Meditasi Harian 23 April 2016 ~ Sabtu dalam Pekan IV Paskah

image

KESAKSIAN PENGHARAPAN

Bacaan:
Kis.13:44-52; Mzm.98:1.2-3b.3c-4; Yoh.14:7-14

Renungan:
Dalam diri Yesus, Putra Allah, kita diperkenankan memandang wajah belas kasih Bapa. Hanya melalui kePengantaraan Putra-lah, kita boleh mengenal Bapa. “Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia” (Yoh.14:7).
Dalam Injil hari ini kitapun bersukacita akan janji Tuhan, bahwa kita akan beroleh apa saja yang kita minta kepada Bapa dalam Nama-Nya.
Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh.14:13-14).

Untuk meminta belas kasih Allah, seorang beriman memerlukan satu keutamaan mendasar, yaitu pengharapan. Warna-warni kehidupan akan terasa lebih mudah untuk dilalui selama kita memiliki pengharapan. Seorang petani berharap hasil yang baik dari benih yang ia tanam, pedagang berharap dagangannya laris terjual, pekerja kantor mengharapkan performa kerjanya dihargai oleh pimpinan, istri dan anak-anak mengharapkan kesembuhan suami dan ayah mereka yang terbaring sakit, serta berbagai bentuk pengharapan lainnya. Sejatinya, pengharapan dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan, karena dia yang sungguh berharap kepada Tuhan, adalah dia yang mempercayakan hidup seutuhnya pada Penyelenggaraan Tuhan, dalam keyakinan bahwa rancangan Tuhan dan jawaban apapun yang Ia berikan adalah yang terbaik dan mendatangkan damai sejahtera. Itulah sebabnya, pengharapan yang sejati tentu saja memerlukan iman. Inilah yang membedakan pengharapan dunia dengan pengharapan Ilahi.

Kendati pengharapan dalam Tuhan tidak serta-merta menjamin keselamatan (kecuali bila Allah memperkankan dia beroleh rahmat istimewa), namun seorang beriman boleh yakin, bahwa selama dia melangkah dengan setia di jalan pengharapan, jalan itu adalah jalan paling aman menuju keselamatan. Ibarat seorang yang menempuh perjalanan, kendati dia sendiri belum tahu apakah dia akan mencapai tujuan atau tidak, tetapi selama dia tidak mundur atau memilih jalan lain yang menyesatkan, maka sesungguhnya jalan itu pasti akan menghantarkan di sampai ke tujuan. Inilah kesaksian pengharapan.

Pandanglah Ibu Maria, yang dengan cahaya imannya dan menerangi Gereja dengan kesaksian pengharapannya akan Allah. Semoga kita senantiasa memiliki keberanian iman untuk meminta, serta ketekunan untuk berharap, sehingga pada akhirnya kita akan tiba pada tujuan akhir peziarahan kita, yakni keselamatan kekal.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 23 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XVI

image

PERJUMPAAN DALAM DOA

Bacaan:
Kel.19:1-2,9-11,16-20b; Mzm.(T.Dan.) 3:52,53,54,56; Mat.13:10-17

Renungan:
Bangsa Israel bersama Musa berdiri di kaki gunung Sinai untuk berjumpa dengan Allah. Dari dalam awan Tuhan berbicara dengan mereka, disertai tanda-tanda alam seperti guntur gemuruh, kilat, dan api.
Perjumpaan bangsa Israel dengan Allah ini begitu personal sekaligus komunal.
Demikianlah juga yang dialami oleh Gereja, umat Allah, dalam peziarahannya.
Dengan berbagai cara, dalam rupa-rupa situasi, dan melalui berbagai pergumulan yang Ia perkenankan untuk kita alami, demikianlah Allah menyatakan diri-Nya, agar kita dapat melihat dan menyentuh Hati-nya, serta merasakan kedalaman Cinta-Nya.
Tetapi tak jarang kita menyikapinya dengan ketidak mengertian, ketidak tahuan, dan terkadang malah mempertanyakan cara dan tindakan Allah yang memperkenalkan diri lewat berbagai peristiwa hidup.
Inilah yang dimaksudkan dalam Injil hari ini, dimana kita seringkali “melihat tapi tidak pernah tahu, mendengar tapi tidak pernah menangkap dan mengerti.
Pergaulan mesra dengan Allah memampukan manusia untuk mengetahui apa yang ia lihat, menangkap dan mengerti apa yang ia dengar.
Hidup doa adalah jalan menuju pergaulan yang mesra dengan Dia, baik doa pribadi maupun komunal, dan terutama dalam Misa Kudus.
Tentu saja, ibarat suatu perjalanan, kita tidak seketika sampai pada persatuan sempurna dengan Allah. Oleh karena itu, hidup doa seseorang adalah juga suatu perjalanan yang menuntut kerendahan hati untuk mau dibentuk, mengenali diri, menyadari kerapuhan, diubahkan, dan berjalan seirama dengan gerak cinta Allah.
Inilah perjalanan batin dimana selaput yang mengaburkan mata rohani kita perlahan gugur, dan sumbatan yang menulikan telinga rohani kita perlahan dibukakan.
Belajarlah untuk mau dibimbing oleh cinta Tuhan, dan sadarilah bahwa tiada jalan lain menuju Allah selain jalan doa.
Mereka yang mengatakan bisa menggapai Allah dan memahami Hati-Nya tanpa menapaki jalan doa, mereka itu adalah pendusta.
Tidak ada kekudusan tanpa doa. Omong kosong semacam itu berasal dari bisikan setan, bapa segala dusta.
Berdoalah senantiasa. Berdoalah tak kunjung putus, melebihi tarikan nafas kita.
Dalam doa iman bertumbuh, pengharapan tak kunjung putus, dan cinta semakin dimurnikan.
Semoga kita senantiasa diberikan keberanian untuk melangkah di jalan kesempurnaan ini, sehingga pada akhirnya kita akan melihat dan mengetahui, serta mendengar dan mengerti bahwa “Itu Tuhan“.

Pax, in aeternum.
Fernando

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei (Desember 2013)

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini


Dengan ditutupnya Tahun Iman, Bapa Prelat merefleksikan cara-cara untuk memastikan beberapa bulan terakhir ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari.

Anak-anakku yang terkasih : semoga Yesus menjaga putri -putraku untukku!

Uskup Roma telah menutup Tahun Iman. Selama bulan-bulan ini, dengan bantuan Allah, kami telah mencoba untuk menumbuhkan dalam kebajikan teologi ini, akar dari kehidupan Kristen, meminta dengan sangat kepada Tuhan, adauge Nobis fidem,[1] meningkatkan iman kita – dan dengan itu harapan, cinta dan kesalehan kita. Sekarang, dengan dorongan yang kita terima selama bulan-bulan rahmat ini, marilah kita berusaha untuk terus berjalan hari demi hari di jalan ini, yang menghantar kita ke surga. Mari kita meminta bantuan kepada Bunda kita, Guru iman dan kemesraan dengan Allah, sehingga ia mewujudkan keinginan kita untuk setia kepada Puteranya dan kepada Gereja.

Dokumen-dokumen magisterium Gereja ( dan juga baru-baru ini ensiklik Lumen Fidei ) telah menekankan dua karakteristik penting yang terkandung dalam kesejatian iman kita, seperti yang ditampilkan kepada kita dalam Perjanjian Baru. Santo Paulus menekankan bahwa fides ex auditu[2],  bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Allah, dibacakan dan disambut dalam Gereja . Sementara Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, adalah cahaya sejati yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia[3], memberikan kita kemampuan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Allah. Terang dan Firman, Firman dan Terang , menandai bagi kita aspek yang tidak terpisahkan dari iman yang kita akui. “Karena itu, ada kebutuhan mendesak, untuk melihat sekali lagi bahwa iman adalah terang , karena sekali nyala api iman padam, semua lampu lainnya mulai redup.” [4] Mari kita bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, putri-putraku, untuk terang cahaya yang Roh Kudus, dengan menggunakan magisterium Gereja dan kehidupan para kudus, terus-menerus nyalakan dalam diri kita. Marilah kita bersemangat untuk menerimanya, dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Parakletos dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada pertengahan bulan yang lalu, sebuah konferensi tentang “St. Josemaria dan Pemikiran Teologi” diselenggarakan di Roma. Mereka yang hadir menganalisa bagaimana pewartaan dan kesaksian dari para kudus membawa pencerahan baru untuk menggali lebih dalam akan iman kita dan, sebagai konsekuensinya, untuk memperdalam eksposisi teologis dari doktrin kita. Simposium ini telah memberikan kesempatan baru untuk membuat semakin dikenalnya, di bidang teologi, nuansa khusus dari pesan, yang diterima Bapa Pendiri dari Tuhan pada tanggal 2 Oktober 1928, dengan misi menularkan kepada orang Kristen, terutama mereka yang tenggelam dalam hidup keluarga, profesional, sosial, dan aktivitas lainnya dari kehidupan sehari-hari.

Selama beberapa bulan terakhir, saya telah berfokus pada kebenaran iman yang terkandung dalam pasal-pasal dari Pengakuan Iman (Credo) kita. Sekarang saya ingin menolong kalian, dan menolong diri saya sendiri, menarik konsekuensi yang akan mengilhami kehidupan kita dengan kebajikan ini dalam beberapa bulan mendatang, yaitu, untuk fokus pada bagaimana iman harus ditunjukkan dalam perilaku kita sehari-hari, sehingga itu benar-benar akan menerangi pikiran kita, menguatkan kehendak kita, dan bernyala dalam hati kita, untuk mengungkapkan pengetahuan dan kasih Allah dalam perilaku kita sendiri, dan membawanya kepada semua jiwa .

Titik awalnya adalah kepercayaan penuh bahwa dalam Gereja, kita memiliki kepenuhan sarana pengudusan yang Yesus tinggalkan bagi kita. Secara khusus ini termasuk penerimaan sakramen-sakramen, pemenuhan perintah-perintah Allah dan Gereja, serta doa, sebagaimana dijelaskan dalam ensiklik Lumen Fidei .

Sakramen-sakramen adalah tindakan Kristus dimana Kemanusiaan Yang Mahakudus, mulia di Surga, datang dalam perjumpaan seketika dan langsung dengan jiwa-jiwa, untuk menguduskan mereka. Roh Kudus juga mengikuti jalan lain, yang tidak kita kenal, untuk menarik orang kepada Allah. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Paus : “Budaya kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan karya Tuhan dalam dunia. Kita berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar, di sisi lain realitas, jauh dari relasi kita sehari-hari. Tapi jika demikian, sekiranya Tuhan tidak bisa berkarya dalam dunia, cinta-Nya tidak akan benar-benar kuat, demikian nyata.” [5]

Mari kita perhatikan sekali lagi ajaran St. Josemaria, yang sudah dirumuskan dengan jelas sejal awal: Adalah perlu untuk percaya bahwa Allah selalu dekat dengan kita. Terlalu sering kita hidup seolah-olah Dia berada di suatu tempat jauh – dimana bintang-bintang bersinar. Dan kita lupa bahwa Ia sebenarnya terus berada bersama kita.

“Karena ia adalah Bapa yang penuh kasih. Dia mengasihi kita masing-masing lebih dari semua ibu di dunia bisa mengasihi anak mereka – menolong kita, menginspirasi kita, memberkati … dan mengampuni . . . Kita harus benar-benar yakin, sungguh-sungguh menyadari, bahwa Allah, yang dekat bagi kita yang ada di surga, adalah Bapa, dan benar-benar Bapa kita.” [6]

Hal ini terutama nyata saat kita menerima Sakramen Pengampunan dan Ekaristi. Tergerak oleh kebenaran iman ini, betapa amannya kita dalam pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan , betapa damainya perasaan yang dicurahkan ke dalam jiwa kita, dan betapa rindunya kita untuk menyebarkan kedamaian ini kepada orang-orang di sekitar kita! Oleh karena itu, saya tidak akan pernah bosan mendesak agar, setiap kali kita meminta bantuan dari sakramen-sakramen ini, kita harus melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa Roh Kuduslah yang menarik kita, melalui Kristus, kepada kasih Bapa.

