Berita Duka dari Keuskupan Prelatur Opus Dei


Pada pukul 21:20 hari ini (12 Desember waktu Roma), bertepatan dengan Pesta Santa Perawan Maria, Bunda kita dari Guadalupe, telah berpulang Yang Mulia Uskup kita yang terkasih Javier Echevarria (Bapa Prelat Opus Dei), pada usia 84 tahun. Beliau adalah penerus ke-2 dari Santo Josemaria Escriva, Bapa Pendiri Opus Dei. Vikaris Auksilier Opus Dei, Msgr. Fernando Ocariz, beroleh kesempatan memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit (Minyak Suci) kepada beliau, beberapa jam sebelum berpulangnya.

Sebelumnya, Yang Mulia Bapa Uskup Echevarria telah dirawat di Campus Bio-Medico University Hospital (Roma) sejak 5 Desember yang lalu, dikarenakan pneumonia. Beliau menerima serangkaian antibiotik untuk melawan infeksi paru-paru. Dalam jam-jam terakhir terjadi komplikasi, hingga akhirnya meninggal. 
Sebagaimana telah diatur dalam Statuta Prelatur, tampuk pemerintahan sementara Opus Dei kini berada di tangan Vikaris Auksilier, Msgr. Fernando Ocariz. Beliau nantinya harus memanggil Dewan, untuk memilih Bapa Prelat yang baru. Ini harus dilangsungkan dalam kurun waktu 3 bulan, dan setelah hasil pemilihan keluar, nantinya diajukan ke Paus, untuk beroleh pengesahan.
Yang Mulia Echevarria lahir pada 1932 di Madrid, dan disanalah dia bertemu dengan St. Josemaria Escriva. Dia kemudian menjadi Sekretaris St. Josemaria dari 1953 sampai 1975. Kemudian, dia ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Opus Dei, dan pada 1994 terpilih sebagai Bapa Prelat, menggantikan Beato Alvaro Del Portillo. Pada 6 Januari 1995, dia ditahbiskan sebagai Uskup Prelatur Opus Dei oleh Paus St. Yohanes Paulus II di Gereja Basilika St. Petrus.
Berikanlah istirahat kekal kepadanya, Ya Tuhan. Semoga terang abadi menyinarinya, agar beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan. Amen.

Meditasi Harian 7 Juli 2016 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XIV


MERASUL TANPA KELEKATAN


Bacaan
:

Hos.11:1.3-4.8c-9; Mzm.80:2ac.3b.15-16; Mat.10:7-15

Renungan
:

Ketika dibaptis, suatu tugas suci telah diletakkan ke dalam hati kita, yaitu mewartakan Kerajaan Allah kepada segala bangsa. Meskipun banyak di antara kita menerima anugerah pembaptisan sewaktu masih bayi, namun tugas ini tidak pernah boleh dilupakan. Disinilah panggilan keluarga, orang tua dan wali baptis mendapat makna yang adikodrati. Jangan pernah lupa mewariskan iman dan Amanat Agung kerasulan ini. Oleh sakramen pembaptisan, kita telah mengalami hidup dalam segala kepenuhan dan kasih karunia. Hidup sejati sebagai anak-anak Perjanjian. Ini bukan karena jasa-jasa kita, tetapi semata-mata karena kasih karunia Allah. Maka sadarilah dan syukurilah kebaikan Tuhan ini. Berhentilah menjalani hidup dalam perhambaan akan dunia. Tinggalkanlah kegelapan dan perbudakan dosa, dan melangkahlah menuju cahaya dengan dikobarkan oleh Api kerasulan.

Hidup beriman saat ini diperhadapkan dengan kemerosotan semangat merasul di tengah dunia. Banyak rasul-rasul Kristus yang kehilangan visi kerasulan, sehingga karya-karyanya tidak berbuah bagi Kerajaan Allah. Cahaya iman mulai meredup, garam cintakasih menjadi tawar, dan kesaksian hidup melemah menjadi seolah tak berpengharapan. Kita tidak boleh lupa bahwa panggilan merasul ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan bersumber dari kesadaran bahwa kita adalah “anak-anak Allah“, kesadaran sebagai ahli waris Kerajaan-Nya.

Tanpa kesadaran ini, maka seorang dapat jatuh dalam kegagalan untuk memberi nilai adikodrati dalam segala karya, sehingga menjadi karya manusia belaka, bukannya Karya Tuhan. Jangan pernah lupa bahwa panggilanmu adalah panggilan untuk Kemuliaan. Kemuliaan yang hanya dapat diperoleh bilamana kita menjalankan tugas kerasulan dengan penuh cinta dan ketekunan. Dalam Injil hari ini Tuhan Yesus mengutus para rasul dengan bersabda, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat.10:7-8).

Kerajaan Allah itulah yang harus kamu wartakan. Wartakanlah itu dengan hidupmu, dengan senantiasa membawa tanda-tanda milik Kristus, dengan sikap heroik beriman yang mendatangkan kekaguman dan membuat seluruh dunia bertanya dan mencari tahu siapa Kristus itu, karena karya-karya agung yang dikerjakan-Nya dalam hidupmu. 

Jalan kerasulan ini bukanlah jalan yang dapat dilalui oleh mereka yang lemah hati. Kuatkanlah hatimu dengan senantiasa melekatkannya kepada Hati Tuhan. Santo Josemaría Escrivá mengatakan, “Hatimu melemah dan engkau mencari pegangan dunia ini. Bagus, tetapi berhati-hatilah agar pegangan yang menopangmu supaya tidak jatuh itu, tidak akan menjadi beban yang justru akan menyeretmu ke bawah, atau rantai yang akan memperbudakmu” (Camino, pasal 159). Kelekatan akan dunia dengan segala tawaran semunya, adalah perangkap si jahat yang harus dihindari oleh setiap rasul Kristus. Kelekatan seringkali disertai kesedihan yang berwujud kemurungan, suam-suam kuku, kemalasan, serta padamnya kerinduan untuk merasul dan mencari wajah Allah dalam diri sesama. 

Dalam surat pastoral kepada putra-putrinya, Prelat Opus Dei Msgr. Javier Echevarría mengingatkan, “Seorang Kristiani yang sungguh menyadari bahwa dia adalah anak Allah tidak akan pernah dikuasai oleh kesedihan… Kita adalah orang-orang yang hidup di tengah-tengah dunia, jadi wajar saja bahwa masalah-masalah mendesak dunia kontemporer saat ini – pergumulan melawan narkoba, berbagai krisis dalam kesatuan keluarga, sikap dingin yang disebabkan individualisme, serta krisis ekonomi, sangat mempengaruhi hidup kita. Diperhadapkan pada kenyataan ini seharusnya tidak membuat kita menjadi sedih. Yakinlah bahwa bila kita tetap dekat dengan Hati Yesus, kita akan selalu beroleh penghiburan, dan itu tidak hanya dialami pada kehidupan kekal” (Surat Bapa Prelat Juli 2016).

Di hari Peringatan Konsekrasi Gereja Santa Perawan Maria dari Torreciudad, marilah kita mohon penyertaan Bunda kita yang tersuci ini, bagi siapa saja yang melayani Yesus Putranya di jalan kerasulan suci. Semoga mereka senantiasa memandang Kristus, dan melayani di tengah dunia tanpa melekatkan hati pada segala yang fana, agar pada akhirnya dapat beroleh ganjaran mahkota surgawi, dalam kemuliaan kekal bersama Allah dan para kudusnya.
Regnare Christum volumus! 
✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥ 

Retret Prapaskah Opus Dei

image

Khusus Wanita

Cabang Wanita dari Keuskupan/Prelatur Personal Opus Dei akan mengadakan Retret Prapaskah.
Retret ini diperuntukkan khusus bagi wanita Katolik yang sudah dewasa & wanita Katolik profesional (bekerja).
Info lebih lanjut silakan melihat gambar di atas.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

31 Imam baru Opus Dei

image

31 Imam baru Opus Dei ditahbiskan oleh Bapa Prelat

Pada hari Sabtu (09/05/2015) kemarin, 31 imam baru Opus Dei ditahbiskan langsung oleh Bapa Prelat Opus Dei, Yang Mulia Uskup Javier Echevarría, bertempat di Gereja Basilika San Eugenio, Roma.

Para imam yang baru ditahbiskan ini berasal dari berbagai negara seperti Inggris, Nigeria, Peru, Argentina, Venezuela, Spanyol, Meksiko, Jepang, El Salvador, Filipina, Jerman, Kenya dan Benin.

Dalam homilinya Uskup Echevarría mengajak para imam baru untuk hanya memikirkan jiwa-jiwa yang dipercayakan kepada pelayanan pastoral mereka. Seorang imam yang jarang keluar dari dirinya sendiri, berisiko menjadi seorang manajer bukan mediator. “Tidak bisa seperti itu, karena imam adalah mediator antara Allah dan manusia di dalam Yesus Kristus, sehingga rahmat ilahi menghidupkan segala sesuatu.

image

Bapa Prelat Opus Dei, Yang Mulia Uskup Javier Echevarría

Uskup Echevarría mengutip kata-kata Bapa Pendiri Opus Dei, St. Josemaría Escrivá, saat menahbisan umat Opus Dei: “Kalian akan ditahbiskan untuk melayani. Bukan untuk memerintah, bukan pula untuk bersinar, tetapi untuk memberi diri dalam keheningan ilahi tak berujung, bagi pelayanan semua jiwa.
Uskup Echevarría juga meminta ribuan umat yang hadir untuk berdoa bagi para imam baru ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Surat dari Bapa Prelat (Januari 2014)

Surat dari Bapa Prelat (Januari 2014)

 

Bapa Prelat menganjurkan kita untuk berusaha menghayati persaudaraan dengan semua orang, yang telah diciptakan sebagai gambaran dan citra Allah, dan yang telah diselamatkan oleh Kristus.

06/Januari/2014

Anak-anakku terkasih: semoga Yesus menjaga putra-putriku!

Masih bergaung dalam jiwa kita dan di seluruh dunia kata-kata para malaikat kepada para gembala di Betlehem, yang kita renungkan dalam masa Natal:   Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya. [1] Kemuliaan Allah melalui inkarnasi dan kelahiran Putra-Nya yang tunggal terkait erat dengan perdamaian dan persaudaraan antara manusia. Jika kita dapat dan harus menganggap diri kita semua sebagai saudara-saudara,  khususnya ini adalah karena kita semua adalah anak-anak dari Bapa yang sama, yaitu Tuhan Allah, yang menciptakan kita sebagai citra-Nya. Sabda ilahi, dengan menjelma menjadi manusia sebagai Kepala dari seluruh umat manusia, telah menyelamatkan kita dari dosa, memberi kita karunia keputraan ilahi melalui adopsi. Ini adalah berita yang besar yang diumumkan oleh malaikat di Betlehem tidak hanya bagi umat Israel, tetapi bagi seluruh umat manusia:   lihatlah, aku menyampaikan kabar baik dari sukacita besar yang akan datang untuk semua orang. [2]

Yesus dalam pelukan Bunda Maria di bawah pandangan penuh perhatian dari Santo Yusuf, memenuhi pikiran kita pada hari-hari raya suci ini. Pada saat kita melihat dengan penuh perhatian pada Anak yang tak berdaya, Pencipta langit dan bumi, Firman Allah yang kekal yang telah membuat dirinya sama dengan kita dalam segala hal kecuali dosa, [3]   kita bersujud dan bersyukur karena menyadari bahwa kita tidak akan mampu membalas kasih-Nya yang begitu besar kepada kita.Di tahun baru dan selalu, mari kita menanggapi ajakan St Josemaria: ut in gratiarum semper actione maneamus.Mari kita terus bersyukur, untuk semua karunia yang Allah telah dan akan berikan kepada kita: karunia yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui, yang besar dan kecil, spiritual dan material, karunia yang membawa sukacita maupun yang mungkin meninggalkan jejak kesedihan. Bersama Bapa Pendiri kita saya katakan dan juga untuk diri saya sendiri: marilah kita bersyukur “atas semuanya, karena semuanya baik.” [4]

Kita memulai bagian kedua dari waktu Natal dengan Hari Raya Bunda Maria. Pandangan kita sekarang berbalik dengan penuh perhatian pada insan ciptaan yang tiada bandingnya, yang dengan kesederhanaan yang begitu besar -ecce Ancilla Domini [5] -telah membuka jalan untuk penjelmaan Sabda Allah menjadi manusia dan membuat kami anak-anak Allah dalam Yesus Kristus, saudara dan saudari dengan suatu ikatan persaudaraan yang lebih kuat dari ikatan yang ada karena kita semua berasal dari Adam dan Hawa. “Bunda, ya Bunda! Dengan kata Bunda -fiat- engkau telah membuat kami saudara Allah dan ahli waris kemuliaan-Nya.Terpujilah engkau. ” [6]  Dengan demikian salah satu dari aspirasi yang paling dalam dari hati manusia telah terwujud: ” kerinduan pada rasa persaudaraan, yang tidak dapat ditahan lagi, yang membawa kita untuk bersatu dengan orang lain dan yang memungkinkan kita untuk melihat mereka bukan sebagai musuh atau saingan, melainkan sebagai saudara dan saudari untuk diterima dan dirangkul . ” [7]

Mencintai sesama dengan kasih persaudaraan sejati adalah salah satu karakteristik yang esensial dari pesan Kristiani. Yesus sendiri menekankan hal ini kepada para rasul-Nya:   Aku memberi perintah baru kepada kamu, bahwa kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid saya, jika Anda memiliki cinta untuk satu sama lain. [8] Dan sebagaimana Bapa Pendiri kita mengatakan: “Kita harus menyalakan kembali rasa persaudaraan yang dirasakan dalam-dalam oleh umat Kristiani perdana” [9]  Engkau dan aku, apakah kita sungguh-sungguh melakukannya? Apakah kita berdoa dengan sungguh-sungguh bagi semua orang, pria dan wanita? Apakah kita menaruh perhatian atas kehidupan mereka?

Perintah Tuhan yang baru itu membantu kita untuk memahami bahwa persaudaraan Kristiani tidak dapat dianggap sebagai sekadar solidaritas saja. Persaudaraan bukan hanya soal karakter yang sama, bukan juga soal kepentingan bersama, atau kesukaan yang sama. Persaudaraan harus memacu kita untuk menemukan Kristus dalam diri orang lain; bahkan lebih dari itu, membawa kita makin menjadi seperti Dia, sampai kita dapat menyatakan bahwa kita adalah alter Christus, Kristus yang lain;  ipse Christus,   Kristus sendiri. Hasrat ini harus diwujudkan dalam mengasihi dan melayani sesama manusia, sebagaimana Tuhan melayani dan mengasihi mereka.

Kedua aspek ini- melihat Kristus dalam diri orang lain dan membuat Kristus tampak dalam diri kita-harus melengkapi satu sama lain. Dengan demikian kita menghindari resiko mencintai orang-orang di sekitar kita hanya karena nilai diri mereka dari segi manusiawi, karena sifat-sifat mereka yang baik, karena keuntungan yang kita dapatkan dari mereka, dan kemudian kita menyisihkan mereka ketika melihat kekurangan dan keterbatasan mereka, yaitu aspek yang kurang menyenangkan dari pribadi mereka Jika godaan seperti itu muncul, kita perlu memandang TuhanYesus, lemah lembut dan rendah hati, yang menyerahkan hidupnya di setiap saat dan pada setiap kesempatan bagi kita, yang tidak menolak siapa pun, yang mencari-cari para pendosa untuk membawa mereka kembali kepada Allah.

Persaudaraan ini berasal dari iman dan dari kebebasan pribadi kita. “Kebebasan Kristiani berasal dari dalam, dari dalam hati, dari iman. Namun itu bukan sesuatu yang bersikap pribadi melulu, melainkan harus terungkap secara eksternal. Salah satu tanda yang paling jelas dari kehidupan umat Kristiani perdana adalah persaudaraan. Iman, yang membawa karunia besar kasih Allah, telah memperkecil dan mengatasi semua perbedaan, semua hambatan:   Tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada budak atau orang bebas, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus   (Gal  3:28).Mengetahui bahwa kita benar-benar saudara, dan saling mengasihi sebagai saudara, di atas perbedaan ras, kondisi sosial, budaya atau ideologi, adalah hakikat Kristianitas. ” [10]

Dalam karya evangelisasi pertama yang dilaksanakan setelah kenaikan Tuhan ke surga, kasih persaudaraan (khususnya pada orang yang paling membutuhkan, secara fisik maupun spiritual, dan bahkan pada orang-orang yang menganiaya) adalah salah satu elemen pokok dalam penyebaran Kristianitas yang berlangsung begitu cepat. “Lihatlah bagaimana mereka saling mengasihi,” Tertullianus menulis apa yang dikatakan orang-orang kafir, kagum pada pesan Kristus.  Dan dia menambahkan: “Lihat bagaimana umat Kristen siap mati demi sesama, sementara orang lain, sebaliknya, siap untuk saling membunuh.” [11]

Komunikasi antara orang-orang tidak pernah semudah dan secepat di zaman kita ini. Kenyataan ini harus meningkatkan rasa persatuan di antara umat manusia. Namun, seperti Paus Benediktus XVI menulis: “Dengan globalisasi masyarakat, kita, manusia menjadi tetangga tetapi itu tidak membuat kita menjadi saudara. Akal budi dengan sendirinya mampu menangkap kesamaan antara manusia dan mampu memberi stabilitas pada hidup dalam masyarakat, namun tidak dapat membangun rasa persaudaraan. Rasa persaudaraan ini berasal dari suatu panggilan yang transenden dari Allah Bapa, yang mengasihi kita terlebih dahulu, dan mengajar kita melalui Putra-Nya arti kasih persaudaraan . “ [12]

St Josemaría mengajar tanpa lelah, seperti yang telah saya katakan, tentang pentingnya  mandatum novum,  yang ia minta untuk diukir pada sebuah papan di sebuah rumah kegiatan Opus Dei yang pertama, DYA Academy, delapan puluh tahun yang lalu.Tetapi sejak di rumah orang tuanya, ia telah belajar untuk melayani sesama dan melupakan diri sendiri. Teladan Kristiani dari orang tuanya telah membantu mengukir dalam hatinya -pertama sebagai anak kecil dan kemudian sebagai seorang remaja dan pemuda- semangat persaudaraan terhadap semua orang, yang ditunjukkan dalam perbuatan: memberi sedekah kepada yang membutuhkan, membantu teman-temannya dalam studi mereka, selalu bersedia membantu untuk kebutuhan rohani orang lain….

Semua ini dan banyak lagi pelajaran-pelajaran dari hidup St Josemaria dapat membantu kita untuk mempersiapkan dengan lebih baik pesta peringatan hari lahirnya pada tanggal 9 Januari. Tanggal itu mengingatkan kita bahwa Tuhan memilih St Josemaría untuk menjadi seorang bapa dan patriark dari keluarga spiritual Opus Dei (keluarga yang melintasi ras, bahasa dan kebangsaan) yang lahir dalam pangkuan Gereja. Dengan kebapaannya, dijiwai oleh kasih sayang dan pengabdian diri, Bapa Pendiri kita menunjukkan kepada kita sepercik sinar dari kebapaan Allah terhadap seluruh umat manusia, yang juga mengajar kita untuk menjadi anak-anak Allah yang baik dengan menjalani persaudaraan dalam Karya dan dengan semua orang, pria dan wanita.

Paus Fransiskus mendedikasikan pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia pada topik yang sama. Kata pembukaannya sangat penting, seperti yang telah saya tunjukkan ketika mengingat kehidupan Pendiri kita. “Persaudaraan,” kata Bapa Paus,   pada umumnya kita alami pertama kali dalam keluarga, terutama berkat peran yang bertanggung jawab dan saling melengkapi dari setiap anggota keluarga, khususnya ayah dan ibu.Keluarga adalah sumber dari semua persaudaraan, dan karena itu adalah dasar dan jalan pertama menuju kedamaian. ” [13]

Semuanya yang dilakukan demi mendukung keluarga-membela hakikatnya berdasarkan rencana ilahi, persatuan dan sikap terbuka terhadap hidup, panggilan utamanya untuk melayanani- memiliki dampak positif pada konfigurasi masyarakat dan pada hukum-hukum yang mengatur hal keluarga. Mari kita berdoa setiap hari bagi semua keluarga di dunia dan bagi para legislator, pada saat yang sama kita semua harus berusaha,sejauh kemampuan kita, untuk membela dan melindungi keluarga sebagai suatu lembaga alami yang sangat diperlukan bagi kesejahteraan masyarakat. Dan marilah kita berdoa terutama dalam bulan-bulan yang akan datang, bagi Majelis Luar Biasa dari Sinode para Uskup yang dihimpun Bapa Paus pada bulan Oktober nanti untuk mempelajari cara yang terbaik untuk melaksanakan karya evangelisasi baru dalam kehidupan keluarga.

Hari-hari terakhir ini, merenungkan sekali lagi homili-homili Bapa Pendiri kita (saya menganjurkan kalian untuk sering kali kembali ke teks-teks itu, yang akan memperkaya kehidupan rohani kalian), perhatian saya tertarik pada beberapa kata yang mengekspresikan dengan jelas mengapa Kristus lahir. “Tuhan datang untuk membawa damai, kabar baik, dan hidup kepada semua orang. Tidak hanya untuk orang kaya, atau hanya orang miskin. Tidak hanya untuk orang bijaksana atau hanya untuk yang sederhana. Untuk semua orang, untuk saudara-saudara kita, kita sungguh saudara, anak-anak dari Bapa yang sama, Tuhan. ” [14]

Saling menganggap saudara dan saudari antar kita, dan bertindak sesuai dengan itu, adalah suatu karunia ilahi. “Dasar dari persaudaraan ini adalah kebapaan Allah sendiri. Kita tidak berbicara tentang kebapaan pada umumnya, yang tidak jelas dan secara historis tidak efektif, melainkan tentang kasih pribadi Allah yang spesifik dan sangat konkret pada setiap orang, pria dan wanita (lih.  Mt 6:25-30).Ini adalah kebapaan, yang secara efektif menghasilkan persaudaraan, karena kasih Allah, begitu ditanggapi, akan menjadi cara yang paling mengagumkan untuk mengubah hidup dan hubungan kita dengan orang lain, dan membuat kita terbuka untuk mengungkapkan solidaritas dan berbagi dengan tulus ikhlas .

Dalam cara tertentu,” Paus melanjutkan, “persaudaraan manusia dilahirkan lagi dalam dan oleh Yesus Kristus melalui kematian dan kebangkitan-Nya.Salib adalah tempat dasar definitif dari suatu persaudaraan yang manusia tidak mampu menghasilkannya sendiri. Yesus Kristus, yang mengambil kodrat manusia untuk menebusnya, mengasihi Bapa sampai wafat di kayu salib (lih.  Phil   2:8), telah membuat kita menjadi ‘manusia baru,’ melalui kebangkitan-Nya dalam persekutuan penuh dengan kehendak Allah, dengan rencana-Nya, termasuk perwujudan penuh dari panggilan kita untuk persaudaraan. ” [15]

Karena itu adalah karunia Tuhan, membina persaudaraan juga membawa serta tugas yang Tuhan percayakan kepada kita semua, yang tidak dapat kita elakkan. Dengan realisme yang sehat, jauh dari pesimisme apapun, Bapa Pendiri kita menulis bahwa “hidup ini tidak seperti novel romantis. Persaudaraan Kristiani bukan sesuatu yang jatuh dari langit sekali dan untuk selamanya bagi semua orang, melainkan suatu realitas yang harus dibangun setiap hari, di tengah semua kesulitan hidup, dengan konflik-konfliknya, ketegangan dan perjuangan, dalam kontak sehari-hari dengan orang-orang yang menurut kita berpikiran sempit, dan dengan kepicikan kita sendiri” [16]

Saya juga ingin menyebut di sini Don Alvaro yang terkasih. Dalam arti tertentu, kita dapat menganggap tahun 2014 sebagai   tahun Don Alvaro,   karena pada bulan Maret kita akan memperingati seratus tahun kelahirannya dan kemudian kami berharap menghadiri, penuh dengan sukacita, perayaan beatifikasi nya.Di sini kita, putra dan putriku, kita memiliki motif baru untuk mengucap syukur kepada Allah dan ini juga suatu undangan untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk perayaan yang besar itu. Marilah kita menghidupi lebih dalam semangat keputraan dan persaudaraan.

Kalian tahu bahwa Bapa Paus telah menerima saya di audiensi pada tanggal 23 Desember. Selain menyampaikan berkat apostolik kepada semua umat anggota Prelatur-awam dan imam, dan terutama yang menderita sakit- Bapa Paus mendorong kita untuk melanjutkan karya kerasulan di semua negara di mana umat anggota Prelatur Opus Dei tinggal. Secara khusus Paus mendorong kita untuk melaksanakan kerasulan   Pengakuan dosa , yang adalah sakramen Kerahiman Tuhan.

Setelah Hari Natal, saya melakukan perjalanan singkat ke negara di mana Yesus, Maria dan Yusuf pernah hidup. Selain mendorong saudara-saudari yang berkarya di sana, saya mengunjungi tempat di mana   Saxum, pusat untuk retret dan kegiatan lain sedang dibangun untuk mengenang Don Alvaro, seperti yang telah disepakati dalam Kongres Umum pada tahun 1994.Mari kita berdoa dengan tekun dan penuh semangat agar proyek ini dapat berjalan dengan ritme yang baik, dan marilah kita berusaha membantu, sesuai dengan keadaan kita masing masing, untuk mencari dana yang diperlukan. Begitu besar harapan saya akan buah-buah rohani yang akan dihasilkan oleh instrumen kerasulan ini!

Seperti biasa, ingin sekali saya (sekarang lebih-lebih lagi!) bersama kalian pada hari-hari raya ini. Saya melewati hari-hari ini dengan membawa kalian satu persatu ke tabernakel dan ke kandang Natal di center-center di Roma. Jangan lupa mempersembahkan semua intensi saya kepada Anak Allah. Saya telah menempatkan semua intensi kalian di kaki-Nya.

Dengan penuh kasih sayang, saya mengirim berkat untuk tahun yang baru,

+ Javier

Roma, 1 Januari 2014

Catatan:

[1]   Lk   02:14.
[2]   Lk   02:10.
[3]   Cf.   Ibr   04:15.
[4]   St Josemaría,   Jalan,   no.512.
[5]   Lk   01:38.
[6]   St Josemaría,   Jalan,   no.512.
[7]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.1.
[8]   Yoh   13:34-35.
[9]   St Josemaría,   Percakapan,   no.61.
[10]   St Josemaría, “Kekayaan Iman,” diterbitkan dalam   Los Domingos de ABC,   November 2, 1969.
[11]   Tertullianus,   Apologetica,   39, 7 (CCL 1, 151).
[12]   Paus Benediktus XVI, Ensiklik   Caritas in Veritate,   29 Juni 2009, no.19.
[13]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.1.
[14]   St Josemaría,   Kristus yang Berlalu,   no.106.
[15]   Paus Fransiskus, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2014, 8 Desember 2013, no.3.
[16]   St Josemaría, “Kekayaan Iman,” diterbitkan dalam   Los Domingos de ABC,   November 2, 1969.

Surat dari Bapa Prelat Opus Dei ( November 2013 )

Opus Dei Prelate

Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei saat ini

Bapa Prelat menegaskan bahwa merenungkan “hal-hal terakhir,” tentang kebangkitan orang mati dan kehidupan kekal, akan memenuhi diri kita dengan sukacita karena kepercayaan akan kerahiman Allah yang tiada batasnya.

01/November/2013

Putra-putriku yang terkasih: semoga Yesus menjaga kalian semua !

Beberapa minggu lagi Tahun Iman akan berakhir. Bapa Suci akan menutup Tahun Iman pada Hari Raya Kristus Raja, tanggal 24 yang akan datang. Dalam rangka perayaan ini saya ingin mengajak kalian untuk membaca lagi beberapa kata yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita dalam salah satu homilinya: “Bila kita mendaraskan syahadat, kita menyatakan bahwa kita percaya akan Allah Bapa Yang Mahakuasa, dan akan Putra-Nya Yesus Kristus, yang wafat dan bangkit kembali, dan akan Roh Kudus, Tuhan dan Pemberi hidup. Kita menegaskan, bahwa Gereja satu, kudus, katolik dan apostolik, adalah Tubuh Kristus, dihidupi oleh Roh Kudus. Kita bersukacita atas pengampunan dosa dan atas harapan akan kebangkitan. Tetapi apakah kata-kata itu menembus ke dalam hati kita? Atau apakah kata-kata itu di bibir kita saja?[1]

Hari Raya Semua Orang Kudus yang kita peringati hari ini, dan peringatan semua arwah besok pagi, adalah suatu undangan untuk mengingat  tujuan hidup kita yang abadi. Perayaan-perayaan liturgi ini mencerminkan artikel terakhir dari Credo. ” Syahadat Kristen – pengakuan iman kita akan Bapa, Putra, dan Roh Kudus, serta karya-Nya yang menciptakan, menebus, dan menguduskan – berpuncak pada pewartaan bahwa orang-orang yang mati akan bangkit pada akhir zaman dan bahwa ada kehidupan abadi”. [2]

Credo menringkaskan ‘hal-hal terakhir’ baik pada tingkat individu maupun kolektif-yang akan dialami setiap orang dan seluruh alam semesta. Akal budi manusia dapat menangkap, jika berfungsi dengan benar, bahwa setelah hidup kita di bumi ini, ada kehidupan “lebih lanjut” di mana keadilan yang begitu sering dilanggar di bumi ini akan ditegakkan kembali sepenuhnya. Tetapi hanya dengan terang wahyu ilahi, dan terutama melalui terang dari inkarnasi, wafat dan kebangkitan Kristus, kebenaran-kebenaran tersebut tampak lebih jelas, walaupun masih diselubungi oleh tabir misteri.

Berkat ajaran Tuhan Yesus, kenyataan-kenyataan akhir tidak lagi mengandung kemuraman dan makna yang fatal bagi banyak pria dan wanita sepanjang sejarah dan sampai sekarang juga. Kematian jasmani adalah kenyataan yang jelas untuk semua orang, namun dalam Kristus, kematian memperoleh makna yang baru. Kematian bukan hanya suatu konsekuensi dari hakikat suatu makhluk material, dengan badan yang cenderung hancur. Bukan juga, sebagaimana tertulis dalam Perjanjian Lama, merupakan suatu hukuman karena dosa. St Paulus menegaskan:  bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan .Dan di lain tempat St Paulus menambahkan:   Benarlah perkataan ini: “Jika kita mati dengan Dia, kitapun akan hidup dengan Dia; [3]  ” Aspek yang sungguh baru pada kematian Kristiani terdapat di dalam hal ini: Melalui Pembaptisan warga Kristiani secara sakramental sudah “mati bersama Kristus”, supaya dapat menghidupi satu kehidupan baru. Kalau kita mati dalam rahmat Kristus, maka kematian badani menyelesaikan “mati bersama Kristus” ini dan dengan demikian melaksanakan secara definitif penggabungan kita dalam Dia oleh karya penebusan-Nya: ” [4]

Gereja adalah Bunda kita. Gereja melahirkan kita kembali dalam air Pembaptisan, dan memberi hidup Kristus kepada kita, sekaligus janji akan kehidupan yang tak ada akhirnya di masa depan. Kemudian melalui sakramen-sakramen lain, terutama Sakramen Pengakuan dan Ekaristi Kudus, Bunda Gereja memastikan bahwa “menjadi” dan “berjalan” dalam Kristus akan selalu diperkuat dalam jiwa kita. Apa bila masa sakit parah tiba dan, terutama, pada saat ajal kita, Bunda Gereja sekali lagi akan berusaha untuk menguatkan putra dan putrinya melalui Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Komuni dalam bentuk viaticum. Gereja memberi kita segala yang kita butuhkan agar kita dapat menghadapi, dengan pengharapan dan kedamaian yang penuh sukacita, perjalanan terakhir yang, dengan rahmat Allah, akan berakhir dalam pelukan Allah Bapa surgawi. St Josemaría, seperti banyak orang kudus sebelum dan sesudahnya, bila menjelaskan tentang kematian Kristiani, menulis dengan kata-kata yang jelas dan optimis: “Jangan takut akan kematian. Terimalah dari sekarang, dengan murah hati … apa bila Tuhan menghendaki, di mana saja dan bagaimana saja Tuhan menghendaki. Jangan ragu-ragu: kematian akan tiba pada saat, di tempat dan dengan cara yang terbaik: yang ditentukan oleh Allah-Bapa kita. Hendaknya kita menyambut kematian sebagai saudara kita! ” [5]

Terlintas dalam benak kita begitu banyak orang -pria dan wanita anggota Opus Dei, dan keluarga, kawan-kawan, dan kooperator- yang mungkin pada saat ini berada di titik penyerahan jiwa kepada Allah. Bagi mereka semua, saya mohon rahmat agar mereka meninggal dengan cara yang kudus, penuh dengan kedamaian, dan erat bersatu dengan Yesus Kristus. “Kebangkitan Tuhan adalah harapan yang tidak pernah gagal, yang tidak pernah mengecewakan (lih.Rom   5:5). Betapa sering harapan lenyap dalam hidup kita, betapa sering angan-angan yang kita miliki dalam hati sia-sia!  Namun, harapan kita sebagai umat Kristiani teguh dan tak tergoyahkan di dunia ini, di mana Allah telah memanggil kita untuk hidup. Dan harapan ini menuju ke keabadian karena bersandar pada Allah yang selalu setia. ” [6]

Dalam bulan yang didedikasikan bagi para umat yang telah meninggal dunia, saya sarankan kalian membaca dan merenungkan paragraf dari  Katekismus Gereja Katolik tentang hal-hal terakhir. Kalian akan menemukan dasar pengharapan dan optimisme supranatural, serta dorongan baru untuk perjuangan rohani setiap hari. Bahkan kunjungan ke makam-makam dalam bulan ini, yakni suatu kebiasaan saleh di banyak tempat, adalah kesempatan bagi kita untuk membantu teman-teman dalam kerasulan untuk merenungkan kebenaran abadi, dan mencari kehadiran Tuhan yang senantiasa mendampingi kita dan memanggil kita dengan kasih sayang-Nya sebagai seorang ayah.

Dengan kematian, waktu untuk berbuat baik dan memperoleh pahala di hadapan Allah berakhir, dan pengadilan jiwa setiap orang segera terjadi. Karena ini adalah suatu bagian dari iman Gereja bahwa ” Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya  ” [7]

Fokus utama dari pengadilan ini adalah cinta kasih kita kepada Allah dan sesama, yang diwujudkan dalam memenuhi perintah Allah dan tugas-tugas hidup kita. Di zaman sekarang banyak orang yang menutup mata pada kenyataan ini seolah-olah dengan demikian mereka dapat menghindari pengadilan Allah (yang penuh belas kasih). Kita, anak-anak Allah “tidak perlu takut akan hidup atau mati,” kata St Josemaria. Jika hidup kita berjangkar dalam iman, jika kita menghadap kepada Tuhan dengan penuh penyesalan dalam Sakramen Tobat, setelah berdosa terhadap-Nya atau guna memurnikan ketidaksempurnaan kita; jika kita sering menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi, tidak ada alasan bagi kita untuk takut akan saat ajal kita. Renungkan apa yang ditulis oleh Bapa Pendiri kita beberapa tahun yang lalu: “Aku tertawa senang mendengar engkau berbicara tentang “perhitungan” yang akan Tuhan minta darimu. Karena bagimu, Dia bukanlah hakim dalam arti yang sesungguhnya. Bagimu Dia adalah Yesus “. Kata-kata ini yang ditulis oleh seorang uskup yang suci, telah menghibur hati banyak orang yang mengalami kesulitan, dan juga dapat menghibur hatimu juga. ” [8]

Selain itu (hal ini sungguh-sungguh menggembirakan hati kita), bahkan setelah kematian Gereja tidak meninggalkan anak-anaknya. Dalam setiap Misa Kudus, Gereja berdoa, sebagai ibu yang baik, bagi jiwa-jiwa para umat yang telah, dan memohon agar mereka diterima dalam kemuliaan. Terutama pada bulan November, perhatian Gereja (pada jiwa-jiwa )membuat Gereja berdoa dengan lebih intens. Dalam Opus Dei, suatu”bagian kecil” dari Gereja, kita menyerukan dengan lantang keinginan Gereja itu, dengan memenuhi dengan penuh kasih dan syukur rekomendasi St Josemaría untuk minggu-minggu ini, yaitu mempersembahkan Kurban Misa Kudus dan Komuni Kudus bagi umat Opus Dei, anggota keluarga dan kooperator yang telah mendahului kita, dan untuk semua jiwa-jiwa di api penyucian. Tidakkah engkau menyadari bahwa merenungkan hal-hal terakhir bukannya membuat kita sedih, melainkan merupakan sumber sukacita supranatural? Dengan penuh kepercayaan kita menunggu panggilan definitif dari Allah dan penyempurnaan dunia di akhir jaman, bila Kristus akan datang kembali disertai oleh semua malaikat untuk menguasai Kerajaan-Nya. Setelah itu, akan terjadi kebangkitan seluruh umat manusia, pria dan wanita, yang pernah hidup di bumi, dari yang pertama sampai yang terakhir.

Katekismus Gereja Katolik   menunjukkan bahwa” Iman akan kebangkitan orang-orang mati sejak awal merupakan satu bagian hakiki dari iman Kristen.”[9]  Sejak awal Iman Kristiani akan kebangkitan menghadapi salah pengertian dan pertentangan. Pada umumnya orang berpendapat bahwa kehidupan pribadi manusia sesudah kematian bersifat rohani. Tetapi bagaimana orang dapat percaya bahwa tubuh ini yang nyata-nyata mati, akan bangkit lagi untuk kehidupan abadi? ” [10]  Dan inilah yang sebenarnya akan terjadi pada akhir zaman, karena kemahakuasaan Tuhan, sebagaimana dinyatakan dalam Credo Athanasius secara eksplisit: “semua orang akan bangkit kembali dengan tubuh mereka, dan harus memberi pertanggungan jawab atas perbuatan mereka masing-masing. Dan mereka yang telah berbuat baik akan masuk ke hidup yang kekal, dan mereka yang telah berbuat jahat akan masuk ke api yang kekal. ” [11]

Sungguh menakjubkan cinta kasih Allah Bapa. Allah menciptakan kita sebagai makhluk yang terdiri dari jiwa dan raga, roh dan tubuh, dan bahwa kita akan kembali kepada-Nya dengan jiwa dan raga, untuk menikmati kebaikan, keindahan dan kebijaksanaan-Nya dalam hidup yang kekal. Oleh kehendak Allah yang tunggal, seorang makhluk telah mendahului kita dan bangkit dengan mulia: Santa Perawan Maria, Bunda Yesus dan Bunda kita, yang diangkat ke kemuliaan surgawi dengan jiwa dan raganya. Satu alasan lagi untuk harapan dan optimisme penuh kepercayaan!

Mari kita selalu mengingat janji-janji ilahi, yang tidak pernah gagal, terutama di saat-saat kita sedih, lelah, atau menderita. Hendaknya kita mencamkan bagaimana St Josemaría mengungkapkan hal-hal terakhir dalam khotbahnya di suatu kesempatan: “Tuhan, aku percaya bahwa aku akan bangkit lagi, aku percaya bahwa badanku akan bersatu kembali dengan jiwaku untuk hidup bersama Dikau selama-lamanya  berkat jasa-jasa Tuhan Yesus yang tiada batas, melalui perantaraan Bunda-Mu , karena kasih-Mu yang besar padaku. ” [12]  Saya sangat berharap kalian tidak menganggap surat ini bernada pesimis. Justru sebaliknya, hendaknya isi surat ini  mengingatkan kita bahwa pelukan Tuhan menanti kita, jika kita setia.

Setelah kebangkitan orang mati, pengadilan terakhir akan berlangsung. Tidak ada perubahan sehubungan dengan apa yang sudah diputuskan dalam pengadilan khusus, tetapi dalam pengadilan akhir  kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, di mana penyelenggaraan ilahi  membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan Terakhir, “sebagaimana disimpulkan oleh   Katekismus Gereja Katolik, ” akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian .” [13]

Tentu saja, tidak ada yang tahu kapan atau bagaimana sejarah akan berakhir, atau apa pun tentang pembaharuan dunia material yang akan menyertainya, hanya Penyelengaraan Ilahi yang tahu Tugas kita adalah selalu waspada karena, seperti yang telah Tuhan umumkan berkali-kali, sebab  kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya. [14]

Dalam salah satu katekese tentang Syahadat, Paus Fransiskus menganjurkan: “semoga Pengadilan Terakhir tidak membuat kita takut: Pengadilan terakhir justru mendorong kita untuk hidup lebih baik sekarang ini. Allah menawarkan masa ini penuh dengan belas kasih dan kesabaran, supaya kita belajar mengenal Dia setiap hari dalam diri orang miskin dan hina. Mari kita berjuang demi kebaikan dan waspada dalam doa dan cinta. ” [15]  Renungan akan kebenaran abadi memperoleh sifat lebih supranatural  oleh  rasa takut yang suci, suatu karunia Roh Kudus yang mendorong kita, sebagaimana St Josemaría mengatakan, untuk membenci dosa dalam segala bentuknya, karena dosa adalah satu-satunya hal yang dapat menjauhkan kita dari rencana kerahiman Allah Bapa.

Putra-putriku, mari kita renungkan dalam-dalam kebenaran-kebenaran akhir. Dengan demikian harapan kita akan menjadi lebih besar; kita akan dipenuhi dengan optimisme dalam menghadapi kesulitan, dan kita akan bangkit lagi dari kejatuhan kecil kita, maupun yang tidak begitu kecil (Tuhan tidak akan menolak memberikan rahmat-Nya), dengan senantiasa mengingat kebahagiaan kekal yang Kristus janjikan, jika kita setia. ” Kehidupan yang sempurna bersama Tritunggal Mahakudus ini, persekutuan kehidupan dan cinta bersama Allah, bersama Perawan Maria, bersama para malaikat dan orang kudus, dinamakan “surga”. Surga adalah tujuan terakhir dan pemenuhan kerinduan terdalam manusia, keadaan bahagia tertinggi dan definitif ” [16]

“Surga:Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata  dan tidak pernah didengar oleh telinga dan  tidak pernah timbul di dalam hati manusia, semau itu disediakan oleh Allah untuk mereka yang mengasihi-Nya. Tidakkah wahyu Rasul Tuhan ini memberi engkau semangat untuk berjuang? ” [17]  Dan saya ingin menambahkan: Apakah kalian sering memikirkan tentang surga? Apakah kalian orang yang penuh dengan pengharapan, karena Tuhan mengasihi kalian dengan Cinta yang tiada batasnya? Mari kita mengangkat hati kita kepada Tritunggal Mahakudus yang senantiasa mendampingi kita.

Kalian tahu bahwa Bapa Paus menerima saya dalam audiensi pada tanggal 18 Oktober yang lalu. Betapa baik berada bersama dengan Bapa Paus! Bapa Paus mengungkapkan kasih sayang dan terima kasih kepada prelatur Opus Dei atas karya kerasulan yang dilaksanakan di seluruh dunia. Ini adalah satu alasan lagi bagi kita, putra dan putriku, untuk terus berdoa bagi Bapa Paus dan untuk intensinya serta bagi para pembantu beliau. Beberapa hari yang lalu kita membaca dalam Misa Kudus tentang Harun dan Hur yang menopang lengan Musa dari pagi sampai malam, sehingga pemimpin Israel itu dapat berdoa bagi bangsanya tanpa lelah. [18]  Tugas kita dan tugas semua umat Katolik adalah mendukung Bapa Paus, dengan doa dan matiraga kami, dalam memenuhi misi yang telah Kristus percayakan kepada beliau dalam Gereja.

Tanggal 22 yang akan datang adalah ulang tahun hari St Josemaría menemukan bunga mawar dari Rialp di dalam perjalanan melintasi pegunungan Pirinea. Dan itu adalah hari setelah pesta Santa Perawan Maria Dipersembahkan kepada Allah. Bapa Pendiri kita menafsirkan ini sebagai tanda bahwa Allah di Surga menghendaki dia melanjutkan perjalanannya agar dapat meneruskan karya pelayanan imamatnya dengan bebas di daerah-daerah di mana kebebasan beragama dihormati: ini pun adalah suatu undangan dari Bunda Maria agar kita lebih sering menghadap kepadanya.

Terus berdoa untuk intensi-intensi saya.  Dan pada hari-hari ini berdoalah terutama bagi saudara-saudara yang akan menerima tahbisan diakonat pada tanggal 9. Marilah kita juga mempersiapkan diri untuk Hari Raya Kristus Raja dengan pengharapan dan optimisme yang akan kita peroleh dalam hati apabila kita merenungkan kebenaran-kebenaran abadi. Dan, marilah kita bersyukur kepada Tuhan atas hari peringatan pengesahan Prelatur Opus Dei oleh Bapa Paus, pada tanggal 28.

Dengan penuh kasih sayang, saya memberkati kalian

+ Javier

Roma, 1 November , 2013

Catatan:

[1]   St Josemaría,   Kristus yang Berlalu, no.129.
[2]   Katekismus Gereja Katolik, no.988.
[3]   Phil   01:21 dan   2 Tim   02:11
[4]   Katekismus Gereja Katolik, no.1010
[5]   St Josemaría,   Jalan, no.739.
[6]   Paus Fransiskus, Pidato di Audiensi umum, 4 April 2013.
[7]   Katekismus Gereja Katolik, no.1022.
[8]   St Josemaría,   Jalan, no.168.
[9]   Katekismus Gereja Katolik, no.991.
[10]   Ibid., No.996.
[11]   Credo Athanasius atau   Quicumque, 38-39.
[12]   St Josemaría, Catatan diambil dari Renungan 13 Desember 1948.
[13]   Katekismus Gereja Katolik, no.1040.
[14]   Mt   25:13.
[15]   Paus Francis, Alamat di khalayak umum 24 April 2013.
[16]   Katekismus Gereja Katolik, no.1024.
[17]   St Josemaría,  Jalan, no.751.
[18]   Lihat   Kel   17:10-13

 

( Artikel ini dikutip langsung dari Website Resmi Opus Dei Indonesia > www.opusdei.co.id )