Meditasi Harian, 14 Juli 2017 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XIV

BERANI MATI UNTUK HIDUP

Bacaan:

Kej.46:1-7.28-30; Mzm.37:3-4.18-19.27-28.39-40; Mat.10:16-23

Renungan:

Injil hari ini membawa kita lebih jauh lagi ke dalam realita seorang pengikut Kristus, serta panggilan kerasulan kita untuk menyatakan karya Tuhan. Sesudah meneguhkan hati kita bahwa hidup kristiani adalah hidup yang disertai dengan tanda-tanda penuh kuasa dari-Nya, untuk membawa banyak orang pada pengalaman akan kasih Allah, hari ini Tuhan kita berbicara soal konsekuensi yang sudah pasti tidak kita harapkan. Setelah kemarin memperingatkan kita yang diutus, agar tidak memiliki kelekatan atau “membawa banyak” hal yang justru membebani tugas kerasulan kita, hari ini Tuhan mengutarakan satu lagi kenyataan dari panggilan kita sebagai saksi-saksi Kebangkitan, yaitu bahwa Sang Gembala Yang Baik ini mengutus kita “seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat.10:16). Seekor domba berhadapan satu lawan satu dengan seekor serigala saja sudah cukup sukar, apalagi untuk hidup di tengah-tengah kawanan serigala.

Siapapun yang hendak melangkah di jalan Tuhan, haruslah terlebih dahulu menyadari betul konsekuensi iman ini. Jalan kecil Tuhan pada hakekatnya adalah jalan Salib, dimana seorang akan kehilangan segala, bahkan nyawanya sendiri, untuk beroleh kesejatian hidup. Predikat “Hamba Tuhan” bukanlah gelar kehormatan, yang darinya seorang dapat menuntut perlakuan istimewa, kenyamanan hidup, kekayaan, kemakmuran, pujian dan kehormatan duniawi lainnya, apalagi menipu mereka yang dipercayakan kepadanya dengan kejahatan bertopeng kerohanian. Jika itu yang kamu harapkan, maka sesungguhnya kamu telah menjadi “hamba mamon“, tak ubahnya seperti “serigala berbulu domba”. Kamu tidak hanya kehilangan aroma domba, melainkan kamu sudah bukan lagi seekor domba. Seorang rasul Kristus diutus ke tengah kegelapan dunia untuk bercahaya, bukan meredupkan apalagi memadamkan cahayanya untuk bergabung dengan saudara-saudari kegelapan. Kita adalah putra-putri Paskah, manusia-manusia kebangkitan, yang hendaknya dengan lantang berseru, “bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21). Dia yang telah memberi diri untuk Tuhan, tetapi masih menyayangi hidupnya sendiri dan hatinya masih melekat pada segala sesuatu diluar Tuhan, pada akhirnya justru akan kehilangan ganjaran hidup kekal dalam kebahagiaan Surga, serta beroleh kebinasaan kekal dalam ratapan dan kertak gigi.

Memang benar bahwa kita diutus ke tengah-tengah serigala. Akan tetapi, “Janganlah kamu kuatir” (Mat.10:29), akan mereka yang hanya dapat membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa sama sekali melenyapkan jiwa. Bersiaplah untuk kehilangan “tubuh” demi menyatakan Kerajaan Allah, maka pada akhirnya nanti baik tubuh maupun jiwamu dapat beroleh kekekalan. Melangkahlah dengan iman layaknya Yakub yang berangkat dalam getaran suara cinta Tuhan, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut…Aku sendiri akan menyertai engkau…dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali” (Kej.46:3-4). Milikilah ketulusan merpati dalam kesederhanaan beriman dan kerendahan hati untuk dibentuk serta dimurnikan oleh Tuhan, dan jagalah sikap kerasulan kita dalam kehati-hatian yang suci dan penuh hikmat, agar kita tidak jatuh ke dalam jerat perangkap si jahat, yang menawarkan banyak hal supaya kita menyimpang dari jalan kesempurnaan. Cerdiklah seperti ular untuk bertahan dalam semangat kerasulan di tengah serigala, sebab “barangsiapa bertahan sampai kesudahannya akan selamat” (bdk.Mat.10:22).

