Meditasi Harian 28 Maret 2016~SENIN DALAM OKTAF PASKAH

image

PERJUMPAAN DENGAN KEBENARAN

Bacaan:
Kis.2:14,22-32; Mzm.16:1-2a.5.7-8.9-10.11; Mat.28:8-15

Renungan:
Disadari atau tidak, Kekristenan adalah suatu perjumpaan dengan peristiwa. Peristiwa ini bukanlah peristiwa biasa, karena untuk memahami dan merangkulnya sebagai Kebenaran, seseorang memerlukan Iman. Itulah sebabnya, diperhadapkan dengan berbagai peristiwa hidup yang tak dimengerti, manusia seringkali sulit menerima itu sebagai kebenaran.
Para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, setelah mendengar kebenaran kebangkitan Tuhan, yang diberitakan para serdadu, justru menjadi takut dan memilih menutupi kebenaran.
Lain halnya dengan para wanita pengikut setia Tuhan kita. Ketika menemukan kebenaran bahwa makam telah kosong, mereka mengalami kegelapan iman yang menakutkan, namun seketika juga mendatangkan sukacita yang besar. Sukacita iman yang membuat mereka berlari dalam kuasa cinta untuk membagikan kabar sukacita Injil ini.
Disini kita melihat 2 sikap yang berbeda dalam menanggapi kebenaran janji Tuhan.
Anda dapat memilih menjadi “saksi” dari kebenaran itu dan mewartakannya dalam hidup dan karya, atau memilih “diam” dan mengubur kebenaran itu,  karena telah nyaman dalam kesementaraan kemuliaan duniawi yang membinasakan baik tubuh maupun jiwa.
Berdirilah teguh dalam Iman, peganglah janji Tuhan, dan saksikanlah bagaimana dia melakukan perkara-perkara besar dalam dan melalui hidupmu.
Suatu sikap beriman yang dengan begitu indah diungkapkan hari ini oleh pemazmur, “Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.” (Mzm.16:8)
Hari ini biarlah sapaan Tuhan dan Penyelamat kita kembali bergema, “Jangan Takut!” (Mat.28:10)
Semoga kita sekalian, sebagaimana Ibu kita Maria, senantiasa diterangi oleh cahaya iman, agar dapat mengambil sikap yang tepat disaat peristiwa hidup menghantar kita pada perjumpaan dengan Sang Kebenaran.
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.” (Kis.2:32)

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 2 Februari 2016 ~ PESTA TUHAN YESUS DIPERSEMBAHKAN DI KENISAH

image

HIDUPKU PERSEMBAHANKU

Bacaan:
Mal.3:1-4; Mzm.24:7.8.9.10; Ibr.2:14-18; Luk.2:22-40

Renungan:
Hari ini, 40 hari sesudah Hari Raya Natal, Gereja Katolik sedunia merayakan peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan di Kenisah oleh Santa Perawan Maria dan Santo Yosef, dengan disaksikan oleh Nabi Simeon dan Nabiah Hana. Perayaan ini awalnya dirayakan di Gereja Katolik Timur dengan sebutan perayaan “Perjumpaan“, dan pada abad-6 mulai dirayakan pula oleh Gereja Katolik Barat hingga saat ini. Dalam tradisi Gereja Katolik Roma sendiri, termasuk di Indonesia, perayaan ini memiliki makna penting lainnya, yaitu inilah hari dimana lilin-lilin doa kita secara khusus diberkati (Candlemas).

Melalui Peristiwa Tuhan Yesus dipersembahkan kepada Allah Bapa dalam Kenisah, Bunda Gereja mengingatkan kita akan saat dimana kita pun pertama kali dipersembahkan kepada Allah dan mengambil bagian sebagai anggota keluarga Kerajaan-Nya, melalui Sakramen Baptis.
Hidup seorang Kristiani adalah hidup yang sejak awal dipersembahkan kepada Allah, dan semata-mata demi menyatakan kemuliaan-Nya.
Maka, setiap kali kita merayakan perayaan ini, ingatlah akan tugas suci ini.
Anda dan saya, kita semua dipanggil menjadi lilin-lilin Suci, yang membawa cahaya Tuhan untuk menerangi lorong-lorong gelap dunia ini, dan mewartakan tahun rahmat Tuhan dengan penuh sukacita Injil.

Hari ini Tuhan menyapa kita melalui Sabda-Nya, untuk setiap hari mempersembahkan segenap hidup, keluarga, anak-anak, pekerjaan, pelayanan, harta milik, cita-cita, segala talenta dan karunia yang ada pada kita, sebagai persembahan yang hidup dan indah, yang harum dan berkenan di Hati Tuhan.
Tidak cukup bagi seorang Kristiani untuk berbangga bahwa dia telah diselamatkan dan menjadi pengikut Kristus. Persembahan hidup yang sejati adalah hidup yang tidak hanya mendatangkan keselamatan bagi diri sendiri, melainkan juga membawa orang lain menapaki jalan keselamatan yang sama. Hidup yang berbuah baik, hidup yang memenangkan jiwa-jiwa. Itulah persembahan yang berkenan di Hati Tuhan.

Kepada siapa selama ini engkau telah mempersembahkan hidupmu? Kepada Allah ataukah justru kepada si jahat? Kepada Tuhan Sang Pemilik Hidup, ataukah kepada kelekatanmu akan keluarga, penyakit, kemalasan, kekayaan, ambisi pribadi, hobi, atau berbagai hal lainnya yang selama ini menjadi alasan di balik penolakanmu untuk memberi diri melayani Tuhan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi-Nya?Sudahkah hidupmu dan segala milik kepunyaanmu menjadi persembahan bagi Allah? Ataukah itu semua membuatmu semakin menjauh dari-Nya? Apakah hidupmu berbuah bagi Allah, ataukah justru hanya menjadi talenta yang dikubur dalam-dalam tanpa menghasilkan buah?

Semoga Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel menyertaimu dalam pendakian menuju puncak Gunung Tuhan, kepada perjumpaan cinta sempurna dengan Dia. Suatu perjumpaan Cinta yang menuntut kelepasan darimu, dan pemberian diri secara total dan tanpa syarat kepada-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 23 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XVI

image

PERJUMPAAN DALAM DOA

Bacaan:
Kel.19:1-2,9-11,16-20b; Mzm.(T.Dan.) 3:52,53,54,56; Mat.13:10-17

Renungan:
Bangsa Israel bersama Musa berdiri di kaki gunung Sinai untuk berjumpa dengan Allah. Dari dalam awan Tuhan berbicara dengan mereka, disertai tanda-tanda alam seperti guntur gemuruh, kilat, dan api.
Perjumpaan bangsa Israel dengan Allah ini begitu personal sekaligus komunal.
Demikianlah juga yang dialami oleh Gereja, umat Allah, dalam peziarahannya.
Dengan berbagai cara, dalam rupa-rupa situasi, dan melalui berbagai pergumulan yang Ia perkenankan untuk kita alami, demikianlah Allah menyatakan diri-Nya, agar kita dapat melihat dan menyentuh Hati-nya, serta merasakan kedalaman Cinta-Nya.
Tetapi tak jarang kita menyikapinya dengan ketidak mengertian, ketidak tahuan, dan terkadang malah mempertanyakan cara dan tindakan Allah yang memperkenalkan diri lewat berbagai peristiwa hidup.
Inilah yang dimaksudkan dalam Injil hari ini, dimana kita seringkali “melihat tapi tidak pernah tahu, mendengar tapi tidak pernah menangkap dan mengerti.
Pergaulan mesra dengan Allah memampukan manusia untuk mengetahui apa yang ia lihat, menangkap dan mengerti apa yang ia dengar.
Hidup doa adalah jalan menuju pergaulan yang mesra dengan Dia, baik doa pribadi maupun komunal, dan terutama dalam Misa Kudus.
Tentu saja, ibarat suatu perjalanan, kita tidak seketika sampai pada persatuan sempurna dengan Allah. Oleh karena itu, hidup doa seseorang adalah juga suatu perjalanan yang menuntut kerendahan hati untuk mau dibentuk, mengenali diri, menyadari kerapuhan, diubahkan, dan berjalan seirama dengan gerak cinta Allah.
Inilah perjalanan batin dimana selaput yang mengaburkan mata rohani kita perlahan gugur, dan sumbatan yang menulikan telinga rohani kita perlahan dibukakan.
Belajarlah untuk mau dibimbing oleh cinta Tuhan, dan sadarilah bahwa tiada jalan lain menuju Allah selain jalan doa.
Mereka yang mengatakan bisa menggapai Allah dan memahami Hati-Nya tanpa menapaki jalan doa, mereka itu adalah pendusta.
Tidak ada kekudusan tanpa doa. Omong kosong semacam itu berasal dari bisikan setan, bapa segala dusta.
Berdoalah senantiasa. Berdoalah tak kunjung putus, melebihi tarikan nafas kita.
Dalam doa iman bertumbuh, pengharapan tak kunjung putus, dan cinta semakin dimurnikan.
Semoga kita senantiasa diberikan keberanian untuk melangkah di jalan kesempurnaan ini, sehingga pada akhirnya kita akan melihat dan mengetahui, serta mendengar dan mengerti bahwa “Itu Tuhan“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian 15 Juli 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XV

image

KEMESRAAN DAN SEMBAH BAKTI
(Peringatan St. Bonaventura, Uskup & Doktor Gereja)

