Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 28 September 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXVI

MENGIKUTI TANPA KELEKATAN
Bacaan:

Ayb.9:1-12.14-16; Mzm.88:10b-15; Luk.9:57-62

Renungan:

Tuhan, kemanapun Engkau pergi, aku akan mengikuti Engkau. Apapun yang Kau minta dan Kaurancangkan, seturut kehendak-Mu akan kulakukan dan kutaati. Kupercayakan diriku ke dalam tangan-Mu tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas“.

Betapa indahnya perkataan ini, sungguh ideal dan diharapkan, untuk dihidupi oleh seorang rasul Kristus. Akan tetapi, realita hidup kristiani, seringkali memperhadapkan kita pada kebenaran, bahwa untuk melakukan tidaklah semudah mengatakan atau menjanjikannya. Lain di bibir, lain di hati. 

Injil hari ini mengungkapkan itu dengan begitu jelasnya. Banyak orang mengaku siap mengikuti Yesus, tetapi seringkali didapati bahwa jawaban itu disertai berbagai persyaratan. Ingin mengarahkan pandangan ke surga, tetapi hati masih melekat erat pada dunia. Untuk mengikuti Tuhan di “Jalan-Nya“, seringkali menuntut pula kesediaan dari pihak kita untuk meninggalkan berbagai jalan dan pilihan hidup, berbagai pertimbangan dan keberatan, berbagai pertanyaan dan keraguan, agar dapat melangkah dengan bebas dan hati gembira menuju Allah. Panggilan untuk mengikuti Tuhan dalam “libertas filiorum Dei – kemerdekaan anak-anak Allah“, mengharuskan kita dengan bantuan rahmat-Nya, untuk melepaskan diri dari segala kelekatan. 

Banyak rasul-rasul Kristus yang berhenti melangkah, mundur dari pelayanan, meredup dalam semangat kerasulan, menyerah dalam bahtera rumah tangga, tidak sanggup menderita, bahkan mengakhiri hidup dengan cara-caranya sendiri di luar kehendak Allah, hanya karena satu kecenderungan yang bernama “kelekatan“. Kelekatan ini tidak selalu jelas terlihat jahatnya, malah seringkali nampak sangat manusiawi, sebagaimana kita dapati dalam Injil hari ini.  

Kelekatan hadir dalam berbagai bentuk dan situasi, dimana kita sulit melepaskannya, karena itu telah mengganti tempat Allah sebagai yang terkasih di hati. Bagi yang seorang itu bisa dalam bentuk pekerjaannya, bagi orang lain bisa pula keluarganya. Bagi yang satu hobi-hobinya, bagi yang lain cita-citanya. Melepaskan kelekatan tidak selalu berarti mengabaikannya sama sekali, tetapi kalau Tuhan memperkenankan kamu menjalaninya, jalanilah tanpa hatimu melekat pada itu semua. Apapun bentuknya, selama itu tidak dilepaskan, selamanya pula anda akan merasa lelah, bahkan mati di tengah jalan karena kepayahan menapaki jalan Tuhan. Lekatkanlah hatimu pada Hati Tuhan, maka kamu akan menemukan arti kehadiranmu, arti hidupmu, arti karya kerasulanmu. Kamu akan menemukan “kesejatian panggilanmu“. 

Semoga Perawan Suci Maria, yang telah lebih dahulu memancarkan cahaya Iman tanpa kelekatan, berkenan menolongmu dengan bantuan rahmat Ilahi, untuk melepaskan diri dan hatimu dari segala kelekatan, dan melangkah dengan gembira seirama dengan langkah Tuhan.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 27 September 2016 ~ Peringatan St. Vincent de Paul, Imam

NYALA API CINTA

Bacaan:

Ayb.3:1-3.11-17.20-23; Mzm.88:2-8; Luk.9:51-56

Renungan:

Sukacita Injil harus senantiasa diwartakan, dalam situasi hidup sesulit apapun, termasuk ketika diperhadapkan pada kenyataan bahwa akan selalu ada penolakan, terhadap karya keselamatan dari Allah. Untuk itu seorang rasul Kristus harus senantiasa mengingat bahwa tugas kita adalah mewartakan secara meyakinkan dan otentik, tetapi jangan pula kecewa jika tidak semua orang mau diyakinkan oleh pewartaan Injil. Penolakan kerasulan cintakasih akan selalu ada, dan tak jarang berujung kemartiran. Tetapi, “jangan pernah merasa lelah jadi orang baik. Berbuatlah baik, entah disadari atau tidak, dihargai atau tidak, diterima atau tidak“, sebagaimana dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus. 

Itulah misi kita, memperlihatkan wajah Allah yang berbelas kasih, lewat hidup dan karya kita. Sebab sebagaimana Anak Manusia datang, bukan untuk membinasakan orang, melainkan untuk menyelamatkan-Nya, demikian pula kita. Kita dipanggil untuk menjadi rasul-rasul cintakasih, seturut teladan St. Vincent de Paul, yang kita peringati pada hari ini. “Panggilan kita adalah untuk pergi dan mengobarkan hati semua orang, supaya melakukan apa yang Tuhan Yesus lakukan. Dia yang mendatangkan api ke dalam dunia, dan membiarkannya bernyala dalam kuasa Cinta-Nya. Apa lagi yang dapat kita minta, selain agar Cinta-Nya berkobar dan menghanguskan segala“, demikian kata St. Vincent de Paul. Tugas suci ini tidak hanya dihadirkan oleh para Imam dan Biarawati, dari Kongregasi yang didirikan seturut spiritualitasnya, melainkan juga bersumber dari Amanat Agung Tuhan kita, yang dengan demikian menjadikannya tugas kita pula. Kita mencita-citakan dan berusaha mewujudkan suatu dunia, yang dijalani dalam kasih persaudaraan dan sembah bakti, akan Allah Tritunggal Mahakudus. 

Maka, agar api cintakasih dalam hati kita kita senantiasa bernyala, harus disadari pula dari mana sebenarnya kobaran api cinta itu berasal, yakni dari Kristus sendiri. Bukan karena kuat dan hebatmu semata, melainkan dari Allah. “Nemo dat quod non habet – kamu tidak dapat memberi apa yang tidak kamu miliki”. Hanya pergaulan mesra dengan Allah dalam doalah, yang dapat menjaga agar api cinta itu tidak pernah akan padam. Barangsiapa ingin senantiasa berkobar dalam kerasulan pelayanan dan melakukan kehendak-Nya, hanya dapat melakukannya bilamana ia senantiasa berkanjang dalam doa, dan tekun merenungkan Firman-Nya. Tidak ada kekudusan tanpa doa, demikian pula karya cintakasih tanpa doa itu palsu, sehebat apapun itu. Wajah belas kasih Allah hanya dapat diperlihatkan dengan segala kebenaran dan kepenuhan-Nya, manakala kita terlebih dahulu memiliki kerendahan hati untuk mau dibentuk, dan mengalami perubahan hidup, yang terarah pada persatuan mistik dalam kuasa cinta dengan Dia. Selama itu tidak menjadi kerinduan terdalammu, maka sesungguhnya pemberian dirimu itu semu, dan yang kamu layani adalah dirimu sendiri, bukan Allah. Kehendakmu, bukan kehendak-Nya. 

Semoga St. Perawan Maria, Ibu semua orang beriman, menghantar kita kepada hidup yang senantiasa dikobarkan oleh api cinta kasih Putranya, dihanguskan dari mengingini segala, agar dalam kuasa cinta beroleh Kristus, Sang Segala. 

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 9 Juli 2016 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XIV

JANGAN SALAH PILIH !

Bacaan:

Yes.6:1-8; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Mat.10:24-33


Renungan:

Kendati berawal dari Timur, Iman Kristiani sama sekali tidak mengenal atau memiliki paham mistik Timur “Yin-Yang“. Analogi demikian “mungkin” dapat dibenarkan dalam penerapan hidup bermasyarakat lainnya, tetapi tidak pernah boleh ada dalam hidup beriman seorang Kristen. Kita tidak pernah dibenarkan untuk mencari titik keseimbangan antara Kebaikan dan Kejahatan, atau antara Terang dan Gelap. Iman Kristiani tidak mengenal daerah neutral. Sikap suam-suam kuku, berdiri di antara 2 pilihan, haram hukumnya bagi seorang Kristen. Hanya ada 2 pilihan: Anda berdiri di pihak ALLAH, atau berdiri di pihak Si Jahat. Jangan salah pilih! Kesalahan memilih berakibat kehilangan hidup kekal dan kemuliaan surgawi. Pilihlah ALLAH dan lakukanlah Karya-Nya! Memilih ALLAH berarti menolak Setan dengan segala perbuatan dan tawarannya.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat.10:32-33). 

