Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa XIII

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kej.19:15-29; Mzm.26:2-3,9-10,11-12; Mat.8:23-27

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan menjadikan seorang pelaut menjadi handal.
Demikian halnya iman kristiani tumbuh menjadi lebih kuat di dalam badai pergumulan hidup.
Orang seringkali menjadi lupa berdoa, bersyukur, dan melayani kehendak Tuhan di tengah segala kelimpahan “susu dan madu“.
Tuhan tidak pernah mencobai manusia, apalagi melebihi kemampuan mereka. Namun, terdorong oleh belas kasih-Nya yang besar, Dia “mengijinkan” manusia mengalami semuanya itu untuk mendatangkan kebaikan.
Ibarat seorang ibu, yang harus berhenti menyusui anaknya pada usia tertentu, kemudian menurunkan anaknya dari pangkuannya, untuk membiarkan anaknya belajar merangkak dan berjalan.
Si anak pasti merasa kesulitan, bahkan mungkin menangis, marah dan kecewa, karena tidak bisa lagi berdiam di pangkuan ibunya, apalagi harus mengalami jatuh bangun dalam usahanya untuk merangkak dan berjalan.
Tetapi, si ibu melakukannya untuk kebaikan, demi pertumbuhan dan kedewasaan si anak.
Siapapun yang memahami maksud si ibu, tidak akan menyalahkan dia.
Demikianlah pula gerak cinta Tuhan. Dia mengijinkan kita mengalami rupa-rupa pergumulan dan kesulitan hidup yang kita sebut “salib kehidupan“, untuk memurnikan kita.
Seringkali di dalam malam gelap kehidupannya, orang mulai menjadi lebih rendah hati, tahu bersyukur dan berserah, berdoa tak kunjung putus, dan caranya bersikap dan bergaul dengan Tuhan menjadi lebih “sopan“, lebih “tahu diri“, bahwa hidup kita hampa tanpa Dia, dan hanya akan menemukan makna di dalam Dia.
Oleh karena itu, belajarlah untuk setia menantikan pertolongan Tuhan di tengah badai hidupmu. Pada waktu yang tepat, seturut waktu dan kehendak-Nya, Ia akan meredakan laut yang bergelora, dan membimbingmu dengan selamat ke pelabuhan yang tenang.
Kalaupun badai seolah tidak menunjukkan tanda-tanda akan berlalu, maka anda mungkin termasuk dalam bilangan kekasih Allah yang secara khusus dipilihnya untuk mengalami cinta-Nya yang lebih dalam. Bukankah dibandingkan perahu-perahu lain yang melalui badai itu sendirian, anda jauh lebih beruntung karena memiliki Yesus dalam perahu?
Keyakinan bahwa “selagi ada Tuhan dalam perahu saya, maka saya percaya bahwa perahu ini tidak akan pernah terbalik“, itu sudah lebih dari cukup bagi mereka yang dipanggil secara khusus pada persatuan cinta yang sempurna dengan Allah.
Keyakinan iman sebagaimana diungkapkan dengan begitu indah oleh St. Teresa dari Avila yang dalam kobaran api cinta berkata, “Solo Dios basta – Allah saja cukup“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Sabtu dalam Pekan II Paskah

image

KESETIAAN DI DALAM BADAI

Bacaan:
Kis.6:1-7; Mzm.33:1-2.4-5.18-19; Yoh.6:16-21

Renungan:
Laut yang tenang tidak akan membuat seorang pelaut mahir.
Keindahan iman kristiani nampak bukan di dalam ketiadaan pencobaan, melainkan bahwa kita dapat tetap berdiri di tengah badai pencobaan.
Dalam bacaan yang kita renungkan hari ini, Bunda Gereja (sebutan bagi Gereja Katolik yang diibaratkan sebagai Ibu dari semua gereja) dilambangkan oleh penginjil sebagai perahu yang sedang melintasi lautan, yaitu dunia ini.
Pelayarannya menuju ke pantai seberang, yakni tanah air surgawi, bukanlah pelayaran melewati air yang tenang, melainkan melalui gelombang dan badai pencobaan dunia ini.
Berulang kali di sepanjang sejarah, Gereja diperhadapkan pada berbagai kesukaran besar, saat dimana perahu hampir tenggelam karena tingginya gelombang, bocor karena menghantam batu, dan patah layar karena ganasnya hembusan angin yang begitu kencang.
Bahkan saat inipun ada rupa-rupa serangan baik dari luar maupun dari dalam Gereja sendiri, yang menganiaya dan menghantar begitu banyak orang beriman untuk menjemput maut dalam kemartiran, menyerang martabat Imamat dan mematikan benih-benih panggilan dalam hedonisme serta konsumerisme, berusaha dengan berbagai cara untuk memberi definisi baru bagi pernikahan maupun arti keluarga, serta budaya kematian yang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah mati dan pada akhirnya menghadapi ajal seolah-olah tidak pernah hidup.
Di dalam badai kejahatan dunia yang telah memalingkan wajah dari Sang Pemberi Hidup itulah, Gereja dipanggil bertolak lebih dalam dan menebarkan jala, untuk bertahan di dalam badai gelombang dan angin kencang.
Di tengah semua kegilaan itu, kita diminta untuk tetap beriman, berharap dan mencinta.
Ketakutan menghadapi dunia dengan segala kejahatannya bersumber dari kekurangan iman, harapan, dan cinta.
Ketika dunia begitu kuat menarikmu untuk tenggelam di dalam kejahatannya, berpeganglah lebih kuat lagi pada Tuhan. Hanya Dialah tempat perlindungan kita yang aman.
Tanpa Yesus, kita pasti binasa. Gereja dapat bertahan, karena Tuhan dan Penyelamat kita ada di dalam perahu.
Belajarlah untuk menantikan pertolongan Tuhan dengan setia di tengah badai. Pada waktu yang tepat, dalam kuasa cinta-Nya, Dia akan meredakan hantaman gelombang dan hembusan angin yang kencang, dan membawa kita ke pelabuhan yang tenang, tujuan akhir perjalanan kita yang membahagiakan.

Ini Aku…Jangan Takut!

Pax, in aeternum.
Fernando