Bacaan:
Kel.3:1-6.9-11; Mzm.103:1-2,3-4,6-7; Mat.11:25-27

Renungan:
Hidup kita adalah untuk menyatakan kemuliaan Allah. Luapan hati seorang beriman untuk memuji Dia, bersumber dari kesadaran dan keterpesonaan akan karya Allah yang dinyatakan dalam hidupnya.
Namun, kita seringkali gagal menyadari karya Allah yang bekerja dalam setiap detik kehidupan kita. Kebijaksanaan dan kepandaian duniawi tak jarang mengaburkan pandangan rohani kita untuk melihat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu, bahkan dalam perkara-perkara yang terlampau kecil dan sederhana dalam pandangan kita.
Dia berkarya dalam setiap hembusan nafas kita, dalam matahari yang terbit di ufuk timur, dalam peredaran waktu, dalam senyum sapa yang kita terima dari sesama, dalam lebah madu yang mengambil sari bunga di taman, dalam kicauan burung gereja, dalam tetesan embun pagi di dedaunan pohon, dalam kerja keras para buruh di pabrik dan para pekerja yang masuk ke lorong-lorong gelap di pertambangan, bahkan dalam tugas sederhana seorang ibu rumah tangga yang mempersiapkan makan malam di ruang makan bagi suami dan anak-anaknya.
Tanpa jatuh dalam Pantheisme, hendaknya disadari oleh kita semua bahwa Allah hadir dan berkarya di dalam segala sesuatu.
Orang bijak dan orang pandai seringkali gagal memahaminya.
Itulah sebabnya karya Allah yang indah dalam segala hal, hanya dapat dilihat, dimengerti, dan disyukuri oleh mereka yang kecil dan sederhana, mereka yang rendah hati, yang dalam kesadaran akan semuanya itu kemudian berseru, “Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku!” (Mzm.103:1)

Mereka yang bergaul mesra dengan Allah, adalah mereka yang sanggup melihat karya-Nya dalam segala. Oleh karena itu, dapat pula dikatakan bahwa mereka yang mencintai Allah dalam segala, adalah pula mereka yang meratapi kecenderungan jahat manusia yang merusak segala.
Ensiklik Laudato Si’, yang dimaklumkan Bapa Suci Paus Fransiskus, merupakan panggilan Gereja yang menyerukan umat manusia untuk memandang dan mencintai Allah dalam segala, dalam karya ciptaan-Nya.

Perjumpaan Musa dengan Allah dalam semak-belukar yang bernyala, seolah mengingatkan kita, bahwa semakin kita merusak alam ciptaan, kita pun akan semakin sulit berjumpa dan memandang Allah dalam karya ciptaan-Nya.
Anda tidak bisa mengatakan bahwa anda telah bergaul mesra dengan Allah, atau menyebut diri anda seorang insan Allah, seorang pendoa, seorang rasul Kristus, kalau pada kenyataannya anda tidak memiliki kepedulian akan lingkungan hidup, merusak alam semesta, menghilangkan jejak-jejak Allah dalam karya ciptaan-Nya.
Sama seperti Musa yang dalam rasa hormat dan sembah bakti menanggalkan kasutnya untuk mendekati Allah dalam semak-belukar yang bernyala sambil menutupi wajahnya, demikian pula ketika seorang beriman mendekati Allah dan bergaul mesra dengan-Nya, sikap dan cara bergaulnya dengan Allah akan semakin penuh hormat dan dipenuhi sembah bakti.
Dia akan bersikap lebih hormat untuk menyambut Komuni Kudus dan tanpa ragu berlutut di hadapan keagungan Allah yang ia sambut dengan lidahnya, dia akan semakin memelihara alam ciptaan agar dapat tetap melihat jejak-jejak Allah dan berjumpa dengan-Nya, dia akan dengan berani membela martabat hidup dan menentang segala bentuk pembenaran medis maupun sosial untuk melenyapkan hidup, dia akan mengalami suatu metanoia sejati dan memutuskan segala ikatan yang merusak kemurnian baik tubuh jasmani maupun jiwanya. Intinya, dia akan memiliki hati seperti Hati Allah. Segala karya yang ia lakukan akan memiliki motif adikodrati dan bernilai pengudusan.

Inilah kemesraan dan sembah bakti yang sejati, suatu kurban yang harum dan berkenan di Hati Allah.
Semoga teladan St. Bonaventura yang kita peringati hari ini, menyadarkan kita untuk tidak hanya bijak dan pandai menurut ukuran dunia, tetapi juga tahu diri untuk selalu memohonkan karunia kerendahan hati,  agar dapat melihat karya Allah dalam segala.
Santo Bonaventura, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando