Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan Biasa XI

image

MELEKATLAH KEPADA ALLAH

Bacaan:
2Kor.11:18,21b-30; Mzm.34:2-3,4-5,6-7; Mat.6:19-23

Renungan:
Kita pasti sudah pernah mendengar perkataan bahwa, “Hidup di dunia ini hanya sementara.
Kendati demikian, banyak orang menjalani hidup seolah-olah tidak akan pernah berjumpa dengan “saudari maut“, dan tidak sedikit pula kita jumpai mereka, termasuk di antaranya saudara-saudari seiman, yang menghadapi detik-detik terakhir hidupnya dalam penolakan, serta bersikap seolah-olah mereka tidak pernah hidup.
Kelekatan seringkali menjadi penyebab utama.
Bagaimana seorang beriman menghadapi kematian, sangat ditentukan oleh bagaimana dia memandang dan menjalani hidup.
Kematian bagi mereka yang menjalani hidup tanpa kelekatan akan dunia ini, adalah saat yang sungguh membahagiakan, sedangkan bagi mereka yang begitu melekat dan tenggelam dalam dunia ini, kematian dapat menjadi peristiwa yang menakutkan, yang begitu bodohnya berusaha dihindari dengan berbagai cara.
Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus mengingatkan kita, “Dimana hartamu berada, disitu hatimu berada“.
Iman Kristiani tidak pernah melarang kita untuk menginginkan atau memiliki sesuatu dalam hidup.
Seorang pekerja mengharapkan gaji yang lebih baik, promosi jabatan, atau bonus tahunan. Sebuah keluarga muda akhirnya memiliki rumah impian dari hasil tabungan mereka selama bertahun-tahun. Seorang pengusaha ingin melakukan ekspansi bisnis agar usahanya semakin berkembang. Seorang petani bersukacita karena hasil yang baik dari panenan tahun ini.
Tidak ada yang salah dari semuanya itu.
Menjadi keliru bilamana hati kita melekat pada apa yang kita sebut sebagai “kepunyaan, harta, atau milik” itu. Segala usaha dan kerja kita hendaknya menjadi sarana bagi kita untuk menguduskan diri dan sesama, sambil tetap mengarahkan hati kita untuk melekat kepada Allah.
Salah satu cara untuk menghindari kelekatan adalah dengan setiap hari merenungkan kata “cukup“.
Ensiklik “Laudato Si’” yang kemarin dimaklumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus, dilatarbelakangi oleh keprihatinan pastoral melihat kerakusan manusia yang tidak pernah merasa cukup.
Bahkan, doa Bapa Kami, yang kita renungkan perikopnya kemarin, dengan jelas berseru kepada Allah Bapa kita untuk memberi rezeki/makanan yang “secukupnya“.
Kelekatan dan kerakusan akan harta/milik pun merupakan salah satu sumber ketidakbahagiaan terbesar manusia di segala zaman.
Belajarlah merasa cukup.
Kalau diberi karunia makanan berlimpah, belajarlah berbagi dengan yang kelaparan. Kalau mobil yang lama masih layak dan baik kondisinya, tidak perlu membeli mobil yang baru, apalagi dengan uang yang bukan hakmu. Kalau gaji suami hampir tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan, janganlah memaksakan diri untuk membeli tas atau barang bermerek.
Belajarlah merasa cukup untuk berbahagia. Mereka yang berbahagia adalah mereka yang tahu bersyukur.
Hendaknya dimengerti pula bahwa harta yang menjadi kelekatan kita tidak selalu berarti uang. Itu dapat berupa hobi, minuman keras, gosip, bahkan tontonan pornografi atau hiburan yang menjerumuskan orang ke dalam kegelapan.
Oleh karena itu hari ini renungkanlah, “Apa hartaku yang paling berharga, yang membuat hatiku tidak melekat pada Allah?
Mohonkanlah rahmat Allah untuk melepaskan kelekatan itu, dan mulailah mengarahkan pandangan “mata-mu” kepada Allah, supaya hidupmu bercahaya dan mendatangkan keselamatan atasmu dan semua orang yang berjumpa dan disentuh olehmu dalam peziarahan di dunia yang sementara ini.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan Biasa VIII

