Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan Biasa XI

image

KESALEHAN YANG SEJATI

Bacaan:
2Kor.9:6-11; Mzm.112:1-2.3-4.9; Mat.6:1-6.16-18

Renungan:
Berdoa, berpuasa, dan berderma adalah 3 kebajikan utama dalam hidup keagamaan bangsa Yahudi. Ini mereka lihat sebagai tanda-tanda kesalehan seseorang, 3 pilar utama yang mendasari kebaikan hidup seseorang menurut ukuran keagamaan Yahudi. Jika demikian, kenapa Tuhan Yesus memperingati para murid perihal menjalankan 3 kebajikan ini?
Tuhan Yesus sebenarnya hendak mengajak kita semua untuk melihat tujuan sejati dari kebajikan-kebajikan ini. Mengapa kita berdoa, berpuasa, dan berderma?
Apa selama ini kita melakukannya sekadar menjalankan kewajiban agama, berharap untuk dilihat orang, dan dipuji sebagai orang yang saleh? Ataukah kita menjalankannya terdorong oleh semangat kesalehan sejati untuk memuliakan Tuhan lewat kebajikan-kebajikan itu?
Kesalehan sejati bukanlah sekadar merasa lebih baik dari orang lain atau untuk terlihat kudus di hadapan orang. Pemikiran semacam itu justru hanya akan melahirkan kesalehan palsu.
Kita bisa saja mendapat pujian dunia dari kesalehan palsu demikian, tetapi di hadapan Allah yang melihat jauh ke kedalaman jiwa kita, itu sama sekali tak bernilai. Tidak ada yang tersembunyi di hadapan Dia, maka malanglah dia yang mencari kemuliaan dunia yang fana, tetapi kehilangan kemuliaan kekal karenanya.
Kesalehan yang sejati dilakukan semata-mata karena cinta bakti kepada Allah.
Kita berdoa karena memandang doa sebagai perjumpaan yang mesra dengan Allah, Kekasih jiwa kita. Kita berpuasa didorong oleh hati yang remuk redam untuk memurnikan diri kita dari segala bentuk kedagingan, dan dari persahabatan dengan dosa. Kita berderma, karena menyadari bahwa segala kepunyaan sebenarnya bukanlah milik kita, melainkan milik Allah yang kita terima dari tangan kemurahan-Nya, sehingga sudah sewajarnya juga bila dipersembahkan kembali bagi karya Allah.
Inilah kesalehan sejati yang seharusnya mendasari kebajikan-kebajikan yang kita lakukan. Suatu bentuk kesalehan yang bersumber dari api cinta, sembah bakti, keterpesonaan, dan ketaatan suci kepada Allah.
Inilah kesalehan sejati yang sanggup menyentuh hati Tuhan, yang karena melihat kemurnian cinta dari doa, puasa, dan derma kita, pada akhirnya menggerakkan Hati-Nya untuk berbelas kasih serta melimpahi kita dengan segala kepenuhan rahmat-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan III Paskah

image

BERIMAN BAGI DOMBA-DOMBANYA

Bacaan :
Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9.16-17.20; Yoh.6:44-51

Renungan:
Kata-kata Tuhan Yesus yang kita renungan dalam bacaan hari ini, bukanlah sekadar perumpamaan biasa. Ketika Dia mengatakan bahwa Tubuh-Nya, yaitu Sakramen Ekaristi, adalah benar-benar makanan untuk beroleh hidup kekal, itu benar-benar realisme yang tidak memerlukan interpretasi atau penafsiran. Itu bukan kiasan atau perumpamaan. Tentu saja tanpa iman, kata-kata itu kehilangan makna. Seseorang haruslah beriman untuk bisa menemukan kebenaran misteri Ekaristi.
Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis.8:31)
Inilah panggilan Gereja, untuk membuat seluruh dunia mengerti, membimbing sebanyak mungkin orang untuk beriman dan mengambil bagian dalam harta terbesar yang dimilikinya, bukti cinta kasih Allah yang tak terbatas, yakni Ekaristi.
Selain itu, adalah penting juga untuk dimengerti bahwa tidak mungkin ada Ekaristi tanpa seorang Imam. Umat beriman senantiasa diingatkan untuk menghormati para imam, karena dari tangan kemurahan merekalah, kita menerima Ekaristi.
St. Josemaría Escrivá mengingatkan kita, “Seorang imam, siapapun dia, adalah selalu ‘Kristus yang lain’. Betapa kita harus mengagumi kesuci-murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tidak ada satupun kekuasaan di dunia ini yang sanggup merenggut mahkota tersebut dari Gereja. Mencintai Tuhan namun tidak menghormati imam…adalah mustahil.”

Gereja saat ini berada dalam masa paling suram sejak berdirinya. Ada berbagai berbagai bentuk semangat zaman yang keliru, ada rupa-rupa penyesatan dari dalam maupun dari luar Gereja, yang mencoba membelokkan hidup beriman umat Allah dari jalan kekudusan, dari ketaatan mutlak pada kemurnian iman Gereja.
Itulah sebabnya, disaat Gereja sekarang ini berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya, di tengah krisis panggilan untuk menjadi seorang imam, seiring dengan itu muncul pula kebutuhan mendesak akan imam-imam yang sungguh beriman dan kudus.
Apakah ini suatu keharusan? Tentu saja.
Seorang imam pertama-tama haruslah menjadi seorang yang “mempertahankan iman” sebagaimana yang diimani oleh Gereja, seorang pribadi yang memiliki pergaulan mesra dengan Allah. Jika tidak demikian, segala karyanya akan menjadi sia-sia dan tidak berbuah. Melalui kemurnian imannya, dia dapat menghadirkan Allah dalam karyanya, dia dapat secara sempurna menjadi “alter Christi“. Bila seorang imam kurang beriman atau tidak setia pada ajaran Gereja, akan selalu ada kekurangan dalam karyanya. Menjadi lebih mendukakan lagi jika seorang imam kendati menyadari kemunduran rohani atau keadaan kurang ber-iman-annya, tetapi dengan sengaja mengharapkan Tuhan menyempurnakan apa yang kurang.
Tentu saja Tuhan dalam kerahiman-Nya sanggup melakukan hal itu, tetapi janganlah menambah luka pada Hati Kudus-Nya dengan kesengajaan yang demikian.

Seorang imam haruslah sungguh-sungguh menjadi seorang “Insan Allah“.
Ketika umat yang digembalakan sungguh-sungguh merasakan bahwa imam mereka adalah seorang Insan Allah, dalam diri mereka yang beriman itu berkobarlah sukacita Injil, bahwa pengharapan tidaklah mengecewakan, karena mereka melihat itu menjadi kenyataan, melalui hidup dan karya imam terkasih mereka.
Keseluruhan hidup beriman Gereja adalah “iman bersama“, bukan personal. Itulah sebabnya, hidup beriman para kudus yang telah mendahului kita, saudara-saudari seiman kita, dan terutama bercahaya dalam diri para imam kita, sangatlah penting agar “iman bersama” itu dapat tumbuh serta berbuah baik.
Sebenarnya, dapat pula dikatakan bahwa iman umat begitu bergantung pada iman dari para imam mereka.
Iman umat seringkali lebih rentan terhadap pencobaan, karena iman mereka sebenarnya atas satu dan berbagai cara, mendapat peneguhan dari dan dalam kebersamaan dengan hidup beriman para imam mereka.
Jika iman dari para imam kuat, demikian juga iman umat gembalaan mereka. Ibarat prajurit, umat tidak akan ragu melangkah ke dalam pertempuran, kendati lawan jauh lebih banyak, karena mereka memandang keberanian panglima perang mereka, yakni para imam, dan mereka menemukan kekuatan untuk bertempur melawan si jahat, karena melihat tidak ada ketakutan dalam diri para imam mereka.
Oleh sebab itu, setiap saat, 24 jam sehari, dan dalam situasi apapun, seorang imam dituntut untuk memiliki hidup beriman yang baik, melebihi domba-domba gembalaannya.
Dia harus memiliki hidup doa, puasa, laku tapa dan mati raga melebihi umatnya, sehingga dia dapat berdiri sebagai benteng perlindungan yang aman bagi umatnya, serta melindungi domba-dombanya dari kawanan serigala dan pencuri.
Kerinduannya untuk memenangkan jiwa-jiwa, haruslah jauh melebihi kerinduan umatnya.
Air mata dan silih yang dilakukannya bagi pertobatan dunia, haruslah tercurah lebih banyak dibandingkan air mata seorang ibu bagi pertobatan anaknya.
Dalam terang Ekaristi, dia hendaknya juga melihat hidupnya sebagai “Roti Hidup” (Yoh.6:48), seorang rasul Ekaristi, yang memecah-mecahkan dirinya, untuk “memberi mereka makan pada waktunya” (bdk.Mat.24:45; Mat.14:16).
Dia harus mengimani apa yang Gereja imani tanpa keraguan, agar dia dapat membimbing kawanan domba yang sesat untuk kembali ke pangkuan Gereja.

