Meditasi Harian 26 Maret 2017 ~ MINGGU IV PRAPASKAH (LAETARE)

DIA MELIHAT HATIMU

Bacaan:

1Sam.16:1b.6-7.10-13a; Mzm.23:1-3a.3b-4.5.6; Ef.5:8-14; Yoh.9:1-41

Renungan:

Hidup beriman ibarat suatu pendakian gunung. Perjalanannya tidak selalu mudah, bahkan tak jarang harus melalui bahaya dan melewati lereng-lereng yang tidak selalu diterangi oleh cahaya, dimana kegelapan menyulitkan kita untuk melihat kehendak Tuhan. Ketika pendakian rohani mulai mendekati puncak pun, kita akan semakin menderita kepayahan. Itulah sebabnya banyak yang memulai pendakian, tetapi sedikit saja yang tiba di puncak, untuk beristirahat bersama Allah.

Kemurnian hatilah yang memampukan kita untuk mendaki gunung Tuhan dan tiba di puncak-Nya yang Kudus (bdk.Mzm.24:4). Kemurnian hatilah yang mendatangkan urapan dan penyertaan Tuhan dalam peziarahan hidup kita menuju Allah. “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1Sam.16:7d). Hati yang senantiasa memandang Allah, tidak akan pernah merasa kurang. Baginya Tuhan sungguh adalah Gembala Yang Baik, sebagaimana kata pemazmur (bdk.Mzm.23:1). Rahmat Tuhan cukup baginya. Hati yang selalu memandang Allah itu bagaikan lautan luas yang penuh kemurahan, sebab dia pun telah menyadari betapa banyak kemurahan Tuhan yang tercurah atas hidupnya. Hati yang mencintai Hukum Tuhan yang membebaskan, dan melihatnya sebagai kuk yang enak, serta beban yang ringan. Dengan demikian, hukum ditaati dan dilakukan penuh kecintaan. Semoga kita tidak akan menerima kecaman Tuhan, sebagaimana orang-orang Farisi dalam Injil hari ini. Sebab melebihi kebutaan dan cacat fisik lainnya, jauh lebih malang mereka yang mengalami kebutaan dan cacat rohani. 

Tidak ada satupun manusia di dunia ini yang tidak menerima belas kasih Tuhan. Akan tetapi, seringkali kebutaan dan cacat rohanilah yang menghalangi kita untuk sungguh mengalami, dan mensyukuri belas kasih Allah dalam segala kepenuhannya. Kita semua menerima cukup dari tangan kemurahan Tuhan, berlimpah malah. Kejatuhan dosalah yang membuat manusia selalu merasa kurang. Dosalah yang mengaburkan pandangan kita untuk memandang wajah belas kasih Allah melalui berbagai penderitaan hidup. Kendati tidak mencobai, Allah mengijinkan kita mengalaminya, untuk mendatangkan kebaikan dari rupa-rupa penderitaan hidup, seberapapun sakitnya itu. Pergumulannya mungkin berbeda, cara menyikapinya mungkin berbeda, demikian pula kita disembuhkan secara berbeda satu dengan yang lain. Tetapi, bila hati kita selalu memandang Hati Tuhan yang terluka, kita akan senantiasa beroleh kekuatan untuk melaluinya, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang. Hidup kita akan bercahaya, karena memantulkan cahaya cinta Tuhan. 

Semoga Masa Prapaskah ini mengarahkan kembali hati kita, untuk memandang Allah dengan penuh cinta, dan memandang sesama dengan penuh kemurahan. Minggu IV Prapaskah adalah Minggu “Laetare” (Sukacita). Di tengah mati raga, puasa dan laku tapa Prapaskah, putra-putri Gereja bersukacita, karena penghiburan yang berasal dari Allah. Panggilan untuk bertobat bukanlah beban yang memberatkan perjalanan, melainkan suatu rahmat untuk mengalami kasih Allah yang mengubahkan hidup, yang membukakan mata hati kita untuk mengarahkan pandangan kepada Allah. Saat dimana kelumpuhan dan segala cacat rohani kita akibat dosa disembuhkan, sehingga kita boleh bangkit dan  menerima segala rahmat yang disediakan dari kemurahan hati Allah, serta dengan penuh sukacita memikul salib, untuk kemudian berjalan menuju Allah.

Teladanilah kemurahan hati Ibu kita, Perawan Maria yang amat suci. Kenalilah hatinya, maka hatinya akan membimbing kita dengan penuh kelembutan untuk menyentuh Hati Putranya, Tuhan kita Yesus Kristus. Waktunya semakin dekat, maka janganlah menunda lagi. “Bangunlah, hai kamu yang tidur, dan bangkitlah…maka Kristus akan bercahaya atas kamu” (Ef.5:14).

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 24 Maret 2017 ~ Jumat dalam Pekan III Prapaskah

CINTA SELALU PUNYA CARA
Bacaan:

Hos.14:2-10; Mzm.81:6c-8a.8b-9.10-11b.14.17; Mrk.12:28b-34

Renungan:

Dengan berbagai cara serta melalui berbagai situasi hidup, Allah selalu berusaha mengungkapkan cinta-Nya kepada kita. Disadari atau tidak, disyukuri atau tidak, bahkan sekalipun kita sama sekali tidak pantas memperolehnya, cinta Tuhan selalu menemukan jalan untuk masuk dan menembus hati manusia. Hosea dalam bacaan pertama hari ini memberi kesaksian akan cinta Tuhan kepada Israel, serta mengingatkan mereka untuk berbalik dari kesalahan mereka. Pada akhirnya, bangsa Israel pun menyadari bahwa bergantung pada dunia adalah kesia-siaan. Percuma mengharapkan persahabatan dengan dunia, bila karenanya kita harus kehilangan kemesraan cinta dengan Allah. 

Tidak ada cinta yang lebih besar selain cinta Tuhan Allah. Lihatlah betapa Dia begitu mengasihi kita, sehingga rela memberikan Putra-Nya sendiri, sebagai kurban pendamaian dosa-dosa kita. Itulah sebabnya, setiap kali seorang beriman merenungkan Jalan Salib dari Tuhan kita Yesus Kristus, adalah suatu kegilaan bila karenanya kita tidak tersungkur dengan hati remuk redam penuh penyesalan dan rasa syukur. Betapa malangnya jiwa yang menolak memandang kemanisan Salib. Dan ketahuilah ini, seberapapun jauhnya kamu melarikan diri, Tuhan selalu punya cara untuk menemukanmu di persimpangan hidup. Dia selalu sanggup mengubahnya menjadi persimpangan Salib yang menyelamatkan. Jika Dia bisa menemukan Longinus, Paulus, Agustinus, Fransiskus dari Assisi, Ignasius dari Loyola, Dorothy Day, dan tak terbilang banyaknya orang pada persimpangan hidup mereka, yakinlah, Dia yang sama pasti juga bisa menemukanmu. 

Pertanyaannya, “Maukah kamu menjawab ‘Ya’ ketika ditemukan oleh-Nya?” Kita yang saat ini berada dalam kubangan dosa, “Maukah kita menerima uluran tangannya untuk ditarik keluar?” Dengan demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman yang jelas, yaitu pertobatan menuntut kerelaan untuk kembali menapaki jalan Tuhan. Ini bukan paksaan, melainkan suatu keputusan yang harus dilakukan dengan kehendak bebas. Olehnya, kita memperoleh keberanian untuk mendekati Altar Tuhan, dan menerima Dia, Sang Roti Kehidupan, serta diubahkan oleh daya hidup Ekaristi, karena hati kita tidak lagi menuduh kita. Itulah cinta yang sejati. Inilah belas kasih Tuhan yang melampaui pengertian, bukannya belas kasih palsu yang membenarkan hidup dalam dosa, melainkan belas kasih yang membebaskan serta mengubahkan hidup, karena si pendosa yang kembali pulang ke rumah, telah mengalami sentuhan rahmat Tuhan yang mempesonakan. Dengan demikian, kita akan mulai melihat dunia secara baru, dan dengan mata belas kasih Tuhan, kita mulai mencintai sesama dan alam semesta seutuhnya, karena hati kita yang terluka karena cinta, kini telah menemukan kesembuhan di dalam hati Tuhan.

