Meditasi Harian 3 Oktober 2015 ~ Sabtu dalam Pekan Biasa XXVI

image

MENEMUKAN SUKACITA YANG SEJATI

Bacaan:
Bar.4:5-12.27-29; Mzm.69:33-37; Luk.10:17-24

Renungan:
Seperti anak-anak kecil yang dengan penuh sukacita membanggakan keberhasilan dan prestasi yang dicapai kepada orang tuanya, demikian pula 70 murid Yesus kembali dalam sukacita untuk menceritakan kepada Yesus, Sang Guru, akan apa yang telah mereka capai, bagaimana setan-setan ditaklukkan dalam nama Yesus. Sama seperti para murid, Tuhan Yesus turut bersukacita melihat wajah para muridnya yang gembira, penuh bersemangat, wajah-wajah para pemenang.
Membayangkan peristiwa itu bagi kita pula sudah merupakan suatu sukacita iman yang luar biasa.

Tetapi, di tengah peristiwa menyukakan itu, Tuhan Yesus mulai membawa mereka pada pemahaman akan sukacita yang sejati.
St. Paulus Rasul mengatakan bahwa sukacita adalah buah Roh dan kepenuhan Kasih yang berada di urutan pertama (bdk.Gal.5:22), buah paling kentara dari orang yang dipenuhi oleh kasih Allah. Karena itu, sebagaimana sukacita yang sejati berasal dari kasih (akan Allah), dapat pula dikatakan bahwa, semakin besar kasih dalam hidup seorang beriman, semakin besar pula sukacitanya.
Inilah sukacita sejati, jauh berbeda dengan kegembiraan duniawi. Sukacita yang tidak akan berkurang kendati hidup menempatkanmu pada situasi yang sulit, di tengah badai pergumulan, bahkan di dalam doa-doa yang seolah tak terjawab, serta di tengah derai airmata yang seolah tak diindahkan.
Hidup kekristenan yang sejati seharusnya memancarkan kasih, bukannya kesedihan dan kemurungan.
Tidak ada sesuatu yang suci dari kesedihan dan kemurungan, dan tak jarang kekudusan palsu pun dapat tampil dalam rupa kesedihan dan kemurungan.
Seorang dapat saja menunjukkan seolah dia sedang dihajar oleh Allah, dan bahwa kemalangannya merupakan gambaran kesempurnaan hidupnya.
Padahal, sebenarnya setan telah menipu dia maupun orang-orang yang meyakini hal semacam itu sebagai kebajikan.

Itulah sebabnya, mungkin dapat pula dikatakan, bahwa sukacita adalah tolak ukur mana yang benar-benar kebajikan sejati dan mana kebajikan yang palsu.
Kebajikan sejati mendatangkan sukacita, hidup yang bersemangat merasul dan menjala jiwa, hidup yang dijalani dalam doa dan mati raga yang tekun. Ini berbanding terbalik dengan kebajikan palsu yang mendatangkan kesedihan, kemurungan, kemunduran dalam doa dan karya kerasulan, penolakan, egoisme, kesepian dan perasaan tidak dimengerti, dan dalam bentuk terburuknya, dorongan untuk menghancurkan hidup dan sukacita orang lain.
Serangan terhadap ajaran Gereja dan komunitas-komunitas Kristiani saat ini, serta pengrusakan terhadap kasih persaudaraan dalam berbagai dimensi hidup saat ini, seringkali dipelopori oleh mereka yang seolah pandai dan bijak menurut ukuran dunia, namun tak ubahnya setan dalam samaran malaikat terang.
Gambaran ini terangkum dalam doa Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” (Luk.10:21)

Injil hari ini mengajak kita untuk memahami bahwa sukacita sejati hanya ada di dalam Tuhan. Yesus mengingatkan para murid akan hal ini, supaya mereka dapat tetap bersukacita setiap saat, dan melalui situasi apapun, sebagaimana dikatakan oleh penulis Barukh dalam bacaan pertama hari ini.
Sukacita kita tidak digantungkan pada ukuran dunia, melainkan semata-mata pada keyakinan bahwa Allah selalu beserta kita, tak sedetikpun Ia melepaskan pandangan kasih-Nya dari kita.
Sukacita sejati bersumber dari keyakinan iman bahwa Tuhan mencintai kita, dan karena Kasih-Nya, hati kita pun dikobarkan untuk mencintai sesama, siapapun mereka.
Suatu cinta tanpa syarat, yang bersumber dari kepercayaan tanpa batas.
Sebagaimana kapasitas kita untuk bersukacita sangat tergantung dari kapasitas kita dalam mencintai Allah, barangsiapa menginginkan untuk selalu memiliki sukacita, hanya akan bisa menemukannya dalam doa, melalui relasi pribadi yang mesra dengan Allah.
Tidak ada sukacita atau kebahagiaan sejati di luar Tuhan, tanpa doa, puasa, serta relasi pribadi yang mesra dengan Dia, Sumber Harapan dan Sukacita kita.
Mereka yang mencarinya di luar Allah, tidak akan pernah menemukannya.

Pertanyaannya, “Bagaimana itu mungkin seorang dapat tetap bersukacita di tengah kepahitan dan kesedihan hidup?
Di bulan Rosario ini, Gereja mengajak kita untuk memandang Bunda Maria. Dia yang dikenal sebagai Mater Dolorosa – Bunda Dukacita, tetapi dia pun dikenal sebagai “Yang paling Berbahagia oleh segala bangsa“.
Pandanglah Perawan Suci kita, renungkanlah hidup dan karya Allah yang bekerja dalam dirinya, maka kita akan menemukan sukacita sejati yang selama ini dicari oleh seluruh dunia.
Sukacita yang berasal dari hati yang mencinta. Hati seorang pendoa yang selalu hidup di hadirat Allah. Hati yang telah mengosongkan diri dalam kemiskinan roh, sehingga dipenuhi oleh Allah dengan segala kelimpahan rahmat-Nya.
Santa Perawan Maria, Ratu Rosario Suci, doakanlah kami.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Renungan Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

Minggu Adven IV

MINGGU ADVEN IV ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Yesaya 7: 10-14

Mazmur Tanggapan – Mazmur 24: 1-2. 3-4b. 5-6

Bacaan II – Roma 1: 1-7

Bacaan Injil – Matius 1: 18-24

 

Dia Hadir Dalam Kesederhanaan

Imanuel. Allah beserta kita. Inilah inti pewartaan sabda di Minggu Adven IV ini. Demikianlah tanda Iman yang dijanjikan Allah di tengah kekacauan Kerajaan Yehuda kepada Raja Ahaz [1]. Suatu janji yang memperoleh kegenapannya saat Maria menjawab “Ya” untuk mengandung Putra Allah, saat Yusuf bangkit dari “Malam Gelapnya” untuk merangkul kehendak Allah dengan menerima Maria sebagai isterinya [2]. Suatu janji yang baru dapat dimengerti sepenuhnya dalam terang kemuliaan Paska [3], sebagaimana diperkenalkan oleh rasul Paulus melalui salam terpanjang dari semua suratnya.

Berbeda dengan Raja Ahaz yang melelahkan Allah [4] dengan ketegaran hatinya, dalam diri Maria & Yusuf, Gereja melihat suatu teladan beriman. Iman untuk mempercayai Tuhan di dalam kegelapan. Mereka adalah orang-orang yang sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan mereka, terdapat Iman yang sejati, tanpa syarat dan dipenuhi kepercayaan tanpa batas. Disaat sukacita Natal semakin mendekat, di Minggu Adven IV ini, Gereja mengajak kita untuk mendekati tanda-tanda Iman dari Tuhan dalam kesederhanaan, dengan hati yang dipenuhi cinta akan Allah dan kehendak-Nya. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya mengapa suatu janji keselamatan harus diawali dengan kegelapan iman, dimana Maria & Yusuf diminta untuk menjawab “Ya” kepada kehendak Allah, disaat fakta yang ada memberi mereka begitu banyak alasan untuk menjawab “Tidak”. Akal budi kita tidak bisa memahami sepenuhnya kesederhanaan Tuhan yang mau masuk dalam kehidupan sejarah manusia dalam diri Kanak-Kanak Yesus di Bethlehem. Akal budi kita sulit menerima kenapa Sang Anak Domba, harus menjalani hidup yang dipenuhi penolakan, penyangkalan, dan tanpa suara digiring untuk diadili layaknya seorang penjahat. Akal budi kita tidak bisa menyelami cinta Bapa dalam diri Putra-Nya, yang rela mati di Kalvari dalam keadaan yang teramat hina dan keji. Akal budi kita tidak bisa melihat kehadiran Tuhan yang demikian nyata dalam kesederhanaan Ekaristi/Hosti Kudus. Akal budi kita tidak bisa melihat kemuliaan Tuhan dalam roti kecil, bahwa dengan menyantap roti yang satu dan sama, kita benar-benar menyantap Tubuh Tuhan sendiri dan menjadi satu kesatuan dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja-Nya.

Apa yang tidak bisa diterima dan dilihat oleh sepenuhnya akal budi, hanya bisa dimengerti dalam kuasa cinta. Allah adalah Cinta/Kasih. Karena itu, kita yang tercinta karena Cinta, hanya bisa mendekati dan memahami Dia dalam cinta. Dia yang kekurangan cinta dengan sendirinya kekurangan iman, kekurangan pengharapan. Teramat sulit baginya untuk melihat kehadiran Tuhan yang paling nyata dalam kesederhanaan sakramen-sakramen Gereja, apalagi untuk menerima buah-buah melimpah dari semua anugerah Ilahi itu.

Tuhan hadir dalam kesederhanaan. Oleh karena itu, dalam kesederhanaan kita pun dipanggil untuk melayani Dia, untuk setia melakukan perkara-perkara kecil dengan cinta yang besar. Sama seperti kemuliaan Tuhan hanya dapat dilihat oleh mata manusia saat Ia merendahkan diri, dan masuk dalam kehidupan manusia dalam kesederhanaan Bethlehem, demikian pula Terang Kristus hanya bisa menyinari dunia melalui diri kita bilamana orang melihat ketekunan kita melakukan segala karya yang dipercayakan Tuhan dalam kesederhanaan dan cinta yang besar.

Jadilah keluarga yang bersekutu dalam doa dan sabda, suami-istri yang setia, anak-anak yang penuh hormat dan bakti. Jadilah seorang Imam yang kudus dan memiliki kehausan akan jiwa-jiwa. Jadilah seorang perawat yang merawat para pasien dengan cinta kasih Kristus. Jadilah seorang pelukis yang senantiasa menceritakan karya mengagumkan Tuhan dalam lukisan-lukisanmu. Jadilah seorang ahli rekayasa genetika yang melakukan penelitian yang beretika dan menghargai martabat hidup manusia. Jadilah seorang  pemimpin negara yang jujur dan adil. Apapun panggilan, profesi dan karya yang kalian lakukan (sebagaimana Tuhan memanggilmu), lakukanlah itu dalam kesederhanaan, ketekunan dan kesadaran untuk menjadikannya sebagaia suatu persembahan yang  berkenan di hati Allah. Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang senantiasa mencari wajah-Nya [5]. Dengan demikian terang kemuliaan Tuhan akan bersinar dalam dirimu dan dengan seluruh dunia akan berseru, “Imanuel – Allah beserta kita.” (VFT)



[1] Bdk. Yesaya 7: 14

[2] Bdk. Matius 1: 24

[3] Bdk. Roma 1: 4

[4] Bdk. Yesaya 7: 13

[5] Bdk. Mazmur 24: 6