Meditasi Harian 8 Oktober 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XXVII

image

MILIKILAH SIKAP TIDAK TAHU MALU YANG SUCI

Bacaan:
Mal.3:13-20a; Mzm.1:1-2.3.4.6; Luk.11:5-13

Renungan:
Persatuan yang tetap dengan sesama melibatkan badan, sedangkan persatuan yang tetap dengan Tuhan melibatkan renungan jiwa dan persembahan doa,” demikian kata St. Isaac dari Syria.
Para murid Yesus menyadari bahwa untuk berhubungan dengan Allah dan memiliki kemesraan dengan-Nya, mereka hanya bisa mendapatkannya dalam doa. Tuhan Yesus pun kemudian mengajari mereka bagaimana harus berdoa. Ia mewahyukan doa “Bapa Kami“, yang merupakan awal baru dari cara umat beriman bersikap dan menyapa Allah dalam doa. Bahwa Allah adalah Bapa kita, dan kita semua adalah anak-anak-Nya.
Senada dan sebagai kelanjutan dari pewahyuan itu, dalam Injil hari ini kita diajak untuk berkanjang dalam doa.
Kunjungan di waktu malam dan ucapan-ucapan yang mengikutinya merupakan anjuran tegas bagi kita semua untuk bertahan dalam doa.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk.11:9)
Allah selalu menjawab doa kita Meskipun mungkin tidak sesuai dengan jalan yang kita harapkan, atau mungkin kita tidak menyukai jawaban yang kita terima, satu hal yang pasti, yakni bahwa Allah selalu menjawab doa kita.

Dalam Injil hari ini, kita pun boleh melihat sejenak kedalaman hati Allah yang penuh belas kasih.
Seakan Tuhan merasa perlu menjelaskan tindakan-Nya, untuk menjawab pernyataan banyak orang mengenai doa-doa mereka yang tak terjawab, atau hidup mereka yang sengsara dan dipenuhi kemalangan, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mempedulikan perkara dan kehendak Tuhan, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Maleakhi (bacaan pertama).
Meskipun tidak secara langsung, Tuhan memberi gambaran yang sungguh manusiawi untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian, dengan memberi contoh sahabat yang tidur, seorang Bapa yang tidak akan memberi ular atau kalajengking saat anaknya minta ikan atau telur.
Tuhan yang Ilahi, mendekati kita secara insani.
Maka, hilangkanlah bayangan atau pemikiran bahwa Allah itu kejam, tidak peduli, tidak menjawab, keras hati, apalagi mencelakakan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita, jauh melebihi mereka yang paling mengasihi kita.
Bahkan lebih lagi, Ia memberikan Roh-Nya sendiri, bagi siapapun yang merindukan dan meminta-Nya.

Setan tahu dan iri akan kebaikan Allah itu. Si jahat sungguh tahu betapa baiknya, betapa luas dan dalamnya belas kasih yang berasal dari Hati Allah.
Karena itu, dengan berbagai cara, dan melalui rupa-rupa situasi hidup yang menyulitkan dan mendukakan, ia berusaha keras membisikkan kata-kata dusta bahwa Allah tidak mengerti atau peduli.
Jangan biarkan si pendusta itu menang dan menghentikanmu beriman, berharap, serta mencinta. Tetaplah berdoa dengan penuh sukacita.

Semua hal yang mudah didapat, akan mudah hilang. Doa yang selalu mudah terjawab, justru jika tidak disikapi secara bijaksana dapat mencelakakan, tidak disyukuri, dan tidak menumbuhkan cinta.
Itulah sebabnya, Tuhan menjawab kita seturut cinta kita kepada-Nya. Sentuhlah Hati-Nya dengan hatimu. Biarkanlah Dia melihat betapa kamu sungguh merindukan persatuan cinta dengan-Nya. Jika engkau tidak berusaha, engkau tidak akan menemukan-Nya; dan jika engkau tidak mengetuk pintu dengan kuat, disertai rasa tidak tahu malu untuk menunggu di depan pintu tanpa mempedulikan waktu; maka pintu itu tidak akan terbuka dan engkau tidak akan menemukan jawaban.

Sebagaimana berulang kali kukatakan bahwa kesejatian doa itu bukan soal meminta, melainkan mencinta.
Maka, di balik semua permintaan dan air matamu dalam doa, kiranya Tuhan menemukan hati yang mencinta.
Hati yang akan tetap mencinta sekalipun yang diminta seolah tak pernah diberi. Mempelai yang akan tetap mencari Tuhan, sekalipun Sang Kekasih Jiwa seolah tidak mau memperlihatkan Wajah Kudus-Nya. Jiwa yang akan tetap mengetuk, sekalipun diusir berulang kali dan seolah pintu tidak akan pernah dibukakan.
Pada akhirnya, pasti akan tiba saatnya dimana permohonan berhenti, pencarian berakhir, ketukan pintu tidak diperlukan lagi, karena Penguasa Rumah telah turun mendengar, Dia telah datang memperlihatkan Diri-Nya, membukakan pintu, dan mempersilakanmu masuk dalam kebahagiaan kekal bersama Dia. Dan kemudian…Airmatapun mengalir.

Semoga Perawan Suci Maria, sebagai yang pertama mengalami sukacita demikian di antara semua ciptaan, akan menghantar kita semua pada persatuan cinta yang sama, agar sama seperti dia, kita pun akan memandang Allah dan berseru, “Ya Tuhanku…Ya Allahku…Ya Segalaku…Ecce ancílla Dómini, fiat mihi secúndum verbum tuum.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Suci

image

CINTA YANG TIDAK TAHU MALU

Bacaan:
Yes.42:1-7; Mzm.27:1.2.3.13-14; Yoh.12:1-11

Renungan:
Salah satu sifat dari cinta yang suci akan Allah, adalah rasa tidak tahu malu untuk melakukan segala-galanya bagi Dia.
Inilah yang dilakukan Maria, manakala dia mengusap kaki Tuhan Yesus dengan rambutnya, kemudian meminyakinya dengan minyak narwastu yang begitu mahal, tindakan yang sangat bertentangan dengan tradisi Yahudi dan norma kepantasan bagi seorang wanita pada waktu itu.
Semua yang hadir pun bertanya-tanya, apa yang memberanikan Maria melakukan tindakan itu?
Tentu saja Maria mengetahui sepenuhnya resiko dan anggapan banyak orang dari tindakannya itu.
Apa yang dilakukan Maria, hanya bisa dimengerti oleh hati yang mencinta.
Setiap orang yang hendak mengenal Tuhan dan jalan-jalan-Nya, harus menyadari satu hal ini: Ketika Tuhan menyentuh hatimu dan meninggalkan luka cinta, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Luka cinta yang bagaikan nyala api yang memurnikan jiwa, yang sanggup menghanguskan kita dalam suatu keterpesonaan cinta akan Allah.

Satu tindakan cinta yang sederhana dari Maria, membuat seluruh rumah dimana mereka berada dipenuhi oleh bau minyak yang harum semerbak.
Sama seperti Maria, demikianlah seharusnya hidup seorang rasul Kristus.
Seluruh pemberian dirinya dan karyanya, haruslah mendatangkan keharuman bagi hidup semua orang yang disentuh olehnya.
Pelayanan kasihnya haruslah membuat semua orang merasakan kasih Allah dan diubahkan olehnya.
Seorang rasul Kristus yang dipenuhi oleh cinta akan Allah sedemikian, bagaikan seseorang yang tergila-gila dalam cinta akan Allah, yang memberanikan dia “keluar”, meninggalkan segala-galanya untuk mencari Sang Cinta, dan dalam perjalanannya untuk menemukan Kekasih jiwanya, menularkan ketergila-gilaan cinta yang sama, memberi hidup serta meninggalkan keharuman di sepanjang perjalanannya yang memurnikan itu.

Tentu saja, diantara kerumunan orang, akan selalu ada yang seperti Yudas Iskariot, yang dipenuhi iri hati, yang mengatakan bahwa dirinya mengasihi Allah dan setiap hari berbicara tentang kasih, padahal hampir tidak pernah melakukan perbuatan kasih, bahkan menjatuhkan mereka yang melakukan tindakan kasih.
Jangan takut atau kecewa saat karya kerasulan dan pelayanan kasihmu diperhadapkan pada Yudas-Yudas dunia ini. Tetaplah berbuat baik.
Tindakan kasih Maria dan cibiran Yudas atasnya, mengingatkan kita akan kata-kata Rasul St.Yohanes, “Filioli mei, non diligamus verbo neque lingua, sed opere et veritati” – “Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

Pax, in aeternum.
Fernando