image

MELEPASKAN SEGALA UNTUK BEROLEH SEGALA

Bacaan:
Sir.35: 1-12; Mzm.5:5-6.7-8.14.23;. Mrk.10:28-31

Renungan:
Kelekatan adalah salah satu penyebab utama ketidakbahagiaan, dan penghalang terbesar bagi setiap orang Kristen untuk mengalami kepenuhan dari hidup berimannya.
Orang dapat saja memiliki segalanya, namun tetap tidak bahagia. Kita boleh memiliki sebuah keluarga, tempat tinggal, pekerjaan dan finansial yang mapan, pertemanan, hobi atau talenta, dan berbagai hal lain yang kita sebut sebagai “milik“.
Akan tetapi, dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan kita agar “Janganlah hatimu melekat padanya.”
Ketika seorang anak enggan melepaskan mainan kesayangannya untuk disumbangkan kepada tempat penampungan anak terlantar, itulah kelekatan. Ketika seorang konglomerat, jatuh dalam depresi akibat kehilangan jutaan dollar dalam suatu investasi yang merugikan, itulah kelekatan. Ketika seorang wanita menghabiskan uang begitu banyaknya karena tidak mau tubuhnya mengalami perubahan seiring usia, itulah kelekatan. Ketika seorang Imam setengah hati untuk taat pada Uskupnya, yang memberi tugas ke tempat baru, sehingga ia harus meninggalkan umat yang begitu ia kasihi selama ini, itulah kelekatan.

Panggilan Kristiani adalah panggilan untuk berbahagia dan bersukacita. Maka, bilamana hidup kita ditandai dengan rupa-rupa ketidakbahagiaan dan ketiadaan sukacita, itu berarti ada kelekatan yang harus kita lepaskan.
Saat orang mulai mencari dan menemukan kebahagiaan pada kepemilikan, pada saat itulah dia sebenarnya mulai kehilangan kebahagiaan. Tidak ada satupun yang abadi dari kepemilikan seperti itu. Kita hanya akan menemukan kebahagiaan dan sukacita yang sejati, apabila hati kita melekat erat dan bersatu sepenuhnya dalam Hati Tuhan.
Oleh karena itu, berjalanlah di tengah dunia, tetapi hindarilah dirimu dari keinginan untuk menggenggam sesuatu dalam perjalanan, untuk menjadikannya sebagai milik yang harus dipertahankan.
Melangkahlah seperti seorang peziarah yang dipimpin oleh Roh kemiskinan yang suci, sehingga sekalipun memiliki, namun hatimu tidak melekat pada semua itu, sebab hatimu hanya senantiasa memandang Allah.

St. Yohanes dari Salib mengungkapkan paradoks kristiani ini dengan begitu indahnya dengan mengatakan bahwa, “untuk beroleh Kristus Sang Segala, lepaskanlah segala“.
Seringkali terjadi bahwa kelekatanlah yang membuat kita sulit untuk dapat selalu menjawab “Ya” kepada Allah, atau mengalami Dia sebagai Pribadi yang terlalu banyak menuntut. Ketidakmampuan kita untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan, disebabkan oleh kelekatan. Hari ini renungkanlah, apa saja kelekatan-kelekatan yang membuat kita seringkali jatuh dalam dosa yang sama, yang berulang kali melukai hati Tuhan dengan kecenderungan-kecenderungannya yang jahat?
Hari ini Tuhan menunggu jawaban darimu, “Jika engkau benar-benar mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu, lepaskanlah itu“.

Pandanglah Ibu Maria, dan belajarlah darinya. Dia adalah hamba Allah yang paling setia dan gambaran kesempurnaan Gereja. Perawan Maria dikatakan berbahagia, hidupnya selalu dipenuhi sukacita dan dipuji oleh segala bangsa, karena sepanjang hidupnya dia senantiasa memenuhi hatinya dengan cinta akan Allah, Kekasih jiwanya. Hatinya begitu melekat erat dan bersatu dalam Allah, sebab dia tidak pernah mengijinkan satu bagian pun dalam ruang-ruang hatinya bagi kelekatan atau “milik” yang harus dipertahankan.
Inilah kebahagiaannya. Inilah sukacitanya. Suatu kepenuhan mistik yang Ilahi, sebagaimana diutarakan oleh St. Teresa dari Avila, yaitu “Allah saja cukup ~ solo Dios basta“.
Semoga Roh Allah memurnikan cinta kita, agar menemukan kebahagiaan dan sukacita dalam kelepasan akan segala, sehingga pada akhirnya kita semua beroleh Kristus Sang Segala.

Pax, in aeternum.
Fernando