Mari kita menerapkan segala pertimbangan ini untuk pertempuran perjuangan batin kita sendiri. Kita bisa menjadi orang-orang kudus, kita harus menjadi orang-orang kudus, terlepas segala cacat dan kejatuhan kita, karena Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam keintiman hidup ilahi-Nya, sebagai anak-anaknya di dalam Kristus, dan Dia menawarkan kepada kita semua obat yang dibutuhkan. Dengan rahmat sakramen-sakramen dan dengan doa, menjadi lebih mudah untuk memenuhi perintah-perintah dari hukum ilahi dan untuk setia kepada tugas-tugas khusus dari situasi hidup setiap orang. “Sepuluh Perintah Allah bukanlah seperangkat perintah negatif, tetapi panduan konkret untuk muncul dari padang pasir keegoisan dan cinta diri, untuk masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh rahmat-Nya dan kemudian, untuk membawa rahmat itu kepada orang lain.” [7]

Mari kita memohon supaya Tuhan memberikan kita iman yang kokoh, iman yang akan menghidupkan semua tindakan kita. Tentu saja kita percaya pada firman Allah, kita membaca dan merenungkan Injil dengan kekaguman, tetapi mungkin itu tidak tenggelam ke dalam jiwa kita, ke titik yang mengubahkan kita dan setiap tindakan kita. Dan ketika kesukaran muncul, ketika kita merasa gersang atau menemui penolakan dari lingkungan kita, kita bisa menjadi putus asa. Apa mungkin iman kita telah tertidur? Bukankah kita harus lebih mengandalkan karya Parakletos, yang diam di dalam jiwa kita melalui kasih karunia? Tidakkah terjadi bahwa kadang-kadang kita percaya terlalu mengandalkan kekuatan kita sendiri? Mari kita merenungkan transformasi yang dilalui para rasul pada hari Pentakosta dan mencoba untuk hidup sesuai dengan pedoman ilahi kita temukan disana, yang disampaikan kepada kita juga melalui praktek-praktek kesalehan Kristiani yang selalu disarankan oleh Gereja: doa batin, dan doa-doa lisan ( terutama doa Rosario ), persembahan penyangkalan diri, membuat pemeriksaan batin, dan menunaikan pekerjaan dengan baik di hadirat Allah.

“Kehidupan batin,” sebagaimana diajarkan oleh Bapa kita, “bukan soal perasaan. Ketika kita melihat dengan jelas pentingnya pengorbankan diri kita hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, seumur hidup kita, demi Cinta yang menanti kita di surga: betapa banyak cahaya yang kita terima! Kita harus menyimpan semua cahaya ini, anak-anakku. Kita perlu membuat dalam jiwa kita suatu wadah untuk menangkap semua rahmat ini dari Allah: kejelasan, cahaya, sukacita pemberian diri kita. Kemudian ketika malam datang, kegelapan dan cobaan pahit, kita dapat menarik kekuatan dari persediaan kita, dari air murni kasih karunia Allah. Meskipun saat ini saya mungkin buta, saya bisa melihat, meskipun saya mungkin kering, saya disegarkan oleh air yang mengalir dari Hati Kristus menuju kehidupan kekal. Kemudian, anak-anakku, kita akan bertahan dalam perjuangan.” [8]

Kemudian kita akan dapat membantu orang lain sehingga mereka juga dapat melakukan perjalanan dengan aman di sepanjang perjalanan iman. Karena “iman tidak hanya sekedar mengarahkan pandangan kepada Yesus, tetapi melihat semua hal sebagaimana Yesus sendiri melihat, dengan mata-Nya sendiri:  mengambil bagian dalam cara-Nya melihat.” [9] Pandangan Tuhan kita terarah pada setiap pribadi dan kepada semua orang. Dia datang ke dunia kita ini untuk  setiap pribadi dari antara kita, dan untuk semua orang, Ia terus mengerjakan karya keselamatan-Nya . Misi kita adalah untuk membawa pada perjumpaan dengan Yesus semua orang yang kita temui di jalan kehidupan kita, dimulai dengan orang-orang terdekat kita. Demikianlah orang-orang Kristen perdana bertindak, yang membawa pertobatan dari dunia kafir.

