Meditasi Harian 8 Oktober 2015 ~ Kamis dalam Pekan Biasa XXVII

image

MILIKILAH SIKAP TIDAK TAHU MALU YANG SUCI

Bacaan:
Mal.3:13-20a; Mzm.1:1-2.3.4.6; Luk.11:5-13

Renungan:
Persatuan yang tetap dengan sesama melibatkan badan, sedangkan persatuan yang tetap dengan Tuhan melibatkan renungan jiwa dan persembahan doa,” demikian kata St. Isaac dari Syria.
Para murid Yesus menyadari bahwa untuk berhubungan dengan Allah dan memiliki kemesraan dengan-Nya, mereka hanya bisa mendapatkannya dalam doa. Tuhan Yesus pun kemudian mengajari mereka bagaimana harus berdoa. Ia mewahyukan doa “Bapa Kami“, yang merupakan awal baru dari cara umat beriman bersikap dan menyapa Allah dalam doa. Bahwa Allah adalah Bapa kita, dan kita semua adalah anak-anak-Nya.
Senada dan sebagai kelanjutan dari pewahyuan itu, dalam Injil hari ini kita diajak untuk berkanjang dalam doa.
Kunjungan di waktu malam dan ucapan-ucapan yang mengikutinya merupakan anjuran tegas bagi kita semua untuk bertahan dalam doa.
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk.11:9)
Allah selalu menjawab doa kita Meskipun mungkin tidak sesuai dengan jalan yang kita harapkan, atau mungkin kita tidak menyukai jawaban yang kita terima, satu hal yang pasti, yakni bahwa Allah selalu menjawab doa kita.

Dalam Injil hari ini, kita pun boleh melihat sejenak kedalaman hati Allah yang penuh belas kasih.
Seakan Tuhan merasa perlu menjelaskan tindakan-Nya, untuk menjawab pernyataan banyak orang mengenai doa-doa mereka yang tak terjawab, atau hidup mereka yang sengsara dan dipenuhi kemalangan, bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah mempedulikan perkara dan kehendak Tuhan, sebagaimana diungkapkan dalam kitab Maleakhi (bacaan pertama).
Meskipun tidak secara langsung, Tuhan memberi gambaran yang sungguh manusiawi untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan demikian, dengan memberi contoh sahabat yang tidur, seorang Bapa yang tidak akan memberi ular atau kalajengking saat anaknya minta ikan atau telur.
Tuhan yang Ilahi, mendekati kita secara insani.
Maka, hilangkanlah bayangan atau pemikiran bahwa Allah itu kejam, tidak peduli, tidak menjawab, keras hati, apalagi mencelakakan. Allah selalu menghendaki yang terbaik bagi kita, jauh melebihi mereka yang paling mengasihi kita.
Bahkan lebih lagi, Ia memberikan Roh-Nya sendiri, bagi siapapun yang merindukan dan meminta-Nya.

Setan tahu dan iri akan kebaikan Allah itu. Si jahat sungguh tahu betapa baiknya, betapa luas dan dalamnya belas kasih yang berasal dari Hati Allah.
Karena itu, dengan berbagai cara, dan melalui rupa-rupa situasi hidup yang menyulitkan dan mendukakan, ia berusaha keras membisikkan kata-kata dusta bahwa Allah tidak mengerti atau peduli.
Jangan biarkan si pendusta itu menang dan menghentikanmu beriman, berharap, serta mencinta. Tetaplah berdoa dengan penuh sukacita.

Semua hal yang mudah didapat, akan mudah hilang. Doa yang selalu mudah terjawab, justru jika tidak disikapi secara bijaksana dapat mencelakakan, tidak disyukuri, dan tidak menumbuhkan cinta.
Itulah sebabnya, Tuhan menjawab kita seturut cinta kita kepada-Nya. Sentuhlah Hati-Nya dengan hatimu. Biarkanlah Dia melihat betapa kamu sungguh merindukan persatuan cinta dengan-Nya. Jika engkau tidak berusaha, engkau tidak akan menemukan-Nya; dan jika engkau tidak mengetuk pintu dengan kuat, disertai rasa tidak tahu malu untuk menunggu di depan pintu tanpa mempedulikan waktu; maka pintu itu tidak akan terbuka dan engkau tidak akan menemukan jawaban.

