Meditasi Harian 28 Desember 2015 ~ PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR

TUMPULNYA HATI NURANI

image

Bacaan:
1Yoh.1:5-2:2; Mzm.124:2-3.4-5.7b-8; Mat.2:13-18

Renungan:
Salah satu indikasi seorang semakin jauh dari Tuhan dan jalan-jalan-Nya adalah tumpulnya Hati Nurani.
Ketika seorang mengalami ketumpulan hati nurani, maka dia akan mengabaikan apa yang baik dan benar. Kegemarannya bukanlah melakukan kehendak Tuhan, melainkan membuat jurang pemisah antara dia dan Allah, melukai Hati Tuhan, dan menjadi tuli terhadap Suara Tuhan yang bergema di hatinya. Seiring dengan itu, hidupnya mulai mengalami ketiadaan rahmat, dan tindak tanduknya semakin menciptakan permusuhan antara dia dengan Allah.

Itulah yang terjadi dengan Herodes dalam Injil hari ini. Raja Herodes telah menjadi gelap hati, kemudian secara tahu dan mau menolak Sang Cahaya.
Keinginannya untuk membunuh Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus berbuah pada keluarnya titah pada waktu itu untuk melakukan pembantaian teramat biadab, yakni pembunuhan anak-anak berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem.
Bacaan pertama hari ini, hendaknya mencerahkan budi kita untuk merefleksikan hidup beriman kita, apakah kita pun pernah mengalami tumpulnya hati nurani. Rasul Yohanes mengatakan,
Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.” (1Yoh.1:5-6)

Di sepanjang sejarah kemanusiaan, termasuk hidup kita sendiri, kita pun melihat dan menyaksikan banyak hal yang sulit dimengerti oleh hati manusia yang mencintai Allah.
Bagaimana mungkin orang sanggup meledakkan dirinya dengan bom bunuh diri di pasar, menggorok leher sesama manusia, memperkosa wanita-wanita tak berdaya sampai mati dalam trauma berat, dan semuanya itu dilakukan atas nama Tuhan dan Agama?

Ada banyak hal dan peristiwa dalam dunia saat ini dimana kegelapan seolah merajai hati manusia, sehingga mendorong banyak orang untuk bertanya, “Dimanakah Allah?

Dalam Injil hari ini kita membaca bagaimana ketumpulan hati nurani dalam diri Raja Herodes, membuat dia tega membunuh bayi-bayi tak bersalah.
Akan tetapi dunia dimana kita hidup saat ini pun setiap hari menjadi saksi bagaimana para Ibu begitu tega membunuh anak-anak mereka, dengan keji melenyapkan darah daging mereka sendiri melalui tindakan aborsi terencana, atau membuang anak-anak mereka setelah terlahir, untuk dibiarkan mati tergeletak di jalan-jalan dunia ini.

Dalam jeritan kemanusiaan, Beata Teresa dari Kalkutta (Mother Teresa) pun dengan sedih mengatakan,
Perusak perdamaian terbesar hari ini adalah Aborsi…Jika kita memaklumi bahwa seorang ibu dapat membunuh anaknya sendiri, bagaimana kita bisa menyerukan agar orang-orang tidak saling membunuh? Setiap negara yang mengijinkan aborsi tidak mengajarkan pada rakyatnya untuk mencintai/mengasihi, melainkan untuk menggunakan segala cara kekerasan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah kenapa penghancur terbesar akan cintakasih dan kedamaian adalah Aborsi.

Di saat dunia kini seolah mengalami ketiadaan Allah – ketiadaan Sang Kasih, Pesta Kanak-Kanak Suci di Hari Keempat dalam Oktaf Natal mengajak kita sekalian untuk menyadari kebenaran ini.
Tuhan selalu Ada. Dunia boleh saja menyebarkan kebohongan, dan mengatakan Dia sudah mati atau tidak ada.
Tetapi sesungguhnya, Tuhan selalu Ada.
Kitalah yang seringkali menolak kehadiran-Nya, membiarkan diri kita tenggelam dalam lumpur dosa yang berujung pada tumpulnya hati nurani.
Maka, bila kita sungguh ingin memiliki kedamaian dan sukacita, datanglah mendekat kepada Bayi Yesus dalam palungan di Bethlehem.

Hanya Dia yang terbaring seolah tak berdaya dalam rupa insani, yang sanggup untuk melembutkan hatimu serta membawa cahaya dalam jiwamu.
Bila Terang itu telah berdiam di hatimu, maka kamu pun akan sanggup membawa cahaya untuk menerangi lorong-lorong dunia ini dan mengenyahkan kegelapan.
Inilah panggilan kita, suatu kerasulan suci untuk menjadi pembawa damai.

Semoga Santa Perawan Maria, Bintang Timur, menjadi pemandu yang aman bagi kita, untuk menjalani hidup Kristiani secara otentik dan meyakinkan, sekalipun karenanya kita mungkin saja harus menghadapi kemartiran seperti Kanak-Kanak Suci dari Bethlehem.
Jangan Takut!
Kristus telah datang ke dalam dunia, dan telah memenangkan kita dengan Darah Suci-Nya. (bdk.1Yoh.1:7)
Pertolongan kita dalam nama Tuhan, yang menjadikan langit dan bumi.” (Mzm.124:8)
Berlututlah di hadapan Sang Bayi Suci, dan berilah dirimu diubahkan oleh-Nya. Kemudian berdirilah seperti seorang Kesatria, dan menangkanlah dunia ini dalam nama-Nya.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

image

DIPANGGIL UNTUK MENCINTA

Bacaan Injil (sebelum perarakan Palma)
Mrk.11:1-10 atau Yoh.12:12-16
Madah Perarakan Palma
Hosanna Filio David
Bacaan I
Yes.50:4-7
Mazmur Tanggapan
Mzm.22:8-9.17-18a.19-20.23-24
Bacaan II
Flp.2:6-11
BACAAN INJIL
Mrk.14:1 – 15:47
Catatan: Sejalan dengan Tradisi Suci, Bacaan Injil mengenai Kisah Sengsara Tuhan ini wajib “dilagukan/dinyanyikan”.

Renungan:
Penderitaan adalah bagian dari kemanusiaan. Siapapun yang berkeinginan untuk mengenyahkan penderitaan, haruslah juga menyingkirkan Cinta atau Kasih itu sendiri, karena seseorang tidak mungkin mencintai secara sempurna tanpa penderitaan, luka, dan rasa sakit.
Kesejatian cinta mengandung pula kesediaan untuk mengurbankan diri.
Inilah ukuran kedewasaan rohani dan ke-sejati-an cinta seseorang, yakni seberapa besar kesediaannya untuk mengurbankan segala-galanya, termasuk nyawanya sendiri.
Inilah juga yang semakin hilang dari dunia ini. Banyak orang tidak dapat lagi melihat, atau lebih tepatnya menolak konsekuensi dari cinta, yaitu penderitaan.
Mereka sulit menerima kenyataan bahwa cinta yang sejati haruslah terluka.
Akibatnya, banyak orang pun sulit sekali menerima kenyataan yang kedua dari cinta, yakni sebagaimana cinta haruslah siap terluka dan menderita, cinta yang sejati juga harus selalu mengampuni.
Pengampunan adalah bagian terindah dari cinta, paripurna dari pengurbanan diri yang sejati.
Ketiadaan dari sikap bersedia untuk terluka, menderita, dan mengampuni, berarti pula ketiadaan cinta.
Setiap orang yang mengurbankan dirinya untuk mencintai sampai terluka, menderita, dan mengampuni dengan sendirinya menyempurnakan martabat manusiawinya, dan menjadikan dirinya semakin Ilahi.
Mereka yang menolak hakekat cinta ini berarti hatinya membatu dan egois (cinta diri yang keliru), menolak untuk menerima dan mengasihi orang lain sebagaimana Allah menerima dan mengasihi mereka.
Kalau Allah menerima dan mengasihi bagian-bagian terburuk dari kemanusiaan dan bersedia mengampuni dan menyembuhkannya, demikian pula setiap orang beriman, tanpa kecuali, dipanggil untuk melakukan hal yang sama.

Jadi, bilamana Gereja Katolik hari ini memperingati Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, sebenarnya hendak mengajak seluruh dunia untuk memandang keagungan cinta Tuhan, dan serentak mengajak kita untuk merenungkan panggilan Kristiani kita untuk mencintai sampai sehabis-habisnya.
Kendati Tuhan Yesus memasuki Yerusalem diiringi sorak-sorai dan kehormatan sebagai Raja, di balik sukacita itu sebenarnya Tuhan dan Penyelamat kita sedang memulai perjalanan akhir-Nya untuk merangkul penderitaan, yang akan memuncak pada kematian-Nya di Salib.
Dia sepenuh-Nya tahu bahwa di balik sorak-sorai dari mereka yang berseru, “Hosanna! Hosanna!”, sebagian besar dari mereka beberapa hari ke depan akan menjadi orang yang sama yang akan berteriak histeris, “Salibkan Dia! Bunuh Dia!”

O Cinta yang mengagumkan…Cinta sehabis-habisnya dari Tuhan dan Penyelamat kita.

Dialah Raja Damai yang datang menunggangi keledai, bukannya kuda perang. Di saat dunia mengartikan kuasa sebagai penindasan terhadap orang lain, mencari kehormatan dengan kekerasan, mencari pembenaran untuk membantai sesama pada ideologi agama dan pembelaan yang keliru atas nama Tuhan, di tengah ketiadaan cinta dari dunia ini, di Minggu Palma ini Tuhan Yesus menyadarkan kita bahwa kebesaran seorang Penguasa, kebesaran Tuhan Allah semesta alam, justru nampak dalam kelemahan lembutan Hati-Nya.

Inilah ke-Katolik-an. Inilah iman Kristiani kita. Kita dipanggil untuk mencinta.
Jangan disilaukan oleh sukacita dan kegembiraan sambutan khalayak di Yerusalem, sampai tidak bisa melihat “Kalvari” di balik semuanya itu.
Kiranya kita senantiasa mengarahkan pandangan pada Salib Tuhan sebagai sumber kekuatan kita untuk mengasihi sampai sehabis-habisnya, dan semoga Santa Perawan Maria, hamba Allah yang menyimpan semua perkara dalam hatinya yang penuh cinta sampai digelari “Mater Dolorosa” (Bunda Dukacita), menyertai kita dengan doa dan kasih keibuannya. Ibu Maria, doakanlah kami, agar setia dalam cinta di jalan salib Yesus, Putramu.

Selamat memasuki Pekan Suci.

Pax, in aeternum.
Fernando