Dalam meditasi terdahulu , St. Josemaria berbicara mengenai teladan saudara-saudari pertama kita dalam iman: “Sebagai orang-orang yang tidak terpelajar, mereka mengetahui akan menghadapi kemartiran dan kematian yang keji. Namun demikian , mereka menerima peran mereka sebagai rekan sekerja Kristus dalam penyelamatan dunia, dan mereka berangkat untuk menggulingkan kekafiran dan menyebarkan kehidupan Yesus Kristus di seluruh dunia. Tidak lama kemudian, Saulus, yang dahulu pernah menjadi penganiaya mereka, bergabung bersama mereka , dia yang telah ‘menendang ke galah rangsang’ ( lih. Kis. 9:5 ), dan yang sekarang menyertai mereka dalam pewartaan, dan dalam usaha mulia dimana mereka memeteraikan iman yang diwartakan dengan darah mereka. Mereka semua, dengan kemurnian mereka, memulai perjalanan untuk membersihkan air keruh dan najis dari dunia kafir. Mereka berusaha untuk memerangi kecenderungan masyarakat akan kenikmatan – melalui kebajikan kecil yang mereka lakukan, dengan kerendahan hati mereka dan kesopanan. . . Mereka mencapai jantung/pusat dunia kuno : Roma. Tapi apa yang bisa mereka lakukan di sana? Sejarah memberi kita jawabannya : Tahta kaisar digulingkan, dan hari ini, setelah dua ribu tahun, Petrus terus menjadi Uskup Roma.” [10]

Sekarang juga, dihadapkan pada tantangan evangelisasi baru, kita harus menjaga harapan kita menyala. Non est abbreviata manus Domini, [11] tangan Tuhan tidak kurang panjang. Tetapi, dibutuhkan pria dan wanita yang beriman untuk memperbaharui keajaiban yang tertulis dalam Kitab Suci. Beberapa hari yang lalu, Paus mengeluarkan seruan apostolik Evangelii Gaudium , dengan kesimpulan dari Sidang Umum Sinode para Uskup baru-baru ini, khususnya tentang evangelisasi baru. Saya mendorong anda sekalian untuk mempelajari tulisan ini, yang menawarkan pemahaman baru untuk memberikan dorongan yang lebih besar bagi usaha besar ini.

Saya tidak ingin mengabaikan fakta bahwa 12 Desember mendatang, Pesta Santa Perawan Maria dari Guadalupe, adalah salah satu peringatan lainnya dari pewahyuan ilahi yang St. Josemaría – melalui kata-kata dari Kitab Suci – dengarkan di tahun 1931. Ini menggema di kedalaman jiwanya, di saat-saat hambatan besar untuk perkembangan Karya: inter medium montium pertransibunt aquae, [12] mata-mata air kehidupan akan mengalir di antara gunung-gunung, mengatasi segala rintangan, semua yang menentang kerajaan Allah dalam jiwa mereka, dalam kehidupan Gereja dan kemanusiaan. Karena inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.[13] Dengan demikian kita akan membantu mewujudkan harapan Bapa kita, yang ditemui dari bibirnya dan dari apa yang ia tulis sejak berdirinya Opus Dei : regnare Christum volumus! Kami ingin Kristus meraja.

Hari ini dimulai masa Adven, minggu-minggu persiapan bagi peringatan Kelahiran Tuhan kita. Hari-hari ini bisa menjadi kesempatan yang baik – mengagumi sekali lagi akan kebaikan dan kemurahan Allah Bapa, yang mengutus Anak-Nya ke dalam dunia – untuk memperbaharui keinginan kita untuk tetap terbuka setiap saat bagi terang dan sabda Allah, terutama saat kita membaca dan merenungkan Kitab Suci.

Pintu gerbang menuju perayaan ini adalah Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa: guru iman, harapan kita dan teladan luar biasa akan bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama demi Allah, dengan segenap hati, pikiran dan perasaan kita sepenuhnya tenggelam dalam diri-Nya. Mari kita menempatkan perhatian besar dalam mempersiapkan perayaan ini , yang kini semakin dekat, dengan penuh cinta bakti kepada Ibu kita di Surga.

Dalam doa kita, marilah kita memberikan ruang yang cukup bagi ujud-ujud Gereja dan Paus, untuk rekan-rekan kerjanya, untuk ujud-ujud saya, untuk semua kebutuhan spiritual dan material dari pria dan wanita di zaman ini. Mari kita tidak pernah bergeming ( syukur kepada Allah, saya yakin hal ini tidak terjadi ) pada perhatian akan masalah spiritual dan dunia – pada masa tragedi saat ini – yang mempengaruhi begitu banyak orang di seluruh dunia.

Ada beberapa hari peringatan Karya yang berlangsung di bulan ini, antara lain pembentukan Kolose Roma dari Bunda Kita, pada tahun 1953. Mari kita bersyukur kepada Allah untuk semua tonggak dalam sejarah Karya.

