Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando