Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Yohanes Paulus II dan Yohanes XXIII

image

Hari ini, tepat setahun yang lalu (27/04/14), Bapa Suci Paus Fransiskus atas nama seluruh Gereja, memaklumkan 2 orang Paus besar ini untuk dikanonisasi / digelari “Kudus” (Santo).

Semoga St. Yohanes Paulus II dan St. Yohanes XXIII menjadi teladan bagi para Uskup dan para Imam di seluruh dunia, akan bagaimana sejatinya seorang Gembala yang baik bagi domba-dombanya.

St. Yohanes Paulus II dan St. Yohanes XXIII, doakanlah kami. Amin.

Pax, in aeternum.
Fernando

Renungan Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

MINGGU ADVEN IV ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Yesaya 7: 10-14

Mazmur Tanggapan – Mazmur 24: 1-2. 3-4b. 5-6

Bacaan II – Roma 1: 1-7

Bacaan Injil – Matius 1: 18-24

 

Dia Hadir Dalam Kesederhanaan

Imanuel. Allah beserta kita. Inilah inti pewartaan sabda di Minggu Adven IV ini. Demikianlah tanda Iman yang dijanjikan Allah di tengah kekacauan Kerajaan Yehuda kepada Raja Ahaz [1]. Suatu janji yang memperoleh kegenapannya saat Maria menjawab “Ya” untuk mengandung Putra Allah, saat Yusuf bangkit dari “Malam Gelapnya” untuk merangkul kehendak Allah dengan menerima Maria sebagai isterinya [2]. Suatu janji yang baru dapat dimengerti sepenuhnya dalam terang kemuliaan Paska [3], sebagaimana diperkenalkan oleh rasul Paulus melalui salam terpanjang dari semua suratnya.

Berbeda dengan Raja Ahaz yang melelahkan Allah [4] dengan ketegaran hatinya, dalam diri Maria & Yusuf, Gereja melihat suatu teladan beriman. Iman untuk mempercayai Tuhan di dalam kegelapan. Mereka adalah orang-orang yang sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan mereka, terdapat Iman yang sejati, tanpa syarat dan dipenuhi kepercayaan tanpa batas. Disaat sukacita Natal semakin mendekat, di Minggu Adven IV ini, Gereja mengajak kita untuk mendekati tanda-tanda Iman dari Tuhan dalam kesederhanaan, dengan hati yang dipenuhi cinta akan Allah dan kehendak-Nya. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya mengapa suatu janji keselamatan harus diawali dengan kegelapan iman, dimana Maria & Yusuf diminta untuk menjawab “Ya” kepada kehendak Allah, disaat fakta yang ada memberi mereka begitu banyak alasan untuk menjawab “Tidak”. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya kesederhanaan Tuhan yang mau masuk dalam kehidupan sejarah manusia dalam diri Kanak-Kanak Yesus di Bethlehem. Akal budi kita sulit menerima kenapa Sang Anak Domba, harus menjalani hidup yang dipenuhi penolakan, penyangkalan, dan tanpa suara digiring untuk diadili layaknya seorang penjahat. Akal budi kita tidak bisa menyelami cinta Bapa dalam diri Putra-Nya, yang rela mati di Kalvari dalam keadaan yang teramat hina dan keji. Akal budi kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan yang demikian nyata dalam kesederhanaan Ekaristi/Hosti Kudus. Akal budi kita tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan dalam roti kecil, bahwa dengan menyantap roti yang satu dan sama, kita benar-benar menyantap Tubuh Tuhan sendiri dan menjadi satu kesatuan dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja-Nya.

Apa yang tidak bisa diterima dan dilihat oleh sepenuhnya akal budi, hanya bisa dimengerti dalam kuasa cinta. Allah adalah Cinta/Kasih. Karena itu, kita yang tercinta karena Cinta, hanya bisa mendekati dan memahami Dia dalam cinta. Dia yang kekurangan cinta dengan sendirinya kekurangan iman, kekurangan pengharapan. Teramat sulit baginya untuk melihat kehadiran Tuhan yang paling nyata dalam kesederhanaan sakramen-sakramen Gereja, apalagi untuk menerima buah-buah melimpah dari semua anugerah Ilahi itu.

Tuhan hadir dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, dalam kesederhanaan kita pun dipanggil untuk melayani Dia, untuk setia melakukan perkara-perkara kecil dengan cinta yang besar. Sama seperti kemuliaan Tuhan hanya dapat dilihat oleh mata manusia saat Ia merendahkan diri, dan masuk dalam kehidupan manusia dalam kesederhanaan Bethlehem, demikian pula Terang Kristus hanya bisa menyinari dunia melalui diri kita bilamana orang melihat ketekunan kita melakukan segala karya yang dipercayakan Tuhan dalam kesederhanaan dan cinta yang besar.

Jadilah keluarga yang bersekutu dalam doa dan sabda, suami-istri yang setia, anak-anak yang penuh hormat dan bakti. Jadilah seorang Imam yang kudus dan memiliki kehausan akan jiwa-jiwa. Jadilah seorang perawat yang merawat para pasien dengan cinta kasih Kristus. Jadilah seorang pelukis yang senantiasa menceritakan karya mengagumkan Tuhan dalam lukisan-lukisanmu. Jadilah seorang ahli rekayasa genetika yang melakukan penelitian yang beretika dan menghargai martabat hidup manusia. Jadilah seorang  pemimpin negara yang jujur dan adil. Apapun panggilan, profesi dan karya yang kalian lakukan (sebagaimana Tuhan memanggilmu), lakukanlah itu dalam kesederhanaan, ketekunan dan kesadaran untuk menjadikannya sebagaia suatu persembahan yang  berkenan di hati Allah. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang senantiasa mencari wajah-Nya [5]. Dengan demikian terang kemuliaan Tuhan akan bersinar dalam dirimu dan dengan seluruh dunia akan berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (VFT)



[1] Bdk. Yesaya 7: 14

[2] Bdk. Matius 1: 24

[3] Bdk. Roma 1: 4

[4] Bdk. Yesaya 7: 13

[5] Bdk. Mazmur 24: 6

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei (Desember 2013)

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini


Dengan ditutupnya Tahun Iman, Bapa Prelat merefleksikan cara-cara untuk memastikan beberapa bulan terakhir ini meninggalkan kesan yang mendalam bagi kehidupan kita sehari-hari.

Anak-anakku yang terkasih : semoga Yesus menjaga putri -putraku untukku!

Uskup Roma telah menutup Tahun Iman. Selama bulan-bulan ini, dengan bantuan Allah, kami telah mencoba untuk menumbuhkan dalam kebajikan teologi ini, akar dari kehidupan Kristen, meminta dengan sangat kepada Tuhan, adauge Nobis fidem,[1] meningkatkan iman kita – dan dengan itu harapan, cinta dan kesalehan kita. Sekarang, dengan dorongan yang kita terima selama bulan-bulan rahmat ini, marilah kita berusaha untuk terus berjalan hari demi hari di jalan ini, yang menghantar kita ke surga. Mari kita meminta bantuan kepada Bunda kita, Guru iman dan kemesraan dengan Allah, sehingga ia mewujudkan keinginan kita untuk setia kepada Puteranya dan kepada Gereja.

Dokumen-dokumen magisterium Gereja ( dan juga baru-baru ini ensiklik Lumen Fidei ) telah menekankan dua karakteristik penting yang terkandung dalam kesejatian iman kita, seperti yang ditampilkan kepada kita dalam Perjanjian Baru. Santo Paulus menekankan bahwa fides ex auditu[2],  bahwa iman timbul dari pendengaran akan Firman Allah, dibacakan dan disambut dalam Gereja . Sementara Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa Yesus Kristus, Putra Allah yang menjadi manusia, adalah cahaya sejati yang menerangi setiap orang yang datang ke dalam dunia[3], memberikan kita kemampuan untuk mengetahui rahasia-rahasia yang tersembunyi dalam Allah. Terang dan Firman, Firman dan Terang , menandai bagi kita aspek yang tidak terpisahkan dari iman yang kita akui. “Karena itu, ada kebutuhan mendesak, untuk melihat sekali lagi bahwa iman adalah terang , karena sekali nyala api iman padam, semua lampu lainnya mulai redup.” [4] Mari kita bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati, putri-putraku, untuk terang cahaya yang Roh Kudus, dengan menggunakan magisterium Gereja dan kehidupan para kudus, terus-menerus nyalakan dalam diri kita. Marilah kita bersemangat untuk menerimanya, dan membiarkan diri kita dibimbing oleh Parakletos dalam kehidupan kita sehari-hari.

Pada pertengahan bulan yang lalu, sebuah konferensi tentang “St. Josemaria dan Pemikiran Teologi” diselenggarakan di Roma. Mereka yang hadir menganalisa bagaimana pewartaan dan kesaksian dari para kudus membawa pencerahan baru untuk menggali lebih dalam akan iman kita dan, sebagai konsekuensinya, untuk memperdalam eksposisi teologis dari doktrin kita. Simposium ini telah memberikan kesempatan baru untuk membuat semakin dikenalnya, di bidang teologi, nuansa khusus dari pesan, yang diterima Bapa Pendiri dari Tuhan pada tanggal 2 Oktober 1928, dengan misi menularkan kepada orang Kristen, terutama mereka yang tenggelam dalam hidup keluarga, profesional, sosial, dan aktivitas lainnya dari kehidupan sehari-hari.

Selama beberapa bulan terakhir, saya telah berfokus pada kebenaran iman yang terkandung dalam pasal-pasal dari Pengakuan Iman (Credo) kita. Sekarang saya ingin menolong kalian, dan menolong diri saya sendiri, menarik konsekuensi yang akan mengilhami kehidupan kita dengan kebajikan ini dalam beberapa bulan mendatang, yaitu, untuk fokus pada bagaimana iman harus ditunjukkan dalam perilaku kita sehari-hari, sehingga itu benar-benar akan menerangi pikiran kita, menguatkan kehendak kita, dan bernyala dalam hati kita, untuk mengungkapkan pengetahuan dan kasih Allah dalam perilaku kita sendiri, dan membawanya kepada semua jiwa .

Titik awalnya adalah kepercayaan penuh bahwa dalam Gereja, kita memiliki kepenuhan sarana pengudusan yang Yesus tinggalkan bagi kita. Secara khusus ini termasuk penerimaan sakramen-sakramen, pemenuhan perintah-perintah Allah dan Gereja, serta doa, sebagaimana dijelaskan dalam ensiklik Lumen Fidei .

Sakramen-sakramen adalah tindakan Kristus dimana Kemanusiaan Yang Mahakudus, mulia di Surga, datang dalam perjumpaan seketika dan langsung dengan jiwa-jiwa, untuk menguduskan mereka. Roh Kudus juga mengikuti jalan lain, yang tidak kita kenal, untuk menarik orang kepada Allah. Tetapi, sebagaimana dikatakan oleh Paus : “Budaya kita telah kehilangan arti kehadiran nyata dan karya Tuhan dalam dunia. Kita berpikir bahwa Allah dapat ditemukan di luar, di sisi lain realitas, jauh dari relasi kita sehari-hari. Tapi jika demikian, sekiranya Tuhan tidak bisa berkarya dalam dunia, cinta-Nya tidak akan benar-benar kuat, demikian nyata.” [5]

Mari kita perhatikan sekali lagi ajaran St. Josemaria, yang sudah dirumuskan dengan jelas sejal awal: Adalah perlu untuk percaya bahwa Allah selalu dekat dengan kita. Terlalu sering kita hidup seolah-olah Dia berada di suatu tempat jauh – dimana bintang-bintang bersinar. Dan kita lupa bahwa Ia sebenarnya terus berada bersama kita.

“Karena ia adalah Bapa yang penuh kasih. Dia mengasihi kita masing-masing lebih dari semua ibu di dunia bisa mengasihi anak mereka – menolong kita, menginspirasi kita, memberkati … dan mengampuni . . . Kita harus benar-benar yakin, sungguh-sungguh menyadari, bahwa Allah, yang dekat bagi kita yang ada di surga, adalah Bapa, dan benar-benar Bapa kita.” [6]

Hal ini terutama nyata saat kita menerima Sakramen Pengampunan dan Ekaristi. Tergerak oleh kebenaran iman ini, betapa amannya kita dalam pengampunan dan kedekatan dengan Tuhan , betapa damainya perasaan yang dicurahkan ke dalam jiwa kita, dan betapa rindunya kita untuk menyebarkan kedamaian ini kepada orang-orang di sekitar kita! Oleh karena itu, saya tidak akan pernah bosan mendesak agar, setiap kali kita meminta bantuan dari sakramen-sakramen ini, kita harus melakukannya dengan penuh keyakinan bahwa Roh Kuduslah yang menarik kita, melalui Kristus, kepada kasih Bapa.