Semoga Perawan Maria yang terberkati, senantiasa menyertaimu dengan kasih keibuannya, agar tapak-tapak deritamu diubahkan menjadi tapak-tapak cinta. Tuhan selalu punya cara menemukanmu. Sekarang, mulailah juga dengan segenap daya upaya mencari dan membiarkan dirimu ditemukan oleh-Nya. “Aku menjawab engkau dengan bersembunyi di balik badai…Dengarkanlah suara-Ku.” (bdk.Mzm.61:8-9)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XV

image

BERBALIK KEPADA ALLAH

Bacaan:
Kel.2:1-15a; Mzm.69:3,14,30-31,33-34; Mat.11:20-24

Renungan:
Kesejatian seorang Kristiani seringkali terlihat dari caranya bersikap terhadap sentuhan rahmat Allah.
Tak jarang didapati, bahwa mereka yang dilimpahi dengan segala mujizat, berkat, pertolongan, dan kemanisan rohani dari Allah, justru pada akhirnya pribadi-pribadi yang “berlimpah susu dan madu” ini menjadi mereka yang tidak tahu bersyukur, lupa diri dan tumpul hati untuk bertobat.

Sementara itu, dapat pula kita jumpai insan-insan Allah yang ketika diperhadapkan pada rupa-rupa badai pergumulan hidup, cobaan, penderitaan, sakit, ketidakadilan, dan berbagai kemalangan lainnya, mereka ini justru senantiasa mempersembahkan hati yang remuk redam di hadapan Allah, penyerahan diri total dan kepercayaan tanpa batas, serta menampilkan suatu sikap heroik dalam beriman, yang mendatangkan kekaguman dari penghuni surga dan dunia.

Banyak orang menyebut diri pengikut Kristus yang sejati, tetapi pada akhirnya justru kelihatan bahwa dari semula hati mereka sebenarnya tidak pernah terarah kepada Allah.
Dekatilah Tuhan bukan karena kewajiban atau kebutuhan belaka, bukan karena apa yang telah Dia berikan, bukan pula karena mujizat atau kemanisan rohani yang telah kamu terima.
Cinta yang didasarkan pada pemberian, tidak akan pernah bertahan. Manakala keran yang mengalirkan segala pemberian itu seolah berhenti atau tertutup, gersanglah hati dan padamlah cintamu.

Cinta yang sejati justru tumbuh subur dalam ketiadaan, dalam kekosongan. Dekatilah Dia dengan hati yang remuk redam dan diubahkan oleh sentuhan rahmat Allah. Hati yang dipenuhi kerinduan dan kesadaran bahwa hidupmu hanya akan menemukan makna dan kepenuhan di dalam Dia.
Milikilah kemiskinan roh, maka Dia yang melihat kepapaan rohanimu, akan mencurahkan cinta yang tidak hanya memenuhi hatimu, melainkan membeluar keluar dan dirasakan pula oleh semua orang yang berjumpa denganmu.

Kecaman Tuhan Yesus atas Kapernaum, Khorazim, dan Betsaida, hendaknya mengingatkan kita agar bijak dalam bersikap saat mengalami sentuhan rahmat Allah, untuk tahu bersyukur, bertobat dan berbalik kepada Allah.
Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.” ~ St. Josemaría Escrivá

Pax, in aeternum.
Fernando

Enyahlah, Iblis!

MINGGU PRAPASKA I  ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Kejadian 2: 7-9; 3: 1-7

Mazmur Tanggapan – Mzm. 51: 4-4. 5-6a. 12-13. 14. 17

Bacaan II – Roma 5: 12-19

Bacaan Injil – Matius 4: 1-11

 

Enyahlah, Iblis!

Saudara-saudariku yang terkasih,

“Allah membentuk manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kej.2:7) Demikianlah bacaan pertama hari ini mengungkapkan keindahan dan kemuliaan manusia. Tidak ada makhluk hidup di alam semesta ini, selain manusia, yang dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Demikianlah tinggi dan berharganya nilai kita di hati Tuhan. Namun, di balik keindahan penciptaan manusia, terungkap pula kerapuhannya. Kita dibentuk dari debu tanah, dari sebuah materi yang begitu rapuh dan hina. Oleh karena itu, adalah teramat penting untuk disadari bahwa kita yang tercipta dari debu tanah, karena rahmat dan belas kasih Allah, telah diangkat sedemikian tinggi, melebihi semua makhluk hidup di dunia, bahkan melebihi para malaikat dan makhluk surgawi lainnya, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, dihembusi nafas kehidupan oleh Allah sendiri. Ini bukan karena jasa-jasa kita, melainkan anugerah Allah semata-mata. Jikalau demikian, sudah pasti dan tidak mungkin dibantah bahwa manusia hanya bisa menemukan kesejatian hidup di dalam Dia, yang menciptakan kita. Dia yang memberi makna dalam hidup kita. Sang Cinta yang telang mencipta kita karena cinta, dan memanggil kita ke dalam persatuan cinta dengan-Nya. Di dalam ketaatan kepada kehendak-Nyalah kita akan menemukan kemerdekaan sejati kita. Terpisah dari Allah berarti keterpisahan dari Sang Pemberi Hidup, Asal dan Tujuan hidup kita. Terpisah dari-Nya berarti kehampaan dan kebinasaan. Kita mungkin saja hidup, tetapi menjalaninya layaknya seorang yang tidak memiliki hidup, karena kita telah menyerahkan kebebasan kita untuk menjadi budak si jahat.

Iblis, si ular tua itu, sangat tahu akan betapa mulia dan berharganya kita di hati Tuhan. Oleh karena itu, sejak awal penciptaan, dengan segenap daya upaya, ia telah menyiapkan perangkap untuk menjatuhkan manusia dari kemuliaan dan martabat ilahinya. Perangkap itulah yang kita sebut dosa. Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa manusia pertama tidak kehilangan Eden karena menghambakan diri secara total kepada si jahat, kejatuhan pertama terjadi bukan saat manusia berkata kepada iblis, “Ya, mulai saat ini aku mau menyembah setan.” Tidak demikian. Manusia jatuh ke dalam dosa karena dia tergoda akan argumen si jahat bahwa dia dapat hidup tanpa Tuhan, akan nafsu keinginan untuk menjadi seperti Allah. Manusia pertama mengalami kejatuhan dosa karena kegagalannya untuk mengatakan “Tidak!” kepada bujukan si jahat. Ia tergoda untuk melepaskan perlindungan dan belas kasih Tuhan, dan mencoba berjalan sendiri tanpa Tuhan.

