Meditasi Harian 21 April 2016 ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

SETIA DALAM KEBENARAN

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27;Yoh.13:16-20

Renungan:
Dikhianati oleh orang yang kita kasihi dan berada dalam lingkaran dekat persahabatan, seringkali terasa sangat menyakitkan.
Injil hari ini mengangkat isu penting dalam setiap relasi cinta, yakni perihal kesetiaan versus ketidaksetiaan. 
Di saat-saat terakhir sebelum sengsara-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus sudah tahu bahwa salah seorang dari 12 rasul-Nya yang terkasih, akan mengkhianati Dia.
Akan tetapi, pengetahuan akan kenyataan pahit ini tidak membuat Tuhan Yesus menjaga jarak, membentengi diri, dan berhenti mengasihi. Justru sebaliknya, Ia mencurahkan kasih sehabis-habisnya bagi mereka semua, tanpa terkecuali, termasuk kepada Yudas, yang seolah “menikam-Nya dari belakang“, yang siap menjual Tuhan-Nya pada harga yang tepat baginya. 
Untuk mengungkapkan kesedihan-Nya, Tuhan Yesus menyatakannya dalam seruan Mzm.41:9, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.” (bdk.Yoh.13:18)
Pernyataan “mengangkat tumitnya“, hendak mengungkapkan betapa luar biasa menyakitkannya pengkhianatan itu, suatu dosa yang teramat keji dan jahat. Sebaliknya, untuk “makan roti bersama” dalam budaya Yahudi waktu itu adalah ungkapan kepercayaan dan persahabatan.
Maka, ketika Tuhan Yesus duduk makan roti bersama Yudas, kendati tahu isi hati rasul-Nya yang siap mengkhianati Dia, sebenarnya hendak mengajar kita bahwa cintakasih adalah panggilan yang wajib diberikan oleh seorang Kristiani, dalam situasi apapun, seberapa pun beratnya itu, bahkan kendati kita harus kehilangan hidup kita karenanya.
Dalam terang Iman inilah, kita pun diajak untuk merenungkan hidup para martir di sepanjang sejarah, yang dibunuh di daerah-daerah konflik, disaat mereka justru sedang melakukan karya cintakasih sehabis-habisnya bagi semua orang, termasuk kepada mereka yang bukan saudara-saudari seiman, malah membenci nama Yesus dan Gereja Kudus-Nya.
Kita teringat akan 4 Biarawati dari Kongregasi Misionaris Cinta Kasih, yang terbunuh di Yaman. Dan tidak hanya di Yaman. Dimanapun berada, seorang Kristiani dipanggil untuk menjalani hidup berimannya secara otentik. Untuk mengasihi dan mengampuni sampai sehabis-habisnya. “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh.13.35)

Bagian akhir dari Injil hari ini menegaskan kembali kenyataan bahwa Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan. “Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh.13:20)
Perkataan ini sangat jelas dan tidak multi tafsir. Jawaban atasnya sangat menentukan, karena konsekuensi dari kebenaran menyentuh dasar keselamatan.
Siapapun yang mengimani Allah, haruslah menerima semua kebenaran yang diwartakan Yesus, Putra Allah.
Kebenaran yang dengan setia dimaklumkan oleh Gereja-Nya yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Dalam terang sukacita Injil inilah kita pun hendaknya bergembira bahwa Sinode Keluarga yang baru saja berlalu, kini semakin bisa dinikmati buah-buahnya dengan dimaklumkannya Eksortasi Apostolik “Amoris Laetitia” oleh Bapa Suci Paus Fransiskus.
Inilah jawaban terhadap berbagai kesulitan hidup dan panggilan mengasihi dalam Sakramen Pernikahan dan tantangan hidup berkeluarga.
Akan tetapi, kita pun diingatkan bahwa cintakasih tidak pernah bertentangan dengan keadilan. Demikian pula perhatian pastoral, sebaik apapun itu menurut pemahaman manusiawi, akan selalu menjadi aplikasi dari doktrin atau ajaran Gereja bukan sebaliknya, apalagi bertentangan.
Kesetiaan terhadap Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga, haruslah ditandai dengan kesediaan untuk merangkul Iman Kristiani secara otentik, kepada pengenalan akan Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja.
Untuk memahami keluhuran serta martabat Pernikahan dan Keluarga dalam semangat baru (kepenuhan Roh) yang mendatangkan sukacita, bukannya menafsirkannya secara baru yang malah memadamkan Roh.
Maka, barangsiapa sungguh hendak mengasihi Allah dan sesama, haruslah juga menerima kebenaran dalam segala kepenuhannya, tanpa “mengkompromikan” imannya dikarenakan pemahaman belas kasih yang keliru.
Hukum Tuhan yang tertulis menjadi hukum yang menghidupkan karena cinta, tetapi cinta tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengabaikan apalagi mengerdilkan arti hukum itu. Sebab jikalau demikian, cintamu palsu demikian pula kesetiaanmu.

Semoga Perawan Suci Maria, Bunda Gereja, selalu menyertai kita dalam panggilan untuk mengasihi secara sempurna dan untuk mengasihi dalam kebenaran.
Untuk membenci dosa, tapi mengasihi pendosa. Nyatakanlah tanda salib sebagai bukti cinta dan imanmu akan Yesus Sang Putra Allah, bukan hanya dalam gerakan tangan, melainkan juga dalam hidup dan karya. Untuk berbelas kasih seperti Bapa, sebab “Allah adalah Kasih“.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 4 Oktober 2015 ~ MINGGU BIASA XXVII

image

JANGAN BERTEGAR HATI !

Bacaan:
Kej.2:18-24; Mzm.128:1-2.3.4-5.6; Ibr.2:9-11; Mrk.10:2-16

Renungan:
Sejak awal penciptaan, Sakramen Pernikahan selalu bersifat monogami dan tak terceraikan antara seorang pria dan seorang wanita. Hukum Tuhan ini sedemikian jelas sehingga tidak ada celah bagi interpretasi yang berbeda, apalagi untuk memberinya makna baru dengan dalih supaya lebih sesuai dengan arus zaman.
Ketegaran hati manusialah yang seringkali mengaburkan dan berujung penolakan terhadap kebenaran ini.
Itulah sebabnya, putra-putri Gereja Katolik harus senantiasa membawa cahaya dan sukacita iman lewat kesaksian hidup yang meyakinkan.
Iman Kristiani hendaknya diwartakan secara otentik dan dihidupi secara total, kendati seringkali harus melawan arus zaman.
Iman kita adalah harga mati dan tidak bisa dinegosiasikan. Iman bukanlah gaya hidup yang dapat usang dan berganti seiring waktu.
Sabda Tuhan hari ini kembali mengajak kita untuk melihat martabat luhur dan kekudusan Sakramen Pernikahan serta kesejatian Keluarga dalam terang Iman.

Kendati didirikan oleh Tuhan Yesus sendiri, Gereja Katolik tidak menciptakan definisi dari Sakramen Pernikahan. Demikian pula segala institusi buatan manusia pun tidak.
Allah sendirilah yang telah menetapkannya.
TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’ Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” (Kejadian 2:18.21-22.24)

Maka, manakala Gereja Katolik saat ini membela mati-matian martabat Pernikahan dan kesejatian Keluarga dari berbagai usaha si jahat yang mencoba merusaknya, itu sama sekali bukanlah sikap yang usang, ketinggalan zaman, apalagi diartikan secara diskriminatif dan tidak manusiawi.
Justru segala bentuk serangan terhadap kebenaran sejati inilah yang sebenarnya mendatangkan pengrusakan terhadap martabat hidup manusia, serta mengaburkan citra Allah dalam dirinya.

Sakramen Pernikahan adalah suatu panggilan yang Ilahi, di dalamnya kita dapat memandang pula gambaran cinta Kristus kepada Gereja sebagai Mempelai-Nya.
Sebagian besar umat beriman dipanggil untuk menapaki jalan panggilan luhur ini. Dan sebagaimana Firman-Nya, bahwa tidak ada satupun manusia boleh menceraikan atau merusak apa yang telah disatukan Tuhan, maka perceraian dan segala usaha merusak pernikahan maupun kesejatian keluarga, merupakan kekejian serta perlawanan terhadap rancangan indah dari Allah.

Amatlah mendukakan bahwa saat ini, bukan hanya mereka yang tak beriman, melainkan justru banyak orang yang menyebut diri pengikut Kristus, kini mulai meragukan, mempertanyakan, bahkan tak jarang menyerah di jalan suci dan luhur ini.
Jangan sampai kata-kata Tuhan Yesus menjadi teguran nyata bagi kita, bahwa “ketegaran hatimulah” yang telah membutakan serta membuatmu berpaling dari kesempurnaan kemanusiaan ini.

Dunia saat ini mengalami ketiadaan Allah yang luar biasa, suatu kegelapan iman dan penolakan terhadap Sang Cinta, melebihi masa-masa sebelumnya dalam sejarah.
Ketegaran hati dunia telah membuat banyak pasangan suami-istri jatuh dan menyerah dari panggilan untuk mencintai ketidaksempurnaan secara sempurna; pada ketidaksetiaan dan perzinahan; pada pemusnahan kehidupan dengan tindakan aborsi dan Euthanasia; pada kontrasepsi dan penciptaan maupun rekayasa kehidupan layaknya produk buatan pabrik; pada menjadi budak uang dan ambisi berkuasa, sampai lupa menyediakan waktu untuk orang yang mereka kasihi; pada kemajuan teknologi dan komunikasi, yang bukannya mendekatkan, melainkan semakin menjauhkan satu sama lain; pada interpretasi baru akan arti pernikahan maupun keluarga; dan pada hawa nafsu dunia yang menyesatkan.

Berjaga-jagalah sebab setan, si ular tua, saat ini mencoba melemahkan Gereja dengan menyerang Sakramen Pernikahan dan hidup berkeluarga.
Si jahat tahu, bahwa tanpa Sakramen Pernikahan dan Keluarga Kristiani yang sejati, tidak akan ada putra-putri Cahaya, tidak akan ada mereka yang memberi diri dalam panggilan suci, tidak akan ada karya kerasulan, tidak akan ada pewarisan Iman, tidak akan ada Gereja.

Dalam bagian akhir Injil hari ini, Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya mengenai keagungan Sakramen Pernikahan dan pentingnya Keluarga, dengan mengundang anak-anak datang kepada-Nya, sambil mengecam mereka yang mencoba menghalangi kehadiran anak-anak.
Maka, celakalah kamu, hai putra-putri kegelapan, yang mencoba merubah Ajaran Gereja dengan lobi-lobi kotormu; yang kini telah mengubah undang-undang di banyak negara untuk memberi definisi baru bagi Pernikahan, sebagai bukan lagi antara pria dan wanita; yang melegalkan aborsi, suatu tindakan keji untuk membunuh dengan dalih kemanusiaan maupun alasan medis; yang membenarkan bahkan memaksakan penggunaan berbagai bentuk kontrasepsi untuk menghalangi kehadiran anak-anak sebagai buah cinta; yang menghina Allah dengan rekayasa genetika untuk penciptaan manusia dari meja riset dan laboratorium; dan yang menentang panggilan prokreasi atas pertimbangan ekonomi, gejolak sosial serta politik.

Bukanlah suatu kebetulan bahwa mujizat pertama yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus dilakukan di Kana, di tengah Pernikahan, di dalam Keluarga. Oleh karena itu, Sabda Tuhan hari ini kiranya membaharui panggilan kita, serta pandangan iman kita akan Sakramen Pernikahan dan kesejatian Keluarga.
Tentu saja ada rupa-rupa tantangan dalam hidup pernikahan, akan selalu ada rupa-rupa pergumulan untuk melangkah bersama sebagai keluarga.
Tetapi, “Jangan Takut!
Pandanglah selalu salib Tuhan kita dan temukanlah kekuatan disana.
Santapan Ekaristi, Firman Tuhan, doa, puasa, matiraga, serta karya kerasulan hendaknya menjadi sumber kekuatanmu.
Bukankah Tuhan selalu ada di dalam kamu dan kamu di dalam Dia? Jika Tuhan berada di pihakmu, kenapa takut atau kuatir? Bersukacitalah!
Asalkan kamu selalu setia untuk melangkah bersama Dia, maka mujizat di Kana akan terjadi juga di dalam pernikahanmu, di dalam keluargamu. Tuhan selalu sanggup mengubah air menjadi anggur. Percaya saja!

Di bulan Rosario ini, marilah kita mengarahkan pandangan kepada Perawan Suci Maria. Mujizat di Kana terjadi karena Bunda Maria yang memintanya. Dialah gambaran kesempurnaan Gereja. Dia tampil bersama Santo Yosef sebagai teladan beriman suami-istri, sebagai keluarga Kudus.
Maka, adalah baik dan sungguh pantas bagi setiap keluarga Katolik untuk berlindung dan mempercayakan hidup rumah tangga mereka pada kasih keibuan Maria, untuk menyentuh Hati Yesus Yang Mahakudus melalui Hati Tersuci Maria.
Marilah kita juga membawa Sinode Keluarga 2015 yang hari ini akan dibuka di Kota Suci Roma.
Semoga Roh Kudus menyertai Bapa Suci Paus Fransiskus dan para Bapa Sinode, untuk tetap setia dalam kemurnian Ajaran Iman, dan membuahkan segala yang baik lewat Sinode ini, bagi keluhuran martabat Sakramen Pernikahan serta kesejatian keluarga, untuk menjawab berbagai tantangan dalam Pernikahan dan Keluarga Kristiani saat ini.
Yakinlah, bahwa sebagaimana Allah sendiri yang telah menetapkan Sakramen Pernikahan dan membentuk keluarga-keluarga Kristiani, Allah jugalah yang akan menyertai “Ecclesia Domestica” ini senantiasa.
Pada akhirnya, ketegaran hati pasti akan dikalahkan oleh kuasa Cinta Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 20 Agustus 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XX

image

IA MENGUNDANGMU, DATANGLAH !
Peringatan Wajib St. Bernardus dari Clairvaux

Bacaan:
Hak.11:29-39a; Mzm.40:5,7-10; Mat.22:1-14

Renungan:
Ibarat seorang Raja yang mengadakan jamuan makan, kita beroleh keistimewaan boleh menerima undangan dari-Nya. Lihatlah betapa besar kasih Allah bagi kita. Dengan berbagai cara dan melalui berbagai situasi hidup, berulang kali dia mengundang kita untuk mendekat pada-Nya. Undangan paling mendesak, tindakan cinta terbesar yang dilakukan-Nya, ialah dengan mengutus Putra-nya sendiri, yang membawa undangan damai, yang memulihkan relasi cinta kita dengan-Nya yang rusak karena dosa.
Tetapi dari perumpamaan dalam bacaan Injil hari ini, dikatakan bahwa (dan memang seringkali demikianlah adanya) undangan kasih dari Allah ditanggapi dingin oleh umat kesayangan-Nya. Berulang kali Ia mengetuk pintu hati kita, tetapi berulang kali pula Ia mendapati hati yang bebal, yang tidak mau peduli, acuh tak acuh. Kita membiarkan Sang Cinta berdiri di depan pintu yang tertutup, seolah harus mengemis cinta dari kita, malah tak jarang Ia ditendang dan diusir pergi karena kita melihat konsekuensi jalan kekudusan dari-Nya sebagai beban, bukannya rahmat.
Kita tidak mau meninggalkan persahabatan dengan dosa, enggan melepaskan kelekatan kita.
Padahal setiap hari Ia mengundang kita ke dalam Perjamuan Surgawi, yaitu Misa Kudus.
Dalam Sakramen Ekaristi, Yesus sendiri yang mengundang kita, dan Ia sendiri yang menjadi santapan untuk memberi hidup kekal bagi siapapun yang menyantap-Nya.
Namun, tak jarang mereka yang menyebut diri putra-putri Gereja, adalah justru mereka yang dengan sengaja mengabaikan Misa Kudus, serta bersikap tidak pantas saat menyambut Hosti Kudus.

Ada yang sanggup antri berjam-jam bahkan membayar mahal untuk menghadiri suatu kebaktian atau konser rohani karena iming-iming mujizat maupun urapan dari tangan seorang manusia biasa dalam topeng kerohanian, yang diselenggarakan di hotel mewah dan di stadion terbuka berbalutkan cahaya lampu panggung superstar yang gemerlap.
Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, hadiah terbesar dari Allah yang dianugerahkan secara gratis tanpa bayar, kita sering terlambat dan menuda-nunda, langkah kaki terasa begitu berat. Waktu Misa Kudus yang hanya sesaat dirasakan terlalu lama, Homili dilewatkan begitu saja karena dianggap tidak menarik, Konsekrasi dikaburkan oleh pelanturan dan skrupel. Kita tidak dapat melihat kemuliaan Tuhan dalam kesederhanaan Hosti Kudus, sama seperti raja Herodes yang tidak mengenali Sang Juruselamat dalam kelemah-lembutan seorang Bayi mungil di kandang hina Bethlehem.
Ada pula yang menghadiri undangan pejabat dunia, maupun pesta pora yang memabukkan dengan pakaian kebesaran dari koleksi baju terbaik. Sementara untuk menghadiri Misa Kudus, untuk melangkah ke depan altar dan menyambut Raja Segala Raja dalam Komuni Kudus, tanpa rasa bersalah dan ketiadaan hormat kita datang mengenakan pakaian yang jauh dari kepantasan, mempertontonkan bagian tubuh yang tidak semestinya dijadikan tontonan, padahal Misa Kudus adalah Perjamuan Tuhan, bukan tempat hiburan malam.

Bagaimana mungkin seorang begitu memikirkan bagaimana bersikap dan berbusana saat akan bertemu manusia biasa, menghabiskan berjam-jam untuk memilih baju demi menghadap seorang pejabat dunia yang korup, membungkukkan badan serendah-rendahnya untuk bersalaman dengan pemimpin lalim dunia ini, tetapi sebaliknya seolah tidak peduli bagaimana bersikap dan berpakaian di hadapan Tuhan Allah Semesta Alam, yang berkuasa baik atas hidupmu selagi di dunia, maupun hidupmu sesudah meninggalkan dunia ini nanti?
Bagaimana mungkin seorang menyambut Tubuh Tuhan dengan tangannya tanpa menunjukkan sikap hormat, sementara hati dan pikirannya sedari awal memasuki pintu masuk Gereja sampai keluar tidak pernah sedetikpun terarah kepada Allah?
Kegagalan kita dalam bersikap di hadapan Allah, dan pergaulan kita yang tidak hormat dengan Dia, merupakan indikasi jelas bahwa kita sebenarnya miskin dalam cinta akan Dia. Mengatakan cinta pada-Nya dengan bibir, tetapi tidak dengan hati dan segenap diri kita.
Santo Bernardus dari Clairvaux yang kita peringati hari ini mengatakan, “Ukuran mencintai Allah, adalah mencintai tanpa ukuran.

Injil hari ini berbicara tentang undangan kasih dari Allah. Kita dipanggil untuk menjawab undangan itu dengan datang ke dalam Misa Kudus, sebagaimana diumpamakan dan dilambangkan sebagai Pesta Perjamuan dalam Injil.
Dan karena kita beroleh keistimewaan untuk diundang, datanglah dengan mengenakan pakaian Pesta, putuskanlah ikatan persahabatanmu dengan belenggu dosa si jahat, dan melangkahlah dengan hati yang terarah karena cinta kepada-Nya, kemudian sambutlah Dia sebagai santapan surgawi dengan sikap penuh kekaguman dan hormat, seperti Musa di gunung Sinai yang bergaul begitu mesra dan penuh hormat dengan Allah.

Mulailah melihat hidup berimanmu secara lebih serius dan bertanggung jawab. Sudahkah saya menanggapi undangan Tuhan dalam Misa Kudus, bukan karena kebutuhan, bukan pula karena rutinitas atau kewajiban belaka, melainkan karena kerinduan akan Dia? Apakah saya sudah bersikap penuh hormat, berpakaian rohani maupun jasmani yang sepantasnya saat menyambut Sakramen Ekaristi?
Semoga Perawan Suci Maria dengan kasih keibuan menghantar kita pada kekaguman akan Yesus Putranya. Suatu kekaguman yang membuat kita tersungkur dengan hati yang remuk redam dan dipenuhi rasa syukur karena boleh diundang ke dalam Perjamuan Kasih-Nya, serta didorong oleh kobaran api cinta yang menggerakkan kita untuk melangkah ke depan Altar dan menyambut Komuni Kudus, Tubuh Tuhan sendiri sebagai santapan, sementara wajah kita berlinangan air mata kebahagiaan atas anugerah Sakramen Ekaristi.
Memang benar bahwa “Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih“. Karena itu bertekunlah dalam Iman, mohonkanlah agar Tuhan selalu menambah karunia cinta akan Misa Kudus dalam hatimu, agar kamu tidak hanya merasa terpanggil, tetapi pada akhirnya juga menjadi yang terpilih untuk beroleh mahkota kemuliaan di surga.
Santa Maria, Bunda Ekaristi, doakanlah kami.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan III Paskah

image

BERIMAN BAGI DOMBA-DOMBANYA

Bacaan :
Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9.16-17.20; Yoh.6:44-51

Renungan:
Kata-kata Tuhan Yesus yang kita renungan dalam bacaan hari ini, bukanlah sekadar perumpamaan biasa. Ketika Dia mengatakan bahwa Tubuh-Nya, yaitu Sakramen Ekaristi, adalah benar-benar makanan untuk beroleh hidup kekal, itu benar-benar realisme yang tidak memerlukan interpretasi atau penafsiran. Itu bukan kiasan atau perumpamaan. Tentu saja tanpa iman, kata-kata itu kehilangan makna. Seseorang haruslah beriman untuk bisa menemukan kebenaran misteri Ekaristi.
Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis.8:31)
Inilah panggilan Gereja, untuk membuat seluruh dunia mengerti, membimbing sebanyak mungkin orang untuk beriman dan mengambil bagian dalam harta terbesar yang dimilikinya, bukti cinta kasih Allah yang tak terbatas, yakni Ekaristi.
Selain itu, adalah penting juga untuk dimengerti bahwa tidak mungkin ada Ekaristi tanpa seorang Imam. Umat beriman senantiasa diingatkan untuk menghormati para imam, karena dari tangan kemurahan merekalah, kita menerima Ekaristi.
St. Josemaría Escrivá mengingatkan kita, “Seorang imam, siapapun dia, adalah selalu ‘Kristus yang lain’. Betapa kita harus mengagumi kesuci-murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tidak ada satupun kekuasaan di dunia ini yang sanggup merenggut mahkota tersebut dari Gereja. Mencintai Tuhan namun tidak menghormati imam…adalah mustahil.”

Gereja saat ini berada dalam masa paling suram sejak berdirinya. Ada berbagai berbagai bentuk semangat zaman yang keliru, ada rupa-rupa penyesatan dari dalam maupun dari luar Gereja, yang mencoba membelokkan hidup beriman umat Allah dari jalan kekudusan, dari ketaatan mutlak pada kemurnian iman Gereja.
Itulah sebabnya, disaat Gereja sekarang ini berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya, di tengah krisis panggilan untuk menjadi seorang imam, seiring dengan itu muncul pula kebutuhan mendesak akan imam-imam yang sungguh beriman dan kudus.
Apakah ini suatu keharusan? Tentu saja.
Seorang imam pertama-tama haruslah menjadi seorang yang “mempertahankan iman” sebagaimana yang diimani oleh Gereja, seorang pribadi yang memiliki pergaulan mesra dengan Allah. Jika tidak demikian, segala karyanya akan menjadi sia-sia dan tidak berbuah. Melalui kemurnian imannya, dia dapat menghadirkan Allah dalam karyanya, dia dapat secara sempurna menjadi “alter Christi“. Bila seorang imam kurang beriman atau tidak setia pada ajaran Gereja, akan selalu ada kekurangan dalam karyanya. Menjadi lebih mendukakan lagi jika seorang imam kendati menyadari kemunduran rohani atau keadaan kurang ber-iman-annya, tetapi dengan sengaja mengharapkan Tuhan menyempurnakan apa yang kurang.
Tentu saja Tuhan dalam kerahiman-Nya sanggup melakukan hal itu, tetapi janganlah menambah luka pada Hati Kudus-Nya dengan kesengajaan yang demikian.