Sebagaimana berulang kali kukatakan bahwa kesejatian doa itu bukan soal meminta, melainkan mencinta.
Maka, di balik semua permintaan dan air matamu dalam doa, kiranya Tuhan menemukan hati yang mencinta.
Hati yang akan tetap mencinta sekalipun yang diminta seolah tak pernah diberi. Mempelai yang akan tetap mencari Tuhan, sekalipun Sang Kekasih Jiwa seolah tidak mau memperlihatkan Wajah Kudus-Nya. Jiwa yang akan tetap mengetuk, sekalipun diusir berulang kali dan seolah pintu tidak akan pernah dibukakan.
Pada akhirnya, pasti akan tiba saatnya dimana permohonan berhenti, pencarian berakhir, ketukan pintu tidak diperlukan lagi, karena Penguasa Rumah telah turun mendengar, Dia telah datang memperlihatkan Diri-Nya, membukakan pintu, dan mempersilakanmu masuk dalam kebahagiaan kekal bersama Dia. Dan kemudian…Airmatapun mengalir.

Semoga Perawan Suci Maria, sebagai yang pertama mengalami sukacita demikian di antara semua ciptaan, akan menghantar kita semua pada persatuan cinta yang sama, agar sama seperti dia, kita pun akan memandang Allah dan berseru, “Ya Tuhanku…Ya Allahku…Ya Segalaku…Ecce ancílla Dómini, fiat mihi secúndum verbum tuum.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan II Paskah

image

DALAM TUNTUNAN CINTA

Bacaan:
Kis.4:32-37; Mzm.93:1ab.1c-2.5; Yoh.3:7-15

Renungan:
Kedalaman kasih Tuhan adalah samudera belas kasih yang sanggup menyentuh kedalaman hati manusia pada kekaguman akan kebesaran cinta-Nya, sekaligus pada kesadaran akan betapa kita seringkali tidak menanggapi cinta-Nya.
Perbincangan Nikodemus yang kita renungkan kemarin, dalam bacaan hari ini berlanjut dengan penyingkapan misteri salib oleh Yesus.
Nikodemus adalah salah satu dari segelintir orang dalam Kitab Suci yang beroleh kesempatan untuk berbincang hanya berdua saja dengan Tuhan, dan mungkin juga salah satu dari sedikit orang di luar para rasul, dimana Tuhan secara pribadi mengungkapkan misteri salib yang akan menanti Dia sebelum peristiwa penyaliban itu terjadi, saat dimana Tuhan dan Penyelamat kita nantinya ditinggikan, demi memberikan hidup kekal bagi semua orang yang memandang dan mencari keselamatan dari salib (bdk.Yoh.3:14-15).
Nikodemus pada akhirnya menjadi dia yang datang ke makam untuk mengurapi tubuh Tuhan kita dengan campuran mur dan gaharu (bdk.Yoh.19:39), suatu pengakuan iman penuh makna akan “Dia Yang Diurapi” oleh Allah.
Cinta-Nya akan Tuhan telah menuntun Nikodemus masuk dalam awan ketidaktahuan, dan menemukan iman yang sejati dalam awan itu.
Misteri Tuhan adalah sesuatu yang tidak selalu harus dimengerti, tetapi harus selalu diimani. Hidup seorang Kristiani bukanlah hidup yang ditandai dengan pengertian sepenuhnya akan kehendak Allah, melainkan suatu perjalanan iman dimana seseorang tak jarang dituntut untuk berjalan dalam kegelapan, kekeringan, ketiadaan hiburan dan jawaban atas doa-doa, dukacita dan air mata, dalam ketidakmengertian.
Beranilah untuk melangkah ke dalam awan ketidaktahuan itu. Biarlah getaran hati yang mencinta akan Tuhan membimbingmu, sebagaimana Dia membimbing Nikodemus dengan kelembutan hati dan belas kasih-Nya.
Pada akhirnya, kamu akan menemukan dirimu menyentuh tubuh-Nya yang dipenuhi luka, tangan dan kaki-Nya yang berlubang karena paku, dan lambung-Nya yang tertikam dengan tombak, tetapi kamu akan menemukan Dia bukan sebagai Dia yang mati dalam kebinasaan, melainkan Dia yang bangkit dengan jaya.
Bila Tuhan berkenan, pada saat itu kamu tidak hanya akan menemukan imanmu, tetapi beroleh juga karunia air mata pengertian akan kelahiran baru dalam Roh, yang selama ini telah membimbingmu dengan setia.
Seiring dengan mengalirnya air mata itu, mengalirlah juga dosa-dosamu.
Pada saat itu, hidupmu tidak akan pernah sama lagi.
Hidupmu akan begitu hebatnya dihempas oleh hembusan Roh Tuhan (bdk.Yoh.3:8), dan dalam cinta yang menghanguskan itu, sekiranya di depan tatapan belas kasih-Nya engkau tidak binasa dan masih dimampukan untuk berkata-kata dari dalam kobaran api cinta yang memurnikan itu, air mata kelahiran baru dalam Roh yang kamu terima pada waktu itu akan menggetarkan hatimu seperti St. Agustinus dari Hippo untuk berseru, “Terlambat, Ya Tuhan. Terlambat aku mencintai-Mu.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan II Paskah