Seperti serafim yang memurnikan kenajisan dengan sentuhan bara pada bibir Yesaya (Yes.6:6-7), demikian pula santapan Ekaristi telah menyentuh bibir rohani kita. Daya hidup Ekaristi telah mengalir dan memurnikan panggilan kita, serta mengobarkan Api Kerasulan yang mendorong kita untuk bekerja segiat-giatnya bagi Kerajaan Allah. Jangan jadi orang Kristen setengah-setengah!

Semoga Santa Perawan Maria, yang selalu menjawab “Ya” kepada ALLAH, menyertai perjalanan panggilan kita agar setiap kali Tuhan bertanya, “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, kita menjadi rasul-rasul Ekaristi yang dengan lantang menjawab,  “Ini aku, utuslah aku!” (Yes.6:8).
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 6 Juli 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XIV

DARI BIASA MENJADI LUAR BIASA


Bacaan:

Hos.10:1-3.7-8.12; Mzm.105:2-3.4-5.6-7; Mat.10:1-7


Renungan:

Di sepanjang sejarah keselamatan kita menemukan, bagaimana Allah secara amat personal memilih orang-orang “biasa” dalam pandangan manusia, untuk melakukan perkara-perkara “luar biasa” dalam Nama-Nya. Demikian pula yang terjadi saat Tuhan kita memilih 12 Rasul, yang diserahi tugas untuk menyatakan, “Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.10:7). Bahwa satu di antara ke-12 Rasul pada akhirnya mengkhianati Dia, sebenarnya menunjukkan pula kerapuhan kemanusiaan akibat dosa dan kegagalan menanggapi panggilan Allah. 

Maka, ketika di kemudian hari para Rasul ini (dengan segala keberadaan dan kerapuhan yang ada) menjadi saksi-saksi Kebangkitan, dan darah mereka menjadi ladang subur bagi tumbuhnya Gereja Perdana, yang juga dengan gilang-gemilang memancarkan cahaya sukacita Injil lewat hidup dan kemartiran mereka; siapapun yang melihat atau mendengar bagaimana mereka menjalani hidup beriman secara heroik dan otentik, akan memberikan pujian, hormat dan kemuliaan bukan kepada para rasul atau jemaat perdana, melainkan kepada Allah yang telah berkarya begitu dashyat dan mengagumkan di dalam dan melalui hidup mereka semua. 

Inilah  panggilan kita, “menjadi rasul-rasul Kristus“. Panggilan yang bukan berujung pada kefanaan, melainkan kebakaan. Mereka yang menabur dalam keadilan, pada akhirnya akan menuai kasih setia (bdk.Hos.10:12). Nyatakanlah Kerajaan Allah dengan hidupmu yang dijalani sedemikian rupa, sehingga mendatangkan pengenalan dalam kekaguman akan Kristus. 

Kalau kita, yang dipanggil dari keadaan dunia yang “biasa“, sungguh rindu untuk melakukan karya-karya “luar biasa” di dalam Nama-Nya, dan demi kemuliaan-Nya, maka ada satu keutamaan yang harus kita minta dari-Nya. Mintalah karunia “kerendahan hati” untuk selalu bersedia dibentuk Tuhan. Dengan demikian, kita akan selalu sanggup menerima tugas kerasulan apapun yang diberikan dari tangan kemurahan Tuhan, dalam kesadaran bahwa diri kita semata-mata hanyalah alat, kompas yang senantiasa menunjuk ke Utara, kepada Allah. Kristuslah yang harus dikenal, bukan kita. Kerajaan-Nyalah yang hendaknya diwartakan, bukan agenda pribadi kita. 

Kegagalan Yudas Iskariot di jalan kerasulan hendaknya mengingatkan kita bahwa segala yang kita miliki berasal dari Allah, bukan karena kekuatan dan kehebatan kita belaka. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4). Jalan kerasulan akan selalu mendatangkan sukacita, dan langkah ke sorga terasa begitu ringan, bila dijalani dengan kerendahan hati. Sebab benarlah kata St. Paulus Rasul, “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor.4:7).

Semoga Santa Perawan Maria, Ratu para Rasul, menyertai jalan kerasulan kita dengan kasih keibuannya, agar seluruh bangsa menerima kabar sukacita dari Allah. “Kerajaan Sorga sudah dekat“. Sudah waktunya untuk mencari Tuhan (bdk.Hos.10:12).

Regnare Christum volumus!



Fidei Defensor ~ Fernando