Seorang imam haruslah sungguh-sungguh menjadi seorang “Insan Allah“.
Ketika umat yang digembalakan sungguh-sungguh merasakan bahwa imam mereka adalah seorang Insan Allah, dalam diri mereka yang beriman itu berkobarlah sukacita Injil, bahwa pengharapan tidaklah mengecewakan, karena mereka melihat itu menjadi kenyataan, melalui hidup dan karya imam terkasih mereka.
Keseluruhan hidup beriman Gereja adalah “iman bersama“, bukan personal. Itulah sebabnya, hidup beriman para kudus yang telah mendahului kita, saudara-saudari seiman kita, dan terutama bercahaya dalam diri para imam kita, sangatlah penting agar “iman bersama” itu dapat tumbuh serta berbuah baik.
Sebenarnya, dapat pula dikatakan bahwa iman umat begitu bergantung pada iman dari para imam mereka.
Iman umat seringkali lebih rentan terhadap pencobaan, karena iman mereka sebenarnya atas satu dan berbagai cara, mendapat peneguhan dari dan dalam kebersamaan dengan hidup beriman para imam mereka.
Jika iman dari para imam kuat, demikian juga iman umat gembalaan mereka. Ibarat prajurit, umat tidak akan ragu melangkah ke dalam pertempuran, kendati lawan jauh lebih banyak, karena mereka memandang keberanian panglima perang mereka, yakni para imam, dan mereka menemukan kekuatan untuk bertempur melawan si jahat, karena melihat tidak ada ketakutan dalam diri para imam mereka.
Oleh sebab itu, setiap saat, 24 jam sehari, dan dalam situasi apapun, seorang imam dituntut untuk memiliki hidup beriman yang baik, melebihi domba-domba gembalaannya.
Dia harus memiliki hidup doa, puasa, laku tapa dan mati raga melebihi umatnya, sehingga dia dapat berdiri sebagai benteng perlindungan yang aman bagi umatnya, serta melindungi domba-dombanya dari kawanan serigala dan pencuri.
Kerinduannya untuk memenangkan jiwa-jiwa, haruslah jauh melebihi kerinduan umatnya.
Air mata dan silih yang dilakukannya bagi pertobatan dunia, haruslah tercurah lebih banyak dibandingkan air mata seorang ibu bagi pertobatan anaknya.
Dalam terang Ekaristi, dia hendaknya juga melihat hidupnya sebagai “Roti Hidup” (Yoh.6:48), seorang rasul Ekaristi, yang memecah-mecahkan dirinya, untuk “memberi mereka makan pada waktunya” (bdk.Mat.24:45; Mat.14:16).
Dia harus mengimani apa yang Gereja imani tanpa keraguan, agar dia dapat membimbing kawanan domba yang sesat untuk kembali ke pangkuan Gereja.

Seorang imam tentu saja harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagaimana benih panggilan, iman juga tidak dapat muncul seketika.
Iman harus dihidupi dan bertumbuh seiring dengan semakin mesranya pergaulan seorang imam dengan Allah.
Jangan pernah mengorbankan hidup doa demi karya pastoral, dan jangan pernah pula mengharapkan buah yang baik dalam karya pastoral tanpa doa.
Kesucian tanpa doa adalah mustahil, tidak ada kesucian semacam itu.
Seorang imam dapat mengajar dalam bahasa malaikat, mendirikan sekolah dan rumah sakit, membela hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan, melawan rezim yang korup atau menjadi penasihat negara sekalipun, tetapi jika melupakan panggilan dasarnya sebagai seorang imam yang sungguh-sungguh beriman, bila kehilangan kasih dan hidup doa, semua pemberian diri dan karya pastoralnya itu sia-sia dan tak bernilai di mata Allah. Orang yang tidak beriman dan kafir pun bisa melakukan hal yang sama.
Umat beriman dapat merasakan apakah karya pastoral, pelayanan sakramental, dan pewartaan sabda seorang imam bersumber dari hidup doa yang tekun di hadirat Allah, atau hanya berasal dari rancangan manusia belaka dari balik meja kerjanya.
Semoga Allah senantiasa membangkitkan dalam diri para imam, kerinduan akan Dia, ketekunan dalam doa dan merenungkan Sabda-Nya, kesetian untuk mempersembahkan Misa bagi dunia, dan semangat yang berkobar untuk bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam.

NB:
Hari ini Bapa Suci Paus Fransiskus merayakan Pesta Nama Baptisnya (St. Georgius yang diperingati setiap 23 April). Mari kita mendoakan kesehatan Bapa Suci dan bagi intensi-intensinya di bulan ini.
Bersama Prelatur Opus Dei, kita juga memperingati Komuni Pertama (23 April 1912) dari Bapa Pendiri mereka, St. Josemaría Escrivá. Mari kita berdoa bagi para Imam Karya Allah dimanapun berada, agar mereka dapat mempersembahkan Misa Kudus setiap hari dengan setia, serta membawa umat Allah pada kerinduan dan penuh hormat untuk menerima Komuni Kudus setiap hari.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan III Paskah

image

ROTI HIDUP YANG SEJATI

Bacaan:
Kis.7:51 – 8:1a; Mzm.31:3cd-4.6ab.7b.8a.17.21ab; Yoh.6:30-35

Renungan:
Ada suatu kepercayaan yang kuat dalam Tradisi Rabbinik pada zaman Yesus bahwa apabila Mesias datang, Ia akan memberikan mereka Manna Surgawi, sebagaimana yang diberikan oleh Musa, Nabi besar Perjanjian Lama di padang gurun.
Itulah sebabnya, mereka menuntut Yesus melakukan hal yang sama, untuk membuktikan bahwa Dia adalah benar-benar Mesias.
Yesus menjawab mereka dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa bukan Musa yang memberikan mereka manna, melainkan Allah sendirilah yang melakukan karya ajaib itu.
Dengan demikian, Yesus menegaskan bahwa mukjizat manna di padang gurun adalah sepenuhnya karya Allah.
Lebih jauh lagi, Yesus mulai membawa mereka pada kesadaran iman bahwa manna yang mereka terima di padang gurun adalah lambang atau dapat juga dikatakan “antisipasi” dari Manna Surgawi yang sejati, yaitu Yesus sendiri.
Dengan mengatakan, “Akulah Roti Hidup” (bdk.Yoh.6:35), Yesus tidak hanya menyatakan karya Allah yang dikerjakan-Nya, melainkan lebih jauh lagi, Ia secara tersamar telah memaklumkan ke-Allah-an-Nya.
Roti yang hendak diberikan Yesus adalah hidup Allah sendiri, jawaban atas kelaparan terdalam dari hati manusia.
Bilamana manna yang Israel terima di padang gurun telah menguatkan mereka untuk berjalan menuju Tanah Terjanji, maka Manna Surgawi yang diberikan Yesus tidak hanya menguatkan umat Allah nantinya dalam peziarahan menuju Tanah Air Surgawi, melainkan lebih lagi, Manna Surgawi yaitu Ekaristi Kudus, membuat semua orang beriman mengambil bagian dalam hidup Ilahi yang kekal dari Allah sendiri.
Inilah harta terbesar, hadiah terindah yang diberikan Tuhan Yesus kepada Gereja yang didirikan-Nya sendiri, Gereja Katolik yang kudus.
Setiap hari Tuhan memberikan Diri-Nya sebagai santapan rohani bagi kita dalam Misa Kudus. Sakramen Ekaristi adalah Manna Surgawi yang membawa kita pada hidup kekal bersama Allah.
Berbahagialah mereka yang boleh selalu menerima Roti Surgawi ini. Malanglah mereka yang telah kehilangan persekutuan dengan Gereja Katolik, yang tidak lagi merayakan Sakramen Ekaristi ini dan menggantinya dengan perjamuan kenangan biasa.
Akan tetapi, jauh lebih malang dan celaka lagi mereka yang beriman Katolik, tetapi dengan kelalaian sendiri mengabaikan pentingnya Misa Kudus bagi hidup rohani mereka.
Adalah lebih mudah bagi dunia ini untuk bertahan hidup tanpa sinar matahari daripada tanpa Misa Kudus,” demikian kata St. Padre Pio.
Semoga kita senantiasa menimba kekuatan dan daya hidup dari Ekaristi, sehingga kita boleh beroleh buah melimpah dari Sakramen Mahakudus ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ KAMIS PUTIH

image

PANGGILAN DI TENGAH MALAM

Bacaan:
Kel.12:1-8.11-14; Mzm.116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor.11:23-26; Yoh.13:1-15

Renungan:

“Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan Iman kita.”

Seruan “Anamnese” ini mengungkapkan dengan begitu indah dan tepat maksud terdalam dari perayaan malam Kamis Putih.
Malam ini, “Passover” atau “Paskah” Yahudi sebagai kenangan saat Allah melawati Israel umat-Nya, menemukan makna baru dan kepenuhannya dalam Kristus, Roti Kehidupan yang sejati.
Malam ini seluruh alam semesta menyaksikan belas kasih Tuhan yang tanpa batas, bahkan sampai saat-saat terakhir.
Malam ini kita mengenangkan anugerah cinta terbesar dari-Nya, yaitu “Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus“.
Sebagaimana para rasul merayakan perjamuan terakhir di ruang atas untuk menyantap Tubuh dan Darah Tuhan, demikianlah kita melakukan kembali kenangan yang sama.
Setiap kali umat beriman berkumpul di sekeliling altar untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, pada saat itulah kita menyatakan Iman Kristiani kita secara paling sempurna.
Gereja tanpa Ekaristi adalah mati.

Akan tetapi, malam ini kita tidak hanya mengenangkan penetapan Ekaristi.
Kamis Putih tidak dapat dipisahkan dari “Malam di Taman Zaitun“, yang didahului peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan itu memang tepat, sebab sungguh demikian. Maka dari itu kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki satu sama lain.” (bdk.Yoh.13:13-14)
Pembasuhan kaki melambangkan panggilan kita untuk menerima bagian-bagian terburuk dan paling hina dari kemanusiaan, baik diri sendiri maupun sesama.
Akan tetapi, pembasuhan kaki sebenarnya juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu panggilan untuk menjemput kematian sebagai seorang hamba yang taat dan setia.
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus memulai bagian akhir dan parirpurna dari karya penebusan-Nya sebagai Putra Allah.
Hari ini Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam gelap untuk berdoa dalam sakratul maut di Taman Zaitun, ditinggalkan dalam kesendirian oleh orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa batas, dikhianati Yudas dengan sebuah kecupan, ditangkap oleh para prajurit Bait Allah, disangkal Petrus, digiring ke dalam pengadilan Sanhedrin yang penuh konspirasi serta ketidakadilan, hingga kemudian diserahkan kepada Pilatus untuk menerima penyaliban.
Marilah kita merenungkan sejenak rangkaian peristiwa malam di Taman Zaitun ini, karena disinilah terkandung rahasia penebusan kita.

image

Ke dalam malam yang ditandai dengan kehilangan komunikasi dan kemampuan untuk saling memandang ini, Yesus masuk untuk mengembalikan komunikasi yang terputus dengan Allah, sehingga semua orang boleh memandang Allah dalam diri-Nya tanpa harus binasa.
Di tengah kegelapan dimana si Iblis yang menjauhi Cahaya boleh leluasa menebar kematian, disaat segala sesuatu menjadi tak terpahami dan ketika kebenaran seolah terselubung, disitulah Yesus bercahaya dan mengenyahkan kegelapan, untuk menjadi jawaban dan pilihan terbaik, sehingga semua orang beroleh hidup dalam kebenaran.

Saat Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam, Ia hendak mengingatkan kita bahwa sebuah pelita tidaklah berguna di dalam terang.
Para kudus yang beroleh mahkota dan bermandikan cahaya kemuliaan di surga, adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dunia ini, mengatasi ketakutan dan kelemahan pribadi mereka, untuk membawa cahaya dan menerangi semua orang di sepanjang perjalanan hidup mereka, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Mereka yang kehilangan hidupnya karena bercahaya seperti pelita sampai sehabis-habisnya, pada akhirnya akan memperoleh hidup dan sukacita surgawi bersama Allah.
Seorang Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya ke dalam dunia dan mengenyahkan kegelapan malam dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk hadir dan berkarya.
Oleh karena itu, sebagaimana Yesus melangkah ke dalam malam di Taman Zaitun, demikianlah kita juga dipanggil melewati malam dunia ini.
Bagaimana kita bertahan melalui malam ini dengan pelita yang bernyala, dan keluar sebagai pemenang, sangat ditentukan oleh 3 sikap ini.

Pertama: Milikilah kerendahan hati untuk berlutut. Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita untuk berlutut dalam doa (bdk.Luk.22:41). Bahkan, Matius dan Markus mencatat lebih lagi, yaitu Yesus bersujud dan merebahkan diri ke tanah (bdk.Mat.26:39; Mrk.14:35), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam dalam liturgi Jumat Agung. Seorang Kristiani yang dapat berlutut dengan rendah hati di hadapan Allah, akan sanggup berdiri melawan kejahatan dunia dan tipu muslihat Si Jahat, karena berserah sepenuhnya pada kekuatan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kedua: Bersikaplah selayaknya seorang anak. Dalam doa-Nya saat mengalami sakratul maut di Taman Zaitun, Tuhan Yesus menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa” (bdk.Mrk14:36). Ini bukanlah sapaan yang biasa, melebihi sapaan “Ayah“, lebih seperti seorang anak kecil menyapa Papanya. Di dalamnya terkandung makna keakraban yang sangat dekat sebagai seorang anak, suatu ungkapan yang sangat berani untuk ditujukan kepada Allah. Maka, bilamana sebagai seorang Kristiani kita beroleh keistimewaan untuk menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa“, kita dituntut pula untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang anak. Kita harus senantiasa memelihara hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Kita dipanggil untuk selalu menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Ketiga: Jawablah selalu “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada Si Jahat. Di Taman Zaitun, Yesus mengungkapkan sikap ini dengan begitu mengagumkan dalam doa-Nya, “Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (bdk.Mrk.14:36)
Iman seorang Kristiani untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengandung pula konsekuensi kepasrahan untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas, terutama di saat rancangan dan jalan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita rancangkan atau inginkan untuk dijalani.

Semoga sama seperti Tuhan Yesus menemukan kekuatan untuk merangkul Salib setelah melewati malam di Taman Zaitun, kita pun menemukan kekuatan yang sama untuk menjadi pelita di tengah kegelapan zaman ini, serta memenangkan seluruh dunia karena Salib Kristus. Semoga santapan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus, senantiasa menjadi sumber kekuatan dan daya hidup kita. Dan kiranya doa dan kasih keibuan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong yang baik, menghantar kita untuk menemukan sukacita Injil di balik misteri Salib.

Pax, in aeternum.
Fernando