Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan IV Paskah

image

PENGKHIANATAN AKAN SELALU ADA

Bacaan:
Kis.13:13-25; Mzm.89:2-3.21-22.25.27; Yoh.13:16-20

Renungan:
Sejarah kekristenan ditandai dengan mereka yang dengan berani menjemput berbagai bentuk kemartiran. Memberi diri sebagai santapan bagi binatang-binatang buas daripada kehilangan imannya, merelakan diri untuk dihukum mati di kamar gas dalam kamp konsentrasi demi menggantikan posisi narapidana lain yang seharusnya menjalani hukuman itu, dibakar hidup-hidup karena tidak ingin meninggalkan umatnya sendirian menghadapi keberingasan mereka yang membenci para pengikut Kristus, melayani para penderita kusta sendirian di pulau terasing sampai harus mati karena penyakit yang sama, bahkan untuk mati ditembak saat sedang memberi makan mereka yang kelaparan, kendati yang dia layani itu adalah orang-orang yang tidak beriman, dan mungkin tidak akan pernah mau beriman atau menghargai pengorbanannya.
Akan tetapi di balik sikap heroik dalam beriman yang demikian, sejarah kekeristenan juga mencatat mereka yang meninggalkan salib karena ketidak sanggupan menerima tuntutan salib, yang secara sadar mengkhianati hidup kekristenan itu sendiri. Mereka yang menyebut diri kristen tetapi mendukung hukuman mati, para dokter yang melakukan aborsi dan gigih mempromosikan penggunaan kondom dan alat kontrasepsi, bahkan melakukan euthanasia atas nama rasa kemanusiaan yang keliru, para pengacara yang membela kejahatan karena bayaran yang tinggi, para pejabat yang menerima suap atas dasar bahwa semua orang juga melakukannya, para imam yang sibuk bermain saham, tetapi sementara angka-angka investasinya mengalami kenaikan, tanpa disadari angka-angka domba yang meninggalkan Gereja karena kelalaiannya memelihara jiwa semakin bertambah dari hari ke hari.

Injil hari ini berbicara begitu keras dan jelas, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia” (Yoh.13:18-19).
Pengkhianatan akan selalu ada. Akan selalu ada Yudas-Yudas kekristenan yang meninggalkan altar dan persekutuan Gereja, mengkhianati dengan sebuah ciuman, untuk bergabung dengan para penyamun, singa dan serigala, dan berbalik menyerang Gereja Kudus-Nya dengan membawa nama Tuhan, sambil menuding bahwa Gereja telah kehilangan kemurniannya.

Saudara-saudari terkasih. Gereja Katolik tidak pernah, dan tidak akan pernah kehilangan kemurniannya. Gereja tetap kudus sekalipun orang-orangnya adalah pendosa. Tahbisan itu suci dan mereka yang melayani dalam kuasa tahbisan itu wajib dihormati, ditaati dan dicintai secara total, sekalipun mungkin tahbisan itu dalam pandangan manusia ditumpangkan atas mereka yang dipenuhi dengan berbagai kelemahan dan keterbatasan, bahkan yang mungkin mulai lupa atau melalaikan tugas luhurnya. Itu semua untuk membuatmu rendah hati untuk tidak memandang muka, dan menyadari bahwa Tuhanlah yang berkarya di balik itu semua.

Kamulah yang harus berubah! Kamulah yang harus mengoyakkan hatimu untuk bertobat, bukannya menuntut Gereja untuk merubah sikap demi gagasan yang keliru dan mendorong Gereja supaya menyesuaikan diri dengan semangat zaman. Kebebalan dan ketegaran hatimu-lah yang saat ini mendorongmu untuk memberikan interpretasi baru tetapi sesat pada Kitab Suci, Tradisi dan Ajaran Gereja. Niatmu yang mengatasnamakan hak-hak asasi manusia, terobosan medis, emansipasi dan kesamaan gender, telah melukai Gereja dan mengaburkan jejak-jejak Kristus, serta merusak tatanan Penciptaan.
Bahwa Gereja harus senantiasa membuka diri bagi angin segar perubahan, itu memang benar dan sungguh perlu.
Tetapi, untuk secara keliru menggunakan dalil itu pada usaha untuk menyeret Gereja Katolik tenggelam dalam arus zaman, kehilangan kemurniannya ajaran imannya, membelokkan pewartaan sukacita Injil, menyangkal suara kenabiannya, itu adalah jahat di mata Tuhan.
Injil hari ini menjadi suara Ilahi dan seruan pertobatan bagi kita, “Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku.
Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” (Yoh.13:18-19)

Pengkhianatan akan selalu ada. Mereka yang meninggalkan Kristus karena kerasnya kata-kata Yesus akan selalu ada. Akan tetapi, milikilah kerendahan hati untuk menerima kenyataan bahwa tidak semua orang sanggup menerima tuntutan Injil. Tugasmu adalah mewartakan, bukan meyakinkan, kendati kamu memang dipanggil untuk mewartakan secara meyakinkan tanpa cacat dalam hidup dan karyamu. Tugasmu hanyalah untuk selalu menjawab, “Ya. Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.” Untuk mendorong batu, tanpa mempedulikan apakah batu itu akan terguling atau tidak. Pada waktunya nanti, seturut gerak cinta Tuhan, kamu akan dihantar pada pengalaman mistik yang membuatmu memandang Allah yang berseru dari dalam awan, “Akulah Dia” (bdk. Yoh.13:19).

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Oktaf Paskah

image

PANGGILAN ITU UNIVERSAL

Bacaan:
Kis.4:1-12; Mzm.118:1-2.4.22-24.25-27a; Yoh.21:1-14

Renungan:
Penampakan Yesus kepada para murid di pantai danau Tiberias mengingatkan kita akan pemanggilan pertama mereka untuk menjadi penjala manusia. Lagi-lagi kenyataan bahwa usaha mereka untuk menangkap ikan semalaman tanpa beroleh hasil apa-apa, menggambarkan kegelapan rohani yang seringkali ditemui dalam karya kerasulan para rasul Kristus yang dibawa ke dalam gelap, ke dalam ketiadaan, ke dalam awan ketidaktahuan.
Disinilah pendengaran akan kehendak Tuhan dibutuhkan, pendengaran yang disertai ketaatan untuk menebarkan jala di tempat dimana Tuhan menghendaki.
Seorang rasul Kristus dipanggil untuk melayani Allah dan Kerajaan-Nya, bukan dirinya sendiri. Usahanya untuk menebarkan jala tidak akan berbuah apa-apa tanpa ketaatan penuh pada kehendak Tuhan.
Dia yang menaati dan mencintai Tuhan akan datang mendekati “api arang” (bdk.Yoh.21:9) untuk duduk bersama Tuhan, bukan dalam penyangkalan seperti yang dilakukan Petrus di depan “api berdiang” (bdk.Mrk.14:54), melainkan sebagai seorang hamba sebagaimana diteladankan oleh Tuhan kita.
Di balik hasil tangkapan yang berlimpah, Injil pun mencatat dalam ungkapan simbolis jumlah ikan yang ditangkap pada waktu itu, yaitu 153 ekor, yang menurut ilmu hayat pada waktu itu adalah jumlah keseluruhan jenis ikan di dunia. Dengan demikian, panggilan untuk menjadi penjala manusia adalah panggilan yang bersifat universal. Katolik itu sendiri berarti universal. Kita bukan Gereja khusus orang Batak, Tionghoa, atau Papua. Kita bukan Gereja yang eksklusif bagi kelompok karismatik, atau legio Maria saja. Kita bukan Gereja yang membuka pintu hanya untuk mereka yang kaya atau mapan saja.
Kita adalah Gereja yang membuka hati bagi seluruh dunia, untuk membawa sebanyak mungkin orang, tanpa membeda-bedakan, kepada kekudusan.
Oleh karena itu, tepatlah kata-kata St. Brigitta dari Swedia, “Hanya ada satu iman Kristen, yakni Katolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ JUMAT AGUNG

image

KEBODOHAN SALIB

Bacaan:
Yes.52:13 – 53:12; Mzm.31:2.6.12-13-15-16.17.25; Ibr.4:14-16. 5:7-9; Yoh.18:1 – 19:42

Renungan:

Hari ini seluruh umat Allah berdiam sambil memandang dan merenungkan dalam suatu keheningan mistik akan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus di kayu salib. Kita memandang misteri salib dalam suatu kekaguman dan rasa syukur akan bukti cinta kasih Allah yang terbesar, tindakan yang menyelamatkan, yang memulihkan kembali hubungan manusia dengan Allah yang rusak akibat dosa.

Akan tetapi, hukuman penyaliban sendiri sebenarnya adalah bentuk hukuman paling keji dan hina di seluruh wilayah Kekaisaran Romawi di masa lalu.
Seorang yang menerima hukuman salib, harus mengalami penderitaan luar biasa selama berjam-jam. Proses kematiannya pun berlangsung sangat lama, perlahan-lahan dan luar biasa menyakitkan. Bahkan, terkadang orang-orang yang menyaksikan hukuman ini harus mengambil inisiatif untuk mematahkan kaki para terhukum salib, agar penderitaan mereka boleh berakhir dan mati.
Begitu mengerikan, tidak manusiawi dan terkutuknya bentuk hukuman ini, sampai hukum Romawi pun mengatur bahwa seorang warga negara Romawi (masyarakat kelas I pada masa itu) tidak pernah boleh dihukum dengan cara seperti itu.

Karena itu, janganlah heran bilamana kita menyaksikan atau menemukan di sepanjang sejarah, sejak zaman para Rasul, bahkan sampai detik ini, orang-orang yang sulit memahami apalagi menerima kenyataan ini dan berkata, “Bagaimana mungkin Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, apalagi sampai mati pada sepotong kayu dengan cara yang teramat memalukan, demi keselamatan umat manusia?”
Bagi orang Yahudi, ini sebuah skandal atau batu sandungan, sedangkan bagi mereka yang bukan Yahudi, ini suatu kebodohan. (bdk.1 Kor.1:23)

Akan tetapi, bagi kita yang dipanggil untuk mengikuti jalan Sang Tersalib, wafat-Nya di kayu Salib adalah bukti cinta kasih Allah yang terbesar, yang selamanya kita syukuri dan dengan bangga akui dalam pengakuan iman kita.
Pengakuan iman yang di sepanjang zaman seringkali berakibat kemartiran. Iman akan Kristus yang tersalib menyebabkan para pengikut Kristus dimusuhi oleh dunia, kehilangan sahabat dan kedudukan dalam masyarakat, dikucilkan, dihina, dianiaya, dirajam, dibakar hidup-hidup, dipenggal, bahkan dibunuh secara massal dan membabi-buta.

Salib adalah bagian tak terpisahkan dari hidup seorang Kristen. Tidak mungkin mengimani Yesus sebagai Tuhan dan Penyelamat,  tetapi menolak merangkul jalan penderitaan yang berujung pada Salib.
Apa yang bagi orang lain merupakan kebodohan dan batu sandungan, bagi kita adalah suatu keuntungan.
Pilihan untuk mengikuti Sang Tersalib sama sekali bukanlah batu sandungan, kebodohan, atau kesia-siaan.
Mereka yang setia sampai akhir, pada akhirnya akan menerima ganjaran kebangkitan dan hidup kekal bersama Allah.

Oleh karena itu, manakala Gereja Katolik di Jumat Agung ini mengenangkan Sengsara dan Wafat Tuhan, sambil menghormati dan berlutut mencium salib dengan penuh cinta bakti, kita sebenarnya hendak menyatakan iman kita kepada dunia, serentak kembali diingatkan untuk menerima panggilan kita untuk membawa iman akan Sang Tersalib kepada semua orang, apapun resikonya, agar seluruh dunia ini boleh turut memperoleh buah-buah penebusan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus.

Cintailah pengurbanan; karena itu adalah sumber kehidupan rohani. Cintailah Salib, yaitu altar pengurbanan. Cintailah sakit, sampai engkau minum seperti Kristus, hingga tetesan terakhir dari piala itu.” ~ St. Josemaría Escrivá

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA KABAR SUKACITA

image

SEANDAINYA DIA MENJAWAB TIDAK

Bacaan I
Yes.7:10-14; 8:10
Mazmur Tanggapan
Mzm.40:7-8a.8b-9.10.11
Bacaan II
Ibr.10:4-10
BACAAN INJIL
Luk.1:26-38

Renungan:

“Adapun Bapa yang penuh belaskasihan menghendaki, supaya penjelmaan Sabda didahului oleh persetujuan dari pihak dia, yang telah ditetapkan menjadi Bunda-Nya. Dengan demikian, seperti dulu wanita mendatangkan maut, sekarang pun wanitalah yang mendatangkan kehidupan.” (Lumen Gentium, 56)

Seandainya waktu di dunia ini pernah berhenti, maka itu sangat mungkin terjadi pada hari dimana Perawan Suci menerima Kabar Sukacita dari Allah melalui malaikat Gabriel.
Ada suatu momen keheningan mendalam yang terjadi pada hari itu, saat dimana seluruh penghuni surga membungkuk untuk melayangkan pandangan ke bumi dalam keheningan, kepada seorang gadis sederhana bernama Maria, untuk mendengar jawaban apa yang hendak dia berikan.
Sebuah jawaban yang akan menentukan keselamatan seluruh umat manusia.
Kenyataan bahwa Tuhan begitu menghormati kebebasan manusia, dan tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita, sebagaimana nyata dalam diri Maria di hari itu, semakin membuat momen itu mendebarkan bagi seluruh alam semesta.
Datang atau tidaknya Sang Penyelamat ke dalam dunia, sepenuhnya tergantung pada jawaban Maria.
Maria bisa saja menjawab “Tidak”.

Akan tetapi, dalam diri dan “Fiat/Ya” Maria, setiap orang beriman boleh memandang dan merenungkan dalam kekaguman akan rahmat Allah yang bekerja di dalam diri Maria.
Itulah juga sebabnya kenapa malaikat Gabriel tidak menyapa Maria dengan namanya, melainkan menyebut dia sebagai yang “penuh rahmat.”
Karena, sama seperti sebelum Allah menciptakan manusia, terlebih dahulu Dia menciptakan langit dan bumi beserta seluruh isinya dalam kebaikan, sehingga bisa menjadi kediaman yang membahagiakan bagi manusia, demikian pula sebelum mengutus Putra-Nya yang terkasih ke dalam dunia, Allah sungguh-sungguh memilih dan menetapkan wanita terbaik, seorang Perawan Suci, serta menghujaninya dengan segala kelimpahan rahmat sebagai Bunda Allah.

“Fiat” Maria hendaknya menjadi “Fiat” kita juga. Jawaban “Ya” Maria hendaknya menjadi jawaban “Ya” kita juga, tidak hanya disaat kehendak Tuhan begitu jelas kelihatan, melainkan juga disaat jawaban “Ya” itu menuntut kita untuk melangkah di dalam kegelapan malam.
Sama seperti Maria, milikilah keberanian iman untuk percaya sekalipun tidak ada dasar untuk percaya, untuk berharap sekalipun tidak ada dasar untuk berharap.
Dalam keadaan sesulit apapun dalam hidup, ketika iman kita diuji, bahkan kendati seluruh dunia mendesak kita untuk mempertanyakan rancangan Tuhan, biarlah suara Tuhan ini selalu bergema di hati kita, “Jangan Takut! Percaya saja!”
Semoga Hari Raya Kabar Sukacita ini mengingatkan kita akan begitu besar belas kasih Allah atas umat-Nya, sambil meneladani Perawan Suci Maria yang menemukan kebebasan sejati dalam penyerahan diri secara total dan bebas kepada kehendak Allah.
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Mu.”

Pax, in aeternum.
Fernando

Renungan Pesta Pembaptisan Tuhan

Baptism of Jesus

Baptism of Jesus

PESTA PEMBAPTISAN TUHAN (Tahun Liturgi – A)

Bacaan I – Yesaya 42: 1-4, 6-7

Mazmur Tanggapan –  Mzm. 29: 1a, 2, 3ac-4, 3b, 9b-10

Bacaan II – Kisah Para Rasul 10: 34-38

Bacaan Injil – Matius 3: 13-17

MEMANDANG TUHAN DALAM KEMANUSIAAN

Kasih adalah kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang begitu kuat. Bagaikan tetesan air yang secara yang sekilas terlihat begitu lembut dan tak berdaya, tetapi seiring waktu sanggup menciptakan lubang pada sebuah batu, demikianlah di sepanjang sejarah umat manusia kita melihat, bahwa meskipun kehadiran “si jahat” begitu nyata dalam begitu banyak kekacauan, peperangan, kematian, kemiskinan, ketidakadilan dan berbagai bentuk manifestasi lainnya, pada akhirnya Kasih selalu menjadi cahaya menyilaukan untuk menghalau kegelapan.

Tentu saja pada akhirnya, Kasih akan selalu menang atas dunia, karena sejak awal mula dunia ini tercipta oleh Kasih, yakni Allah sendiri. Kasih Allah ini semakin nyata saat Pencipta menjadi ciptaan, ketika Allah menjadi manusia dalam diri Yesus, Putra-Nya. “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3: 16)

Dalam terang iman inilah, Gereja mengakhiri Masa Natal dengan merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Dalam peristiwa Pembaptisan Tuhan, misteri Inkarnasi terlihat semakin jelas ketika Tuhan menjawab keheranan Yohanes, yakni bahwa Ia mengosongkan diri dengan masuk ke dalam air, sehingga ketika keluar dari air, Ia memenuhi diri-Nya dengan penggenapan akan seluruh kehendak Allah. Bagi orang lain pada waktu itu, pembaptisan Yohanes di sungai Yordan merupakan pembaptisan pertobatan. Akan tetapi, saat Tuhan kita merendahkan diri dengan turun ke dalam air untuk dibaptis, Dia membawa seluruh dosa umat manusia untuk ditenggelamkan dalam samudera belas kasih Allah. Itulah saat dimana  Allah memulai suatu perjanjian baru dengan umat-Nya dalam diri Yesus, Putra-Nya yang terkasih. Dalam peristiwa pembaptisan Tuhan ini, secara samar-samar kita mulai melihat misteri Salib, yang merupakan paripurna dari tindakan kasih Allah.

Hari ini Gereja merenungkan saat dimana “Hamba Yahwe” memulai tugas perutusan-Nya, seperti telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya dalam bacaan I. Seorang hamba yang berkenan di hati Tuhan. Roh Allah dalam rupa burung merpati disertai suara dari surga, menjadi pernyataan yang tak terbantahkan bahwa Yesus sungguh adalah Putra Allah. Dialah yang diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, sebagaimana dinyatakan oleh Lukas dalam Kisah Para Rasul, untuk menyatakan pada dunia bahwa Allah sungguh beserta kita. Hari ini seluruh penghuni surga memadahkan mazmur pujian untuk memuliakan Allah, yang telah mengutus Putra-Nya.

Hari ini Gereja mengajak kita untuk memandang Tuhan dalam kemanusiaan. Dalam misteri Pembaptisan Tuhan, kita boleh melihat betapa berharganya kita di dalam hati Allah. Betapa Tuhan tidak pernah melupakan kita, meskipun kita telah melupakan Dia. Betapa Ia tetap mencintai kita, meskipun kita telah berhenti mencintai Dia.

Hari ini Gereja kembali mengingatkan keluhuran martabat kita sebagai putra-putri Allah, yang telah kita terima dalam Sakramen Pembaptisan, untuk menjadi Imam, Nabi dan Raja. Pesta Pembaptisan Tuhan juga merupakan  suatu seruan Gereja bagi kita untuk bertobat, untuk meninggalkan segala yang bukan Allah, dan memenuhi diri kita dengan segala hal yang menyenangkan hati Allah. Kita dipanggil untuk bersama Yesus tenggelam dalam lautan belas kasih Allah, sehingga kita boleh keluar sebagai putri-putri Allah yang bermandikan cahaya kemuliaan. Untuk menjawab panggilan ini, sudah pasti ada yang harus dikorbankan, ada yang harus dilepaskan, malahan bagi beberapa orang, dia harus melepaskan semua hal yang terdekat di hatinya. Suatu malam pemurnian yang dapat menghanguskan baik tubuh maupun jiwa.

Namun, ketahuilah ini! Dengan berbagai tawarannya, dunia saat ini telah menipu dan membutakan banyak orang, dengan berbagai berhala-berhala yang dengan angkuhnya menjanjikan kesempurnaan bilamana manusia memilikinya. Pemujaan akan tubuh dan kecantikan yang membuat banyak orang jatuh dalam depresi serta keputusasaan, kapitalisme dan manipulasi pasar modal yang dengan kerakusan telah semakin memperlebar jurang antara kaum miskin dan golongan kaya, berbagai bentuk investasi masa depan yang membuat kita tidak lagi merindukan surga, kehausan akan kekuasaan dan kesuksesan di berbagai bidang serta profesi kerja yang membuat manusia menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang dia inginkan, dan berbagai berhala lainnya. Tentu saja tidaklah salah menginginkan suatu kehidupan dalam dunia yang lebih baik. Akan tetapi, Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa sekalipun kita memiliki semuanya, janganlah hati kita melekat pada semua hal itu. Sebagai seorang Kristiani, kita harus memiliki mata iman yang tajam, untuk melihat secara bijaksana. Saat ini si jahat mencoba meyakinkan kita, bahwa kesempurnaan kemanusiaan kita seolah-olah tergantung pada apa yang kita miliki, seakan-akan kepemilikan akan semua hal itulah yang membuat kita sempurna sebagai manusia.

Pahamilah ini! Kesempurnaan kemanusiaan kita hanya bisa ditemukan di dalam Allah. Kesempurnaan kemanusiaan kita tidak terletak dalam memiliki segala, melainkan melepaskan segala. Apapun yang diletakkan Tuhan ke dalam tangan kita, jadikanlah semua itu sebagai kurban yang harum dan berkenan di hati Allah. Kesejatian hidup hanya bisa ditemukan di dalam panggilan untuk menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan dunia melalui karya. Sebagaimana Tuhan kita Yesus Kristus, kita dipanggil untuk menjadi hamba-hamba Allah yang setia, yang mengingini apa yang Tuhan ingini, dan mencintai apa yang Tuhan cintai, untuk melihat segala yang kita miliki, bukan sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan dalam semangat pengosongan diri, mempergunakan semuanya itu bagi perluasan Kerajaan Allah. Semoga perawan Maria, putri ketaatan dan teladan pengosongan diri, menjadi Bintang Timur yang selalu membimbing dan mendoakan kita, untuk menjadi hamba yang setia dalam karya Allah di tengah dunia. (VFT)