Semoga Perawan Terberkati Maria, Bunda umat beriman, menyertai kita di jalan kecil ini dengan doa dan kasih keibuannya, agar kita senantiasa melangkah dengan penuh sukacita. “Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik. Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya” (Mzm.37:39-40). Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, doakanlah kami.

Regnare Christum volumus!

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 7 Agustus 2015 ~ Jumat dalam Pekan Biasa XVIII

image

SANGKAL DIRI ~ PIKUL SALIB

Bacaan:
Ul.4:32-40; Mzm.77:12-16,21; Mat.16:24-28

Renungan:
Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat.16:24)
Pesan Injil hari ini begitu jelas, namun seringkali gagal dimengerti dalam kepenuhan makna oleh kita, para pengikut Kristus.
Sebelum benar-benar menyebut diri pengikut Kristus, seorang beriman harus sungguh memahami dan menghidupi 2 hal berikut ini.

Pertama, penyangkalan diri. Artinya siapapun kamu, sebesar atau sedasyat apapun rahmat Tuhan yang bekerja di dalam dan melalui dirimu, jangan pernah sekali-kali tergoda untuk menjadikan dirimu sebagai pusat perhatian. Dalam karya kerasulanmu, dalam pelayanan kasihmu, hendaknya Kristus semakin besar dan dirimu semakin kecil. Kristus-lah yang harus dikenal, bukan dirimu. Kristus-lah yang harus dipuji, bukannya dirimu. Milikilah kerendahan hati untuk menyadari bahwa kamu semata-mata adalah alat. Sebuah kuas dapat menghasilkan lukisan yang indah pada kanvas, tetapi pada akhirnya sebuah kuas tetaplah sebuah kuas. Mahakarya yang dihasilkan melalui dia semata-mata lahir dari ketaatan dan kesetiaannya untuk digerakkan oleh Sang Seniman, yaitu Kristus sendiri.
Suatu ketaatan dan kesetiaan yang nampak paling nyata dan teruji dalam ketaatan serta kesetiaanmu kepada Bapa Suci, para Uskup dan Pembesarmu.
Hidup seorang rasul Kristus yang sejati harus senantiasa berpusat pada Kristus, berkarya di tengah dunia sambil tetap mengarahkan pandangan dan seluruh pemberian diri sebagai persembahan terbaik dan berkenan bagi Kristus.
Tidak ada ruang untuk pemuliaan diri, karena perkara kerasulan dan pelayanan bukanlah soal “aku”, melainkan “DIA”.

Kedua, memanggul salib. Seorang harus memiliki kesiapsediaan untuk mati. Tidak mungkin menyatakan diri siap memanggul salib, tanpa kesediaan untuk mati di puncak kalvari.
Salib bukan aksesoris, bukan kebanggaan semu, dan bukan pembenaran untuk menolak diberi kuk lebih besar. Oleh karena itu, manakala seseorang menyatakan diri siap memanggul salib, hendaknya pernyataan ini sungguh telah direfleksikan secara mendalam dan didasari kesiapsediaan untuk menerima segala konsekuensi dari salib itu. Ini berarti “ada-ku” menjadi “ada-Nya”. Aku mati terhadap diriku untuk beroleh makna dan kepenuhan hidup di dalam Dia.

Tentu saja semua orang beriman, tanpa kecuali, akan mendapati dirinya seringkali sulit untuk memposisikan hidup dan karya kerasulannya sejalan dengan 2 tuntutan suci ini.
Kita semua perlu banyak bersabar terhadap diri kita, sebagaimana Tuhan kita selalu bersabar terhadap kita. Sekalipun jalan pemurnian ini tidak mudah, milikilah kerendahan hati dan penyerahan diri untuk senantiasa mau dibentuk dan disempurnakan oleh Tuhan, Kekasih jiwa kita.
Hidup yang berpusat pada Ekaristi sungguh membantu dalam menguatkan kita di jalan kesempurnaan ini. Adalah baik pula meluangkan waktu, misalnya pada setiap hari Jumat, baik secara pribadi maupun dalam komunitas, untuk merenungkan sengsara dan wafat Tuhan melalui devosi Jalan Salib.
Dengan demikian, seorang beriman dapat belajar menghayati dan merangkul salib dan mati terentang pada salibnya, karena telah memeditasikan dalam pandangan cinta di setiap devosi Jalan Salib akan kenyataan iman ini. Dengan merenungkan setiap perhentian Via Crucis, dia telah mendapati bahwa Tuhan dan Penyelamat-nya telah lebih dahulu menapaki tapak-tapak derita itu, dan telah mengubahnya menjadi tapak-tapak cinta.

