Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan III Paskah

image

BAHAYA KEKRISTENAN PALSU

Bacaan:
Kis.6:8-15; Mzm.119:23-24.26-27.29-30; Yoh.6:22-29

Renungan:
Hidup Kristiani zaman sekarang seringkali diselubungi dengan gambaran yang keliru akan kehadiran Tuhan dan rahmat-Nya.
Gambaran yang keliru ini menyebabkan banyak orang yang mencari Yesus dengan motivasi yang tidak tepat.
Hal yang sama kita temukan dalam Injil hari ini.
Sesudah mukjizat perbanyakan roti, orang-orang mencari Yesus dengan harapan bahwa Yesus akan mengenyangkan mereka. Tetapi, mereka gagal melihat arti sebenarnya dari tanda atau mukjizat perbanyakan roti itu.
Kegagalan yang sama juga dialami oleh banyak pengikut Kristus saat ini. Mencari mukjizat dan urapan, mencari kemakmuran dan kemapanan finansial, mencari berbagai bentuk variasi ibadah untuk lebih memuaskan kelemahan rohani yang merendahkan liturgi suci dan hanya melihatnya sebagai sarana pemuasan diri.
Malahan, bahaya penyesatan saat ini nampak begitu jelas dalam mereka yang menyebut diri “gereja” dan mengedepankan “makanan yang tidak mengenyangkan” itu layaknya barang jualan untuk mencari pengikut, yang merendahkan evangelisasi pada level advertising.
Mereka tidak ada bedanya dengan pedagang barang-barang palsu di pinggir jalan, atau makanan yang dari luar kelihatan menggiurkan tetapi begitu busuk di dalamnya.
Para pengikut kekristenan palsu demikian ibarat kutu loncat, yang berpindah-pindah, tidak mengakar, dan mencari Tuhan hanya demi kekenyangan sementara.
Jangan pernah mendasari pencarianmu akan Tuhan dan rahmat-Nya, pada ketidakmurnian iman yang demikian. Jangan menempatkan hidup berimanmu dalam Gereja pada tingkatan yang serendah itu, sehingga apabila kekenyangan semu demikian tidak ditemukan, anda tidak berhenti mengikuti Yesus.
Kekristenan yang didasarkan pada kenyamanan palsu yang demikian telah menyebabkan kejatuhan banyak putra-putri Gereja di sepanjang sejarah.
Jangan ikut Yesus karena motivasi cinta yang tidak murni semacam itu, sehingga cintamu tidak didasarkan pada apa yang Tuhan beri atau apa yang tidak kamu dapatkan di dalam Dia.
Cinta semu yang demikian akan membuatmu selalu lapar dan tidak pernah merasa kenyang.
Kenyangkanlah dirimu dengan makanan yang tidak dapat binasa, untuk membuatmu bertahan sampai kekekalan, yakni Yesus, Roti Kehidupan Sejati.
Dia selalu memberikan Diri-Nya sebagai santapan rohani dalam Misa Kudus.
Kerjakanlah keselamatanmu dengan tekun dan setia menyambut Ekaristi Kudus, sesering mungkin.
Kekristenan tanpa Ekaristi adalah cacat dan tidak tahan uji.
Jika Kristus tidak ingin membubarkan orang-orang Yahudi tanpa makanan di padang gurun karena takut mereka mungkin akan ambruk di tengah jalan, ini untuk mengajarkan kepada kita bahwa sangat berbahaya untuk mencoba pergi ke Surga tanpa bekal Roti Surgawi (Sakramen Ekaristi),” demikian kata St. Hieronimus.
Mereka yang menjadi rasul-rasul Ekaristi dengan tekun dan setia, pada akhirnya menjadi mereka yang benar-benar memahami dan menghidupi kata-kata St. Teresa dari Avila, “Solo Dios basta – Good alone is enough – Allah saja cukup.
Kesadaran sejati bahwa “Allah saja cukup” itulah yang membawa kita pada keberanian iman seperti St. Stefanus dan para martir iman lainnya di sepanjang sejarah Gereja.
Keberanian yang memampukan seorang kristen sejati untuk kehilangan segalanya, bahkan nyawanya sendiri, demi memperoleh Kristus, Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Suci

image

CINTA YANG TIDAK TAHU MALU

Bacaan:
Yes.42:1-7; Mzm.27:1.2.3.13-14; Yoh.12:1-11

Renungan:
Salah satu sifat dari cinta yang suci akan Allah, adalah rasa tidak tahu malu untuk melakukan segala-galanya bagi Dia.
Inilah yang dilakukan Maria, manakala dia mengusap kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya, kemudian meminyakinya dengan minyak narwastu yang begitu mahal, tindakan yang sangat bertentangan dengan tradisi Yahudi dan norma kepantasan bagi seorang wanita pada waktu itu.
Semua yang hadir pun bertanya-tanya, apa yang memberanikan Maria melakukan tindakan itu?
Tentu saja Maria mengetahui sepenuhnya resiko dan anggapan banyak orang dari tindakannya itu.
Apa yang dilakukan Maria, hanya bisa dimengerti oleh hati yang mencinta.
Setiap orang yang hendak mengenal Tuhan dan jalan-jalan-Nya, harus menyadari satu hal ini: Ketika Tuhan menyentuh hatimu dan meninggalkan luka cinta, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Luka cinta yang bagaikan nyala api yang memurnikan jiwa, yang sanggup menghanguskan kita dalam suatu keterpesonaan cinta akan Allah.

Satu tindakan cinta yang sederhana dari Maria, membuat seluruh rumah dimana mereka berada dipenuhi oleh bau minyak yang harum semerbak.
Sama seperti Maria, demikianlah seharusnya hidup seorang rasul Kristus.
Seluruh pemberian dirinya dan karyanya, haruslah mendatangkan keharuman bagi hidup semua orang yang disentuh olehnya.
Pelayanan kasihnya haruslah membuat semua orang merasakan kasih Allah dan diubahkan olehnya.
Seorang rasul Kristus yang dipenuhi oleh cinta akan Allah sedemikian, bagaikan seseorang yang tergila-gila dalam cinta akan Allah, yang memberanikan dia “keluar”, meninggalkan segala-galanya untuk mencari Sang Cinta, dan dalam perjalanannya untuk menemukan Kekasih jiwanya, menularkan ketergila-gilaan cinta yang sama, memberi hidup serta meninggalkan keharuman di sepanjang perjalanannya yang memurnikan itu.

Tentu saja, diantara kerumunan orang, akan selalu ada yang seperti Yudas Iskariot, yang dipenuhi iri hati, yang mengatakan bahwa dirinya mengasihi Allah dan setiap hari berbicara tentang kasih, padahal hampir tidak pernah melakukan perbuatan kasih, bahkan menjatuhkan mereka yang melakukan tindakan kasih.
Jangan takut atau kecewa saat karya kerasulan dan pelayanan kasihmu diperhadapkan pada Yudas-Yudas dunia ini. Tetaplah berbuat baik.
Tindakan kasih Maria dan cibiran Yudas atasnya, mengingatkan kita akan kata-kata Rasul St.Yohanes, “Filioli mei, non diligamus verbo neque lingua, sed opere et veritati” – “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Pax, in aeternum.
Fernando