Meditasi Harian 20 September 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXV

CINTA BUKAN SEKADAR KATA-KATA

Bacaan:

Ams.21:1-6.10-13; Mzm.119:1.27.30.34.35.44; Luk.8:19-21

Renungan:

Kekristenan lebih dari serangkaian doktrin, ajaran, atau perintah. Kendati itu juga sungguh amat penting, tetapi melebihi itu semua, kekristenan adalah relasi; suatu relasi cintakasih yang mesra antara Allah dengan umat-Nya. Relasi ini hendaknya menempati tempat yang pertama dan terutama dalam hidup seorang beriman, melebihi segala relasi lainnya, termasuk yang didasarkan pada ikatan keluarga dan hubungan darah. 

Inilah yang hendak diingatkan oleh Tuhan kita melalui Injil hari ini. Adalah sangat keliru bila perikop yang kita renungkan hari ini disalah artikan sebagai sikap tidak berbakti seorang Anak kepada Ibu-Nya, atau penyangkalan terhadap keluarga-Nya. Justru sebaliknya, Yesus menampilkan kebijaksanan-Nya sebagai seorang Guru, yang tidak pernah melewatkan kesempatan yang baik, untuk mengajarkan kebenaran Kerajaan Allah kepada murid-murid-Nya. Sang Guru dan Tuhan kita hendak mengarahkan pandangan beriman kita pada tingkatan tertinggi dari suatu relasi cinta, yakni antara Allah dan kita semua yang sejatinya adalah “milik kepunyaan-Nya“. Tentu saja ini membawa konsekuensi beriman yang jelas, bahwa sebagaimana Tuhan Allah kita memandang kita sebagai umat kesayangan-Nya, demikian pula kita hendaknya mendengarkan perkataan-Nya, menaati perintah-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan berjalan di Jalan-Nya. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk.8:21).

Bila kita sungguh memahami kedalaman makna pesan Injil hari ini secara tepat, maka pastilah kita pun akan tersungkur dalam kekaguman akan pribadi yang sesungguhnya dipuji begitu luar biasanya oleh Sabda Tuhan hari ini. Dialah Ibu Tuhan kita yang paling berbahagia di antara semua perempuan, dan dipuji oleh segala bangsa. Maria-lah gambaran paling sempurna dari Gereja Kudus-Nya. Dialah “permata terindah dalam kekristenan, setelah Kristus“, demikian kata Martin Luther, Bapa Reformasi. Dari Santa Perawan Maria kita belajar bahwa mereka yang benar-benar adalah pelaku Firman, bukan diukur dari banyaknya kata-kata indah yang diucapkannya tentang Allah, tetapi dalam kenyataan hidupnya yang merupakan persembahan diri secara total kepada Allah. Adalah mudah menjawab “Ya” kepada Allah sebatas ucapan bibir. Tetapi yang dilakukan Maria sepanjang hidupnya, telah membuatnya bercahaya sebagai Bunda Allah dan Bunda kita, yaitu bagaimana dalam keheningan mistik, hatinya adalah luapan cinta dan jawaban “Ya” yang memberual keluar, dan sungguh nyata di sepanjang hidupnya. Dialah yang senantiasa menyertai Tuhan dan Penyelamat kita tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas.

Kutipan Injil hari ini begitu singkat, tetapi bagaikan sebuah pedang yang menghujam kedalaman jiwa setiap orang beriman. Kalau Tuhan sungguh menjadi yang terutama dan terkasih dalam hidupmu, maka seharusnya hidupmu adalah kesaksian akan itu. Sudahkah kita tidak sekadar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman? Relasi cinta yang sejati antara Allah dan manusia, bukan hanya ditandai kesetiaan dari pihak Allah, tetapi harus pula dijawab dengan kesetiaan yang sama dari pihak kita, untuk menaati perintah-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Jika tidak demikian, maka cintamu itu palsu, dan kesetiaanmu itu semu. Cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan nampak dalam tindakan nyata. Belajarlah dari Maria, yang mencinta dalam keheningan dan ketersembunyian mistik. Kesetiaan cintanya tidak terlihat pada saat Putranya dielu-elukan sebagai Raja ketika memasuki kota Yerusalem. Akan tetapi, di saat semua orang, bahkan para murid-Nya meninggalkan Dia di Kalvari, kita justru mendapati Bunda Maria, yang dalam kesetiaan cinta sujud menyembah di kaki salib Putranya. 

Semoga Perawan Maria yang teramat suci, Ibu semua orang beriman, dengan kelembutan hatinya menunjukkan jalan menuju Putranya. Jalan yang seringkali menuntut sikap heroik dalam beriman, penyangkalan diri, bahkan tak jarang pula mendatangkan konsekuensi kemartiran, sebagaimana telah lebih dahulu dialami oleh St. Andreas Kim Taegõn, St. Paulus Chõng Ha-sang, bersama para martir Korea lainnya, yang kita peringati pula pada hari ini. Yakinlah, barangsiapa yang bertahan sampai kesudahannya, tidak akan mengalami kebinasaan kekal, melainkan akan memandang Allah dalam kemuliaan-Nya sampai selama-lamanya.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan V Paskah

image

PAX VOBIS ~ DAMAI SEJAHTERA BAGIMU

Bacaan:
Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11.12-13ab.21; Yoh.14:27-31a

Renungan:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh.14:27ab)
Ungkapan salam damai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ini beberapa kali kita temukan dalam Injil. Salam damai serupa juga sering kita saat membaca surat-surat para Rasul maupun para Bapa Gereja perdana, yang terus-menerus diserukan oleh Gereja melalui karya kerasulannya, dan menjadi seruan kasih persaudaraan dalam liturgi suci, sampai hari ini.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa sejatinya, dalam panggilan hidup Kristiani terkandung pula panggilan untuk selalu membawa “damai“, dimanapun dan dalam situasi apapun kita ditempatkan oleh Tuhan.
Damai ini berbeda dengan damai yang ditawarkan oleh dunia ini, karena dunia mengartikan damai sebagai ketiadaan masalah, pelarian dari kenyataan hidup. Damai yang dibawa oleh Yesus melampaui ketiadaan masalah, yaitu keberanian untuk berdiri dalam iman di tengah segala permasalahan dan badai pergumulan hidup, tanpa ketakutan dan keraguan, dalam keyakinan bahwa tidak ada dukacita, penderitaan, maupun bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Ini hanya dapat disadari sepenuhnya, manakala seseorang memiliki pergaulan yang mesra dengan Allah.
Teladanilah hidup Bunda tersuci kita Maria, Ratu Damai. Hidupnya yang senantiasa dipenuhi kedamaian di tengah malam gelap bagi jiwanya, yang menembus kedalaman jiwanya bagaikan sebuah pedang, menjadi kesaksian sukacita Injil yang sejati bagi dunia, sekaligus memberikan semangat bagi Gereja untuk membawa damai melalui hidup dan karya putra-putrinya, dan melihatnya sebagai suatu panggilan suci serta tugas Ilahi, yang digambarkan dengan begitu indah dan tepat dalam doa damai dari tradisi Fransiskan, “Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadilah pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadilah pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadilah pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadilah sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Untuk menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni.”
Inilah sukacita Injil yang kita wartakan. Inilah damai sejahtera sejati yang kita bawa di sepanjang hari-hari hidup kita yang singkat laksana bayang berlalu ini.
Damai…damai…damai…

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Oktaf Paskah

image

GETARAN SUARA CINTA

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dukacita mendalam karena cinta akan Sang Kekasih seringkali menyebabkan jiwa diliputi kedukaan sedemikian sehingga bila tidak disadari, jiwa dapat gagal mengenali kehadiran Sang Kekasih.
Inilah yang dialami Maria Magdalena yang tidak mengenali Tuhan Yang Bangkit, bahkan ketika Yesus telah berdiri di hadapannya, Maria yang menyangka orang itu adalah penunggu taman kemudian berkata,”Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” (bdk.Yoh.20:15)
Kegagalan Maria seringkali pula menjadi kegagalan kita. Di saat mengalami duka kehilangan orang yang dikasihi, kegagalan dalam karya, di saat hati kita diliputi kegelapan iman karena rupa-rupa pergumulan hidup, kita tidak bisa mengenali dan memandang Tuhan di balik itu semua.
Orang dapat saja tergoda untuk mencari jawaban “di luar” itu semua, padahal jawabannya sebenarnya sejak awal ada “di dalam” awan ketidakmengertian itu.
Belajarlah untuk menantikan Tuhan dengan setia di dalam badai, di tengah kegelapan dan dukacita, di dalam ketidaktahuan.
Pada akhirnya, mereka yang tetap setia mencinta dalam ketidakmengertian, akan menyentuh hati Tuhan.
Sama seperti Maria Magdalena, pada waktu yang tepat, seturut waktu Tuhan, di tengah kegelapan, dukacita, badai pergumulan hidup dan kebisingan dunia, kita akan mendengar suara yang penuh kelembutan itu menyapa, “Maria“.
Getaran suara cinta dari Allah sanggup menembus kedalaman jiwa siapapun, yang beroleh anugerah “luka cinta” dari Tuhan, ibarat seorang anak yang sungguh mengenal suara ibunya.
Hanya jiwa yang sungguh mencintai Tuhan dan memiliki relasi pribadi yang mesra dengan-Nya dalam doa dan karya, dapat mengenali suara itu.
Bagaikan domba yang mengenal suara Sang Gembala (bdk.Yoh.10:27), dia yang mencinta kemudian akan sanggup menjawab Sang Cinta dan berseru, “Rabboni“.
Semoga hidup kita selalu dipenuhi cinta akan Allah dan sesama, sehingga kita dapat selalu mendengar suara-Nya yang memanggil kita dari dan ke dalam dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando