Meditasi Harian 1 Januari 2016 ~ HARI RAYA SANTA MARIA BUNDA ALLAH

image

KENAPA HARUS MARIA ?

Bacaan:
Bil.6:22-27; Mzm.66: 2-3.5.6.8; Gal.4: 4-7; Luk.2: 6-21

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah. Kenapa harus Maria? Di saat seluruh dunia tenggelam dalam kemeriahan dan sukacita perayaan Tahun Baru, kenapa Gereja Katolik justru merayakan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah? Apakah institusi yang telah berusia 2000-an tahun ini benar-benar menyembah Maria? Suatu pertanyaan yang menggeletik akal budi dan sikap beriman, bukan hanya bagi dunia, tetapi mungkin juga bagi beberapa warga Gereja. Bukankah Maria hanyalah manusia biasa yang rahimnya dipinjam Allah untuk melahirkan Putra Allah ke dunia? Tidak…sekali-kali tidaklah demikian.

Maria memang adalah manusia biasa, sama seperti kita. Dia terlahir dan dibesarkan oleh orang tuanya, pasangan Santa Anna dan Santo Yoakim, dalam sebuah keluarga, sama seperti kebanyakan dari antara kita. Kita juga bisa menemukan hidup yang dijalani oleh Maria di sekitar hidup kita sehari-hari. Tetapi, terlepas dari berbagai kesamaan hidup yang demikian, kita menemukan suatu kenyataan iman bahwa ternyata di balik segala hal yang biasa dan sama dengan kita, ada suatu misteri iman teramat agung yang membuat hidup Wanita ini sungguh pantas dirayakan di awal tahun yang baru ini. Manakala Gereja menetapkan Hari Raya Santa Maria Bunda Allah untuk dirayakan pada hari pertama dalam tahun, itu semata-mata karena dalam perayaan ini, Gereja menginginkan kita merayakan martabat dan panggilan luhur kita sebagai manusia. Maria memang adalah manusia biasa, namun bagaimana rahmat Allah bekerja dalam dirinya, dan bagaimana ia menanggapi kehendak Allah di sepanjang hidupnya, itulah yang menjadikannya luar biasa.

Allah dapat saja menciptakan dunia yang lebih baik daripada dunia dimana kita hidup saat ini, tetapi Dia tidak dapat menciptakan dan menetapkan Ibu yang lebih sempurna selain Ibu-Nya, Maria. Demikian kata-kata para teolog serta para kudus (Santo dan Santa) mengenai Bunda kita yang tercinta ini.
Sejak awal hidupnya, Maria telah dipenuhi rahmat dan dipilih secara isimewa oleh Allah untuk menjadi Bunda Allah. Oleh karena itu, sejak dalam kandungan sampai wafatnya, Maria telah dibebaskan dari segala dosa. Bilamana Hawa, ibu dari semua yang hidup, membuat seluruh umat manusia jatuh ke dalam dosa, maka Maria tampil sebagai “Hawa Baru”, yang melahirkan Dia, Sang Penebus dosa seluruh umat manusia. Maria satu-satunya manusia yang beroleh kehormatan menjadi Bunda Sang Pencipta (Mater Creatoris) dan Bunda Sang Juruselamat (Mater Salvatoris). Di sepanjang hidup Maria, kita dapat melihat suatu keteladanan beriman yang teramat patut dipuji, yang sanggup menyentuh hati Allah oleh “Fiat-nya”. Dialah satu-satunya manusia yang selalu menjawab “Ya” kepada Allah. Tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia menjawab “Tidak”, meskipun dengan menjadi Bunda Allah, dia sekaligus menjadi Bunda Dukacita. Melebihi semua manusia yang pernah hidup, dia menjalani hidup sebagai hamba Allah, yang setia melalui malam-malam gelap, tenggelam dalam cinta yang menghanguskan.

Jika dikatakan bahwa sebagai seorang kristiani, kita dipanggil untuk menjadi berkat Allah bagi banyak orang (bdk. Bacaan I), Maria sebenarnya telah lebih dahulu melakukannya. Malahan, Maria tidak hanya sekedar menjadi berkat, melainkan lebih dari itu, dia melahirkan Sang Berkat, yakni Yesus Kristus, Imanuel. “Kita dilahirkan oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria,” demikian kata Santo Agustinus, seorang Uskup pada abad-5. Keteladanan iman Wanita suci ini, telah dipuji dan dirayakan oleh Gereja Perdana, selama 2000 tahun, jauh sebelum munculnya Reformasi pada abad-15. Karena itu, mereka yang membuang tradisi suci ini sebenarnya telah menyangkal kekayaan iman yang telah diwartakan dengan bangga, dan diwariskan sejak zaman para Rasul.

Dengan dasar-dasar iman inilah kita boleh memahami, bahwa sebenarnya Hari Raya Santa Maria Bunda Allah, bukanlah perayaan akan Maria semata-mata, melainkan suatu perayaan keselamatan akan karya agung Allah. Gereja menampilkan bagi kita sosok teladan, warga Gereja yang paling bercahaya, hamba Allah yang paling setia, gambaran kesempurnaan Gereja. Bagaikan sebuah lukisan, Maria adalah lukisan terindah dari Allah, Sang Pelukis Yang Agung.

Hari ini Gereja mengundang kita, untuk melihat hidup kita masing-masing dalam diri Maria. Tahun-tahun kehidupan Maria telah dia jalani dalam cinta yang meluap-luap akan Allah, dalam kesetiaan tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas akan segala rancangan Tuhan. Bagaikan sebuah kertas kanvas yang kosong, Maria telah membiarkan hidupnya dilukis oleh Tuhan menjadi sebuah lukisan yang teramat indah. Lihatlah perayaan iman ini sebagai saat sentuhan rahmat bagi kita, untuk membiarkan Allah berkarya dalam tahun-tahun kehidupan kita, untuk membiarkan Sang Pelukis Agung melukiskan karya-Nya dalam kertas kanvas kosong kita masing-masing, agar sama seperti Maria, kita boleh menjadi lukisan yang indah bagi kemuliaan Allah,sehingga semua orang boleh berseru, “Ya Abba, Ya Bapa.” (Gal. 4: 6c)

Selamat menjalani Tahun yang baru. “Tuhan memberkati dan melindungi engkau; Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.” (Bil. 6: 23-26)

Regnare Christum Volumus!

Meditasi Harian 28 Desember 2015 ~ PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR

TUMPULNYA HATI NURANI

image

Bacaan:
1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18

Renungan:
Salah satu indikasi seorang semakin jauh dari Tuhan dan jalan-jalan-Nya adalah tumpulnya Hati Nurani.
Ketika seorang mengalami ketumpulan hati nurani, maka dia akan mengabaikan apa yang baik dan benar. Kegemarannya bukanlah melakukan kehendak Tuhan, melainkan membuat jurang pemisah antara dia dan Allah, melukai Hati Tuhan, dan menjadi tuli terhadap Suara Tuhan yang bergema di hatinya. Seiring dengan itu, hidupnya mulai mengalami ketiadaan rahmat, dan tindak tanduknya semakin menciptakan permusuhan antara dia dengan Allah.

Itulah yang terjadi dengan Herodes dalam Injil hari ini. Raja Herodes telah menjadi gelap hati, kemudian secara tahu dan mau menolak Sang Cahaya.
Keinginannya untuk membunuh Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus berbuah pada keluarnya titah pada waktu itu untuk melakukan pembantaian teramat biadab, yakni pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem.
Bacaan pertama hari ini, hendaknya mencerahkan budi kita untuk merefleksikan hidup beriman kita, apakah kita pun pernah mengalami tumpulnya hati nurani. Rasul Yohanes mengatakan,
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1Yoh.1:5-6)

Di sepanjang sejarah kemanusiaan, termasuk hidup kita sendiri, kita pun melihat dan menyaksikan banyak hal yang sulit dimengerti oleh hati manusia yang mencintai Allah.
Bagaimana mungkin orang sanggup meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri di pasar, menggorok leher sesama manusia, memperkosa wanita-wanita tak berdaya sampai mati dalam trauma berat, dan semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan dan Agama?

Ada banyak hal dan peristiwa dalam dunia saat ini dimana kegelapan seolah merajai hati manusia, sehingga mendorong banyak orang untuk bertanya, “Dimanakah Allah?

Dalam Injil hari ini kita membaca bagaimana ketumpulan hati nurani dalam diri Raja Herodes, membuat dia tega membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Akan tetapi dunia dimana kita hidup saat ini pun setiap hari menjadi saksi bagaimana para Ibu begitu tega membunuh anak-anak mereka, dengan keji melenyapkan darah daging mereka sendiri melalui tindakan aborsi terencana, atau membuang anak-anak mereka setelah terlahir, untuk dibiarkan mati tergeletak di jalan-jalan dunia ini.

Dalam jeritan kemanusiaan, Beata Teresa dari Kalkutta (Mother Teresa) pun dengan sedih mengatakan,
Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.

Di saat dunia kini seolah mengalami ketiadaan Allah – ketiadaan Sang Kasih, Pesta Kanak-Kanak Suci di Hari Keempat dalam Oktaf Natal mengajak kita sekalian untuk menyadari kebenaran ini.
Tuhan selalu Ada. Dunia boleh saja menyebarkan kebohongan, dan mengatakan Dia sudah mati atau tidak ada.
Tetapi sesungguhnya, Tuhan selalu Ada.
Kitalah yang seringkali menolak kehadiran-Nya, membiarkan diri kita tenggelam dalam lumpur dosa yang berujung pada tumpulnya hati nurani.
Maka, bila kita sungguh ingin memiliki kedamaian dan sukacita, datanglah mendekat kepada Bayi Yesus dalam palungan di Bethlehem.

Hanya Dia yang terbaring seolah tak berdaya dalam rupa insani, yang sanggup untuk melembutkan hatimu serta membawa cahaya dalam jiwamu.
Bila Terang itu telah berdiam di hatimu, maka kamu pun akan sanggup membawa cahaya untuk menerangi lorong-lorong dunia ini dan mengenyahkan kegelapan.
Inilah panggilan kita, suatu kerasulan suci untuk menjadi pembawa damai.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi pemandu yang aman bagi kita, untuk menjalani hidup Kristiani secara otentik dan meyakinkan, sekalipun karenanya kita mungkin saja harus menghadapi kemartiran seperti Kanak-Kanak Suci dari Bethlehem.
Jangan Takut!
Kristus telah datang ke dalam dunia, dan telah memenangkan kita dengan Darah Suci-Nya. (bdk.1Yoh.1:7)
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm.124:8)
Berlututlah di hadapan Sang Bayi Suci, dan berilah dirimu diubahkan oleh-Nya. Kemudian berdirilah seperti seorang Kesatria, dan menangkanlah dunia ini dalam nama-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 25 Desember 2015 ~ HARI RAYA NATAL

SUKACITA YANG BERASAL DARI SEORANG BAYI

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11 – 12)

image

Saudara-saudari terkasih,

Hari Raya Natal merupakan suatu perayaan iman akan Allah yang menjadi manusia, karena Kasih. Kata “Natal” sendiri mempunyai suatu makna yang sangat dalam. Bagi banyak orang, termasuk mereka yang belum atau tidak beriman, mendengar atau membayangkan arti kata “Natal” saja sudah membawa kegembiraan, sukacita, dan senyum bahagia. Bagi sebagian orang, Natal mungkin hanya identik dengan pesta, Santa Claus dan hadiah, lampu-lampu hias dan pohon natal yang bernyala dengan indah, atau mungkin aneka kue dan makanan yang lezat.
Akan tetapi, gambaran keliru akan arti Natal yang diciptakan oleh dunia modern saat ini, seringkali mengaburkan kita dari kenyataan dan misteri agung yang terjadi dalam kandang hina di suatu kota kecil bernama Bethlehem.
Diawali dengan kabar sukacita dari Allah melalui malaikat-Nya, Gabriel, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, lalu kepada Yosef, yang kemudian menjadi suami-Nya. Maria mungkin hanyalah seorang gadis sederhana, tetapi jawaban Imannya membuat gadis ini menjadi luar biasa, terberkati di antara semua wanita, mengguncangkan surga dalam sukacita, dan menempatkannya sebagai permata terindah dalam sejarah kekristenan. Seandainya tidak ada “Fiat” Maria, keselamatan tidak akan datang ke dalam dunia, dan selamanya kita akan tinggal dalam kegelapan. Pernyataan “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, menjadikan Maria sebagai saksi pertama dari sukacita Injil bagi seluruh umat manusia.

Dalam diri Yosef, suaminya, kita pun bisa melihat kebesaran hati yang berasal dari relasi pribadi-Nya yang mesra dengan Allah. Ketaatannya kepada hukum Tuhan, semakin sempurna dan nyata dalam ketaatannya menerima tugas sebagai suami Perawan Maria dan bapa pemelihara Tuhan kita Yesus Kristus. Sama seperti Maria, Yosef memberikan kita teladan bagaimana berjalan di tengah kegelapan iman. Kegelapan tidak lagi gelap bagi mereka, karena mereka telah dibutakan oleh cahaya kasih Ilahi.
Melalui permenungan akan peristiwa, tempat, dan tokoh lainnya dari peristiwa Natal ini, kita pun dapat merefleksikan bagaimana kita sendiri menyikapi kedatangan Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana Maria tergerak menempuh perjalanan mengunjungi Elisabeth untuk membagikan kabar sukacita, mengajar kita untuk tidak pernah menyimpan segala karunia, talenta, dan berkat Tuhan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbagi, agar orang lain turut mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu. Itulah kepenuhan sukacita kita.

Ketiadaan tempat menginap, pintu-pintu yang tertutup, ketukan dan salam tak berbalas, menggambarkan hati manusia yang seringkali tertutup terhadap keselamatan dari Allah, suatu ketakutan untuk meninggalkan manusia lama, keengganan untuk memutuskan persahabatan dengan dosa, suatu tindakan yang melukai hati Tuhan sebab memperlihatkan bagian terburuk dari hati manusia yang tidak mau disentuh dan diubah oleh sentuhan rahmat Ilahi.
Bahwa para Majus dari Timur keluar dari negeri mereka untuk melakukan perjalanan mengikuti cahaya bintang, mengungkapkan suatu sikap iman seperti Abraham yang keluar meninggalkan negerinya menuju Tanah Terjanji. Bagaikan mempelai wanita dalam Kidung Agung yang keluar dari peraduannya untuk mencari Sang Kekasih yang telah melukainya dalam nyala api cinta. Inilah yang dimaksud oleh St. Yohanes dari Salib dalam kata-katanya, “Untuk memperoleh Yesus Kristus, Sang Segala, lepaskanlah segala.

Penolakan Herodes dan nafsu membunuhnya yang berujung pada pembantaian kanak-kanak suci Bethlehem, menunjukkan bahwa ketika manusia secara sukarela menjadi budak dosa dan maut, dia sanggup melakukan hal-hal yang merupakan kekejian dan jahat di mata Tuhan, serta merusak citra Allah dalam diri-Nya. Kita pun bisa melihat hal yang sama saat ini di sekitar kita, dimana orang sanggup membunuh saudara dan saudarinya dalam nama Tuhan maupun ideologi yang keliru, bahkan lebih jahat dari Herodes, setiap hari kita pun mendengar maupun melihat banyak ibu yang tega menggugurkan kandungannya, membunuh darah dagingnya sendiri.

Kenyataan bahwa para penggembala adalah yang pertama tiba untuk memberi hormat di depan Sang Bayi mungil Bethlehem, seolah memberikan suatu kenyataan bahwa seringkali misteri Ilahi lebih mudah diterima oleh hati yang sederhana, mereka yang merangkul putri kemiskinan adalah mereka yang pada akhirnya beroleh mutiara yang paling berharga. Mereka yang lemah lembut hatinyalah yang pada akhirnya akan memandang Allah.

Saudara-saudari terkasih,

Perayaan Natal pun adalah suatu perayaan keluarga. Sebagaimana Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dan dibesarkan dalam sebuah Keluarga Kudus yang mencintai hukum Tuhan serta saling mengasihi, demikian pula peristiwa Natal mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya untuk memelihara kehidupan bukannya melenyapkannya, untuk berpegang teguh pada moral Kristiani dan Ajaran Sosial Gereja. Tentu saja ini merupakan tantangan dan perjuangan Iman tersendiri di tengah dunia yang semakin mengerdilkan peran keluarga dalam membangun dunia, di saat penghargaan akan martabat manusia semakin rendah, dan di saat banyak orang mencoba memberikan makna dan bentuk baru yang keliru akan pernikahan dan keluarga. Di tengah kemerosotan tatanan hidup yang demikian, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya sukacita Natal, dan menghalau kegelapan. Jadilah keluarga yang kudus dan merasul! Jadilah putra-putri Gereja yang dengan dipenuhi sukacita Injil.

Kita kini hidup di tengah dunia yang semakin kehilangan sentuhan dengan yang ilahi. Gambaran-gambaran yang keliru dan kegemerlapan perayaan Natal palsu yang ditampilkan oleh dunia sekuler saat ini, telah mengaburkan iman kita dari kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dalam sebuah kandang hina Bethlehem. Ini pulalah yang selalu membawa Gereja pada kesadaran akan misinya bagi kaum miskin papa dan menderita, sekaligus mengingatkan Gereja untuk tidak jatuh dalam bahaya kemapanan dan kegemilangan harta. “Bagi saya, lebih baik Gereja itu rapuh, terluka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, ketimbang Gereja yang sakit lantaran tertutup dan sibuk memperhatikan kemapanannya sendiri,” demikian kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Saudara-saudari terkasih,

Makna Natal yang sejati adalah perayaan kasih Allah akan dunia. Suatu kabar sukacita yang secara sempurna terangkum dalam kata-kata St. Yohanes Rasul, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Sang Bayi mungil dari Bethlehem ini menjadi tanda bahwa kebesaran Allah bukan saja terlihat pada kemahakuasaan-Nya, melainkan juga dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati-Nya. Di saat banyak pemimpin dunia yang mencoba menunjukkan bahwa kekuasaan dan kehormatan hanya bisa didapat dari ketakutan, peperangan, pemaksaan kehendak, perbudakan dan dorongan untuk menghalalkan segala cara, serta melihat jabatan dan kekuasaan sebagai milik yang harus dipertahankan, di tengah segala semuanya itu misteri Natal menjadi tanda perbantahan, dimana Tuhan, Sang Raja Alam Semesta, justru memancarkan kemuliaan dan kuasa-Nya dalam kerapuhan dan ketidakberdayaan seorang Bayi. Dia dihormati dan disembah oleh surga dan bumi, karena kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya, dan menjadi manusia. “Allah menjadi manusia, supaya manusia menjadi (partisipatif) Allah,” demikian gambaran indah dan tepat dari St. Athanasius mengenai misteri agung ini.

Marilah kita berdoa agar di Tahun Yubileum Kerahiman ini, kita semua semakin menyadari belas kasih Bapa yang mengutus Putra-Nya untuk masuk ke dalam dunia. Kedatangan Kristus telah membuka Pintu Kerahiman Allah bagi dunia.
Berdoalah bagi mereka yang saat ini harus merayakan Natal dalam berbagai situasi sulit kehidupan, dalam penganiayaan dan peperangan, dalam kesepian dan keterasingan, dalam penjara dan belenggu dosa, dalam kemiskinan dan ketidakadilan, dalam sakit dan sakratul maut. Semoga cahaya Kristus menerangi hidup kita semua, mendatangkan perubahan hati untuk memandang Bayi Kudus di Bethlehem, dalam keheningan yang mendamaikan serta membebaskan.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi penunjuk jalan yang aman bagi kita menuju Yesus, Putera-Nya, agar lewat tuntutan kasih keibuan dan doa-doanya, kita semakin dipenuhi sukacita yang berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem. Dia yang lahir dalam kesederhanaan, dalam kerapuhan seorang bayi, kiranya membuat kita tersungkur dalam kekaguman akan misteri agung cintakasih Allah ini.

Bersama dengan St. Josemaria Escriva, saya berdoa bagi anda sekalian, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.

Regnare Christum volumus !

SELAMAT NATAL

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Sukacita itu berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem

Peristiwa Natal di Bethlehem

Peristiwa Natal di Bethlehem

 

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11 – 12)

 

Saudara-saudari terkasih,
Hari Raya Natal merupakan suatu perayaan iman akan Allah yang menjadi manusia karena Kasih. Kata “Natal” sendiri mempunyai suatu makna yang mendalam. Bagi banyak orang, termasuk mereka yang belum atau tidak beriman, mendengar atau membayangkan arti kata “Natal” saja sudah membawa kegembiraan, sukacita, dan senyum bahagia. Bagi sebagian orang, Natal mungkin hanya identik dengan pesta, Santa Claus dan hadiah, lampu-lampu hias dan pohon natal yang bernyala dengan indah, atau mungkin aneka kue dan makanan yang lezat.
Akan tetapi, gambaran keliru akan arti Natal yang diciptakan oleh dunia modern saat ini, seringkali mengaburkan kita dari kenyataan dan misteri agung yang terjadi dalam Kandang hina di suatu kota kecil bernama Bethlehem.
Diawali dengan kabar sukacita dari Allah melalui malaikat-Nya, Gabriel, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, kemudian kepada Yosef, yang kemudian menjadi suami-Nya. Maria mungkin hanyalah seorang gadis sederhana, tetapi jawaban Imannya membuat gadis ini menjadi luar biasa, terberkati di antara semua wanita, mengguncangkan surga dalam sukacita, dan menempatkannya sebagai permata terindah dalam kekristenan. Seandainya tidak ada “Fiat” Maria, keselamatan tidak akan datang ke dalam dunia, dan selamanya kita akan tinggal dalam kegelapan. Pernyataan “jadilah padaku menurut perkataan-Mu”, menjadikan Maria sebagai saksi pertama dari sukacita Injil bagi seluruh umat manusia.
Dalam diri Yosef, suaminya, kita pun bisa melihat kebesaran hati yang berasal dari relasi pribadi-Nya yang mesra dengan Allah. Ketaatannya kepada hukum Tuhan, semakin sempurna dan nyata dalam ketaatannya menerima tugas sebagai suami Perawan Maria dan bapa pemelihara Tuhan kita Yesus Kristus. Sama seperti Maria, Yosef memberikan kita teladan bagaimana berjalan di tengah kegelapan iman. Kegelapan tidak lagi gelap bagi mereka, karena mereka telah dibutakan oleh cahaya kasih Ilahi.
Melalui permenungan akan peristiwa, tempat, dan tokoh lainnya dari peristiwa Natal ini, kita pun dapat merefleksikan bagaimana kita sendiri menyikapi kedatangan Tuhan dalam hidup kita. Bagaimana Maria tergerak menempuh perjalanan mengunjungi Elisabeth untuk membagikan kabar sukacita, mengajar kita untuk tidak pernah menyimpan segala karunia, talenta, dan berkat Tuhan bagi diri kita sendiri. Kita dipanggil untuk berbagi, agar orang lain turut mengalami kasih Allah yang mengubahkan itu. Itulah kepenuhan sukacita kita.
Ketiadaan tempat menginap, pintu-pintu yang tertutup, ketukan dan salam tak berbalas, menggambarkan hati manusia yang seringkali tertutup terhadap keselamatan dari Allah, suatu ketakutan untuk meninggalkan manusia lama, keengganan untuk memutuskan persahabatan dengan dosa, suatu tindakan yang melukai hati Tuhan sebab memperlihatkan bagian terburuk dari hati manusia yang tidak mau disentuh dan diubah oleh sentuhan rahmat Ilahi.
Bahwa para Majus dari Timur keluar dari negeri mereka untuk melakukan perjalanan mengikuti cahaya bintang, mengungkapkan suatu sikap iman seperti Abraham yang keluar meninggalkan negerinya menuju Tanaj Terjanji. Bagaikan mempelai wanita dalam Kidung Agung yang keluar dari peraduannya untuk mencari Sang Kekasih yang telah melukainya dalam nyala api cinta. Inilah yang dimaksud oleh St. Yohanes dari Salib dalam kata-katanya, “Untuk memperoleh Yesus Kristus, Sang Segala, lepaskanlah segala.”

Penolakan Herodes dan nafsu membunuhnya yang berujung pada pembantaian kanak-kanak suci Bethlehem, menunjukkan bahwa ketika manusia secara sukarela menjadi budak dosa dan maut, dia sanggup melakukan hal-hal yang merupakan kekejian dan jahat di mata Tuhan, serta merusak citra Allah dalam diri-Nya. Kita pun bisa melihat hal yang sama saat ini di sekitar kita, dimana orang sanggup membunuh saudara dan saudarinya dalam nama Tuhan maupun ideologi yang keliru, bahkan lebih jahat dari Herodes, setiap hari kita mendengar maupun melihat ibu-ibu yang tega menggugurkan kandungannya, membunuh darah dagingnya sendiri.
Kenyataan bahwa para penggembala adalah yang pertama tiba untuk memberi hormat di depan Sang Bayi mungil Bethlehem, seolah memberikan suatu kenyataan bahwa seringkali misteri Ilahi lebih mudah diterima oleh hati yang sederhana, mereka yang merangkul putri kemiskinan adalah mereka yang pada akhirnya beroleh mutiara yang paling berharga. Mereka yang lemah lembut hatinyalah yang pada akhirnya akan memandang Allah.

Saudara-saudari terkasih,
Perayaan Natal pun adalah suatu perayaan keluarga. Sebagaimana Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dan dibesarkan dalam sebuah Keluarga Kudus yang mencintai hukum Tuhan serta saling mengasihi, demikian pula peristiwa Natal mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya untuk memelihara kehidupan bukannya melenyapkannya, untuk berpegang teguh pada moral Kristiani dan Ajaran Sosial Gereja. Tentu saja ini merupakan tantangan dan perjuangan Iman tersendiri di tengah dunia yang semakin mengerdilkan peran keluarga dalam membangun dunia, di saat penghargaan akan martabat manusia semakin rendah, dan di saat banyak orang mencoba memberikan makna dan bentuk baru yang keliru akan pernikahan dan keluarga. Di tengah kemerosotan tatanan hidup yang demikian, keluarga-keluarga Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya sukacita Natal, dan menghalau kegelapan. Jadilah keluarga yang kudus dan merasul! Jadilah putra-putri Gereja yang dengan dipenuhi sukacita Injil.

Kita kini hidup di tengah dunia yang semakin kehilangan sentuhan dengan yang ilahi. Gambaran-gambaran yang keliru dan kegemerlapan perayaan Natal palsu yang ditampilkan oleh dunia sekuler saat ini, telah mengaburkan iman kita dari kenyataan bahwa Tuhan dan Penyelamat kita terlahir dalam sebuah kandang hina Bethlehem. Ini pulalah yang selalu membawa Gereja pada kesadaran akan misinya bagi kaum miskin papa dan menderita, sekaligus mengingatkan Gereja untuk tidak jatuh dalam bahaya kemapanan dan kegemilangan harta. “Bagi saya, lebih baik Gereja itu rapuh, terluka dan kotor karena turun ke jalan-jalan, ketimbang Gereja yang sakit lantaran tertutup dan sibuk memperhatikan kemapanannya sendiri,” demikian kata Bapa Suci Paus Fransiskus.

Saudara-saudari terkasih,
Makna Natal yang sejati adalah perayaan kasih Allah akan dunia. Suatu kabar sukacita yang secara sempurna terangkum dalam kata-kata St. Yohanes Rasul, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Sang Bayi mungil dari Bethlehem ini menjadi tanda bahwa kebesaran Allah bukan saja terlihat pada kemahakuasaan-Nya, melainkan juga dalam kelemah lembutan dan kerendahan hati-Nya. Di saat banyak pemimpin dunia yang mencoba menunjukkan bahwa kekuasaan dan kehormatan hanya bisa didapat dari ketakutan, peperangan, pemaksaan kehendak, perbudakan dan dorongan untuk menghalalkan segala cara, serta melihat jabatan dan kekuasaan sebagai milik yang harus dipertahankan, di tengah segala semuanya itu misteri Natal menjadi tanda perbantahan, dimana Tuhan, Sang Raja Alam Semesta, justru memancarkan kemuliaan dan kuasa-Nya dalam kerapuhan dan ketidakberdayaan seorang Bayi. Dia dihormati dan disembah oleh surga dan bumi, karena kesediaan-Nya untuk mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya, dan menjadi manusia. “Allah menjadi manusia, supaya manusia menjadi Allah,” demikian gambaran indah dan tepat dari St. Athanasius mengenai misteri agung ini.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi penunjuk jalan yang aman bagi kita menuju Yesus, Putera-Nya, agar lewat tuntutan kasih keibuan dan doa-doanya, kita semakin dipenuhi sukacita yang berasal dari seorang Bayi mungil di Bethlehem. Dia yang lahir dalam kesederhanaan, dalam kerapuhan seorang bayi, kiranya membuat kita tersungkur dalam kekaguman akan misteri agung cintakasih Allah ini.

Bersama dengan St. Josemaria Escriva, saya berdoa bagi anda sekalian, “Semoga engkau mencari Kristus. Semoga engkau menemukan Kristus. Semoga engkau mencintai Kristus.”
Selamat Natal. (vft)

Pesan Natal 2014 dari Bapa Prelat Opus Dei

 

Berikut ini adalah teks dalam Bahasa Inggris dari Pesan Natal Mgr. Javier Echevarria, Bapa Prelat Opus Dei, dalam video tersebut.

 

 

Christmas 2014

These upcoming days are marvelous, because they bring us

the announcement of our Lord’s coming to live among men.

The moment the word “Christmas” is heard

people right away think: happiness, joy….

For some, it is a merely external happiness: parties, lights….

We Christians should pray that all mankind may come to know

the gift that our Lord grants us by coming to remain with us.

Not only for ourselves, but also for our families

so that each home may be an extension of the marvelous home

formed in Bethlehem and Nazareth, despite the poverty and material deprivation.

It is important to pay attention to what the Gospel of St. Luke tells us

when recounting how the Angel comes to seek out the shepherds,

who are filled with fear, as is only natural, at this amazing news

that is attested to by the Angel’s presence.

The Angel tells them: I bring you marvelous news,

Christ the Saviour has been born for you.

This is what happens each day with our Lord,

who wants to come to dwell, to remain with us.

Consider the people present at the Nativity scene.

Jesus, all-generous, giving himself completely,

because being God omnipotent, being God without limits,

nevertheless he becomes a small creature so that all women and men,

in every place, may dare to draw close to him and speak with him.

I am moved on seeing how, thanks to God’s goodness, the custom is spreading,

and I ask our Lord that it not be something merely external,

of placing in many homes a Crib scene.

May it not be merely an external adornment,

looking at our Lord and not responding.

We have to love him, responding to his love.

There we have the school to learn to love him,

in the figures accompanying him, in Mary and Joseph.

It’s extraordinary how Christ chose to come into the world: in a stable, in Bethlehem.

And nevertheless, there, where all material goods were lacking,

was found the richness of heaven that the earth cannot give.

And therefore, Mary and Joseph constantly tried

to thank our Lord by their behaviour, by their care for him,

in response to what they had received.

They never cease marvelling at the gift they have received from God.

May every person and family have the constant desire

to strive to live facing God and for God.

We will draw a lot of good from this,

since by being close to God we will learn to treat better

our friends and colleagues, and also those we don’t know.

I think that the atmosphere of external joy found in many cities,

with so many decorations and lights, needs to be a spur for us

to speak about its real meaning: that it shouldn’t be something merely external,

but that it should also lead to a deeper fraternity and unity among all mankind.

We have to spend these marvelous days united to all humanity,

and specifically to those who for whatever reason are suffering:

the sick, the poor, and also the people in countries

where peace is lacking: also external peace, because of war and aggression.

It’s only logical that we children of God, on seeing this God of ours

giving himself to us with such great generosity,

also want to follow in his footsteps and give ourselves to the others.

And we have to begin in our own family.

We wouldn’t truly love mankind nor people in other places

if we didn’t love, in Christ and for Christ, all the people in our own family.

I hope that this Christmas will be a personal feast,

and also a family feast and a feast shared with all mankind.

May God help all of us to be each day more faithful.

2 Bapa Suci bertemu, Paus Fransiskus mengunjungi Paus Emeritus Benediktus XVI untuk mengucapkan Salam Natal

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

Paus Emeritus Benediktus XVI menerima kunjungan Paus Fransiskus di rumah peristirahatan beliau.

 

VATICAN CITY (AP) Hari Senin kemarin, Paus Fransiskus telah mengunjungi pendahulunya, Paus Emeritus Benediktus XVI, untuk saling mengucapkan salam Natal.

Foto yang dirilis oleh surat kabar Vatikan menunjukkan dua Bapa Suci ini, mengenakan jubah putih identik kecuali tambahan cape untuk Paus Fransiskus (untuk menandakan Paus yang sekarang bertahta), mereka mengobrol di ruang duduk di dalam rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI. Mereka juga berdoa bersama di kapel pribadi. Paus Emeritus Benediktus XVI terlihat berada dalam kondisi yang sehat, meskipun harus menggunakan tongkat untuk membantunya berdiri selama doa bersama.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

Paus Emeritus Benediktus XVI kemudian mengajak Paus Fransiskus untuk duduk berbincang di ruang tamunya. Mereka saling mengucapkan Selamat Natal ditemani Karangan Adven yang keempat lilinnya sudag menyala semua.

 

 

Ini adalah pertama kalinya interior rumah peristirahatan Paus Emeritus Benediktus XVI ditampilkan untuk umum: Ruang duduk dan furnitur yang serba putih. Sebuah karangan bunga Adven dengan keempat lilin sudah menyala semua (tanda Natal sudah semakin dekat) terlihat menghiasi meja kopi.

Sejak Paus Emeritus Benediktus XVI mengundurkan diri pada bulan Februari, kedua Paus ini hanya pernah bertemu sekali di hadapan publik, untuk upacara resmi Vatikan pada bulan Juli. Mereka juga telah terkadang bertemu secara pribadi atau berbicara melalui telepon.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.

Kedua Bapa Suci ini juga menyempatkan diri untuk berdoa bersama bagi Gereja dan seluruh dunia di depan altar dari Kapel Pribadi Paus Emeritus.