Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan V Paskah

image

PAX VOBIS ~ DAMAI SEJAHTERA BAGIMU

Bacaan:
Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11.12-13ab.21; Yoh.14:27-31a

Renungan:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh.14:27ab)
Ungkapan salam damai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ini beberapa kali kita temukan dalam Injil. Salam damai serupa juga sering kita saat membaca surat-surat para Rasul maupun para Bapa Gereja perdana, yang terus-menerus diserukan oleh Gereja melalui karya kerasulannya, dan menjadi seruan kasih persaudaraan dalam liturgi suci, sampai hari ini.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa sejatinya, dalam panggilan hidup Kristiani terkandung pula panggilan untuk selalu membawa “damai“, dimanapun dan dalam situasi apapun kita ditempatkan oleh Tuhan.
Damai ini berbeda dengan damai yang ditawarkan oleh dunia ini, karena dunia mengartikan damai sebagai ketiadaan masalah, pelarian dari kenyataan hidup. Damai yang dibawa oleh Yesus melampaui ketiadaan masalah, yaitu keberanian untuk berdiri dalam iman di tengah segala permasalahan dan badai pergumulan hidup, tanpa ketakutan dan keraguan, dalam keyakinan bahwa tidak ada dukacita, penderitaan, maupun bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Ini hanya dapat disadari sepenuhnya, manakala seseorang memiliki pergaulan yang mesra dengan Allah.
Teladanilah hidup Bunda tersuci kita Maria, Ratu Damai. Hidupnya yang senantiasa dipenuhi kedamaian di tengah malam gelap bagi jiwanya, yang menembus kedalaman jiwanya bagaikan sebuah pedang, menjadi kesaksian sukacita Injil yang sejati bagi dunia, sekaligus memberikan semangat bagi Gereja untuk membawa damai melalui hidup dan karya putra-putrinya, dan melihatnya sebagai suatu panggilan suci serta tugas Ilahi, yang digambarkan dengan begitu indah dan tepat dalam doa damai dari tradisi Fransiskan, “Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadilah pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadilah pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadilah pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadilah sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Untuk menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni.”
Inilah sukacita Injil yang kita wartakan. Inilah damai sejahtera sejati yang kita bawa di sepanjang hari-hari hidup kita yang singkat laksana bayang berlalu ini.
Damai…damai…damai…

Pax, in aeternum.
Fernando