Semoga Santa Perawan Maria, Bunda Penolong Yang Baik, senantiasa menyertai kita di jalan pemurnian ini, dalam naungan mantol ke-Ibu-annya, sehingga pada senja hidup kita didapati Putra-nya sebagai sahabat yang setia, dan beroleh ganjaran mahkota kemuliaan.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XI

image

KETIKA CINTA MULAI MATI

Bacaan:
2Kor.6:1-10; Mzm.98:1.2-3ab.3cd-4; Mat.5:38-42

Renungan:
Meskipun tekanan individualisme dan hedonisme saat ini cenderung mendorong manusia untuk memberi definisi baru dari cinta, Iman Kristiani sejak masa Gereja purba/perdana tidak pernah membedakan antara cinta kepada Allah dan cinta kepada manusia, antara mencintai Yang Mahatinggi dan mencintai sesama yang paling hina-dina dan menderita, termasuk yang paling sulit dicintai sekalipun.
Tidak mungkin mengatakan mencintai Allah tanpa memiliki cinta yang sama besarnya kepada sesama.
Adalah suatu tragedi kegagalan cinta yang terjadi, manakala seseorang melangkahkan kaki ke Gereja untuk menghadiri Misa Kudus, tetapi dalam perjalanannya justru mengabaikan mereka yang miskin, menderita, dilecehkan martabatnya, dikucilkan, dibuang, diperlakukan tidak adil, yang seolah tanpa harapan, bahkan yang membenci dan melukai kita di sepanjang perjalanan.
Pandangan dan hati seorang Kristiani memang harus selalu diarahkan ke surga, tetapi ini bukan menjadi pembenaran untuk tidak mau ambil pusing melihat penderitaan yang ada di dunia, apalagi menolak untuk mencintai sesama di tengah itu semua.
Kita dipanggil untuk berjumpa dengan Allah, tetapi haruslah dimengerti bahwa bertemu dengan Allah “dalam” sesama manusia merupakan bagian terpenting dari perjumpaan antara Allah dengan manusia.
Maka, kegagalan manusia memandang dan berjumpa dengan Allah dalam dunia sekarang ini, secara jujur haruslah diakui sebagai kegagalan manusia untuk memandang dan menjumpai Dia dalam sesama.
Tentu saja, cinta yang sejati haruslah selalu dan selalu “tak bersyarat“.
Sifat tak bersyarat dari cinta menuntut pula dari kita kesediaan untuk mencintai sampai “terluka“. Banyak orang Kristen mengalami kegagalan mencintai sesama, karena mereka berhenti melangkah saat mengalami luka ketika mencintai. Langkah cinta itu terhenti dikarenakan ketidaksiapan untuk menyadari sifat tak bersyarat dari cinta, yang haruslah pula selalu “mengampuni“, sesulit apapun itu.
Ingatlah baik-baik akan hal ini, setiap kali kita menemukan kesulitan untuk mencintai sampai terluka, atau merasa sulit untuk mengampuni, pandanglah Yesus Yang Tersalib, dan jika engkau memang merasa tuntutan cinta itu tidak adil atau terlampau berat, bawalah perkaramu di hadapan Salib Tuhan.
Orang yang sungguh memahami misteri Salib, ketika membawa perasaan terluka dan sulit mengampuni di hadapan Yesus Yang Tersalib, akan menemukan dirinya tertunduk malu dalam suatu ketidakpantasan yang suci, karena apa yang kita alami, sama sekali tidak sebanding dengan apa yang Dia alami.
Mereka yang menyebut diri pengikut Kristus, tetapi menolak untuk mencintai sampai terluka, dan enggan untuk mengampuni, mungkin sudah saatnya memikirkan jalan lain, karena jalan seorang Kristiani adalah jalan Salib, yang dipenuhi luka, dan menemukan sukacita dalam pengampunan.
Belajarlah mencintai tanpa syarat, tanpa mengharapkan sesuatu sebagai balasan. Ketika kita bertanya, “Apa yang telah kau perbuat bagiku untuk layak kucintai?“, pada saat itulah Cinta kita mulai Mati.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI

Berikut ini ada pernyataan resmi dari Yang Mulia Uskup Agung Jakarta, Ignatius Suharyo Pr., yang juga adalah Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), yaitu menolak eksekusi mati terhadap para terpidana mati oleh Pemerintah Indonesia.

image

“GEREJA KATOLIK MENOLAK HUKUMAN MATI”

Surat Uskup Agung
Untuk para Imam di KAJ

Para Rama yth,

Pada hari-hari ini, televisi, koran dan mass media lain, penuh dengan berita mengenai hukuman mati. Saya pribadi amat sedih setiap kali melihat atau membaca berita itu dan diberitakan dengan cara yang bagi saya mencederai kemanusiaan yang adil dan beradab. Dalam suasana seperti ini saya mengajak para Imam untuk menjelaskan kepada umat pandangan Gereja mengenai hal ini dan mengajak mereka berdoa untuk para terpidana.Katekismus Gereja Katolik menyatakan : Pembelaan kesejahteraan umum masyarakat menuntut agar penyerang dihalangi untuk menyebabkan kerugian. Karena alasan ini, maka ajaran Gereja sepanjang sejarah mengakui keabsahan hak dan kewajiban dari kekuasan politik yang sah, menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan beratnya kejahatan, tanpa mengecualikan hukuman mati dalam kejadian-kejadian yang serius (KGK 2266). Menurut Katekismus ini, hukuman mati diperbolehkan dalam kasus-kasus yang sangat parah kejahatannya. Namun, apabila terdapat cara lain untuk melindungi masyarakat dari penyerang yang tidak berperi-kemanusiaan, cara-cara lain ini lebih dipilih daripada hukuman mati karena cara-cara ini dianggap lebih menghormati harga diri seorang manusia dan selaras dengan tujuan kebaikan bersama (bdk KGK 2267). Di sini terjadi peralihan pandangan Gereja tentang konsep hukuman mati  Gereja. KGK 2267 ini diambil dari ensiklik Paus Yohanes Paulus II Evangelium Vitae.Dalam ensiklik Evangelium Vitae yang diterbitkan tahun 1995, Paus Yohanes Paulus II menghapuskan status persyaratan untuk keamanan publik dari hukuman mati ini dan menyatakan bahwa, dalam masyarakat modern saat ini, hukuman mati tidak dapat didukung keberadaannya. Berikut kutipannya:

“Adalah jelas bahwa untuk tercapainya maksud-maksud ini, jenis dan tingkat hukuman harus dengan hati-hati dievaluasi dan diputuskan, dan tidak boleh dilaksanakan sampai ekstrim dengan pembunuhan narapidana, kecuali dalam kasus-kasus keharusan yang absolut: dengan kata lain, ketika sudah tidak mungkin lagi untuk melaksanakan hal lain untuk membela masyarakat luas. Selanjutnya ditegaskan, Namun demikian, dewasa ini, sebagai hasil dari perkembangan yang terus menerus dalam hal pengaturan sistem penghukuman, kasus-kasus sedemikian (kasus-kasus yang mengharuskan hukuman mati) adalah sangat langka, jika tidak secara praktis disebut sebagai tidak pernah ada.” (EV 56). Dengan demikian Gereja Katolik tidak mendukung hukuman mati.

