KOTEK (Kolom Katekese) Minggu V Prapaskah

image

KENAPA SALIB DAN PATUNG DISELUBUNGI KAIN ?

Hari ini Gereja Katolik sedunia memasuki Minggu V Prapaskah, yang dikenal juga dengan sebutan “Minggu Sengsara” (Passiontide).
Tanda yang paling kentara dari Minggu Sengsara ini adalah Tradisi “menyelubungi” Salib dan Patung dalam setiap bangunan Gereja, Kapela, Rumah Retret, dan berbagai tempat lainnya yang difungsikan untuk peribadatan umat.
Memang disayangkan bahwa pasca Konsili Vatikan II, banyak orang secara keliru menyikapi atau menafsirkan maksud “Aggiornamento” dari Konsili Suci ini, dan secara gegabah meninggalkan berbagai khazanah Tradisi Suci dalam Liturgi Gereja Katolik.
Bahkan, ada gerakan-gerakan terselubung dalam hidup menggereja, yang mencoba menghapus sama sekali kekayaan-kekayaan Liturgi ini.
Oleh karena itu, kita bersyukur bahwa di tengah kemunduran demikian, masih ada banyak Keuskupan dan Paroki yang berusaha melestarikan kekayaan Liturgi, khususnya perihal menyelubungi Salib dan Patung dengan kain, mulai Minggu V Prapaskah.

Dalam “KOTEK” (Kolom Katekese) minggu ini, saya ingin kita mendalami bersama sejarah, makna, serta penerapan yang benar dari Tradisi yang satu ini, melalui metode Katekese Q & A berikut.

Pertanyaan 1:
Kapan kita mulai menyelubungi Salib dan Patung dengan kain dan sampai kapan?
Jawaban:
Dari sejarahnya, Tradisi Suci menyelubungi dengan kain ini pertama kali dimulai di Jerman pada abad-9.
Pada waktu itu, tidak hanya Salib dan Patung, malah antara umat dan Altar Suci, dibentangkan kain selubung yang disebut “Hungertuch” (Hunger Cloth) sejak awal Masa Prapaskah. Ini juga berkaitan dengan tradisi Sakramen Pengakuan Dosa dalam bentuk penitensi publik, dimana para peniten tidak diperkenankan berada dalam gedung Gereja. Secara simbolis, tabir ini baru akan disobek/terbelah dua pada hari Rabu dalam Pekan Suci, dan para peniten dilepaskan dari dosa-dosa (absolusi).
Dalam keuskupan-keuskupan tertentu, berkembang juga kebiasaan tidak hanya menyelubungi, melainkan memindahkan sama sekali Salib dan Patung dari dalam gedung Gereja, dan baru dikembalikan sesaat sebelum Vigili Paskah.
Di kemudian hari seiring waktu, terjadi beberapa perubahan dan modifikasi dikarenakan tuntutan zaman dan pembaharuan Liturgi.
Sekarang, menurut norma umum yang berlaku dalam Gereja Katolik saat ini, Salib dan Patung mulai diselubungi kain sesaat sebelum Vesper I dari Minggu V Prapaskah.
Durasi menyelubungi Salib dan Patung ini bervariasi di berbagai Keuskupan dan Negara. Namun, umumnya salib-salib diselubungi sampai nantinya dibuka pada saat Ibadat Jumat Agung, sedangkan patung-patung diselubungi sampai sore hari sebelum Vigili Paskah.
Kain selubung yang digunakan biasanya berwarna ungu (tanpa corak), namun bisa juga diganti dengan warna lain, sesuai warna Liturgi pada hari tertentu dalam Pekan Suci, seperti warna putih (Kamis Putih) atau merah (Jumat Agung).
Sebagai catatan tambahan, selubung kain pada salib-salib dan patung-patung ini dilakukan, dengan pengecualian patung/gambar perhentian Jalan Salib, dan kaca grafir atau kaca patri yang bersifat rohani.

Pertanyaan 2:
Apa makna dari Tradisi Suci ini?
Jawaban:
Dalam buku panduan “Perayaan Liturgi Sepanjang Tahun“, terbitan Ignatius Press 2002, Msgr. Peter Elliot mengatakan bahwa, “menyelubungi Salib dan Patung dengan kain membantu kita untuk semakin memusatkan diri pada makna agung yang paling penting dari karya penebusan Kristus“.
Bila sebelumnya umat dibantu dalam doa dengan memandang Salib atau Patung, maka sekarang umat dihantar pada pengalaman doa yang “bersengsara”, dalam ketiadaan gambaran dan hiburan rohani dari memandang Salib atau Patung.
Seperti Yesus yang mengalami kegelapan saat berdoa dalam sakratul maut di Taman Gethsemani, demikian pula kita. Kalau dihayati dengan disposisi batin yang tepat, kita pun akan lebih memahami seruan Yesus, “Eli, Eli, lama sabakhtani?

Pertanyaan 3:
Di Paroki tertentu ditemukan bahwa bukan hanya menyelubungi Salib dan Patung, malah tempat Air Kudus/Suci pun dikosongkan selama Masa Prapaskah, dan diganti dengan abu/tanah. Apakah kebiasaan ini dibenarkan?
Jawaban:
Kebiasaan ini, kendati dengan dalih “preater legem“, kurang tepat dan tidak dibenarkan. Yang dibolehkan adalah mengosongkan tempat Air Kudus sejak memasuki Pekan Suci atau sejak Kamis Putih sampai Sabtu Suci, dengan tidak lupa memberi pengertian kepada umat itu adalah ungkapan persiapan bagi Liturgi Pemberkatan Air pada Vigili Paskah, sehingga umat memaknainya dalam terang Sukacita Paskah.
Kekosongan tempat Air Kudus tidak dibenarkan untuk digantikan dengan menaruh abu/tanah sebagai ganti.
Ada banyak cara lain untuk memaknai Pekan Suci, tanpa harus menggunakan cara-cara eksperimental yang berpotensi mengaburkan makna Karya Penebusan Kristus yang hendak ditampilkan oleh Liturgi Prapaskah.

Demikian “KOTEK” (Kolom Katekese) saya untuk Minggu ini. Semoga membantu kita sekalian untuk semakin mencintai Tradisi Suci, menyadari kekayaan Liturgi, dan menghantar kita memasuki Minggu Sengsara ini dengan semangat pertobatan yang sejati.

“Regnare Christum volumus!”

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