Dengan segenap kasih sayangku, saya memberkati kalian,

Bapamu,

+ Javier

Roma , 1 Desember 2013



[1] Lukas 17:5

[2] Roma 10:17

[3] Yohanes 1:9

[4] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 1913, No.4.

[5] Ibid., No.17

[6] St. Josemaría, Jalan, No.267 .

[7] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.46.

[8] St. Josemaría, Catatan diambil pada pertemuan keluarga, 17 Februari 1974.

[9] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.18.

[10] St. Josemaría, Catatan diambil dari meditasi, 26 Juli 1937.

[11] Yesaya 59:1.

[12] Mazmur 103 ( 104 ): 10 ( Vulg. ).

[13] 1 Yohanes 5:4.

Catatan:

Surat Bapa Prelat Opus Dei bulan Desember ini diterjemahkan dari website resmi Opus Dei Internasional. Ini belum merupakan terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia. Ini hanyalah terjemahan sementara bagi yang memerlukan, sambil menunggu keluarnya terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia yang sementara disusun oleh anggota Opus Dei dari cabang wanita.

Renungan Minggu Adven III (Minggu Gaudete)

MINGGU ADVEN III (TAHUN LITURGI – A)

Bacaan I: Yesaya 35: 1-6a, 10

Mazmur Tanggapan: Mazmur 146: 7, 8-9a, 9bc-10

Bacaan II: Yakobus 5: 7-10

Bacaan Injil: Matius 11: 2-11

Pengharapan yang mendatangkan Sukacita

Yohanes Pembaptis tampil sebagai seorang nabi akhir dari Perjanjian Lama, yang mempersiapkan jalan bagi kedatangan Tuhan. Pewartaan Yohanes Pembaptis menggemakan suatu seruan pertobatan untuk memperoleh janji Allah dalam diri Yesus, Putra-Nya. Saat dimana padang gurun dan padang kering akan bergirang, padang belantara akan bersorak-sorak dan berbunga, dimana  kemuliaan Tuhan dan semarak Allah kita akan bercahaya.[1]

Kenyataan hidup dunia sekarang ini yang diwarnai dengan berbagai kesukaran, seringkali memperhadapkan orang-orang kristen pada pertanyaan akan janji, kehadiran dan keadilan Tuhan. Kita harus selalu ingat bahwa hidup kristiani adalah sebuah kesaksian pengharapan. Pengharapan akan janji-janji Tuhan. Suatu pengharapan yang menuntut kesetiaan untuk percaya di saat seolah-olah tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun seolah-olah tidak ada dasar untuk berharap.“Kuatkanlah hati, janganlah takut!” [2]

Bagaikan seorang petani yang menantikan hujan awal dan akhir [3] , demikianlah setiap orang kristen hendaknya bersabar serta bertekun dalam iman, dan membiarkan keadilan sepenuhnya berada di tangan Allah, karena Ia adalah Hakim di pintu gerbang. [4]

Kesukaran akan selalu ada. Meskipun demikian, janganlah takut akan dunia. Takutlah akan Tuhan, yang telah mengalahkan dunia. Kekuatiran akan kesukaran hidup, kelekatan akan dunia, apalagi ketakutan akan hari Tuhan, bukanlah cara bersikap dari seorang kristen. Setiap saat kita harus mempersiapkan diri dan siap-sedia menantikan hari Tuhan. Kita justru harus mendambakan akan hari itu, bahkan ingin mempercepatnya.  Adveniat regnum tuum! [5]

Ketika murid-murid Yesus menyampaikan pertanyaan Yohanes Pembaptis, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” [6], Yesus menanggapi bukan dengan jawaban “Ya”. Yesus memberi pernyataan yang justru jauh lebih jelas daripada sekedar menjawab “Ya”, suatu pernyataan tak terbantahkan akan kuasa Allah yang bekerja dalam diri-Nya.

“Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik.” [7]

Gereja Katolik sedunia memasuki Minggu Adven III, yang dikenal juga dengan nama Minggu Gaudete (Bersukacitalah)

Gereja Katolik sedunia memasuki Minggu Adven III, yang dikenal juga dengan nama Minggu Gaudete (Bersukacitalah) 

Sama seperti Yesus, demikianlah setiap orang kristen seharusnya dikenal. Bukan sekedar apa yang dikatakan, tetapi apa yang dilakukan. Adalah tidak mungkin berbicara tentang Yesus, kalau hidup kita tidak menjadi kesaksian akan Dia yang menyembuhkan, yang memberkati hidup setiap orang. Pewartaan Kerajaan Allah yang kita lakukan harus nyata dalam perbuatan, dalam karya kita. Zelo zelatus sum pro Domino Deo exercituum.[8] Itulah yang selalu harus kita pikirkan dan lakukan. Tidak ada cara lain yang lebih baik dalam menunjukkan pengharapan sejati akan kedatangan Tuhan. Dunia boleh saja memalingkan wajah mereka dari Penciptanya, tetapi kamu, taklukkanlah dunia! Jadilah terang! Hidup kita, kerja kita, seluruh diri kita harus menjadi suatu kesaksian iman bahwa inilah seorang kristen sejati. Bukan soal seberapa hebat karya kita, karena seperti kata Beata Ibu Teresa dari Calcutta, bahwa sebenarnya “dalam hidup ini kita tidak perlu melakukan hal-hal besar. Kita hanya perlu melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Bukan soal berapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan berapa banyak cinta yang kita curahkan saat melakukan hal-hal itu. Bukan soal berapa banyak yang kita beri, melainkan seberapa banyak cinta yang kita curahkan dalam pemberian itu.”

Anda bisa menjadi seorang guru yang penuh dedikasi, penyapu jalan yang rajin, dokter yang menentang aborsi, hakim yang adil, pedagang yang jujur, politisi yang memperjuangkan kepentingan umum, seorang ibu rumah tangga yang membesarkan anak-anaknya dalam kelimpahan cinta, dan berbagai karya lainnya. Sekecil dan sesederhana apapun karya kita, asalkan kita melakukannya dengan cinta, kesetiaan akan Iman Gereja, dan menjadikannya sebagai persembahan yang harum dan berkenan di hati Allah, maka dengan sendirinya tanda-tanda iman ini akan bercahaya dan mendatangkan sukacita bagi dunia, sehingga orang boleh melihat segala karya kita yang baik dan memuliakan Bapa di surga. Panggilan kita adalah untuk menguduskan diri, menguduskan kerja, serta menguduskan dunia melalui kerja. Berikan suatu motif adikodrati pada pekerjaanmu sehari-hari, dan engkau akan menyucikan pekerjaanmu itu.[9]

Semuanya itu hanya mungkin dilakukan bila kita memiliki kerendahan hati untuk dibentuk dan dipakai Tuhan bagi kemuliaan-Nya. Yohanes Pembaptis sudah menunjukkan siapa Sang Guru kerendahan hati. Di hadapan kita, telunjuk kenabian Yohanes Pembaptis teracung dengan jelas, “Ecce Agnus Dei qui tollit peccatum mundi!” [10]. Dia yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia.

Masa Adven ini adalah saat yang tepat untuk merenungkan kerendahan hati Tuhan. Sebagaimana Tuhan dan Guru kita telah lebih dahulu mengosongkan diri-Nya, kita pun diajak untuk mengosongkan diri dari segala yang bukan Allah, sehingga Dia dapat memenuhi diri kita dan berkarya seluas-luasnya dalam diri kita, agar orang melihat dan mendengar Tuhan melalui hidup & karya kita. Dengan demikian, sebagai orang-orang yang dibebaskan, kelak kita boleh masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, diliputi kegirangan dan sukacita abadi.[11] (VFT)

“Gaudete, gaudete! Christus est natus ex Maria virgine, gaudete!”[12]


[1] Bdk. Yesaya 35:1-2

[2] Yesaya 35:4b

[3] Bdk. Yakobus 5:7b

[4] Yakobus 5:9c

[5] Datanglah kerajaan-Mu! (Doa Bapa Kami)

[6] Matius 11:3b

[7] Matius 11:4-5

[8] Aku bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan semesta alam. (1 Raja-Raja 19:10a)

[9] Jalan, pasal 359

[10] Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia! (Yohanes 1:29)

[11] Bdk. Yesaya 35:10

[12] Bersukacitalah, bersukacitalah! Kristus telah lahir dari perawan Maria, bersukacitalah! (Himne Gaudete)