Gadis Afganistan dipaksa oleh Kakak Kandungnya untuk melakukan aksi bom bunuh diri

Sulit dimengerti… 🙁

Sungguh menyesakkan dada pas nonton berita utama CNN & BBC hari ini.
Seorang gadis kecil berumur 10 tahun di Afghanistan menjadi berita utama setelah ditangkap saat mengenakan rompi yang penuh rangkaian bom bunuh diri.

Gadis kecil ini disuruh melakukan aksi bom bunuh diri oleh kakak kandungnya sendiri, seorang pemimpin pemberontak muslim Taliban.

Betapa biadab dan jahatnya hati manusia saat ini, suatu fanatisme beragama yg secara sesat telah merusak keluhuran agamanya sendiri, menghujat ALLAH yang adalah KASIH, dengan hidup beriman yg keliru, berperilaku layaknya binatang.

Dapatkah pemahaman jihad yang keliru seperti melakukan bom bunuh diri, membunuh sesama manusia (termasuk yang se-agama), melarang wanita mengenyam pendidikan, dan berbagai kekejian lainnya, dapatkah perilaku-perilaku keji demikian beroleh ganjaran kemuliaan surga?

Bagaimana mungkin suatu agama menjadi rahmat bagi alam semesta, jika yang dilakukan pengikutnya justru merusak alam semesta dan menghancurkan kehidupan?

View on Path

Surat Jaminan Muhammad SAW bagi umat Kristen

Acthiname of Muhammad - Surat Jaminan Muhammad

Acthiname of Muhammad – Surat Jaminan Muhammad

Surat jaminan ini ditulis oleh Muhammad SAW bagi Biara Katolik Santa Katarina di Gunung Sinai. Biara ini didirikan di kaki Gunung Sinai, tempat Nabi Musa bertemu dengan ALLAH dalam Semak Belukar Yang Bernyala dan juga tempat ia menerima 10 Perintah Allah. Muhammad SAW memiliki hubungan yang sangat baik dengan para biarawan Katolik di Biara Santa Katarina, tempat ia dan para pengikutnya sering meminta air dan tempat berteduh dalam perjalanan. Surat yang dimeteraikan dengan cap tangan Muhammad SAW sendiri ini dimaksudkan sebagai jaminan perlindungan bagi Biara Katolik Santa Katarina, dan semua orang Kristen yang berada dalam wilayah kekuasaan/daerah Muslim.

Terjemahan dokumen sebagai berikut:

“Ini adalah pesan dari Muhammad ibn Abdullah, sebagai suatu perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka.
Sesungguhnya aku, para hamba, para pembantu dan para pengikutku membela mereka, karena orang Kristen adalah wargaku; dan demi ALLAH! aku menahan diri untuk melakukan apapun yang menentang mereka.
Tidak ada paksaan boleh dilakukan untuk mereka.
Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, maupun para biarawan mereka dari biara-biaranya.
Tidak ada orang yang boleh menghancurkan rumah agama (Gereja) mereka, atau merusakkannya, atau mengambil sesuatupun daripadanya ke dalam rumah-rumah orang Muslim.
Bilamana ada orang yang melakukan hal ini, ia menyalahi perjanjian ALLAH dan tidak mematuhi Nabi-Nya.
Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan memiliki perjanjian erat dariku melawan semua yang mereka benci.
Tidak ada orang yang boleh memaksa mereka untuk pergi atau mengharuskan mereka untuk berperang.
Orang-orang Muslim wajib berperang bagi mereka.
Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, tidak boleh dilakukan tanpa seizin wanita itu. Wanita itu tidak boleh dihalangi untuk mengunjungi Gerejanya untuk berdoa.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dihalangi untuk memperbaikinya atau kekudusan perjanjian-perjanjian mereka.
Tidak ada bangsa (Muslim) yang boleh melanggar perjanjian ini sampai Akhir Zaman.”

Sejarah

Dokumen ini menyatakan bahwa Nabi Muhammad (570-633) secara pribadi melalui perjanjian ini memberikan hak-hak dan kemudahan bagi semua orang Kristen “jauh dan dekat”. Memuat sejumlah butir topik perlindungan orang-orang Kristen yang hidup dalam kekuasaan Islam sebagaimana para peziarah dalam perjalanan ke biara-biara, kebebasan beragama, kebebasan bepergian dan kebebasan menentukan para hakim dan memelihara hak milik mereka, bebas dari wajib militer dan pajak serta hak untuk dilindungi dalam peperangan.

Dokumen asli dari surat tersebut pada tahun 1517 diambil oleh Sultan Selim I dari Turki dan disimpan di Museum Topkapi di Istambul. namun sebelum mengambilnya Sultan Selim I membuat salinan untuk pihak Biara Katolik Santa Katarina, yang dilegalisir bersama-sama Sultan Selim I dan perwakilan Biara.

Naskah perjanjian yang asli sudah tidak ada lagi, tetapi beberapa salinan masih ada di Biara Santa Katarina, di antaranya ada yang disaksikan oleh para hakim Islam untuk menguatkan keotentikan sejarahnya. Penjelasan tradisional mengenai hilangnya naskah asli adalah pada waktu Kekaisaran Ottoman menyerang Mesir pada tahun 1517 atas perintah sultan Selim I, naskah asli diambil dari biara tersebut oleh tentara Ottoman dan dibawa ke istana Selim di Istanbul.[2][1] Salinannya kemudian dibuat untuk mengganti kehilangannya di biara tersebut.[1] Di sisi lain, mungkin pula perjanjian itu diperbarui di bawah penguasa baru, sebagaimana disebutkan dalam dokumen lain di arsip tersebut.[3] Tradisi mengenai toleransi yang ditunjukkan terhadapa biara ini telah dilaporkan dalam dokumen-dokumen pemerintah yang diterbitkan di Kairo, dan selama periode kekuasaan Ottoman (1517-1798), Pasha Mesir setiap tahun menegaskan kembali perlindungannya.[1]

Pada tahun 1630, Gabriel Sionita menerbitkan edisi pertama naskah bahasa Arab, dengan terjemahan bahasa Latin, berjudul Testamentum et pactiones inter Mohammedem et Christianae fidei cultores atau judul bahasa Arab “Al-‘ahd wa-l-surut allati sarrataha Muhammad rasul-Allah li ahl al-millah al-nasraniyyah.“.

Asal mula dokumen ini telah menjadi topik berbagai tradisi berbeda, yang paling terkenal melalui kisah-kisah petualang Eropa yang mengunjungi Biara tersebut.[1] Para pengarang ini termasuk perwira Perancis Greffin Affagart (meninggal~ tahun 1557), pengunjung Perancis Jean de Thévenot (meninggal tahun 1667) dan Uskup (Prelate) Inggris Richard Peacocke,[1] yang menyertakan terjemahan bahasa Inggris naskah tersebut.

Sejak abad ke-19, beberapa bagian Achtiname ini mulai diteliti lebih mendalam, terutama daftar para saksi.[4] Terdapat kemiripan dengan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada komunitas agama lain di Timur Dekat. Salah satu contoh adalah surat Muhammad bagi orang-orang Kristen di Najrān, yang ditemukan pertama kali pada tahun 878 pada sebuah Biara Katolik di Irak dan naskahnya diawetkan di Chronicle of Séert.[1]

Pengaruh Modern

Beberapa orang berpendapat bahwa Achtiname ini merupakan sumber untuk membangun jembatan antara orang Muslim dan orang Kristen. Misalnya dalam halaman-halaman surat kabar Washington Post, Muqtedar Khan[5] menerjemahkan seluruh naskah itu, dan menyatakan bahwa

Mereka yang berniat menebarkan perselisihan antara orang Muslim dan Kristen berfokus pada isu yang membagi dan menekankan pada bidang-bidang konflik. Namun ketika sumber-sumber seperti janji Muhammad kepada orang Kristen dimunculkan dan digarisbawahi, ia membangun jembatan-jembatan. Ini mengilhami orang-orang Muslim untuk bangkit di atas intolerasi komunal dan menimbulkan tekad baik dalam diri orang-orang Kristen yang merasa takut terhadap Islam atau orang Muslim.[5]

Referensi

  1. ^ a b c d e f g Ratliff, “The monastery of Saint Catherine at Mount Sinai and the Christian communities of the Caliphate.”
  2. ^ Lafontaine-Dosogne, “Le Monastère du Sinaï: creuset de culture chrétiene (Xe-XIIIe siècle)”, p. 105.
  3. ^ Atiya, “The Monastery of St. Catherine and the Mount Sinai Expedition”. p. 578.
  4. ^ Ratliff, “The monastery of Saint Catherine at Mount Sinai and the Christian communities of the Caliphate”, note 9. Ratliff refers to Mouton, “Les musulmans à Sainte-Catherine au Moyen Âge”, p. 177.
  5. ^ a b Khan, Muqtedar (December 30), “Muhammad’s promise to Christians”, Washington Post, diakses 1 December 2012

Patung Yesus Didirikan di Syria

Patung Yesus di Suriah

PATUNG YESUS DIDIRIKAN DI SYRIA

Patung perunggu Tuhan Yesus Kristus, lebih tinggi dari patung tertinggi saat ini, yakni patung Kristus Penebus di Rio de Janeiro ( Brazil ), berdiri di negara yang dilanda perang, Syria/Suriah. Patung “Aku Datang untuk Menyelamatkan Dunia” ini dibangun atas inisiatif sebuah organisasi yang berpusat di London, St. Paul and St. George Foundation.

Proyek ini didukung Gereja Katolik Ortodoks Rusia dan pemerintah Rusia, yang atas seruan Bapa Suci Paus Fransiskus, aktif mendamaikan konflik di Syria. Rusia juga memiliki pangkalan angkatan laut militer di pantai laut Mediterania di kawasan Suriah.

Meskipun patung ini berdiri karena peran orang-orang Rusia, pembangunannya dilakukan di Armenia. Etnis Armenia di Suriah telah berbondong-bondong melarikan diri dari negara itu sejak konflik dimulai, sampai-sampai di Armenia dibangun sebuah pemukiman baru yang disebut New Aleppo untuk menampung pengungsi etnis Armenia tersebut.

Tempat pengungsian itu dinamai sesuai kota di Suriah utara tempat sebagian besar penduduknya berasal dari etnis Armenia. Sebanyak 7.000 etnis Armenia warga Syria sekarang mencari perlindungan di negara tetangga, Republik Armenia.

Patung Yesus buatan orang Armenia ini didirikan pada 14 Oktober 2013, bertepatan dengan dua hari libur keagamaan —Katolik Ortodoks dan Muslim. Katolik Ortodoks merayakan Hari Raya Perlindungan Perawan Tersuci Maria dan Muslim merayakan Hari Raya Kurban.

Patung ini terletak di puncak gunung dekat kota Saidnaya, yang diyakini oleh umat Katolik Ortodoks sebagai tempat kedatangan TUHAN YESUS untuk kedua kalinya nanti di akhir zaman. Patung ini berada dekat Biara Cherubim, berdiri di atas jalur ziarah bersejarah dari Konstantinopel ke Yerusalem dan 2.100 meter di atas permukaan laut.

Lokasi berdirinya patung Yesus ini adalah lokasi kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan kelompok teroris Al-Qaeda.
Tinggi patung 39 meter, lebih tinggi daripada patung Kristus Penebus di Rio de Janeiro, setinggi 38 meter. Patung Yesus yang besar ini dapat dilihat dari negara tetangga, Libanon, Yordania, Palestina, dan Israel.

Konflik Militer berbagai pihak, baik pemerintah, Al-Qaeda maupun pemberontak yang bertikai dihentikan untuk menghormati Pendirian Patung Yesus, sebagai simbol perdamaian.

Dua bulan yang lalu, kota berpenduduk mayoritas Katolik Syria, Maaloula, diserang pemberontak militan. Padahal, usia kota itu sudah ribuan tahun dan penduduknya masih menggunakan bahasa Aramaik, bahasa yang digunakan pada masa Yesus hidup di dunia, yang kini hampir punah.

Sementara itu, hingga kini banyak Gereja dan Biara dibakar di seluruh wilayah Syria, para pastor & biarawan-biarawati dibunuh.
Saat ini masih ada 1 Uskup Katolik Ortodoks, dan 1 Uskup Katolik Syria, serta 10 Biarawati yang disandera oleh pemberontak sebagai perisai manusia.
Padahal, lembaga-lembaga kemanusiaan Gereja Katolik adalah yang terbesar kontribusinya dalam membantu rakyat Syria, dan giat menggerakkan negara-negara di dunia untuk menentang invasi militer Amerika atas Syria.
Dengan dukungan Rusia, Gereja Katolik telah berupaya keras mencari jalan damai antara pemerintah, Al-Qaeda, dan pemberontak yang bertikai di Syria.

Direktur St. Paulus and St. George Foundation, Samir el-Gadban, berkomentar tentang pentingnya patung ini di negara yang dilanda perang dan menyatakan harapannya untuk masa depan.

“Kami berharap pendirian patung ini bakal membawa perdamaian dan kasih di hati orang-orang. Dan, karya kami akan membantu memulihkan perdamaian dan ketenangan di wilayah ini yang telah lama menderita,” katanya kepada Komsomolskaya Pravda.

View on Path