Meditasi Harian 31 Maret 2016 ~ KAMIS DALAM OKTAF PASKAH

image

DIPANGGIL UNTUK MENGHANGUSKAN DUNIA

Bacaan:
Kis.3:11-26; Mzm.8:2a.5.6-7.8-9; Luk.24:35-48

Renungan:
Kendati menyedihkan, tidak dapat dipungkiri bahwa seringkali untuk mempercayai suatu peristiwa pernyataan kuasa Allah, manusia merasa perlu menuntut untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Seolah Tuhan Semesta Alam harus mempertanggung jawabkan Diri-Nya di hadapan makhluk ciptaan-Nya. Dan lebih memprihatinkan lagi, bahwa ketika Tuhan justru berkenan menyatakan Diri-Nya, dan menjawab kerinduan umat-Nya, tak jarang pula pernyataan kuasa Allah itu justru disikapi dengan keterkejutan dan ketakutan, sebagaimana dialami oleh para murid dalam Injil hari ini (bdk.Luk.24:37). Di kemudian hari Petrus pun diperhadapkan pada rasa keterkejutan dan ketakutan khalayak akan kuasa Allah yang bekerja dalam dan melalui dirinya, sehingga keluarlah perkataan, “Mengapa kamu heran?” (Kis.3:12).

Mungkin saja, kegagalan beriman semacam ini diawali dengan kegagalan, untuk menyadari kemuliaan Tuhan melalui hal dan peristiwa sederhana dalam hidup. Mazmur hari ini sebenarnya telah mengungkapkannya dengan begitu indah, yaitu bahwa sebenarnya, “Seluruh bumi menampakkan kemuliaan Tuhan“.
Milikilah kekaguman untuk menyadari kemuliaan Tuhan dalam angin yang berhembus, dedaunan yang berjatuhan, air sungai yang mengalir, bahkan lampu-lampu kota yang bercahaya, sehingga kamu tidak akan begitu terkejut atau takut seperti para murid, manakala Tuhan berkenan melakukan karya-Nya yang luar biasa di dalam dan melalui dirimu.

Apa yang dialami para murid, juga dialami oleh putra-putri Gereja di sepanjang sejarahnya. Banyak saudara-saudari seiman yang mengalami kesulitan untuk melangkah dalam peziarahan berimannya, dengan sungguh-sungguh membawa Injil Tuhan dan Tradisi Suci di hatinya. Seandainya setiap orang beriman sungguh-sungguh menyadari martabat Imam, Nabi, dan Raja yang mereka peroleh melalui Sakramen Baptis, maka kita akan mendapati putra-putri Cahaya yang sanggup mendatangkan Api atas dunia ini; untuk menghanguskan segala bangsa, segenap suku dan kaum dalam nyala api cinta dari Tuhan.
Secara jujur harus diakui bahwa arus dunia ini telah menghempaskan putra-putri Gereja pada sikap acuh tak acuh dalam hidup beriman. Si jahat telah menabur benih ketidakpedulian, sehingga kita tidak lagi menjalani hidup beriman kita dengan “utmost capacity and capability“. Tak jarang kita mendapati generasi umat beriman yang suam-suam kuku, dihimpit ketakutan dan kekuatiran, yang berujung pada keputusan bodoh untuk mengkompromikan imannya.

Semoga kita sungguh-sungguh menyadari panggilan luhur kita untuk menjadi saksi-saksi Injil secara otentik dan meyakinkan,yang dibuktikan melalui hidup dan karya.
Bersama Bunda Maria, Saksi Pertama dan Utama dari janji keselamatan yang dilahirkannya ke dunia, kiranya Gereja Kudus boleh melahirkan putra-putri Paskah yang telah dibenamkan dalam air Baptis, dan keluar darinya dengan membawa Api yang sanggup membakar seluruh dunia dalam perjumpaan dengan saksi-saksi Kebangkitan. Kamulah Israel yang baru.

Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Oleh keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. 
Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu” (Kis.3:25-26).

Bangkitlah! Bercahayalah! Kobarkanlah dunia ini dengan nyala api Cinta!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 30 Maret 2016 ~ RABU DALAM OKTAF PASKAH

image

KENALILAH KELUMPUHANMU

Bacaan:
Kis.3:1-10; Mzm.105:1-2.3-4.6-7.8-9; Luk.24:13-35

Renungan:
Kisah para Rasul hari ini bercerita mengenai mujizat yang dikerjakan oleh Petrus di depan Gerbang Indah. Saat naik ke Bait Allah, dengan ditemani oleh Yohanes, Petrus menyembuhkan seorang yang telah puluhan tahun mengalami kelumpuhan fisik. Untuk menjalani hidup dengan kelumpuhan fisik sejak lahirnya, tentu menjadi penderitaan teramat berat bagi pria malang itu. Seorang beriman pun dalam situasi hidup demikian, mungkin saja dapat tergoda pula untuk mempertanyakan Kerahiman Allah. Akan tetapi, bila direnungkan lebih mendalam, sebenarnya dunia saat ini menyaksikan bentuk kelumpuhan yang jauh lebih berat, yakni kelumpuhan mental dan spiritual.
Hidup beriman kita saat ini sungguh ditantang oleh rupa-rupa situasi hidup dimana Allah seolah tidak ada.

Korupsi serta ketidakadilan yang merajalela dan memiskinkan harkat maupun martabat manusia; budaya instan yang menyebabkan orang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan; penyesatan konsep ketuhanan yang berujung pada radikalisme, yang membenarkan teror dan pembunuhan dengan mengatasnamakan Tuhan; pasutri yang tidak bisa menerima kemalangan dalam hidup perkawinan dan kemudian memutuskan untuk berhenti berjalan bersama; pembelaan hak-hak asasi dan kesetaraan secara keliru, yang justru merusak bahkan mematikan kodrat kemanusiaan; perkembangan teknologi dan rekayasa genetika, yang merubah peradaban manusia menjadi tak ubahnya komoditas, atau ibarat produk yang dapat dipilih dari katalog; serta berbagai bentuk kelumpuhan mental dan spiritual lainnya.
Disadari atau tidak, sama seperti kedua murid yang berjalan pulang ke Emaus, ketika diperhadapkan pada misteri salib kehidupan yang tak terpahami, kita sering mengalami suatu kelumpuhan yang membuat kita berhenti melangkah maju menuju Allah. Ketika mengalami aneka pergumulan hidup yang menyulitkan, mendukakan, dan mengecewakan; tak jarang kita mengalami kelumpuhan rohani dan lupa akan janji-janji Tuhan dalam Kitab Suci.

Kekristenan tanpa salib adalah palsu. Demikian pula salib tanpa kebangkitan adalah kesia-siaan. Tetapi, syukur kepada Allah bahwa kita tidak hanya mengimani Dia yang mati bagi dosa-dosa kita, tetapi juga mengimani Dia yang bangkit dari kematian sebagai Pemenang atau maut. Perjalanan ke Emaus sebenarnya menggambarkan pula perjalanan peziarahan hidup beriman kita. Kegagalan memahami misteri salib dapat menjadikan hidup beriman terasa seperti beban bukannya kuk yang mendatangkan sukacita.
Banyak orang memilih berhenti memandang salib, dan memilih memalingkan wajah mereka dari salib.
Padahal di balik salib ada sukacita kebangkitan. Ada misteri iman yang sungguh memuliakan dalam makam yang kosong, yang menjadikan kita manusia-manusia Paskah.

Renungkanlah kebenaran Sabda Tuhan hari ini. Kalau pria malang yang lumpuh sejak lahirnya saja dapat disembuhkan oleh Petrus karena kuasa nama Tuhan kita Yesus Kristus, apalagi kamu, yang setiap hari menyambut Tubuh Tuhan dalam Misa Kudus? Kalau hati kedua murid saja begitu berkobar-kobar di tengah jalan karena Tuhan menerangkan isi Kitab Suci serta meneguhkan mereka dengan janji-janji-Nya yang kekal, tidakkah Ia dapat melakukan jauh lebih besar lagi melalui dirimu, yang telah menjadi satu dengan-Nya dalam santapan Ekaristi?

Jadi, jikalau demikian, “Apa sebenarnya yang kurang?
Yang kurang adalah “Kesadaran“.
Pemazmur hari ini seolah menjadi seruan kesadaran bagi kita semua. “Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (Mzm.105:4)
Untuk itu, mohonkanlah bimbingan Roh Kudus, agar kamu dapat mengenali Dia yang senantiasa menemani perjalananmu dengan Sabda-Nya, dan peganglah janji-janji-Nya, agar hatimu senantiasa dikobarkan untuk karya kerasulan.
Mintalah tuntunan Roh untuk membimbingmu dengan kelembutan sekaligus ketegasan, agar kamu dapat mengenali Dia saat Imam memecah-mecahkan Hosti dan mengangkat Piala keselamatan.
Dengan demikian, kamu akan memiliki relasi pribadi yang mesra dan penuh hormat dengan-Nya. Kamu akan menyentuh Hati-Nya dan menjawab kehausan-Nya akan jiwa-jiwa.
Kamu akan mencintai Bunda Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.
Kamu akan berdiri teguh dan bangga akan Iman Katolikmu, dan tidak akan mengkompromikannya dalam situasi apapun.

Semoga Santa Perawan Maria, teladan beriman yang sejati, menyertai peziarahan hidup beriman kita dengan doa dan kasih keibuannya, agar kitapun dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, dan “Tidak” kepada si jahat.
Kenalilah kelumpuhanmu, dan berdirilah!
Kita bukanlah anak-anak kegelapan. Kita adalah anak-anak Paskah, putra-putri Cahaya.
Bangkitlah! Bercahayalah!

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 29 Maret 2016~SELASA DALAM OKTAF PASKAH

image

DIALAH SEGALANYA BAGIKU

Bacaan:
Kis.2:36-41; Mzm.33:4-5.18-19.20.22; Yoh.20:11-18

Renungan:
Dalam kisah Injil hari ini, kita mendapati dan diajak untuk merenungkan dukacita seorang  wanita yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Kendati sering disalah mengerti dalam sejarah keselamatan, Maria Magdalena mungkin dapat dikatakan adalah wanita Kudus yang paling mengasihi Tuhan kita, setelah Santa Perawan Maria, Bunda-Nya.
Hati wanita ini begitu terarah kepada Allah. Diselubungi airmata ketidaktahuan mistik saat menemukan malam telah kosong, dia menangis tersedu-sedu, dan dari balik tangisan itu, keluarlah kata-kata yang hanya dapat timbul dari hati yang mencinta, “Mereka telah mengambil Tuhanku…” (bdk.Yoh.20:13d)
Inilah seruan dari seorang yang senantiasa memandang Allah dalam ketepesonaan cinta, sebagaimana diungkapkan oleh pemazmur, “Jiwaku menanti-nantikan Tuhan“. (bdk.Mzm.33:20)

Bagi Maria Magdalena, Tuhan Yesus adalah harta paling berharga baginya. Dialah Kekasihnya. Dialah Segalanya baginya.
Hidup Maria Magdalena, hatinya yang mencinta, seolah membawa kita pada permenungan pribadi perihal kedalaman cinta kita akan Allah. Apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Tuhan kita? Sudahkah kita melayani Dia seutuhnya?
Sebagian orang memanggil Allah sebagai kekasih, padahal Ia tidak sungguh-sungguh menjadi yang terkasih, karena hati mereka tidak pernah terarah kepada Allah,” demikian kata St. Yohanes dari Salib.

Semoga sukacita Paskah juga mengobarkan dalam hati kita kerinduan untuk selalu memandang wajah Tuhan, dan mengungkapkan cinta kita kepada-Nya, bukan hanya dengan menyapa Dia sebagai “Kekasihku“, tetapi mengungkapkannya secara nyata dalam hidup dan karya.
Kalau kamu sungguh mencintai Tuhan dan hatimu benar-benar selalu terarah pada-Nya, kalau memang Dia sungguh adalah yang terkasih dalam hidupmu; Buktikanlah! Mulailah bersikap sebagaimana layaknya seorang kekasih. “Dilige et quod vis fac ~ Cintailah dan lakukan apa saja yang kamu kehendaki” (St. Agustinus dari Hippo).
Semoga Bunda Maria senantiasa menjadi Bintang Timur, penunjuk jalan yang aman menuju Putranya. Kiranya Santa Maria Magdalena menyertai peziarahan batinmu di tengah dunia ini, agar kamu selalu dapat mengenali suara lembut Sang Guru (Rabboni). Sebab Dialah Cahaya Paskah yang sejati. Dialah Sukacitamu. Dialah Kekasihmu.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Rabu dalam Pekan II Paskah

image

BERCAHAYA DALAM KEGELAPAN

Bacaan:
Kis.5:17-26; Mzm.34:2-3.4-5.6-7.8-9; Yoh.3:16-21

Renungan:
Di balik segala penemuan, terobosan, dan kemajuan zaman, kita menemukan kenyataan menarik bahwa manusia telah melakukan berbagai cara untuk menciptakan cahaya. Mulai dari keberhasilan primitif untuk membuat api oleh manusia pra-sejarah, lilin dari lemak ikan yang bermula di China, penemuan lampu listrik oleh Edison, hingga berbagai bentuk penerangan masa kini, berbagai usaha telah dibuat manusia untuk menciptakan cahaya.
Menariknya juga, belum pernah ada orang (sejauh pengamatan pribadi), yang berniat menciptakan kegelapan atau melenyapkan cahaya.
Ini seolah hendak menunjukkan bahwa, disadari atau tidak, kita semua sebenarnya bukan anak-anak kegelapan. Kita adalah putra-putri Cahaya yang merindukan hidup bermandikan Terang Ilahi.
Setiap orang, tanpa terkecuali, dipanggil untuk melangkah ke dalam cahaya, bukannya berdiam dalam kegelapan.
Hanya di dalam Tuhan hidup kita menemukan arti. Tanpa Tuhan, kita akan selamanya berada dalam kehampaan.
Dosalah yang merusak citra Allah dalam diri manusia, dan menanamkan benih kejahatan untuk lebih menyukai kegelapan, yang berujung pada penolakan dunia untuk menerima Sang Terang, Cahaya dan Sukacita Paskah yang sejati.
Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.” (Yoh.3:19)
Kegagalan dan penolakan manusia untuk menerima Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, adalah kegagalan dan penolakan manusia untuk menyadari martabat luhur dari kemanusiaan itu sendiri.
Semakin seseorang menjauh dari Allah, dia justru akan semakin kehilangan kemanusiaannya.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat kepadamu.
Berbahagialah mereka yang berani melangkah mendekati cahaya supaya dimurnikan, karena bagi merekalah ganjaran hidup kekal itu telah tersedia (bdk.Yoh.3:16).
Inilah panggilan kita, untuk mendekati Sang Cahaya sehingga menjadi satu dengan-Nya, agar kemudian boleh menjadi pelita yang mengeyahkan kegelapan dosa dan maut dari dunia ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan II Paskah

image

LAHIR BARU DALAM ROH

Bacaan:
Kis.4:23-31; Mzm.2:1-3.4-6.7-9; Yoh.3:1-8

Renungan:
Kedatangan Nikodemus dalam kegelapan di waktu “malam” (bdk.Yoh.3:2) untuk bertemu dengan Yesus, melambangkan kurangnya cahaya iman.
Pemilihan waktu bertemu ini juga menyiratkan kekuatiran dan ketakutan Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang dikenal sebagai otoritas tertinggi dalam hidup keagamaan Yahudi, untuk secara terbuka dan berani mengakui imannya akan Yesus.
Meskipun Nikodemus menyapa Yesus sebagai “Rabbi” (bdk.Yoh.3:2), yang adalah pengakuan akan kuasa dan wibawa Ilahi dari pengajaran Yesus, dia masih jauh dari iman yang sejati.
Yesus mengatakan bahwa untuk memiliki iman yang sejati, seseorang harus “lahir baru” (bdk.Yoh.3:3.7).
Lahir baru dalam Roh berarti masuk dalam kumpulan orang-orang dimana Allah disembah dan ditaati, dimana hukum-hukum-Nya bukan hanya tertulis dalam kitab hukum yang mati, melainkan terukir dalam hati yang dipenuhi luapan cinta akan Hukum Tuhan.
Sakramen Pembaptisan adalah pintu masuk kelahiran baru itu. Dengan dibaptis, kita menyatakan diri kita sebagai putra-putri Allah, manusia-manusia Paskah, yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam cahaya kebangkitan Kristus.
Dengan demikian, kita akan memiliki keberanian iman dan kepenuhan Roh Kudus seperti Petrus dan Yohanes untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dan “melaksanakan segala sesuatu yang telah ditentukan Tuhan bagi kita sejak semula” (bdk.Kis.4:28).

Pax, in aeternum.
Fernando