Seorang imam tentu saja harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagaimana benih panggilan, iman juga tidak dapat muncul seketika.
Iman harus dihidupi dan bertumbuh seiring dengan semakin mesranya pergaulan seorang imam dengan Allah.
Jangan pernah mengorbankan hidup doa demi karya pastoral, dan jangan pernah pula mengharapkan buah yang baik dalam karya pastoral tanpa doa.
Kesucian tanpa doa adalah mustahil, tidak ada kesucian semacam itu.
Seorang imam dapat mengajar dalam bahasa malaikat, mendirikan sekolah dan rumah sakit, membela hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan, melawan rezim yang korup atau menjadi penasihat negara sekalipun, tetapi jika melupakan panggilan dasarnya sebagai seorang imam yang sungguh-sungguh beriman, bila kehilangan kasih dan hidup doa, semua pemberian diri dan karya pastoralnya itu sia-sia dan tak bernilai di mata Allah. Orang yang tidak beriman dan kafir pun bisa melakukan hal yang sama.
Umat beriman dapat merasakan apakah karya pastoral, pelayanan sakramental, dan pewartaan sabda seorang imam bersumber dari hidup doa yang tekun di hadirat Allah, atau hanya berasal dari rancangan manusia belaka dari balik meja kerjanya.
Semoga Allah senantiasa membangkitkan dalam diri para imam, kerinduan akan Dia, ketekunan dalam doa dan merenungkan Sabda-Nya, kesetian untuk mempersembahkan Misa bagi dunia, dan semangat yang berkobar untuk bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam.

NB:
Hari ini Bapa Suci Paus Fransiskus merayakan Pesta Nama Baptisnya (St. Georgius yang diperingati setiap 23 April). Mari kita mendoakan kesehatan Bapa Suci dan bagi intensi-intensinya di bulan ini.
Bersama Prelatur Opus Dei, kita juga memperingati Komuni Pertama (23 April 1912) dari Bapa Pendiri mereka, St. Josemaría Escrivá. Mari kita berdoa bagi para Imam Karya Allah dimanapun berada, agar mereka dapat mempersembahkan Misa Kudus setiap hari dengan setia, serta membawa umat Allah pada kerinduan dan penuh hormat untuk menerima Komuni Kudus setiap hari.

Pax, in aeternum.
Fernando

Enyahlah, Iblis!

MINGGU PRAPASKA I  ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7

Mazmur Tanggapan – Mzm. 51: 4-4. 5-6a. 12-13. 14. 17

Bacaan II – Roma 5: 12-19

Bacaan Injil – Matius 4: 1-11

 

Enyahlah, Iblis!

