Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan III Paskah

image

ROTI HIDUP YANG SEJATI

Bacaan:
Kis.7:51 – 8:1a; Mzm.31:3cd-4.6ab.7b.8a.17.21ab; Yoh.6:30-35

Renungan:
Ada suatu kepercayaan yang kuat dalam Tradisi Rabbinik pada zaman Yesus bahwa apabila Mesias datang, Ia akan memberikan mereka Manna Surgawi, sebagaimana yang diberikan oleh Musa, Nabi besar Perjanjian Lama di padang gurun.
Itulah sebabnya, mereka menuntut Yesus melakukan hal yang sama, untuk membuktikan bahwa Dia adalah benar-benar Mesias.
Yesus menjawab mereka dengan terlebih dahulu mengatakan bahwa bukan Musa yang memberikan mereka manna, melainkan Allah sendirilah yang melakukan karya ajaib itu.
Dengan demikian, Yesus menegaskan bahwa mukjizat manna di padang gurun adalah sepenuhnya karya Allah.
Lebih jauh lagi, Yesus mulai membawa mereka pada kesadaran iman bahwa manna yang mereka terima di padang gurun adalah lambang atau dapat juga dikatakan “antisipasi” dari Manna Surgawi yang sejati, yaitu Yesus sendiri.
Dengan mengatakan, “Akulah Roti Hidup” (bdk.Yoh.6:35), Yesus tidak hanya menyatakan karya Allah yang dikerjakan-Nya, melainkan lebih jauh lagi, Ia secara tersamar telah memaklumkan ke-Allah-an-Nya.
Roti yang hendak diberikan Yesus adalah hidup Allah sendiri, jawaban atas kelaparan terdalam dari hati manusia.
Bilamana manna yang Israel terima di padang gurun telah menguatkan mereka untuk berjalan menuju Tanah Terjanji, maka Manna Surgawi yang diberikan Yesus tidak hanya menguatkan umat Allah nantinya dalam peziarahan menuju Tanah Air Surgawi, melainkan lebih lagi, Manna Surgawi yaitu Ekaristi Kudus, membuat semua orang beriman mengambil bagian dalam hidup Ilahi yang kekal dari Allah sendiri.
Inilah harta terbesar, hadiah terindah yang diberikan Tuhan Yesus kepada Gereja yang didirikan-Nya sendiri, Gereja Katolik yang kudus.
Setiap hari Tuhan memberikan Diri-Nya sebagai santapan rohani bagi kita dalam Misa Kudus. Sakramen Ekaristi adalah Manna Surgawi yang membawa kita pada hidup kekal bersama Allah.
Berbahagialah mereka yang boleh selalu menerima Roti Surgawi ini. Malanglah mereka yang telah kehilangan persekutuan dengan Gereja Katolik, yang tidak lagi merayakan Sakramen Ekaristi ini dan menggantinya dengan perjamuan kenangan biasa.
Akan tetapi, jauh lebih malang dan celaka lagi mereka yang beriman Katolik, tetapi dengan kelalaian sendiri mengabaikan pentingnya Misa Kudus bagi hidup rohani mereka.
Adalah lebih mudah bagi dunia ini untuk bertahan hidup tanpa sinar matahari daripada tanpa Misa Kudus,” demikian kata St. Padre Pio.
Semoga kita senantiasa menimba kekuatan dan daya hidup dari Ekaristi, sehingga kita boleh beroleh buah melimpah dari Sakramen Mahakudus ini.

Pax, in aeternum.
Fernando