Dalam pemahaman ini, kita bisa lebih memahami kenapa dunia ini semakin jahat, padahal tidak semua orang jahat nyata-nyata mengaku bahwa setanlah yang mereka sembah, atau menyatakan penyerahan diri kepada Iblis secara terang-terangan di hadapan umum. Para ateis yang hidup di negara-negara komunis maupun di berbagai belahan dunia lainnya, kebanyakan bukanlah anggota sekte-sekte gelap. Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang memiliki dedikasi, kerja keras, falsafah hidup yang baik, nilai-nilai moral, akal budi yang cerdas. Mereka adalah orang-orang yang kerap kali terbukti memberikan sumbangan yang berarti bagi kemajuan dunia. Tetapi, sama seperti manusia pertama, mereka berpikir bahwa mereka dapat berjalan tanpa Tuhan, mereka dapat menemukan kebebasan dan kesejatian hidup tanpa Dia. Kegagalan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat semacam inilah yang membuat seorang ibu dapat berjuang mati-matian melawan hukuman mati serta memperjuangkan hak-hak hidup seseorang, tetapi membenarkan aborsi, membunuh darah dagingnya sendiri. Seorang ayah dapat membesarkan anak-anaknya dengan penuh perhatian, tetapi di sisi lain sanggup membunuh banyak orang atas pemahaman ideologi dan keyakinan yang sesat. Seorang bankir dapat bekerja keras untuk memperoleh kemakmuran dalam hidup, tetapi membiarkan kerakusannya itu membawa kehancuran ekonomi suatu negara, dan membuat banyak orang jatuh dalam jurang kemiskinan. Dunia dapat jatuh dalam kesedihan mendalam karena menurunnya indikator-indikator ekonomi, dan begitu depresi atas jatuhnya harga-harga saham, tapi dunia tidak lagi berdukacita atas meninggalnya begitu banyak tunawisma dan gelandangan di jalan-jalan kota setiap hari. Keinginan manusia untuk menggapai langit tanpa Tuhan, merupakan bukti nyata bahwa tanpa disadari, manusia telah jatuh dalam jurang dosa dan belenggu si jahat.

Apakah dengan kenyataan demikian, kita yang adalah anggota Gereja, dapat melihat diri kita sebagai kumpulan orang yang tidak mengalami kejatuhan yang sama seperti mereka?

Tentu saja tidaklah demikian. Gereja itu Kudus, tetapi selagi di dunia ini, kita adalah Gereja yang sedang berziarah, dengan segala pergumulan dan jatuh bangun menuju kesempurnaan. Yang membedakan kita dengan dunia adalah rahmat Tuhan yang bekerja secara istimewa dalam Gereja. Dengan pembaptisan, kita telah dibebaskan dari dosa asal, sekaligus mulai dihantar pada pengenalan yang sempurna akan Allah, di dalam Iman. Oleh karena itu, jikalau kegagalan dunia untuk bepaut kepada Tuhan adalah dosa, maka, kegagalan Gereja untuk berpaut pada Tuhan adalah dosa yang lebih besar lagi. Kenapa demikian? Karena kita telah dipanggil ke dalam pengakuan akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan. Dunia tidak mengikuti Tuhan, tetapi kita, putra-putri Gereja, yang telah bertahun-tahun mengikuti Dia, bagaimana mungkin kita tidak mengenal Dia? Bagaimana mungkin hati kita tidak merasa remuk-redam disaat kita mengalami kejatuhan dosa?

Manakala kita dengan sadar membiarkan diri jatuh dalam dosa layaknya anak-anak kegelapan dari dunia ini, sesungguhnya dosa kita jauh lebih besar lagi, karena kita melakukannya di saat kita telah mengenal Allah dan kehendak-Nya.

Saudara-saudari terkasih.

Dalam kesadaran akan kerapuhan dan kegagalan kita, marilah kita memandang cahaya Ilahi dalam bacaan Injil hari ini. Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis. Berbeda dengan manusia pertama yang membiarkan dirinya untuk tergoda dan jatuh dalam dosa, Yesus menunjukkan kepada kita, bahwa sebagai manusia, kita bisa mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Putra Allah, yang adalah sungguh-sungguh manusia, menjalani pencobaan selama 40 hari, mematahkan segala argumen si ular tua itu, dan pada akhirnya menang atas pencobaan. Injil hari ini merupakan peneguhan iman bagi kita semua, untuk melihat hidup kita masing-masing ibarat padang gurun, dimana si jahat senantiasa menyiapkan perangkap, argumen, dan tipu daya dengan berbagai cara untuk menjatuhkan kita dari kemerdekaan sejati anak-anak Allah. Ketika Kitab Suci berbicara bahwa Yesus “dibawa oleh Roh”, hal ini menunjukkan bahwa peristiwa pencobaan itu terjadi sepengetahuan dan dalam penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, yakinlah, kemanapun Tuhan membawa kita, dalam situasi apapun itu, semenakutkan dan seberat apapu itu, apapun nama yang kita berikan atas peristiwa itu, entah padang gurun, malam gelap, awan ketidaktahuan, apapun namanya, iblis ada disana, tetapi kuasa Tuhan yang jauh lebih besar juga ada disana. Selama kita tetap setia mendengarkan suara Tuhan, bilamana kita tetap berpaut pada-Nya dan tidak membiarkan diri kita terlepas dari-Nya, maka, pada waktu yang tepat, Dia akan memberi kita kekuatan untuk mengatakan “Tidak!” dan meludahi si jahat. Tetaplah setia. Biarlah Sabda Tuhan, doa, puasa, laku tapa dan mati ragamu menjadi baju zirahmu untuk melawan si jahat. Biarlah Ekaristi dan sakramen-sakramen Gereja menjadi daya hidup yang membuat tubuhmu kuat untuk bertempur, sehingga ular tua itu lari ketakutan dari medan pertempuran rohani ini.

Semoga Perawan Tersuci Maria, teladan ketaatan, senantiasa mengajar kita untuk selalu menjawab “Ya!” kepada Allah, dan mengatakan “Tidak!” kepada si jahat. Kiranya segenap orang kudus, para malaikat dan balatentara surgawi, bertempur bersama kita, secara khusus di masa Prapaska ini, sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi manusia-manusia Paska, putra-putri Cahaya, yang menghalau kegelapan dari dunia ini, dan memenangkan tidak hanya jiwa kita, melainkan juga jiwa-jiwa banyak orang, merenggutnya dari kuasa kegelapan, serta membawa mereka ke dalam Cahaya.

Inilah panggilan kita, inilah medan pertempuran yang harus kita menangkan. Bersama Tuhan pasti bisa! (VFT)

 

Bertobatlah…!

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Katolik Ortodoks

Bapa Suci Paus Fransiskus sebagai Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik sedunia merangkul Patriark Bartholomeus III, Pemimpin Gereja Ortodoks

 

MINGGU BIASA III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I – Yesaya 8: 23b – 9: 3

Mazmur Tanggapan – Mzm.27: 1, 4, 13-14

Bacaan II – 1 Korintus 1: 10-13.17

Bacaan Injil – Matius 4: 12-23

Bertobatlah…!

Hari ini Injil menceritakan kepada kita bagaimana Yesus, sesudah penangkapan Yohanes Pembaptis, melangkahkan kaki-Nya keluar dari wilayah Yerusalem dan Yudea, untuk mewartakan kabar gembira Kerajaan Allah di daerah Galilea, yang pada masa itu dianggap sudah kehilangan kemurnian sebagai tanah perjanjian, dan sudah berbau kafir. Tindakan Yesus ini merupakan tindakan profetis yang telah dinubuatkan oleh Yesaya, bahwa Mesias, Putra Allah, sekarang tampil sebagai pembebas untuk membawa cahaya pengharapan dan menghalau kegelapan. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” (Yes.9:1 & Mat.4:16)

Untuk itulah Gereja ada. Gereja bagaikan sebuah sakramen keselamatan. Sama seperti para murid yang pertama, Gereja diutus di tengah dunia untuk menjadi penjala manusia (bdk.Mat.4:19), untuk membawa cahaya Kristus ke dalam kegelapan. Akan tetapi, Gereja hanya bisa secara sempurna menjalankan karya Ilahi, bilamana ia sungguh menyadari bahwa kekuatannya berasal dari kesatuannya dengan Kristus, Sang Mempelai. Gereja dipanggil untuk masuk dalam persatuan cintakasih Allah Tritunggal Mahakudus, untuk bisa mendatangkan api cinta yang nantinya membaharui muka bumi. Ia harus senantiasa setia pada pengakuannya akan satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan.

Inilah yang diingatkan oleh Rasul Paulus, yang dengan tegas mengingatkan Gereja di Korintus bahwa perpecahan akan mengaburkan kesatuan Gereja dengan Kristus. Paulus, yang oleh rahmat Allah, telah dijatuhkan dari kuda, sungguh-sungguh memahami bahaya keangkuhan dan kegagalan mendengarkan suara Tuhan. Suatu bahaya yang dapat membuat kita terpecah-belah dan mengaburkan wajah Allah dalam diri Gereja-Nya. Perbedaan akan selalu ada, tetapi kita senantiasa diingatkan agar tidak melihatnya sebagai pembenaran untuk terpisah satu dengan yang lain. Perbedaan seharusnya dilihat sebagai cara Roh Kudus menyatakan diri-Nya dalam berbagai bentuk, cara, dan situasi. Timur atau barat, karismatik atau tradisional, konservatif atau liberal, apapun label yang tercipta, tidaklah boleh memisahkan kita satu dengan yang lain. Gereja haruslah selalu satu, kudus, katolik, dan apostolik. Bilamana Gereja sungguh-sungguh berakar dalam Kristus, serta memahami kesatuan sejati hanya ada dalam misteri Ekaristi, ia akan menemukan keluhuran panggilannya untuk memecah-mecahkan diri secara benar, sehingga dapat memberi mereka (dunia) makan. Seruan Injil hari ini, menjadi seruan mendesak dari Allah bagi Gereja, “Bertobatlah…!” (bdk.Mat.4:17)

Bunda Gereja saat ini memasuki masa tergelap sejak berdirinya. Perpecahan yang melukai kesatuan Tubuh Mistik Kristus, persaingan akan kekuasaan yang mengalahkan semangat melayani, skandal dan berbegai kemerosotan hidup beriman yang teramat menyedihkan, diperparah dengan kenyataan bahwa saat ini, ia sedang berziarah di tengah dunia yang semakin memalingkan wajah-Nya dari Allah.

Dalam situasi demikian, masa depan Gereja tergantung sepenuhnya pada seberapa dalam ia setia menghidupi kemurnian dan kepenuhan imannya akan Kristus. Masa sulit ini tidak akan melenyapkan Gereja, tetapi akan memurnikan Gereja, sama seperti yang pernah terjadi di masa lampau. Sudah pasti proses kristalisasi dan klarifikasi ini akan menghabiskan banyak tenaga yang dimiliki oleh Gereja, akan tetapi, bagaikan suatu “malam pemurnian”, pada akhirnya ini akan akan menjadikan Gereja kembali menjadi putri kemiskinan, yang lemah lembut dan rendah hati.

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Jutaan kaum muda Katolik mendatangi bilik-bilik pengakuan dosa saat World Youth Day Brazil 2013

Akan tiba saatnya, bahwa sesudah pemurnian ini, suatu daya hidup sebagaimana jemaat perdana akan muncul kembali dalam Gereja yang semakin spiritual dan sederhana, yang telah menemukan kembali makna kesatuan sebagai putra-putri Ekaristi, yang dengan bangga merangkul salib. Bilamana dunia kemudian tersadar betapa jauhnya ia telah jatuh dalam jurang kesepian, dan bilamana dunia telah menyadari kegagalan tatanannya yang bertentangan dengan karya Allah, pada waktu itulah ia akan menemukan dalam Gereja yang telah dimurnikan, sebuah komunitas orang-orang beriman yang seolah baru baginya, sebagai suatu tanda pengharapan yang memberi makna dalam hidup mereka, sebagai sebuah jawaban yang selama ini mereka cari. Itulah saat yang membahagiakan dan mendatangkan sukacita, dimana di dalam Gereja, dunia akan menemukan wajah Allah.

Semoga Santa Perawan Maria, bunda Gereja, senantiasa menuntun Gereja pada kemurnian Injil, agar semakin sempurna bersatu dengan Kristus, Putranya. ( Verol Fernando Taole )