Saudara-saudariku yang terkasih,

“Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej.2:7) Demikianlah bacaan pertama hari ini mengungkapkan keindahan dan kemuliaan manusia. Tidak ada makhluk hidup di alam semesta ini, selain manusia, yang dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Demikianlah tinggi dan berharganya nilai kita di hati Tuhan. Namun, di balik keindahan penciptaan manusia, terungkap pula kerapuhannya. Kita dibentuk dari debu tanah, dari sebuah materi yang begitu rapuh dan hina. Oleh karena itu, adalah teramat penting untuk disadari bahwa kita yang tercipta dari debu tanah, karena rahmat dan belas kasih Allah, telah diangkat sedemikian tinggi, melebihi semua makhluk hidup di dunia, bahkan melebihi para malaikat dan makhluk surgawi lainnya, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Ini bukan karena jasa-jasa kita, melainkan anugerah Allah semata-mata. Jikalau demikian, sudah pasti dan tidak mungkin dibantah bahwa manusia hanya bisa menemukan kesejatian hidup di dalam Dia, yang menciptakan kita. Dia yang memberi makna dalam hidup kita. Sang Cinta yang telang mencipta kita karena cinta, dan memanggil kita ke dalam persatuan cinta dengan-Nya. Di dalam ketaatan kepada kehendak-Nyalah kita akan menemukan kemerdekaan sejati kita. Terpisah dari Allah berarti keterpisahan dari Sang Pemberi Hidup, Asal dan Tujuan hidup kita. Terpisah dari-Nya berarti kehampaan dan kebinasaan. Kita mungkin saja hidup, tetapi menjalaninya layaknya seorang yang tidak memiliki hidup, karena kita telah menyerahkan kebebasan kita untuk menjadi budak si jahat.

Iblis, si ular tua itu, sangat tahu akan betapa mulia dan berharganya kita di hati Tuhan. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan, dengan segenap daya upaya, ia telah menyiapkan perangkap untuk menjatuhkan manusia dari kemuliaan dan martabat ilahinya. Perangkap itulah yang kita sebut dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa manusia pertama tidak kehilangan Eden karena menghambakan diri secara total kepada si jahat, kejatuhan pertama terjadi bukan saat manusia berkata kepada iblis, “Ya, mulai saat ini aku mau menyembah setan.” Tidak demikian. Manusia jatuh ke dalam dosa karena dia tergoda akan argumen si jahat bahwa dia dapat hidup tanpa Tuhan, akan nafsu keinginan untuk menjadi seperti Allah. Manusia pertama mengalami kejatuhan dosa karena kegagalannya untuk mengatakan “Tidak!” kepada bujukan si jahat. Ia tergoda untuk melepaskan perlindungan dan belas kasih Tuhan, dan mencoba berjalan sendiri tanpa Tuhan.

Dalam pemahaman ini, kita bisa lebih memahami kenapa dunia ini semakin jahat, padahal tidak semua orang jahat nyata-nyata mengaku bahwa setanlah yang mereka sembah, atau menyatakan penyerahan diri kepada Iblis secara terang-terangan di hadapan umum. Para ateis yang hidup di negara-negara komunis maupun di berbagai belahan dunia lainnya, kebanyakan bukanlah anggota sekte-sekte gelap. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, kerja keras, falsafah hidup yang baik, nilai-nilai moral, akal budi yang cerdas. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan dunia. Tetapi, sama seperti manusia pertama, mereka berpikir bahwa mereka dapat berjalan tanpa Tuhan, mereka dapat menemukan kebebasan dan kesejatian hidup tanpa Dia. Kegagalan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat semacam inilah yang membuat seorang ibu dapat berjuang mati-matian melawan hukuman mati serta memperjuangkan hak-hak hidup seseorang, tetapi membenarkan aborsi, membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang ayah dapat membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tetapi di sisi lain sanggup membunuh banyak orang atas pemahaman ideologi dan keyakinan yang sesat. Seorang bankir dapat bekerja keras untuk memperoleh kemakmuran dalam hidup, tetapi membiarkan kerakusannya itu membawa kehancuran ekonomi suatu negara, dan membuat banyak orang jatuh dalam jurang kemiskinan. Dunia dapat jatuh dalam kesedihan mendalam karena menurunnya indikator-indikator ekonomi, dan begitu depresi atas jatuhnya harga-harga saham, tapi dunia tidak lagi berdukacita atas meninggalnya begitu banyak tunawisma dan gelandangan di jalan-jalan kota setiap hari. Keinginan manusia untuk menggapai langit tanpa Tuhan, merupakan bukti nyata bahwa tanpa disadari, manusia telah jatuh dalam jurang dosa dan belenggu si jahat.

Apakah dengan kenyataan demikian, kita yang adalah anggota Gereja, dapat melihat diri kita sebagai kumpulan orang yang tidak mengalami kejatuhan yang sama seperti mereka?

Tentu saja tidaklah demikian. Gereja itu Kudus, tetapi selagi di dunia ini, kita adalah Gereja yang sedang berziarah, dengan segala pergumulan dan jatuh bangun menuju kesempurnaan. Yang membedakan kita dengan dunia adalah rahmat Tuhan yang bekerja secara istimewa dalam Gereja. Dengan pembaptisan, kita telah dibebaskan dari dosa asal, sekaligus mulai dihantar pada pengenalan yang sempurna akan Allah, di dalam Iman. Oleh karena itu, jikalau kegagalan dunia untuk bepaut kepada Tuhan adalah dosa, maka, kegagalan Gereja untuk berpaut pada Tuhan adalah dosa yang lebih besar lagi. Kenapa demikian? Karena kita telah dipanggil ke dalam pengakuan akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan. Dunia tidak mengikuti Tuhan, tetapi kita, putra-putri Gereja, yang telah bertahun-tahun mengikuti Dia, bagaimana mungkin kita tidak mengenal Dia? Bagaimana mungkin hati kita tidak merasa remuk-redam disaat kita mengalami kejatuhan dosa?

Manakala kita dengan sadar membiarkan diri jatuh dalam dosa layaknya anak-anak kegelapan dari dunia ini, sesungguhnya dosa kita jauh lebih besar lagi, karena kita melakukannya di saat kita telah mengenal Allah dan kehendak-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kesadaran akan kerapuhan dan kegagalan kita, marilah kita memandang cahaya Ilahi dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Berbeda dengan manusia pertama yang membiarkan dirinya untuk tergoda dan jatuh dalam dosa, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita bisa mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Putra Allah, yang adalah sungguh-sungguh manusia, menjalani pencobaan selama 40 hari, mematahkan segala argumen si ular tua itu, dan pada akhirnya menang atas pencobaan. Injil hari ini merupakan peneguhan iman bagi kita semua, untuk melihat hidup kita masing-masing ibarat padang gurun, dimana si jahat senantiasa menyiapkan perangkap, argumen, dan tipu daya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kita dari kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Ketika Kitab Suci berbicara bahwa Yesus “dibawa oleh Roh”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pencobaan itu terjadi sepengetahuan dan dalam penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, yakinlah, kemanapun Tuhan membawa kita, dalam situasi apapun itu, semenakutkan dan seberat apapu itu, apapun nama yang kita berikan atas peristiwa itu, entah padang gurun, malam gelap, awan ketidaktahuan, apapun namanya, iblis ada disana, tetapi kuasa Tuhan yang jauh lebih besar juga ada disana. Selama kita tetap setia mendengarkan suara Tuhan, bilamana kita tetap berpaut pada-Nya dan tidak membiarkan diri kita terlepas dari-Nya, maka, pada waktu yang tepat, Dia akan memberi kita kekuatan untuk mengatakan “Tidak!” dan meludahi si jahat. Tetaplah setia. Biarlah Sabda Tuhan, doa, puasa, laku tapa dan mati ragamu menjadi baju zirahmu untuk melawan si jahat. Biarlah Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja menjadi daya hidup yang membuat tubuhmu kuat untuk bertempur, sehingga ular tua itu lari ketakutan dari medan pertempuran rohani ini.

Semoga Perawan Tersuci Maria, teladan ketaatan, senantiasa mengajar kita untuk selalu menjawab “Ya!” kepada Allah, dan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Kiranya segenap orang kudus, para malaikat dan balatentara surgawi, bertempur bersama kita, secara khusus di masa Prapaska ini, sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia-manusia Paska, putra-putri Cahaya, yang menghalau kegelapan dari dunia ini, dan memenangkan tidak hanya jiwa kita, melainkan juga jiwa-jiwa banyak orang, merenggutnya dari kuasa kegelapan, serta membawa mereka ke dalam Cahaya.

Inilah panggilan kita, inilah medan pertempuran yang harus kita menangkan. Bersama Tuhan pasti bisa! (VFT)