Meditasi Harian 20 September 2016 ~ Selasa dalam Pekan Biasa XXV

CINTA BUKAN SEKADAR KATA-KATA

Bacaan:

Ams.21:1-6.10-13; Mzm.119:1.27.30.34.35.44; Luk.8:19-21

Renungan:

Kekristenan lebih dari serangkaian doktrin, ajaran, atau perintah. Kendati itu juga sungguh amat penting, tetapi melebihi itu semua, kekristenan adalah relasi; suatu relasi cintakasih yang mesra antara Allah dengan umat-Nya. Relasi ini hendaknya menempati tempat yang pertama dan terutama dalam hidup seorang beriman, melebihi segala relasi lainnya, termasuk yang didasarkan pada ikatan keluarga dan hubungan darah. 

Inilah yang hendak diingatkan oleh Tuhan kita melalui Injil hari ini. Adalah sangat keliru bila perikop yang kita renungkan hari ini disalah artikan sebagai sikap tidak berbakti seorang Anak kepada Ibu-Nya, atau penyangkalan terhadap keluarga-Nya. Justru sebaliknya, Yesus menampilkan kebijaksanan-Nya sebagai seorang Guru, yang tidak pernah melewatkan kesempatan yang baik, untuk mengajarkan kebenaran Kerajaan Allah kepada murid-murid-Nya. Sang Guru dan Tuhan kita hendak mengarahkan pandangan beriman kita pada tingkatan tertinggi dari suatu relasi cinta, yakni antara Allah dan kita semua yang sejatinya adalah “milik kepunyaan-Nya“. Tentu saja ini membawa konsekuensi beriman yang jelas, bahwa sebagaimana Tuhan Allah kita memandang kita sebagai umat kesayangan-Nya, demikian pula kita hendaknya mendengarkan perkataan-Nya, menaati perintah-Nya, melakukan kehendak-Nya, dan berjalan di Jalan-Nya. “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya” (Luk.8:21).

Bila kita sungguh memahami kedalaman makna pesan Injil hari ini secara tepat, maka pastilah kita pun akan tersungkur dalam kekaguman akan pribadi yang sesungguhnya dipuji begitu luar biasanya oleh Sabda Tuhan hari ini. Dialah Ibu Tuhan kita yang paling berbahagia di antara semua perempuan, dan dipuji oleh segala bangsa. Maria-lah gambaran paling sempurna dari Gereja Kudus-Nya. Dialah “permata terindah dalam kekristenan, setelah Kristus“, demikian kata Martin Luther, Bapa Reformasi. Dari Santa Perawan Maria kita belajar bahwa mereka yang benar-benar adalah pelaku Firman, bukan diukur dari banyaknya kata-kata indah yang diucapkannya tentang Allah, tetapi dalam kenyataan hidupnya yang merupakan persembahan diri secara total kepada Allah. Adalah mudah menjawab “Ya” kepada Allah sebatas ucapan bibir. Tetapi yang dilakukan Maria sepanjang hidupnya, telah membuatnya bercahaya sebagai Bunda Allah dan Bunda kita, yaitu bagaimana dalam keheningan mistik, hatinya adalah luapan cinta dan jawaban “Ya” yang memberual keluar, dan sungguh nyata di sepanjang hidupnya. Dialah yang senantiasa menyertai Tuhan dan Penyelamat kita tanpa syarat, dan dengan kepercayaan tanpa batas.

Kutipan Injil hari ini begitu singkat, tetapi bagaikan sebuah pedang yang menghujam kedalaman jiwa setiap orang beriman. Kalau Tuhan sungguh menjadi yang terutama dan terkasih dalam hidupmu, maka seharusnya hidupmu adalah kesaksian akan itu. Sudahkah kita tidak sekadar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman? Relasi cinta yang sejati antara Allah dan manusia, bukan hanya ditandai kesetiaan dari pihak Allah, tetapi harus pula dijawab dengan kesetiaan yang sama dari pihak kita, untuk menaati perintah-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Jika tidak demikian, maka cintamu itu palsu, dan kesetiaanmu itu semu. Cinta bukan sekadar kata-kata, melainkan nampak dalam tindakan nyata. Belajarlah dari Maria, yang mencinta dalam keheningan dan ketersembunyian mistik. Kesetiaan cintanya tidak terlihat pada saat Putranya dielu-elukan sebagai Raja ketika memasuki kota Yerusalem. Akan tetapi, di saat semua orang, bahkan para murid-Nya meninggalkan Dia di Kalvari, kita justru mendapati Bunda Maria, yang dalam kesetiaan cinta sujud menyembah di kaki salib Putranya. 

Semoga Perawan Maria yang teramat suci, Ibu semua orang beriman, dengan kelembutan hatinya menunjukkan jalan menuju Putranya. Jalan yang seringkali menuntut sikap heroik dalam beriman, penyangkalan diri, bahkan tak jarang pula mendatangkan konsekuensi kemartiran, sebagaimana telah lebih dahulu dialami oleh St. Andreas Kim Taegõn, St. Paulus Chõng Ha-sang, bersama para martir Korea lainnya, yang kita peringati pula pada hari ini. Yakinlah, barangsiapa yang bertahan sampai kesudahannya, tidak akan mengalami kebinasaan kekal, melainkan akan memandang Allah dalam kemuliaan-Nya sampai selama-lamanya.

Regnare Christum volumus! 

✥ Fidei Defensor ~ Fernando ✥

Meditasi Harian 29 Desember 2015 ~ Hari Kelima dalam Oktaf Natal

image

CINTA TIDAK SAMA DENGAN TUTUP MATA

Bacaan:
1Yoh.2:3-11; Mzm.96:1-2a.2b-3.5b-6; Luk.2:22-35

Renungan:
Perbedaan penting dalam hidup beragama bukanlah antara mereka yang beribadah dan yang tidak beribadah, melainkan mereka yang mengasihi dan yang tidak mengasihi.
Maka, mereka yang benar-benar menaati perintah dan hukum Tuhan, seharusnya adalah yang terdepan dalam mengasihi.
Kasih akan Allah yang berbuah kasih pada sesama, sebagaimana dikatakan oleh Rasul Yohanes dalam bacaan pertama hari ini,
Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.” (1Yoh.2:4-5.9)

Panggilan hidup Kristiani adalah panggilan untuk “mencinta“. Cinta yang siap untuk terluka, tetapi juga senantiasa mau mengampuni. Kita tidak boleh kecewa manakala ketekunan kita untuk menghadirkan Hukum Cintakasih kepada sesama, siapapun dia, seringkali pula akan menghadapi penolakan dan permusuhan. Inilah konsekuensi dari iman kita akan Kristus.
Dalam Injil hari ini, Nabi Simeon telah menubuatkan bahwa kelahiran Sang Raja Damai dan Terang Sejati, akan menjadi suatu “tanda perbantahan” (bdk.Luk.2:34) bagi dunia yang menolak berdamai, dan lebih suka berdiam dalam kegelapan.
Tanda perbantahan yang sama juga dibawa oleh para pengikut Kristus, yang sungguh-sungguh menjalani hidup berimannya secara otentik.
Kemartiran St. Thomas Becket, Uskup Agung Canterbury, yang kita peringati juga pada hari ini, menjadi salah satu dari sekian banyak kesaksian hidup itu.
Kedekatan persahabatannya dengan Raja Henry II, tidak menjadi kelekatan dan penghalang baginya untuk mengungkapkan Iman, apalagi menutup mata terhadap kejahatan.
Kerasulan cintakasih dan perdamaian yang sejati adalah kerasulan yang juga berani menentang apa yang jahat, serta membela apa yang baik dan benar.
Damai dan cinta tidak sama dengan sikap diam dan pasrah.
Cinta yang sejati tidak berarti menutup mata, melainkan membuka mata lebar-lebar, untuk kemudian melakukan tindakan iman yang mendatangkan api cinta Tuhan yang menghanguskan.
Seorang Kristiani hendaknya menjadi suara kenabian bagi dunia ini melalui hidup dan karyanya.
Jangan Takut!

Kemartiran St. Thomas Becket yang dibunuh saat sedang berdoa di depan Sakramen Mahakudus hendak mengingatkan kita bahwa keberanian Iman bersumber dari kesadaran untuk senantiasa memandang Allah, dalam persatuan cinta dengan-Nya.
Oleh karena itu, Ekaristi hendaknya menjadi pusat hidup kita, sumber kekuatan dan sukacita kita.
Berbahagialah mereka yang mencintai Misa Kudus, dan menyambut Tubuh Tuhan setiap hari. Suatu ketekunan yang baik, dan hendaknya didasarkan pada kerinduan akan Tuhan setiap saat.

Semoga Santa Perawan Maria menyertai segala harapan dan niat-niat baik kita, agar sukacita Natal yang telah kita terima dari kemurahan hati Tuhan, juga terpancar dalam hidup dan karya kita.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 24 Agustus 2015 ~ Pesta St. Bartolomeus, Rasul

image

JANGAN ADA DUSTA DI ANTARA KITA

Bacaan:
Why.21:9b-14; Mzm.145:10-11,12-13ab,17-18; Yoh.1:45-51

Renungan:
Rasul St. Bartolomeus yang diperingati oleh Gereja Katolik pada hari ini, adalah salah satu dari 12 Rasul dari Tuhan kita Yesus Kristus. Ia dikenal pula dengan nama “Natanael“. Di kemudian hari setelah Tuhan Yesus naik ke surga, Rasul St. Bartolomeus mewartakan Injil ke jazirah Arabia, termasuk Syria dan Persia, bahkan sampai ke India. Pada akhir hidupnya, ia mewartakan Injil ke Armenia, dan berhasil menobatkan Polymius, seorang Raja Armenia, hingga akhirnya dia minta dibaptis oleh Rasul St. Bartolomeus. Peristiwa tersebut mendatangkan kemarahan Astyages, adik Raja Polymius, yang kemudian memerintahkan sang Rasul untuk dibunuh. Rasul St. Bartolomeus menerima mahkota kemartiran dengan cara dikuliti hidup-hidup kemudian wafat disalib dalam posisi terbalik pada akhir abad ke-1 Masehi di Albanopolis, Armenia.
Di kemudian hari jenasahnya dipindahkan dari Armenia, dan saat ini sebagian besar dari potongan tulang jenasahnya disemayamkan dengan penuh hormat dalam Gereja Katolik Basilika St. Bartolomeus, yang terletak di sebuah pulau di tengah sungai Tiber (Roma).
Hidup Rasul St. Bartolomeus memancarkan suatu kesaksian iman akan Allah yang luar biasa. Dalam bacaan Injil hari ini pun, dikatakan bahwa Tuhan Yesus memuji kejujuran hidup Rasul St. Bartolomeus dengan berkata, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!

Kejujuran adalah salah satu kebajikan dalam hidup Kristiani yang menyukakan hati Tuhan.
Jika “Ya“, katakan “Ya“. Jika “Tidak“, katakan “Tidak“.
Seorang Katolik tidak boleh bersikap abu-abu atau suam-suam kuku.
Dalam hidup menggereja, dalam pelayanan kasih, karya kerasulan dalam bentuk apapun, termasuk dalam profesi kerja dan panggilan apapun yang kita jalani, seorang Katolik harus selalu menghindari bahaya “kepalsuan” dalam hidup.
Tidak boleh menjadi orang Katolik yang setengah-setengah. Mengatakan menyembah Allah, tetapi masih memelihara berhala-berhala dab berpegang pada hal atau benda yang bukan bersumber dari kuasa Allah.
Jadilah teladan kejujuran dalam pekerjaanmu, sesederhana apapun itu. Jalanilah panggilan hidupmu dengan senantiasa menjunjung tinggi kebenaran. Jadilah lilin yang bernyala sampai titik penghabisan, kendati disaat semua orang disekitarmu memilih menjadi lilin yang padam di tengah jalan, karena tidak sanggup melawan desakan untuk turut serta dalam kegelapan.

Kejujuran di hadapan sesama hanya mungkin dilakukan bilamana kita terlebih dahulu telah bersikap jujur di hadapan Tuhan.
Bukankah Tuhan Mahatahu, bahkan tak sehelai rambutmu pun yang jatuh tanpa sepengetahuan-Nya?
Jikalau demikian, bagaimana mungkin kamu menjalani hidup dalam kebusukan dosa yang dikubur dalam-dalam, berusaha menyembunyikannya dalam topeng kepalsuan, sambil tetap melayani Tuhan dan menyembut dirimu hamba yang setia, seolah Tuhan bisa dibodohi atau didustai?
Meskipun anak-anak kegelapan mencoba menyamar sebagai malaikat terang dan menipu banyak orang, di hadapan Tuhan tidak ada yang tersembunyi.
Maka, bila kamu memang adalah putra-putri Cahaya, jujurlah di hadapan Sang Cahaya. Jangan berusaha bercahaya, sambil tetap memelihara kegelapan dalam jiwa. Kendati demikian, jangan pernah menjadikan alasan “masih punya dosa“, sebagai pembenaran untuk menjadi cahaya yang menerangi kegelapan dunia. Kejujuran bukan berarti tidak pernah jatuh dalam dosa, ketiadaan cacat, atau tidak pernah melakukan kesalahan.
Kejujuran berarti kesadaran akan kerapuhan diri, yang mendorong kita untuk meletakkannya ke dalam tangan belas kasih Tuhan, untuk diubahkan. Mereka yang berani jujur dan merendahkan diri di hadapan Allah dalam penyerahan diri total, akan mendapati ketidaksempurnaan dalam dirinya secara perlahan disempurnakan oleh Allah.
Jalanilah hidup setiap hari bagaikan di tengah medan pertempuran antara membiarkan dirimu dikalahkan dan jatuh dalam kepalsuan si jahat, atau untuk menjadi pemenang dalam kejujuran dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.

Anda dan saya tahu, dalam hal apa secara spesifik kita sering bersikap tidak jujur. Ketidakjujuran orang yang satu mungkin berbeda dengan orang yang lain. Tetapi, kendati bentuk, situasi, atau tindakannya berbeda, pada hakikatnya untuk dapat mengikuti Tuhan secara “bebas“, kepalsuan demikian haruslah “dilepaskan“.
Semoga Rasul St. Bartolomeus menjadi teladan kita, akan bagaimana untuk hidup tanpa kepalsuan, dan bagaimana memiliki keberanian beriman untuk mewartakan kebenaran sampai titik darah penghabisan.
Kiranya Santa Perawan Maria, Bunda Tak Bercela, membimbing kita di jalan kejujuran menuju Yesus Putranya, Sang Kebenaran Sejati.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 10 Agustus 2015 ~ Pesta St. Laurensius, Diakon & Martir

image

MILIKILAH IMAN YANG BERSAKSI

Bacaan:
2Kor.9:6-10; Mzm.112:1-2,5-6,7-8,9; Yohanes.12:24-26

Renungan:
Hari ini, Gereja Roma mengajak kita untuk merenungkan dalam perayaan suci akan kemartiran St. Laurensius, seorang Diakon Agung dalam Keuskupan Roma yang menerima mahkota kemartiran pada abad-3.
Kemartiran St. Laurensius mengingatkan kita bahwa mengikuti jejak Kristus (imitatio Christi) berarti menyatakan kesiapsediaan menjadi saksi Kristus, apapun risikonya, termasuk bilamana karena iman akan Dia mengakibatkan kita harus kehilangan segala-galanya, bahkan nyawa kita sendiri.
Tertulianus mengatakan, “Darah para Martir adalah Benih bagi Gereja.
Gereja tumbuh dan berkembang karena kesaksian hidup dan kemartiran putra-putri Gereja.
Jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.” (Yohanes.12:24)

Kekristenan saat ini berada dalam masa paling suram sejak didirikan oleh Tuhan Yesus Kristus 2000 tahun lalu.
Kita dipanggil untuk mewartakan iman kita dengan berbagai cara, melebihi masa-masa sebelumnya.
Iman adalah sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan, tidak bisa ditawar-tawar. Di tengah krisis dalam hidup beriman saat ini, kita diingatkan akan panggilan kita untuk bersaksi, apapun risikonya.
Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” (Yoh.12:25)
Tidak ada ruang untuk bersikap setengah hati dalam beriman, kita tidak pernah boleh mencintai Allah dan Gereja-Nya dengan hati suam-suam kuku.
Sekalipun mungkin tidak semua orang beriman akan mengalami kemartiran sehebat St. Laurensius, kita tidak boleh lengah untuk menyadari bahwa para pengikut Kristus saat ini diperhadapkan pada berbagai bentuk kemartiran baru. Apapun panggilan, profesi kerja, karya kerasulan dan pelayanan yang kita lakukan, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya, dan jadilah seorang Katolik yang sejati.
Seorang dokter harus berani mempertahankan kehidupan bukan melenyapkan kehidupan, yaitu dengan mengatakan tidak pada aborsi, euthanasia, promosi alat kontrasepsi, dan berbagai tindakan medis lainnya yang bertentangan dengan Iman Kristiani.
Orang tua dalam keluarga Kristiani hendaknya membesarkan anak-anak mereka dalam kelimpahan cinta, dan tidak pernah lupa untuk mewariskan iman.
Seorang hakim menjatuhkan keputusan dengan adil atas suatu perkara, bukannya dibutakan oleh uang suap untuk memenangkan pihak yang bersalah.
Apapun profesi kerjamu, bawalah nilai-nilai Kristiani ke dalamnya untuk menguduskan pekerjaanmu, dan memenangkan jiwa-jiwa karena kerasulan di tengah pekerjaanmu.
Gereja Katolik boleh saja memiliki anggota umat yang sukses, sekolah dan universitas yang bermutu, rumah sakit dan tempat rehabilitasi yang ternama, bangunan Gereja Katedral dan Basilika yang indah dan megah. Akan tetapi, kalau itu semua tidak disemangati oleh karya kerasulan untuk bersaksi dan berbuah, untuk membawa lebih banyak orang menjadi pengikut Kristus, untuk membela hak kaum miskin dan tertindas, untuk membawa seluruh dunia ke dalam pangkuan Bunda Gereja, maka segala karya itu adalah karya yang mandul, prestise sia-sia, dan ungkapan iman dangkal yang tidak berbuah.

Anda boleh saja menyebut diri seorang rasul Kristus, tetapi kalau tidak ada jiwa yang dimenangkan, tidak ada yang dikurbankan, sesungguhnya anda bukanlah pengikut Kristus.
Semoga St. Laurensius yang kita peringati hari ini mengingatkan kita, bahwa sebagai putra-putri Gereja, kita dipanggil untuk berdiri di tengah dunia bukan untuk kehilangan nyawa dalam kesia-siaan, melainkan kehilangan nyawa guna memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus, sehingga pada akhirnya kita beroleh mahkota kemuliaan dalam kehidupan kekal.
Santa Laurensius, Diakon & Martir, doakanlah kami.
Santa Perawan Maria, Ratu para Martir, sertailah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan VI Paskah

image

IMAN ITU HARGA MATI

Bacaan:
Kis.16:11-15; Mzm.149:1-2.3-4.5-6a.9b; Yoh.15:26 – 16:4a

Renungan:
Akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka bahwa ia berbuat bakti bagi Allah.” (Yoh.16:2)
Kekristenan sekarang menghadapi penganiayaan paling buruk dalam sejarahnya di milenium ini.
Hampir setiap hari kita membaca dan mendengar berita, serta melihat saudara-saudari seiman kita menghadapi rupa-rupa ketidakadilan, pengusiran, teror, penganiayaan, bahkan dibunuh, semata-mata karena menjadi pengikut Kristus.
Penganiayaan ini datang di saat Gereja sendiri sedang mengalami berbagai bentuk kemunduran rohani, disaat si jahat juga sedang menyerang dari dalam, untuk membelokkan Gereja dari Iman yang sejati.
Tetapi, jangan takut! Sadarilah hal ini. Darah para martir adalah ladang subur bagi tumbuhnya Iman Kristiani. Berbahagialah kamu yang hidup di zaman ini, karena kamu beroleh kesempatan untuk menjadi saksi-saksi sukacita Injil bagi dunia, untuk dengan lantang mewartakan “Credo” sebagaimana Gereja Perdana, apapun resikonya.
Dan jika karena Iman Kristiani ini kamu harus menderita berbagai penganiayaan, bahkan menghadapi bahaya kematian karenanya, semoga Roh Penghibur, Roh Kebenaran yang berasal dari Bapa meneguhkan hatimu agar tidak goyah dan dengan berani menjemput mahkota kemartiran, sebagaimana para Rasul dan putra-putri Gereja lainnya, yang dengan berani memelihara imannya sampai tetes darah terakhir.
Iman Kristiani adalah harga mati yang tidak bisa dinegosiasikan.
Saat ini Gereja memang berada dalam masa paling sulit dalam sejarahnya.
Si jahat berkeliling mengepung Gereja dari berbagai sisi bagaikan binatang buas yang siap menerkam.
Tetapi, jangan takut! Berdirilah teguh dalam Iman, maka si jahat tidak akan pernah menang. Pada akhirnya nanti, ibarat emas yang diuji dalam api, Gereja yang keluar dari kesusahan besar ini akan menjadi Gereja yang dimurnikan, serta menjadi cahaya keselamatan bagi seluruh dunia.

Pax, in aeternum.
Fernando

MINGGU PRAPASKA V

image

KRISTEN BERARTI KRIMINAL

Bacaan I
Yer.31: 31-34
Mazmur Tanggapan
Mzm.51: 3-4.12-13.14-15
Bacaan II
Ibr.5:7-9
BACAAN INJIL
Yoh.12:20-33

Renungan:
“Jikalau biji gandum jatuh ke dalam tanah dan mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (bdk.Yoh.12:24).
Adalah menarik untuk melihat kisah hidup Gereja Perdana. Dari sejarah kita mengetahui bahwa di Antiokhia-lah para pengikut Kristus pertama kali beroleh gelar “Kristen”. Para penguasa Romawi-lah yang memberi gelar atau sebutan itu. Maka, seorang Kristen, menurut hukum Romawi, adalah mereka yang dianggap rekan kerja Kristus, anggota partai Kristus. Tentu saja penguasa Romawi sudah pasti tahu bahwa Tuhan Yesus Kristus dihukum mati sebagai seorang Penjahat atau Kriminal. Oleh karena itu, menjadi seorang Kristen berarti menjadi pengikut seorang penjahat dan sebagai akibatnya, karena mereka mengikuti ajaran Kristus, orang-orang Kristen layak dihukum mati. Mereka dianggap sebagai bagian dari organisasi kriminal. Dengan demikian, sebutan “Kristen” menjadi suatu istilah resmi dalam Hukum Pidana pada waktu itu: siapapun yang menyandang gelar ini tanpa harus melakukan kesalahan apapun, sudah bersalah dengan sendirinya. Menjadi seorang Kristen berarti menaruh papan besar di dada kita yang bertuliskan “Siap Dihukum Mati”.
Akan tetapi, yang mengagumkan ialah, kendati mengandung makna yang sedemikian menakutkan, toh orang-orang Kristen pada waktu itu justru tidak gentar, merangkul salib, bahkan dengan bangga mengakui bahwa memang benar mereka “Kristen”.
Inilah suatu kenyataan yang terus-menerus disaksikan oleh dunia sepanjang sejarah sampai saat ini, mulai St. Stefanus Martir Pertama, para martir awal di Roma, St. Thomas Moore di Inggris, St. Edith Stein di masa Nazi Jerman, bahkan sampai pada para martir di Syria, Iraq, dan Libya di masa sekarang ini.
Tak terbilang banyaknya mereka yang mati karena nama Kristus. Darah para martir telah membasahi muka bumi ini sepanjang sejarah dan menjadi bagaikan benih yang mati dan menghasilkan banyak buah.
Oleh karena itu, perkataan Kristus dalam Injil hari ini mengandung suatu kebenaran yang tidak bisa dipungkiri, bahwa konsekuensi menjadi seorang Kristen ialah panggilan untuk menjadi “Martir”.
Untuk menerima kenyataan ini secara penuh, seseorang harus mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah.
Mati terhadap segala kelekatan terhadap dunia, bahkan kecintaan akan nyawa kita sendiri, demi Allah dan Kerajaan-Nya.
Sama seperti Kristus membawa keselamatan bagi dunia melalui sengsara dan wafat-Nya di salib, demikian pula kita saat ini dipanggil untuk membawa tanda-tanda penderitaan Kristus di tengah dunia yang kini semakin memalingkan wajahnya dari kasih Allah.
Kita diminta untuk membawa kesaksian iman kita di tengah keluarga, persahabatan, pekerjaan, dalam segala lingkup kehidupan, apapun resikonya.
Melalui Sakramen Pembaptisan yang diteguhkan kembali dalam Sakramen Krisma, Allah telah meletakkan dalam hati kita kecintaan akan Hukum-Nya.
Suatu ketaatan suci bagaikan sebuah luka cinta, yang membuat hati kita tidak pernah tenang sebelum beristirahat dalam Dia.
Jadilah rasul-rasul Kristus yang meluap-luap dalam cinta akan Dia, dan tularkanlah kegilaan yang sama ke seluruh dunia.
Masa Prapaska adalah saat rahmat bagi kita untuk menyadari kembali panggilan luhur ini.
Mendekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekat pada-Mu, dan mengobarkan hatimu dalam cinta akan Dia.

Pax, in aeternum.
Fernando