak-Nya. Kamu dipanggil dari tengah dunia untuk menjadi saksi-saksi dari Karya Allah.

Temukanlah kekuatan untuk berani menjadi saksi-saksi Kristus di dalam Sakramen Ekaristi. Itulah Roti Kehidupan yang menyempurnakan hidup doamu, mati raga, laku tapa, dan segala karya kerasulanmu. Seberapa dalam persatuan cintamu dengan Allah adalah faktor utama, yang sangat menentukan apakah pertempuranmu melawan si jahat dapat dimenangkan atau tidak. Pandanglah Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, gambaran kesempurnaan Gereja. Hidupnya adalah teladan yang paling mengagumkan dari hidup seorang hamba Tuhan. Hidup yang senantiasa diliputi sukacita di tengah hujaman pedang dukacita, karena dia selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat. Kiranya dengan kelembutan kasih keibuannya, kita dituntunnya masuk dalam awan kemuliaan Tuhan, ke dalam pergaulan yang penuh hormat dengan Dia, untuk kemudian sujud menyembah dalam ketakutan yang suci di hadirat-Nya. Santa Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 31 Maret 2016 ~ KAMIS DALAM OKTAF PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK MENGHANGUSKAN DUNIA

Bacaan:
Kis.3:11-26; Mzm.8:2a.5.6-7.8-9; Luk.24:35-48

Renungan:
Kendati menyedihkan, tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali untuk mempercayai suatu peristiwa pernyataan kuasa Allah, manusia merasa perlu menuntut untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Seolah Tuhan Semesta Alam harus mempertanggung jawabkan Diri-Nya di hadapan makhluk ciptaan-Nya. Dan lebih memprihatinkan lagi, bahwa ketika Tuhan justru berkenan menyatakan Diri-Nya, dan menjawab kerinduan umat-Nya, tak jarang pula pernyataan kuasa Allah itu justru disikapi dengan keterkejutan dan ketakutan, sebagaimana dialami oleh para murid dalam Injil hari ini (bdk.Luk.24:37). Di kemudian hari Petrus pun diperhadapkan pada rasa keterkejutan dan ketakutan khalayak akan kuasa Allah yang bekerja dalam dan melalui dirinya, sehingga keluarlah perkataan, “Mengapa kamu heran?” (Kis.3:12).

Mungkin saja, kegagalan beriman semacam ini diawali dengan kegagalan, untuk menyadari kemuliaan Tuhan melalui hal dan peristiwa sederhana dalam hidup. Mazmur hari ini sebenarnya telah mengungkapkannya dengan begitu indah, yaitu bahwa sebenarnya, “Seluruh bumi menampakkan kemuliaan Tuhan“.
Milikilah kekaguman untuk menyadari kemuliaan Tuhan dalam angin yang berhembus, dedaunan yang berjatuhan, air sungai yang mengalir, bahkan lampu-lampu kota yang bercahaya, sehingga kamu tidak akan begitu terkejut atau takut seperti para murid, manakala Tuhan berkenan melakukan karya-Nya yang luar biasa di dalam dan melalui dirimu.

Apa yang dialami para murid, juga dialami oleh putra-putri Gereja di sepanjang sejarahnya. Banyak saudara-saudari seiman yang mengalami kesulitan untuk melangkah dalam peziarahan berimannya, dengan sungguh-sungguh membawa Injil Tuhan dan Tradisi Suci di hatinya. Seandainya setiap orang beriman sungguh-sungguh menyadari martabat Imam, Nabi, dan Raja yang mereka peroleh melalui Sakramen Baptis, maka kita akan mendapati putra-putri Cahaya yang sanggup mendatangkan Api atas dunia ini; untuk menghanguskan segala bangsa, segenap suku dan kaum dalam nyala api cinta dari Tuhan.
Secara jujur harus diakui bahwa arus dunia ini telah menghempaskan putra-putri Gereja pada sikap acuh tak acuh dalam hidup beriman. Si jahat telah menabur benih ketidakpedulian, sehingga kita tidak lagi menjalani hidup beriman kita dengan “utmost capacity and capability“. Tak jarang kita mendapati generasi umat beriman yang suam-suam kuku, dihimpit ketakutan dan kekuatiran, yang berujung pada keputusan bodoh untuk mengkompromikan imannya.

Semoga kita sungguh-sungguh menyadari panggilan luhur kita untuk menjadi saksi-saksi Injil secara otentik dan meyakinkan,yang dibuktikan melalui hidup dan karya.
Bersama Bunda Maria, Saksi Pertama dan Utama dari janji keselamatan yang dilahirkannya ke dunia, kiranya Gereja Kudus boleh melahirkan putra-putri Paskah yang telah dibenamkan dalam air Baptis, dan keluar darinya dengan membawa Api yang sanggup membakar seluruh dunia dalam perjumpaan dengan saksi-saksi Kebangkitan. Kamulah Israel yang baru.

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. 
Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis.3:25-26).

Bangkitlah! Bercahayalah! Kobarkanlah dunia ini dengan nyala api Cinta!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 Maret 2016~SENIN DALAM OKTAF PASKAH

image

PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN

Bacaan:
Kis.2:14,22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Mat.28:8-15

Renungan:
Disadari atau tidak, Kekristenan adalah suatu perjumpaan dengan peristiwa. Peristiwa ini bukanlah peristiwa biasa, karena untuk memahami dan merangkulnya sebagai Kebenaran, seseorang memerlukan Iman. Itulah sebabnya, diperhadapkan dengan berbagai peristiwa hidup yang tak dimengerti, manusia seringkali sulit menerima itu sebagai kebenaran.
Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, setelah mendengar kebenaran kebangkitan Tuhan, yang diberitakan para serdadu, justru menjadi takut dan memilih menutupi kebenaran.
Lain halnya dengan para wanita pengikut setia Tuhan kita. Ketika menemukan kebenaran bahwa makam telah kosong, mereka mengalami kegelapan iman yang menakutkan, namun seketika juga mendatangkan sukacita yang besar. Sukacita iman yang membuat mereka berlari dalam kuasa cinta untuk membagikan kabar sukacita Injil ini.
Disini kita melihat 2 sikap yang berbeda dalam menanggapi kebenaran janji Tuhan.
Anda dapat memilih menjadi “saksi” dari kebenaran itu dan mewartakannya dalam hidup dan karya, atau memilih “diam” dan mengubur kebenaran itu,  karena telah nyaman dalam kesementaraan kemuliaan duniawi yang membinasakan baik tubuh maupun jiwa.
Berdirilah teguh dalam Iman, peganglah janji Tuhan, dan saksikanlah bagaimana dia melakukan perkara-perkara besar dalam dan melalui hidupmu.
Suatu sikap beriman yang dengan begitu indah diungkapkan hari ini oleh pemazmur, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm.16:8)
Hari ini biarlah sapaan Tuhan dan Penyelamat kita kembali bergema, “Jangan Takut!” (Mat.28:10)
Semoga kita sekalian, sebagaimana Ibu kita Maria, senantiasa diterangi oleh cahaya iman, agar dapat mengambil sikap yang tepat disaat peristiwa hidup menghantar kita pada perjumpaan dengan Sang Kebenaran.
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kis.2:32)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Oktaf Paskah

image

JANGAN JADI MANUSIA SAMPAH

Bacaan:
Kis.4:13-21; Mzm.118:1.14-15.16ab-18.19-21; Mrk.16:9-15

Renungan:
Bagi yang pernah mempelajari Injil Markus lebih dalam, kita mungkin dikejutkan ketika menemukan bahwa Markus mengakhiri atau menutup Injilnya dengan tiba-tiba di pasal 16:8.
Gereja perdana berusaha “melengkapi” Injil Markus dengan menambah bagian yang dalam keyakinan suci mereka tentu akan ditambahkan oleh Markus sendiri, sebagai bagian akhir atau tambahan untuk memberi akhir yang lebih halus (ayat 9-20).
Sebagian besar pakar atau ahli tafsir Kitab Suci meyakini bahwa akhir yang tiba-tiba dari Injil Markus (pada ayat 8), hendak mengungkapkan harapan penginjil Markus agar para pembacanya melengkapi sukacita Injil dalam hidup mereka.
Oleh karena itu, penambahan bagian penutup oleh Gereja Perdana dengan didasari ilham Roh Kudus, yang penggalan besarnya (ayat 9-15) kita baca hari ini, harus dilihat sebagai seruan suci untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dalam hidup dan karya kita.
Milikilah keberanian seperti Rasul St. Petrus untuk berkata,”Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar.” (Kis.4:20)
Lebih dari sebelumnya, Orang-orang Kristen di masa kini haruslah menjadi orang-orang Kristen yang “bersaksi“, kalau tidak mau dianggap “sampah” bagi dunia dan batu sandungan bagi karya kerasulan.
Hidup kita, integritas kita, karya atau profesi kita, kemiskinan roh dan pelayanan kasih kita, panggilan untuk berkeluarga maupun menjadi seorang selibat, haruslah menjadi kesaksian yang meyakinkan akan Tuhan Yang Bangkit.
Kalau dunia gagal melihat Tuhan Yang Bangkit dalam diri kita, itu dikarenakan kegagalan kita untuk berlaku selayaknya saksi-saksi Kristus yang sejati.
Jangan jadi manusia sampah. Jadilah manusia yang berguna, pewarta sukacita Injil yang menerangi kegelapan zaman ini, maka Tuhan akan menyertai kamu sekalian dengan tanda-tanda dan kuasa-Nya.
Euntes in mundum universum praedicate evangelium omni creaturae.” ~ (Mrk.16:15)

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ VIGILI PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK BERCAHAYA

Bacaan:
Kej.1:1 – 2:2; Mzm.104:1-2a.5-6.10.12.13-14.24.35c atau Mzm.33:4-5.6-7.12-13.20.22; Kej.22:1-18; Mzm.16:5.8.9-10.11; Kel.14:15 – 15:1; MT Kel.15:1-2.3-4.5-6.17-18; Yes.54:5-14; Mzm.30:2.4.5-6.11.12a.13b; Yes.55:1-11; MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6; Bar.3:9-15.32 – 4:4; Mzm.19:8.9.10.11; Yeh.36:16-17a.18-28; Mzm.42:3.5bcd – 43:3.4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes.12:2-3.4bcd.5-6 atau juga Mzm.51:12-13.14-15.18-19; Rm.6:3-11; Mzm.118:1-2.16ab-17.22-23; Mrk.16:1-8

Renungan:
Inilah malam dimana Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus mengalahkan maut dan kegelapan dengan Cahaya Kebangkitan.
Pada malam ini Gereja Katolik merayakan Puncak dari semua perayaan Liturginya.
Malam ini umat beriman merayakan dasar dari keseluruhan imannya. Sebagaimana diungkapkan begitu tepatnya oleh St. Paulus Rasul, “Seandainya saja Kristus tidak dihidupkan kembali dari kematian, maka tidak ada gunanya kami memberitakan apa-apa dan tidak ada gunanya pula kalian percaya, sebab kepercayaanmu itu tidak mempunyai dasar apa-apa. Dan kalau Kristus tidak dihidupkan kembali maka kepercayaanmu hanyalah impian belaka; itu berarti kalian masih dalam keadaan berdosa dan tidak mempunyai harapan sama sekali. Tetapi nyatanya Kristus sudah dihidupkan kembali dari kematian. Inilah jaminan bahwa orang-orang yang sudah mati akan dihidupkan kembali. Sebab kematian masuk ke dalam dunia dengan perantaraan satu orang, begitu juga hidup kembali dari kematian diberikan kepada manusia dengan perantaraan satu orang pula.” (bdk.Kor.15:14.17.20-21)

Vigili Paskah atau Malam Paskah adalah awal penciptaan yang baru. Ketika Allah menciptakan alam semesta dari kekosongan, ketiadaan dan kegelapan, dia terlebih dahulu menciptakan “Terang“. Maka, malam Paskah dikatakan awal penciptaan baru karena pada malam ini, Allah mengalahkan kegelapan dosa dan maut dengan “Terang Sejati” yang berasal dari Kristus Yang Bangkit.

Di malam Paskah ini, Gereja Katolik mengungkapkan atau menerangkan imannya akan Kristus Yang Bangkit dengan liturgi yang begitu indah, tepat dan penuh kekayaan makna, melalui bentuk yang sangat unik dan sederhana, yaitu Lilin Paskah.
Dari liturgi sederhana ini kita diajak untuk merenungkan 2 sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang beriman yang dipanggil menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit.

Pertama, lilin akan menghabiskan dirinya untuk bercahaya. Sebagaimana lilin yang menebarkan cahaya sambil perlahan-lahan menghabiskan dirinya, demikian pula hidup seorang rasul Kristus. Panggilan kita untuk membawa cahaya ke tengah kegelapan dunia adalah juga panggilan untuk mencintai sampai sehabis-habisnya, sama seperti Kristus. Suatu panggilan untuk kehilangan hidup, agar dapat memberi hidup. Hidup seorang Kristen adalah suatu pemberian diri yang total, bahkan sekalipun karenanya ia harus mengurbankan nyawanya, demi imannya akan Allah dan demi membawa keselamatan serta cahaya sukacita Injil kepada semua orang.

Kedua, cahaya lilin adalah api. Ini bukanlah cahaya yang dingin dan tidak memiliki dampak apa-apa jika disentuh, melainkan cahaya yang membawa kehangatan, bahkan sanggup membakar dan menghanguskan siapapun yang disentuh olehnya. Demikian pulalah seharusnya hidup seorang rasul Kristus. Hidupnya harus selalu membawa kehangatan cinta dan belas kasih Allah bagi siapapun yang berjumpa dengannya. Hidup dan karyanya harus selalu membawa orang pada pengenalan iman akan Kristus, dan membuat hati siapapun yang disentuh oleh kehadirannya menjadi berkobar-kobar dan dihanguskan oleh cinta akan Allah.

Di malam Paskah ini, seruan Kristus kembali bergema, “Kamu adalah Terang dunia.
Kita bukanlah anak-anak kegelapan, kita adalah putra-putri Cahaya
Oleh karena itu, malam ini pula Gereja, umat Allah, dengan memegang lilin yang bercahaya di tangannya, membaharui kembali janji baptisnya untuk menjadi putra-putri Cahaya, yang membawa terang dan sukacita Paskah dalam hidup dan karyanya.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur dan Bunda Gereja, menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita bisa menjadi saksi-saksi iman akan Kristus Yang Bangkit, serta mengenyahkan kegelapan dunia ini melalui hidup dan karya kita.

Selamat Paskah! Surrexit Christus, Alleluia!

Pax, in aeternum.
Fernando