Meditasi Harian 23 Juli 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XVI

image

PERJUMPAAN DALAM DOA

Bacaan:
Kel.19:1-2,9-11,16-20b; Mzm.(T.Dan.) 3:52,53,54,56; Mat.13:10-17

Renungan:
Bangsa Israel bersama Musa berdiri di kaki gunung Sinai untuk berjumpa dengan Allah. Dari dalam awan Tuhan berbicara dengan mereka, disertai tanda-tanda alam seperti guntur gemuruh, kilat, dan api.
Perjumpaan bangsa Israel dengan Allah ini begitu personal sekaligus komunal.
Demikianlah juga yang dialami oleh Gereja, umat Allah, dalam peziarahannya.
Dengan berbagai cara, dalam rupa-rupa situasi, dan melalui berbagai pergumulan yang Ia perkenankan untuk kita alami, demikianlah Allah menyatakan diri-Nya, agar kita dapat melihat dan menyentuh Hati-nya, serta merasakan kedalaman Cinta-Nya.
Tetapi tak jarang kita menyikapinya dengan ketidak mengertian, ketidak tahuan, dan terkadang malah mempertanyakan cara dan tindakan Allah yang memperkenalkan diri lewat berbagai peristiwa hidup.
Inilah yang dimaksudkan dalam Injil hari ini, dimana kita seringkali “melihat tapi tidak pernah tahu, mendengar tapi tidak pernah menangkap dan mengerti.
Pergaulan mesra dengan Allah memampukan manusia untuk mengetahui apa yang ia lihat, menangkap dan mengerti apa yang ia dengar.
Hidup doa adalah jalan menuju pergaulan yang mesra dengan Dia, baik doa pribadi maupun komunal, dan terutama dalam Misa Kudus.
Tentu saja, ibarat suatu perjalanan, kita tidak seketika sampai pada persatuan sempurna dengan Allah. Oleh karena itu, hidup doa seseorang adalah juga suatu perjalanan yang menuntut kerendahan hati untuk mau dibentuk, mengenali diri, menyadari kerapuhan, diubahkan, dan berjalan seirama dengan gerak cinta Allah.
Inilah perjalanan batin dimana selaput yang mengaburkan mata rohani kita perlahan gugur, dan sumbatan yang menulikan telinga rohani kita perlahan dibukakan.
Belajarlah untuk mau dibimbing oleh cinta Tuhan, dan sadarilah bahwa tiada jalan lain menuju Allah selain jalan doa.
Mereka yang mengatakan bisa menggapai Allah dan memahami Hati-Nya tanpa menapaki jalan doa, mereka itu adalah pendusta.
Tidak ada kekudusan tanpa doa. Omong kosong semacam itu berasal dari bisikan setan, bapa segala dusta.
Berdoalah senantiasa. Berdoalah tak kunjung putus, melebihi tarikan nafas kita.
Dalam doa iman bertumbuh, pengharapan tak kunjung putus, dan cinta semakin dimurnikan.
Semoga kita senantiasa diberikan keberanian untuk melangkah di jalan kesempurnaan ini, sehingga pada akhirnya kita akan melihat dan mengetahui, serta mendengar dan mengerti bahwa “Itu Tuhan“.

Pax, in aeternum.
Fernando