Salah satu orang yang sudah dijatuhi hukuman mati adalah Mary Jane Fiesta Veloso orang Katolik dari Filipina, berumur 30 tahun, ibu dari dua anak Sekolah Dasar. Sejak berumur 14 tahun, Mary Jane bekerja sebagai pembantu rumah tangga, dan untuk mencari nafkah bagi anak-anaknya, ia menjadi tenaga kerja wanita Filipina di Malaysia. Di situ, ibu agen tenaga kerja menghadiahi Mary Jane sebuah koper; dan kemudian agen tenaga kerja menugasi Mary Jane, menemui seorang teman di Yogya. Di situ, polisi menemukan bahan narkoba amat banyak, tersembunyi dalam dinding koper lapis dua. Mary Jane bersikeras: tidak tahu menahu mengenai isi koper itu. Tidak ada bukti untuk menuduh Mary Jane bahwa bohong. Namun semua pengadilan di Indonesia mempidana Ibu Mary Jane dengan hukuman mati. Kini permintaan untuk peninjauan kembali, telah ditolak; maka bersama sembilan orang terpinda Mary Jane menghadapi eksekusi.Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Indonesia sekarang ini juga sedang meng-advokasi seorang yang sudah dijatuhi hukuman mati dalam kasus yang serupa. Menurut kesaksian keluarga dan saksi-saksi lain, aparat salah menangkap orang.Saya minta para Imam semua untuk mengajak seluruh umat Katolik Keuskupan Agung Jakarta berdoa bagi Ibu Mary Jane dan kesembilan orang lain, juga untuk negara kita dan Gereja di Indonesia.

Doa ini mohon dipanjatkan di seluruh Gereja Katolik Keuskupan Agung Jakarta dalam DOA UMAT PADA HARI MINGGU kalau dan setelah eksekusi mati jadi dilaksanakan. Kita tetap berdoa, agar eksekusi mati tidak dilaksanakan dan selanjutnya hukuman mati dihapuskan dari sistem hukum di Indonesia.

Berikut usul doa umat itu :

I. PadaMu, ya Allah kehidupan, kami mengarahkan hati untuk mendapatkan kekuatan dan andalan dalam kebimbangan kami, untuk memperoleh terang kalau kami buta, kecewa dan marah, untuk dapat menghirup perikemanusiaan dalam perseteruan kami.

L. Ya Allah, dari kelimpahan hidup-Mu Engkau menciptakan segala yang hidup.

U. Bangkitkanlah tanggungjawab kami untuk memelihara kehidupan dan mengalahkan kekerasan.

L. Ya Allah, dengan tekun dan setia Engkau berbagi kehidupan dengan umat manusia; dan Yesus, utusan-Mu, Engkau bangkitkan, setelah Dia dihukum oleh bangsa-Nya dan dieksekusi oleh yang berkuasa.

U. Gerakkanlah kebersamaan kami dengan solidaritas dan jiwailah pemimpin-pemimpin kami, supaya mereka mempersatukan kami, tanpa mengorbankan hidup siapa pun.

L. Ya Allah, Engkau menggairahkan umat-Mu menjadi pembawa kabar gembira dan penjaring dalam lingkungan persaudaraan.

U. Semoga dengan kekuatan-Mu, jemaat beriman menjadi tempat terbuka dan mampu memberi maaf kepada saudara-saudara yang bersalah dan para pemimpin umat menjadi pembela dan pendamping mereka yang terhukum.

L. Ya Allah, dengan mengenakan hukuman mati, negara kami mau melawan semua ulah yang memusnahkan hidup dan merusak perikemanusiaan. Namun tindakan ini tidak menyelesaikan masalah-masalah kami dan hanya menambahkan kekerasan.

U. Bimbinglah kami, para warga dan para pemimpin, untuk menemukan dan menempuh jalan persaudaraan untuk semua.

L. Ya Allah yang kekal, demi hukum positif, Ibu Mary Jane dan sembilan orang senasib dia, harus meninggalkan kami dan meninggal dunia karena dihukum mati.

U. Ya Allah yang adil, sambutlah mereka semua dalam keadilan-Mu dan penuhilah hidup mereka dengan kemuliaan-Mu.

I. Demikianlah permohonan kami, ya Allah, demi Yesus Kristus yang taat sampai mati di salib dan yang Engkau tinggikan di sisi-Mu, menjadi pengantara kami dan semua orang.

U.  Amin.

8. Sementara itu kampanye untuk menghapus hukuman mati di Indonesia akan terus dilancarkan, meskipun kita tahu perjuangan ini akan memakan waktu, tenaga, pengorbanan yang tidak sedikit. Kita dukung berbagai komunitas yang dengan gigih, memperjuangkan penghapusan hukuman mati, tanpa kecewa kalau gagal.

9. Terima kasih atas kerjasama para Rama sekalian. Semoga hidup manusia semakin dihormati dan martabatnya semakin dijunjung tinggi.

Selamat Paskah,
I. Suharyo

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan IV Paskah

image

JANGAN JADI ORANG KATOLIK YANG BODOH

Bacaan:
Kis.11:19-26; Mzm.87:1-3.4-5.6-7; Yoh.10:22-30

Renungan:
Ketika sebagai seorang Katolik anda ditanya, “Apakah anda seorang Katolik? Apakah anda mencintai dan menaati Paus sebagai Wakil Kristus di dunia dan Kepala Gereja, menaati Uskup-mu, dan mencintai Imam-mu? Banggakah anda dengan beriman Katolik? Setiakah anda pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Magisterium Gereja?“, tanpa ragu anda pasti akan menjawab, “Ya, tentu saja!
Tetapi ketika pertanyaan ini dirubah dengan kalimat yang berbeda, tetapi hakekatnya sama, misalnya, “Apakah anda menentang hukuman mati? Apakah anda tidak menggunakan kondom, pil KB, dan alat-alat kontrasepsi lainnya? Apakah anda menolak untuk mendukung gerakan bagi adanya Imam/Pastor perempuan dalam Gereja? Apakah anda mengikuti Misa Kudus setiap hari Minggu dan mengaku dosa secara teratur? Apakah anda menolak aborsi dan euthanasia dalam situasi apapun?“, maka pertanyaan-pertanyaan ini seketika menjadi tidak begitu mudah lagi untuk dijawab lantang dengan mengatakan, “Ya, tentu saja!
Malah, bisa jadi jawabannya berubah 180 derajat menjadi, “Tidak!

Bacaan Injil hari ini seharusnya menjadi tamparan iman bagi kita semua.
Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.” (Yoh.10:27)
Kamu adalah domba, bukan kambing, bukan pula binatang liar tanpa gembala.
Domba yang sejati, “mendengarkan” suara Sang Gembala Sejati.
Seorang Katolik sejati, haruslah menaati Paus dan para Uskup yang telah diserahi tugas oleh Kristus sendiri untuk menggembalakan domba-domba-Nya.
Tidak mungkin menyebut diri seorang Katolik, tetapi menolak apa yang diimani oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin mengakui, “Allah adalah Kasih, dan saya dipanggil untuk mengasihi, baik orang benar maupun yang tidak benar“, tetapi dengan lantang mengatakan pada para pelaku kriminal berat, “Kalian pantas mati! Kalian tidak layak diampuni!
Tidak mungkin berkata, “Saya sepenuhnya percaya apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik!“, sementara pada kenyataannya justru tidak bersedia menolak apa yang ditolak oleh Gereja Katolik.
Domba sejati adalah domba yang taat secara mutlak, tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas kepada Gembalanya.
Ketaatan mutlak bukan berarti ketaatan buta.

Karena itu, kenalilah Iman Katolik-mu. Dalamilah Kitab Suci, Tradisi, dan Ajaran Gereja Katolik secara benar, sehingga anda bisa dicelikkan dari kebutaan serta dapat melihat keindahan Iman Katolik, dan tidak dengan mudahnya menvonis Gereja Katolik sebagai sesat atau keliru.
Jangan jadi orang Katolik yang tidak memahami apa yang sebenarnya ia harusnya imani. Jika demikian, kita dapat dengan mudah jatuh dalam penyesatan, mengikuti opini publik dan setuju dengan pandangan mayoritas, padahal hal itu nyata-nyata bertentangan dengan Ajaran Iman Gereja Katolik.
Hanya karena itu sudah menjadi budaya yang lumrah, sebagian besar orang percaya demikian, atau hampir semua orang melakukannya hal yang sama, tidaklah menjadikan hal itu dapat dibenarkan di hadapan Allah dan Gereja Katolik-Nya yang kudus.
Jangan jadi saksi-saksi iman yang tidak terdidik, atau malah saksi-saksi palsu.
Jadilah saksi sukacita Injil yang sungguh mengenal dan merangkul Iman Katolik, sehingga kita berani untuk mewartakannya tanpa keraguan, apapun resikonya, bahkan sekalipun harus bermusuhan dengan seluruh dunia, atau malah harus kehilangan nyawa karena kesetiaan pada Iman Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando