Meditasi Harian 21 September 2016 ~ Pesta St. Matius Rasul, Martir

PANGGILAN ITU MISTERI 
Bacaan:

Ef.4:1-7.11-13; Mzm.19:2-3.4-5; Mat.9:9-13

Renungan:

Panggilan itu misteri. Siapa? Bagaimana mungkin? Kenapa? Kapan? Kemana?, hanyalah sebagian dari begitu banyak pertanyaan yang menyertai saat Tuhan memanggil seseorang di jalan-Nya. 

Hari ini kita pun menemukan dalam Injil, bagaimana Tuhan memanggil Matius si pemungut cukai untuk menjadi rasul-Nya. Tentu Tuhan kita sungguh tahu dan sepenuhnya menyadari pekerjaan Matius. Pemungut cukai di zaman Yesus adalah pekerjaan terkutuk, paling korup,  dan dibenci oleh bangsa Yahudi, karena profesi ini merenggut kesejahteraan rakyat untuk diberikan kepada bangsa penjajah Romawi, sekaligus memperkaya diri si pemungut cukai dengan menagih lebih, bahkan tak jarang mengancam mereka yang kesulitan membayar cukai. Matius menjalani hidup yang menempatkannya berdiri di atas penderitaan orang lain. Itulah yang dilihat rakyat pada waktu itu, dan juga yang kita simak saat merenungkan bacaan ini. Semua orang memandang Matius seorang berdosa, yang layak dibenci dan dikucilkan.
Kalau demikian, muncul pertanyaan, “Apa sebenarnya yang dilihat Tuhan Yesus dalam diri Matius, yang tidak dilihat orang lain?

Kita teringat saat Allah mengutus Nabi Samuel ke rumah Isai, untuk mengurapi salah satu dari anak-anaknya sebagai Raja (bdk.1Sam.16:1-13). Tidak satupun dari tujuh anak yang dibawa Isai ke hadapan Samuel yang dipilih Tuhan, kendati mereka punya berbagai keunggulan dan keutamaan. Pilihan Tuhan Allah Semesta Alam justru jatuh pada yang bungsu, yaitu Daud. Tuhan pun mengutarakan kenapa Daud yang Ia pilih, bahwasanya “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati” (1Sam.16:7).
Hati Daud bagaikan kompas yang menunjuk ke Utara, kepada Allah.

Sebagaimana Daud, demikian pula halnya dengan Matius. Dia mungkin tidak terlihat di Bait Allah, dengan jubah agung dan jumbai yang panjang. Dia tidak dengan bangga menatap ke atas saat berdoa sambil mengungkapkan peribadatan, pengorbanan dan berbagai bentuk pemberian yang telah ia lakukan bagi Tuhan. Namun demikian, dari balik meja cukainya, Matius menyingkapkan cahaya hati yang merindukan panggilan Tuhan. Oleh karena itu, hanya butuh 2 kata saja dari Yesus, 2 kata yang telah dinanti-nantikan oleh Matius. “Ikutlah Aku!

Mendengar panggilan Tuhan itu, Matius pun segera berdiri dan mengikuti Yesus (bdk.Matius 9:9). Inilah jawaban hati yang mencinta, kepada panggilan Sang Cinta. Cinta yang sejati akan Dia, Sang Segala, menyanggupkan kita untuk melepaskan segala. Sebagaimana misteri panggilan itu juga menampilkan realita bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih, demikian pun umat beriman seringkali diperhadapkan pada misteri yang merupakan bagian dari panggilan Ilahi, yaitu bahwa waktu Tuhan bukanlah waktu kita.

Panggilan Matius pun mendatangkan pertanyaan akan kenyataan ini. 
Kenapa Tuhan tidak memanggil Matius tidak bersamaan waktunya dengan Petrus dan Yohanes, serta para rasul lainnya?” Itu karena panggilan Tuhan yang lemah-lembut selalu datang tepat pada waktunya, tidak datang terlalu awal, dan tidak pula terlambat. Dia datang dan memanggil kita di waktu yang tepat, saat hati kita telah siap untuk menjawab “Ya” kepada panggilannya. Sebagaimana Matius dipanggil pada saat sementara melakukan pekerjaannya, demikian pula Tuhan memanggil kita pada waktu-Nya yang mungkin sekali berbeda dengan waktu kita, tetapi itulah waktu yang paling tepat. Yang satu dipanggil saat sementara bergumul dengan kegagalan, yang lain justru dipanggil saat sementara menikmati kesuksesan. Yang satu dipanggil melalui sakit dan penderitaan, yang lain dipanggil saat sementara menjalani hidup dalam kegelapan malam yang mematikan baik tubuh maupun jiwa. Yang satu dipanggil saat bahtera rumah tangganya diombang-ambingkan badai kehidupan, yang lain justru dipanggil saat sementara berjalan sendirian tanpa arah tujuan.

Satu hal yang pasti, yaitu bahwa waktu Tuhan itu sempurna, dan ketika hatimu disentuh oleh nyala api cinta Tuhan, hidupmu takkan pernah sama lagi. Panggilan Tuhan pun seringkali melalui hal dan cara yang seringkali tidak lazim, bahkan tak jarang melawan arus jaman, serta menabrak serangkaian aturan. Maka, bagian terakhir dari Injil hari ini sebenarnya mengungkapkan pula Hati Tuhan yang berlimpah cinta, serentak mengajak kita untuk berbelas kasih sama seperti Dia. “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit…Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat.9:12-13).

Maka, kita yang berdosa ini, senantiasa memerlukan bantuan rahmat Allah, untuk menolong kita dalam menjawab panggilan Tuhan dengan hati yang mencinta. Kiranya Santa Perawan Maria menghantar kita pada pengenalan cinta Tuhan, serta pengertian akan kedalaman misteri panggilan Putra-Nya. Semoga kita pun memiliki keberanian sebagaimana St. Matius Rasul, yang Pesta kemartirannya dirayakan hari ini oleh Gereja Katolik sedunia. Keberanian menjawab panggilan Tuhan untuk melayani Dia, bukan hanya dengan kata-kata dan janji kosong, melainkan dengan dengan tindakan nyata, yang memerdekaan jiwa dari segala kelekatan akan segala, dan melepaskannya agar dapat memiliki Kristus, Sang Segala. Untuk itu mari kita berdoa, sebagaimana Bapa Gereja kita St. Agustinus (354-430) berdoa, “Tuhan Yesus, Juruselamat kami, perkenankanlah kami sekarang datang kepada-Mu: Hati kami dingin, Tuhan, hangatkanlah dengan cinta-Mu yang tanpa pamrih. Hati kami penuh dosa, bersihkanlah dengan darah-Mu yang berharga. Hati kami lemah, kuatkanlah dengan Roh Sukacita-Mu… Hati kami kosong, penuhilah dengan kehadiran Ilahi-Mu. Tuhan Yesus, hati kami adalah milikmu. Kuasailah selalu dan seutuhnya bagi-Mu“.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian ~ JUMAT AGUNG

image

KEBODOHAN SALIB

Bacaan:
Yes.52:13 – 53:12; Mzm.31:2.6.12-13-15-16.17.25; Ibr.4:14-16. 5:7-9; Yoh.18:1 – 19:42

Renungan:

Hari ini seluruh umat Allah berdiam sambil memandang dan merenungkan dalam suatu keheningan mistik akan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus di kayu salib. Kita memandang misteri salib dalam suatu kekaguman dan rasa syukur akan bukti cinta kasih Allah yang terbesar, tindakan yang menyelamatkan, yang memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang rusak akibat dosa.

Akan tetapi, hukuman penyaliban sendiri sebenarnya adalah bentuk hukuman paling keji dan hina di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi di masa lalu.
Seorang yang menerima hukuman salib, harus mengalami penderitaan luar biasa selama berjam-jam. Proses kematiannya pun berlangsung sangat lama, perlahan-lahan dan luar biasa menyakitkan. Bahkan, terkadang orang-orang yang menyaksikan hukuman ini harus mengambil inisiatif untuk mematahkan kaki para terhukum salib, agar penderitaan mereka boleh berakhir dan mati.
Begitu mengerikan, tidak manusiawi dan terkutuknya bentuk hukuman ini, sampai hukum Romawi pun mengatur bahwa seorang warga negara Romawi (masyarakat kelas I pada masa itu) tidak pernah boleh dihukum dengan cara seperti itu.

Karena itu, janganlah heran bilamana kita menyaksikan atau menemukan di sepanjang sejarah, sejak zaman para Rasul, bahkan sampai detik ini, orang-orang yang sulit memahami apalagi menerima kenyataan ini dan berkata, “Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, apalagi sampai mati pada sepotong kayu dengan cara yang teramat memalukan, demi keselamatan umat manusia?”
Bagi orang Yahudi, ini sebuah skandal atau batu sandungan, sedangkan bagi mereka yang bukan Yahudi, ini suatu kebodohan. (bdk.1 Kor.1:23)

Akan tetapi, bagi kita yang dipanggil untuk mengikuti jalan Sang Tersalib, wafat-Nya di kayu Salib adalah bukti cinta kasih Allah yang terbesar, yang selamanya kita syukuri dan dengan bangga akui dalam pengakuan iman kita.
Pengakuan iman yang di sepanjang zaman seringkali berakibat kemartiran. Iman akan Kristus yang tersalib menyebabkan para pengikut Kristus dimusuhi oleh dunia, kehilangan sahabat dan kedudukan dalam masyarakat, dikucilkan, dihina, dianiaya, dirajam, dibakar hidup-hidup, dipenggal, bahkan dibunuh secara massal dan membabi-buta.

Salib adalah bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Kristen. Tidak mungkin mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat,  tetapi menolak merangkul jalan penderitaan yang berujung pada Salib.
Apa yang bagi orang lain merupakan kebodohan dan batu sandungan, bagi kita adalah suatu keuntungan.
Pilihan untuk mengikuti Sang Tersalib sama sekali bukanlah batu sandungan, kebodohan, atau kesia-siaan.
Mereka yang setia sampai akhir, pada akhirnya akan menerima ganjaran kebangkitan dan hidup kekal bersama Allah.

Oleh karena itu, manakala Gereja Katolik di Jumat Agung ini mengenangkan Sengsara dan Wafat Tuhan, sambil menghormati dan berlutut mencium salib dengan penuh cinta bakti, kita sebenarnya hendak menyatakan iman kita kepada dunia, serentak kembali diingatkan untuk menerima panggilan kita untuk membawa iman akan Sang Tersalib kepada semua orang, apapun resikonya, agar seluruh dunia ini boleh turut memperoleh buah-buah penebusan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Cintailah pengurbanan; karena itu adalah sumber kehidupan rohani. Cintailah Salib, yaitu altar pengurbanan. Cintailah sakit, sampai engkau minum seperti Kristus, hingga tetesan terakhir dari piala itu.” ~ St. Josemaría Escrivá

Pax, in aeternum.
Fernando