Mari kita menerapkan segala pertimbangan ini untuk pertempuran perjuangan batin kita sendiri. Kita bisa menjadi orang-orang kudus, kita harus menjadi orang-orang kudus, terlepas segala cacat dan kejatuhan kita, karena Allah memanggil kita untuk masuk ke dalam keintiman hidup ilahi-Nya, sebagai anak-anaknya di dalam Kristus, dan Dia menawarkan kepada kita semua obat yang dibutuhkan. Dengan rahmat sakramen-sakramen dan dengan doa, menjadi lebih mudah untuk memenuhi perintah-perintah dari hukum ilahi dan untuk setia kepada tugas-tugas khusus dari situasi hidup setiap orang. “Sepuluh Perintah Allah bukanlah seperangkat perintah negatif, tetapi panduan konkret untuk muncul dari padang pasir keegoisan dan cinta diri, untuk masuk ke dalam dialog dengan Allah, untuk dipeluk oleh rahmat-Nya dan kemudian, untuk membawa rahmat itu kepada orang lain.” [7]

Mari kita memohon supaya Tuhan memberikan kita iman yang kokoh, iman yang akan menghidupkan semua tindakan kita. Tentu saja kita percaya pada firman Allah, kita membaca dan merenungkan Injil dengan kekaguman, tetapi mungkin itu tidak tenggelam ke dalam jiwa kita, ke titik yang mengubahkan kita dan setiap tindakan kita. Dan ketika kesukaran muncul, ketika kita merasa gersang atau menemui penolakan dari lingkungan kita, kita bisa menjadi putus asa. Apa mungkin iman kita telah tertidur? Bukankah kita harus lebih mengandalkan karya Parakletos, yang diam di dalam jiwa kita melalui kasih karunia? Tidakkah terjadi bahwa kadang-kadang kita percaya terlalu mengandalkan kekuatan kita sendiri? Mari kita merenungkan transformasi yang dilalui para rasul pada hari Pentakosta dan mencoba untuk hidup sesuai dengan pedoman ilahi kita temukan disana, yang disampaikan kepada kita juga melalui praktek-praktek kesalehan Kristiani yang selalu disarankan oleh Gereja: doa batin, dan doa-doa lisan ( terutama doa Rosario ), persembahan penyangkalan diri, membuat pemeriksaan batin, dan menunaikan pekerjaan dengan baik di hadirat Allah.

“Kehidupan batin,” sebagaimana diajarkan oleh Bapa kita, “bukan soal perasaan. Ketika kita melihat dengan jelas pentingnya pengorbankan diri kita hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, seumur hidup kita, demi Cinta yang menanti kita di surga: betapa banyak cahaya yang kita terima! Kita harus menyimpan semua cahaya ini, anak-anakku. Kita perlu membuat dalam jiwa kita suatu wadah untuk menangkap semua rahmat ini dari Allah: kejelasan, cahaya, sukacita pemberian diri kita. Kemudian ketika malam datang, kegelapan dan cobaan pahit, kita dapat menarik kekuatan dari persediaan kita, dari air murni kasih karunia Allah. Meskipun saat ini saya mungkin buta, saya bisa melihat, meskipun saya mungkin kering, saya disegarkan oleh air yang mengalir dari Hati Kristus menuju kehidupan kekal. Kemudian, anak-anakku, kita akan bertahan dalam perjuangan.” [8]

Kemudian kita akan dapat membantu orang lain sehingga mereka juga dapat melakukan perjalanan dengan aman di sepanjang perjalanan iman. Karena “iman tidak hanya sekedar mengarahkan pandangan kepada Yesus, tetapi melihat semua hal sebagaimana Yesus sendiri melihat, dengan mata-Nya sendiri:  mengambil bagian dalam cara-Nya melihat.” [9] Pandangan Tuhan kita terarah pada setiap pribadi dan kepada semua orang. Dia datang ke dunia kita ini untuk  setiap pribadi dari antara kita, dan untuk semua orang, Ia terus mengerjakan karya keselamatan-Nya . Misi kita adalah untuk membawa pada perjumpaan dengan Yesus semua orang yang kita temui di jalan kehidupan kita, dimulai dengan orang-orang terdekat kita. Demikianlah orang-orang Kristen perdana bertindak, yang membawa pertobatan dari dunia kafir.

Dalam meditasi terdahulu , St. Josemaria berbicara mengenai teladan saudara-saudari pertama kita dalam iman: “Sebagai orang-orang yang tidak terpelajar, mereka mengetahui akan menghadapi kemartiran dan kematian yang keji. Namun demikian , mereka menerima peran mereka sebagai rekan sekerja Kristus dalam penyelamatan dunia, dan mereka berangkat untuk menggulingkan kekafiran dan menyebarkan kehidupan Yesus Kristus di seluruh dunia. Tidak lama kemudian, Saulus, yang dahulu pernah menjadi penganiaya mereka, bergabung bersama mereka , dia yang telah ‘menendang ke galah rangsang’ ( lih. Kis. 9:5 ), dan yang sekarang menyertai mereka dalam pewartaan, dan dalam usaha mulia dimana mereka memeteraikan iman yang diwartakan dengan darah mereka. Mereka semua, dengan kemurnian mereka, memulai perjalanan untuk membersihkan air keruh dan najis dari dunia kafir. Mereka berusaha untuk memerangi kecenderungan masyarakat akan kenikmatan – melalui kebajikan kecil yang mereka lakukan, dengan kerendahan hati mereka dan kesopanan. . . Mereka mencapai jantung/pusat dunia kuno : Roma. Tapi apa yang bisa mereka lakukan di sana? Sejarah memberi kita jawabannya : Tahta kaisar digulingkan, dan hari ini, setelah dua ribu tahun, Petrus terus menjadi Uskup Roma.” [10]

Sekarang juga, dihadapkan pada tantangan evangelisasi baru, kita harus menjaga harapan kita menyala. Non est abbreviata manus Domini, [11] tangan Tuhan tidak kurang panjang. Tetapi, dibutuhkan pria dan wanita yang beriman untuk memperbaharui keajaiban yang tertulis dalam Kitab Suci. Beberapa hari yang lalu, Paus mengeluarkan seruan apostolik Evangelii Gaudium , dengan kesimpulan dari Sidang Umum Sinode para Uskup baru-baru ini, khususnya tentang evangelisasi baru. Saya mendorong anda sekalian untuk mempelajari tulisan ini, yang menawarkan pemahaman baru untuk memberikan dorongan yang lebih besar bagi usaha besar ini.

Saya tidak ingin mengabaikan fakta bahwa 12 Desember mendatang, Pesta Santa Perawan Maria dari Guadalupe, adalah salah satu peringatan lainnya dari pewahyuan ilahi yang St. Josemaría – melalui kata-kata dari Kitab Suci – dengarkan di tahun 1931. Ini menggema di kedalaman jiwanya, di saat-saat hambatan besar untuk perkembangan Karya: inter medium montium pertransibunt aquae, [12] mata-mata air kehidupan akan mengalir di antara gunung-gunung, mengatasi segala rintangan, semua yang menentang kerajaan Allah dalam jiwa mereka, dalam kehidupan Gereja dan kemanusiaan. Karena inilah kemenangan yang mengalahkan dunia, iman kita.[13] Dengan demikian kita akan membantu mewujudkan harapan Bapa kita, yang ditemui dari bibirnya dan dari apa yang ia tulis sejak berdirinya Opus Dei : regnare Christum volumus! Kami ingin Kristus meraja.

Hari ini dimulai masa Adven, minggu-minggu persiapan bagi peringatan Kelahiran Tuhan kita. Hari-hari ini bisa menjadi kesempatan yang baik – mengagumi sekali lagi akan kebaikan dan kemurahan Allah Bapa, yang mengutus Anak-Nya ke dalam dunia – untuk memperbaharui keinginan kita untuk tetap terbuka setiap saat bagi terang dan sabda Allah, terutama saat kita membaca dan merenungkan Kitab Suci.

Pintu gerbang menuju perayaan ini adalah Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Dosa: guru iman, harapan kita dan teladan luar biasa akan bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama demi Allah, dengan segenap hati, pikiran dan perasaan kita sepenuhnya tenggelam dalam diri-Nya. Mari kita menempatkan perhatian besar dalam mempersiapkan perayaan ini , yang kini semakin dekat, dengan penuh cinta bakti kepada Ibu kita di Surga.

Dalam doa kita, marilah kita memberikan ruang yang cukup bagi ujud-ujud Gereja dan Paus, untuk rekan-rekan kerjanya, untuk ujud-ujud saya, untuk semua kebutuhan spiritual dan material dari pria dan wanita di zaman ini. Mari kita tidak pernah bergeming ( syukur kepada Allah, saya yakin hal ini tidak terjadi ) pada perhatian akan masalah spiritual dan dunia – pada masa tragedi saat ini – yang mempengaruhi begitu banyak orang di seluruh dunia.

Ada beberapa hari peringatan Karya yang berlangsung di bulan ini, antara lain pembentukan Kolose Roma dari Bunda Kita, pada tahun 1953. Mari kita bersyukur kepada Allah untuk semua tonggak dalam sejarah Karya.

Dengan segenap kasih sayangku, saya memberkati kalian,

Bapamu,

+ Javier

Roma , 1 Desember 2013



[1] Lukas 17:5

[2] Roma 10:17

[3] Yohanes 1:9

[4] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 1913, No.4.

[5] Ibid., No.17

[6] St. Josemaría, Jalan, No.267 .

[7] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.46.

[8] St. Josemaría, Catatan diambil pada pertemuan keluarga, 17 Februari 1974.

[9] Paus Fransiskus, Ensiklik Lumen Fidei, 29 Juni 2013, No.18.

[10] St. Josemaría, Catatan diambil dari meditasi, 26 Juli 1937.

[11] Yesaya 59:1.

[12] Mazmur 103 ( 104 ): 10 ( Vulg. ).

[13] 1 Yohanes 5:4.

Catatan:

Surat Bapa Prelat Opus Dei bulan Desember ini diterjemahkan dari website resmi Opus Dei Internasional. Ini belum merupakan terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia. Ini hanyalah terjemahan sementara bagi yang memerlukan, sambil menunggu keluarnya terjemahan resmi dalam Bahasa Indonesia yang sementara disusun oleh anggota Opus Dei dari cabang wanita.

Pohon Natal telah menyala di Vatikan

Penyalaan pohon Natal di Vatikan

Pohon Natal telah dinyalakan tadi malam di Kota Suci Roma, Vatikan.

VATICAN CITY  – Lampu telah dinyalakan di pohon Natal yang terletak di alun-alun Gereja Basilika Santo Petrus, Vatikan. Sama seperti lampu Natal di mana-mana , ini adalah pengingat bahwa Yesus adalah terang dunia , kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Meskipun dalam Upacara penyalaan phon Natal tadi malam (13 Desember), belia tidak hadir secara langsung, Bapa Suci secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada para donatur dari Jerman dan negara tetangga Ceko untuk pohon natal itu, dalam suatu audiensi pada hari sebelumnya .

Pohon dengan tinggi 82 kaki ini adalah hadiah dari kota Jerman Waldmunchen , tapi pohon itu tumbuh di perbatasan dengan Republik Ceko . Para Walikota dari Bavaria di Jerman dan Bohemia di Republik Ceko saling bergandengan tangan untuk menyalakan pohon Natal itu tadi malam.

” Pohon ini bersifat internasional , ” kata Paus kepada 350 anggota rombongan yang melakukan perjalanan ke Vatikan untuk upacara penyalaan pohon.

Kisah kelahiran Yesus dalam Injil menceritakan bagaimana para gembala menggembalakan domba-domba mereka, yang kemudian dikelilingi oleh ” cahaya yang besar , ” kata Paus . ” Hari ini juga, Yesus terus menghalau kegelapan dosa dan membawa bagi umat manusia sukacita dari pancaran cahaya Ilahi . ”

” Kita harus membiarkan diri kita diselimuti oleh cahaya kebenaran -Nya , sehingga sukacita Injil akan mengisi hati dan kehidupan semua orang yang bertemu dengan Yesus, ” katanya .

Saat matahari hendak terbenam, para peziarah Jerman dan Ceko – banyak di anatar mereka mengenakan kostum tradisional – berkumpul dengan para pejabat Vatikan untuk upacara penyalaan pohon Natal. Perayaan dimulai dengan band polisi Vatikan, yang memainkan lagi kebangsaan Vatikan dan Jerman .

Orang-orang Bavaria mengatakan mereka sangat bangga bahwa itu adalah untuk kedua kalinya mereka diberi kesempatan menyumbangkan pohon untuk Vatikan , yang pertama pada tahun 1984 .

Kardinal Giuseppe Bertello , Presiden dari Komisi yang mengatur pemerintahan Negara Kota Vatikan , mengatakan kepada para peziarah bahwa sementara pohon Natal adalah tradisi Eropa utara , itu adalah kebiasaan mendiang Paus Yohanes Paulus II yang dibawa ke Vatikan pada tahun 1982 .

” Pohon itu , dalam setiap kebudayaan , merupakan simbol kehidupan , ” kata kardinal . Sebuah pohon Natal adalah pengingat bahwa ” Tuhan datang untuk memberi kita hidup-Nya . Mari kita menyambutnya dalam hati kita dan , dalam terang Cahaya-Nya , mari kita membawa-Nya bagi dunia . “