Meditasi Harian 8 Juli 2016 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV


DOMBA ATAU SERIGALA? 

Bacaan:

Hos.142:2-10; Mzm.51:3-4.8-9.12-13.14.17; Mat.10:16-23

Renungan:

Berbeda dengan Abad Pertengahan (Medieval), tidaklah mudah mewartakan Kabar Sukacita Injil dalam dunia dimana kita hidup saat ini. Hari demi hari kita merasakan bahkan mengalami secara nyata, rupa-rupa penolakan dunia akan nilai-nilai Kristiani dalam berbagai situasi dan strata hidup. Situasi yang kurang lebih sama juga dialami oleh Jemaat Perdana. Bagi sebagian orang, Iman pun tak jarang menjadi sesuatu yang dapat dikompromikan. Bila tekanan hidupnya berat, harganya pas, atau ruginya lebih banyak ketimbang untung, maka nilai-nilai Injil dalam hidup beriman pun dapat dikesampingkan, demi “mengikuti arus zaman“. 

Dalam Injil hari ini, ketika mengutus para rasul-Nya, tidak ada sesuatupun yang ditutup-tutupi oleh Tuhan kita. Sebelum mereka melangkah ke berbagai penjuru dunia untuk mewartakan Injil, Tuhan kita telah terlebih dahulu memperingatkan akan konsekuensi dari tugas kerasulan mereka. Tidak seperti pakar marketing, yang memaparkan segala keuntungan, reward, kenikmatan dari yang ditawarkan, Tuhan kita dengan terang-benderang dan secara mengejutkan justru berkata, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16a). Suatu pernyataan yang pasti mengguncangkan para rasul. Maka, Injil hari ini mengajak kita untuk merenungkan, “Jalan apakah yang saat ini kutempuh? Jalan Tuhan atau si jahat? Apakah aku ini masuk kategori domba atau serigala?

Satu hal yang boleh dijawab dengan pasti. Jalan Tuhan adalah jalan Salib. Jalan kecil kemana Tuhan mengarahkan, adalah jalan penderitaan. Maka, adalah mengherankan bila di antara mereka yang menyebut diri para pengikut Kristus, kita mendapati mereka yang menjanjikan kesuksesan finansial, terbebas dari sakit dan derita, serta kemakmuran duniawi, sebagai tolak ukur penyertaan dan urapan Tuhan atas hidup mereka. Inilah salah satu tantangan hidup beriman zaman sekarang, yaitu saat ini ada banyak pula serigala yang menyamar seperti domba, dengan rupa-rupa tawaran yang menyesatkan. Waspadalah dan berjaga-jagalah! 

Keberadaan kita sebagai domba di tengah-tengah kawanan serigala dapat pula mendatangkan godaan lain, yang tidak kalah berbahayanya, yaitu roh ketakutan dan kekuatiran, yang dapat membuat seekor domba tergoda untuk bertingkah laku seperti serigala, agar terhindar dari bahaya menjadi mangsa. Seorang dokter kandungan memilih melayani praktek aborsi dan mempromosikan alat-alat kontrasepsi, karena tidak mau kehilangan pasien-pasiennya; seorang hakim menjatuhkan vonis yang membebaskan koruptor, karena tergoda uang suap yang fantastis; orang tua merelakan anaknya pindah agama, agar dapat menikah dengan orang yang dia cintai, dan menyelamatkan diri dari aib keluarga; seorang mahasiswa gemar menggunakan umpatan dalam perbincangan sehari-hari, sambil memelihara gaya hidup tidak wajar, agar menjadi populer dalam pergaulan dengan teman-temannya; serta berbagai bentuk kompromi iman dan nilai-nilai Kristiani lainnya. Kebenaran dan Sukacita Injil dikubur dalam-dalam, karena ketakutan melawan arus zaman, karena kekuatiran kehilangan dunia, karena Kristus. 

Kepada kita, Tuhan memberikan pesan Injil yang jelas mengenai bagaimana bersikap di tengah tantangan dan bahaya, serta penolakan dunia ini. “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat.10:16b). Cerdiklah seperti ular. Bijaksanalah! Ada kalanya kita harus gesit bergerak menghindari perangkap dunia. Tetapi, jangan lupa pula bahwa lebih sering seekor ular justru seolah diam. Diam bukan berarti tidak melakukan apa-apa atau cari aman. Diam berarti menunggu waktu yang tepat untuk menangkap jiwa-jiwa bagi Allah. Seorang rasul Kristus ibarat seorang yang membangun rumah, harus duduk terlebih dahulu sebelum mulai bekerja, guna membuat perencanaan dan persiapan secara tepat, demikian pula seorang pewarta sukacita Injil. Ikutilah tuntunan Roh Kebijaksanaan, yang dapat diperoleh melalui pergaulan mesra dengan Allah (doa, puasa, mati raga), tanpa mengabaikan ketekunan mempelajari segala hal yang perlu, agar kerasulanmu dapat menjala banyak jiwa bagi Allah.

Kecerdikan ular harus pula disertai ketulusan seperti merpati. Kesederhanaan dan kemurnian hati mutlak perlu dimiliki oleh seorang rasul Kristus. Dengan demikian, dia akan terhindar dari bahaya jatuh dalam dosa kesombongan diri, dari bahaya pemuliaan diri. Tuhanlah yang harus dikenal. Karya-Nyalah yang kita lakukan. Hendaknya Dia semakin besar, dan kita semakin kecil. Rendah hatilah, dan bawalah damai, kemanapun tangan Tuhan membawamu untuk menebarkan jala. Apabila kamu telah melakukan itu semua, dan toh kamu masih harus berhadapan dengan rupa-rupa pencobaan, tantangan, dan bahaya: “Jangan Takut!“, sabda Tuhan. 

Yakinlah bahwa sengsara dunia ini sama sekali tidak sebanding dengan kemuliaan, yang akan kita peroleh di surga kelak. Tentu saja kita merasul demi Tuhan, bukan demi ganjaran kemuliaan itu saja. Tetapi, semua ini dikatakan sebagai penghiburan Ilahi bagimu. Maka,”Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat.10:19-20.22).

Semoga Santa Perawan Maria, pertolongan orang Kristen, senantiasa menuntun kamu di jalan Tuhan, agar kamu tidak hanya sampai ke Kalvari, melainkan juga beroleh mahkota kemuliaan surgawi, sebagaimana dianugerahkan kepada Bunda kita oleh Yesus Putranya. Bangkitlah! Bercahayalah! 
Regnare Christum volumus! 



✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