image

LAHIR BARU DALAM ROH

Bacaan:
Kis.4:23-31; Mzm.2:1-3.4-6.7-9; Yoh.3:1-8

Renungan:
Kedatangan Nikodemus dalam kegelapan di waktu “malam” (bdk.Yoh.3:2) untuk bertemu dengan Yesus, melambangkan kurangnya cahaya iman.
Pemilihan waktu bertemu ini juga menyiratkan kekuatiran dan ketakutan Nikodemus, seorang anggota Sanhedrin yang dikenal sebagai otoritas tertinggi dalam hidup keagamaan Yahudi, untuk secara terbuka dan berani mengakui imannya akan Yesus.
Meskipun Nikodemus menyapa Yesus sebagai “Rabbi” (bdk.Yoh.3:2), yang adalah pengakuan akan kuasa dan wibawa Ilahi dari pengajaran Yesus, dia masih jauh dari iman yang sejati.
Yesus mengatakan bahwa untuk memiliki iman yang sejati, seseorang harus “lahir baru” (bdk.Yoh.3:3.7).
Lahir baru dalam Roh berarti masuk dalam kumpulan orang-orang dimana Allah disembah dan ditaati, dimana hukum-hukum-Nya bukan hanya tertulis dalam kitab hukum yang mati, melainkan terukir dalam hati yang dipenuhi luapan cinta akan Hukum Tuhan.
Sakramen Pembaptisan adalah pintu masuk kelahiran baru itu. Dengan dibaptis, kita menyatakan diri kita sebagai putra-putri Allah, manusia-manusia Paskah, yang telah mati terhadap dosa dan hidup bagi Allah dalam cahaya kebangkitan Kristus.
Dengan demikian, kita akan memiliki keberanian iman dan kepenuhan Roh Kudus seperti Petrus dan Yohanes untuk menjadi saksi-saksi Kebangkitan dan “melaksanakan segala sesuatu yang telah ditentukan Tuhan bagi kita sejak semula” (bdk.Kis.4:28).

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ KAMIS PUTIH

image

PANGGILAN DI TENGAH MALAM

Bacaan:
Kel.12:1-8.11-14; Mzm.116:12-13.15-16bc.17-18; 1Kor.11:23-26; Yoh.13:1-15

Renungan:

“Setiap kali kita makan roti ini dan minum dari piala ini, kita menyatakan Iman kita.”

Seruan “Anamnese” ini mengungkapkan dengan begitu indah dan tepat maksud terdalam dari perayaan malam Kamis Putih.
Malam ini, “Passover” atau “Paskah” Yahudi sebagai kenangan saat Allah melawati Israel umat-Nya, menemukan makna baru dan kepenuhannya dalam Kristus, Roti Kehidupan yang sejati.
Malam ini seluruh alam semesta menyaksikan belas kasih Tuhan yang tanpa batas, bahkan sampai saat-saat terakhir.
Malam ini kita mengenangkan anugerah cinta terbesar dari-Nya, yaitu “Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus“.
Sebagaimana para rasul merayakan perjamuan terakhir di ruang atas untuk menyantap Tubuh dan Darah Tuhan, demikianlah kita melakukan kembali kenangan yang sama.
Setiap kali umat beriman berkumpul di sekeliling altar untuk menyambut Tubuh dan Darah Tuhan, pada saat itulah kita menyatakan Iman Kristiani kita secara paling sempurna.
Gereja tanpa Ekaristi adalah mati.

Akan tetapi, malam ini kita tidak hanya mengenangkan penetapan Ekaristi.
Kamis Putih tidak dapat dipisahkan dari “Malam di Taman Zaitun“, yang didahului peristiwa Yesus membasuh kaki para rasul.
Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan itu memang tepat, sebab sungguh demikian. Maka dari itu kalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, kamupun harus membasuh kaki satu sama lain.” (bdk.Yoh.13:13-14)
Pembasuhan kaki melambangkan panggilan kita untuk menerima bagian-bagian terburuk dan paling hina dari kemanusiaan, baik diri sendiri maupun sesama.
Akan tetapi, pembasuhan kaki sebenarnya juga memiliki makna yang lebih dalam, yaitu panggilan untuk menjemput kematian sebagai seorang hamba yang taat dan setia.
Setelah selesai membasuh kaki para murid, Yesus memulai bagian akhir dan parirpurna dari karya penebusan-Nya sebagai Putra Allah.
Hari ini Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam gelap untuk berdoa dalam sakratul maut di Taman Zaitun, ditinggalkan dalam kesendirian oleh orang-orang yang dikasihi-Nya tanpa batas, dikhianati Yudas dengan sebuah kecupan, ditangkap oleh para prajurit Bait Allah, disangkal Petrus, digiring ke dalam pengadilan Sanhedrin yang penuh konspirasi serta ketidakadilan, hingga kemudian diserahkan kepada Pilatus untuk menerima penyaliban.
Marilah kita merenungkan sejenak rangkaian peristiwa malam di Taman Zaitun ini, karena disinilah terkandung rahasia penebusan kita.

image

Ke dalam malam yang ditandai dengan kehilangan komunikasi dan kemampuan untuk saling memandang ini, Yesus masuk untuk mengembalikan komunikasi yang terputus dengan Allah, sehingga semua orang boleh memandang Allah dalam diri-Nya tanpa harus binasa.
Di tengah kegelapan dimana si Iblis yang menjauhi Cahaya boleh leluasa menebar kematian, disaat segala sesuatu menjadi tak terpahami dan ketika kebenaran seolah terselubung, disitulah Yesus bercahaya dan mengenyahkan kegelapan, untuk menjadi jawaban dan pilihan terbaik, sehingga semua orang beroleh hidup dalam kebenaran.

Saat Tuhan dan Penyelamat kita melangkah ke dalam malam, Ia hendak mengingatkan kita bahwa sebuah pelita tidaklah berguna di dalam terang.
Para kudus yang beroleh mahkota dan bermandikan cahaya kemuliaan di surga, adalah orang-orang yang sepanjang hidupnya telah berjalan menyusuri lorong-lorong gelap dunia ini, mengatasi ketakutan dan kelemahan pribadi mereka, untuk membawa cahaya dan menerangi semua orang di sepanjang perjalanan hidup mereka, dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang.
Mereka yang kehilangan hidupnya karena bercahaya seperti pelita sampai sehabis-habisnya, pada akhirnya akan memperoleh hidup dan sukacita surgawi bersama Allah.
Seorang Kristiani dipanggil untuk membawa cahaya ke dalam dunia dan mengenyahkan kegelapan malam dimanapun Tuhan menempatkan kita untuk hadir dan berkarya.
Oleh karena itu, sebagaimana Yesus melangkah ke dalam malam di Taman Zaitun, demikianlah kita juga dipanggil melewati malam dunia ini.
Bagaimana kita bertahan melalui malam ini dengan pelita yang bernyala, dan keluar sebagai pemenang, sangat ditentukan oleh 3 sikap ini.

Pertama: Milikilah kerendahan hati untuk berlutut. Injil mencatat bagaimana Tuhan Yesus mengajar kita untuk berlutut dalam doa (bdk.Luk.22:41). Bahkan, Matius dan Markus mencatat lebih lagi, yaitu Yesus bersujud dan merebahkan diri ke tanah (bdk.Mat.26:39; Mrk.14:35), sebagaimana yang dilakukan oleh Imam dalam liturgi Jumat Agung. Seorang Kristiani yang dapat berlutut dengan rendah hati di hadapan Allah, akan sanggup berdiri melawan kejahatan dunia dan tipu muslihat Si Jahat, karena berserah sepenuhnya pada kekuatan dari Allah, bukan dari dirinya sendiri.

Kedua: Bersikaplah selayaknya seorang anak. Dalam doa-Nya saat mengalami sakratul maut di Taman Zaitun, Tuhan Yesus menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa” (bdk.Mrk14:36). Ini bukanlah sapaan yang biasa, melebihi sapaan “Ayah“, lebih seperti seorang anak kecil menyapa Papanya. Di dalamnya terkandung makna keakraban yang sangat dekat sebagai seorang anak, suatu ungkapan yang sangat berani untuk ditujukan kepada Allah. Maka, bilamana sebagai seorang Kristiani kita beroleh keistimewaan untuk menyapa Allah sebagai “Ya Abba- Ya Bapa“, kita dituntut pula untuk berlaku sebagaimana layaknya seorang anak. Kita harus senantiasa memelihara hidup kudus dan tak bercela di hadapan-Nya. Kita dipanggil untuk selalu menguduskan diri, menguduskan karya, dan menguduskan seluruh dunia melalui karya.

Ketiga: Jawablah selalu “Ya” kepada Allah dan “Tidak” kepada Si Jahat. Di Taman Zaitun, Yesus mengungkapkan sikap ini dengan begitu mengagumkan dalam doa-Nya, “Tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (bdk.Mrk.14:36)
Iman seorang Kristiani untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, mengandung pula konsekuensi kepasrahan untuk menyerahkan seluruh kehidupan kita tanpa syarat dan dengan kepercayaan tanpa batas, terutama di saat rancangan dan jalan Tuhan berlawanan dengan apa yang kita rancangkan atau inginkan untuk dijalani.

Semoga sama seperti Tuhan Yesus menemukan kekuatan untuk merangkul Salib setelah melewati malam di Taman Zaitun, kita pun menemukan kekuatan yang sama untuk menjadi pelita di tengah kegelapan zaman ini, serta memenangkan seluruh dunia karena Salib Kristus. Semoga santapan Tubuh dan Darah Tuhan dalam Sakramen Ekaristi Yang Mahakudus, senantiasa menjadi sumber kekuatan dan daya hidup kita. Dan kiranya doa dan kasih keibuan Santa Perawan Maria, Bunda Penolong yang baik, menghantar kita untuk menemukan sukacita Injil di balik misteri Salib.

Pax, in aeternum.
Fernando

14 Desember: Pesta St. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga

Santo Yohanes dari Salib

Santo Yohanes dari Salib

Bacaan I: 1 Korintus 2: 1-10a

Mazmur Tanggapan : Mzm. 37: 3-4, 5-6, 30-31

Bacaan Injil: Lukas 14: 25-33

Catatan:

Bacaan Khusus Pesta St. Yohanes dari Salib mungkin berbeda dengan Kalender Litugi Konferensi Waligereja / Keuskupan setempat, yang hanya menjadikannya Peringatan Wajib, bukan Pesta.

Mencari Sang Tersembunyi

Hari ini saya teringat akan sebuah kisah rabbinik yang dicatat oleh Elie Wiesel. Tentang anak kecil bernama Jehel, yang berlari ke kamar kakeknya Barukh, seorang Rabbi terkenal.  Air mata mengalir dari pipinya. Dia menangis sekeras-kerasnya sambil berkata, “Temanku menyerah begitu saja terhadapku. Dia sangat tidak adil dan jahat padaku.” “Hhhmmm, bisakah kamu lebih memperjelas lagi apa yang kamu maksudkan?” tanya sang kakek. “Baiklah”, jawab anak kecil itu. “Kami sedang bermain petak-umpet. Aku bersembunyi dengan sangat baik hingga ia tidak bisa menemukanku. Tetapi kemudian dengan mudahnya dia menyerah, lalu pulang ke rumahnya. Tidakkah itu perbuatan yang sangat jahat?” Bagi anak kecil itu, tempat bersembunyi yang paling menggembirakan telah kehilangan kegembiraan, karena temannya berhenti bermain dan tidak mau lagi mencarinya.

Sang Guru kemudian mengusap wajah cucunya. Matanya sendiri juga sekarang terlihat berkaca-kaca penuh air mata. Dia lalu berkata, “Benar anakku, perbuatan temanmu memang tidak baik. Tetapi coba perhatikan, sebenarnya demikian pula halnya dengan Allah. Dia tersembunyi, dan kita tidak mencari-Nya. Coba bayangkan! Dia tersembunyi,  dan kita malah tidak tergerak sama sekali untuk mencari-Nya.”

Dalam kisah sederhana ini, saya rasa kita bisa menemukan misteri yang sangat tua dari iman akan Allah yang tersembunyi. Tidakkah mendukakan hati Allah, bahwa Dia, Sang Cinta, tersembunyi dan menanti kita dengan penuh cinta,  tetapi kita yang tercipta karena cinta, malah tidak tergerak sama sekali untuk mencari-Nya?

Dia selalu menanti jawaban “Ya” kita, untuk keluar dan mencari Dia, sehingga di tempat dimana Dia berada, kitapun berada, agar kemuliaan-Nya menjadi kemuliaan kita juga, agar sukacita-Nya menjadi sukacita kita juga. Namun, kitalah yang justru tidak mau mencari Dia, karena itu berarti kita harus menjawab “Ya” dan keluar mencari Dia.  Banyak orang yang menjadi pengikut Kristus, tetapi sedikit yang mau selalu menjawab “Ya”, karena jawaban “Ya” ini menuntut dari kita suatu lompatan iman untuk “keluar”, melepaskan segala sesuatu yang selama ini menghalangi kita untuk menemukan Dia. Injil hari ini berbicara dengan keras dan jelas akan tuntutan iman ini. “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” [1]

Akan tetapi, jawaban “Ya” inilah yang diserukan oleh Yohanes dari Salib sepanjang hidupnya. Jawaban inilah yang membuatnya layak menjadi seorang kudus. Yohanes dari Salib menjadi seorang kudus karena dia, terdorong oleh penyerahan diri tanpa syarat dan kepercayaan tanpa batas, memberanikan diri untuk keluar demi mencari Sang Kekasih, yang telah melukai bahkan menghanguskan dia dalam kobaran api cinta. Seorang insan Allah, yang saking tergila-gila dalam cinta, melewati lorong-lorong di malam gelap dan melalui segala bahaya dalam pendakian gunung rohani kehidupannya. Dia melepaskan segala-galanya, untuk memperoleh Kristus, Sang Segala. “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” [2] Ini bukan berarti kita harus mengabaikan segala tugas dan karya kita, atau membuang segala harta milik kita. Tidak demikian. Kita diminta untuk tidak melekat kepada segala yang kita miliki, dan mempergunakannya semata-mata bagi perluasan Kerajaan Allah.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa tidak ada jalan mudah ke surga. Orang-orang yang menyebut diri kristen,  namun hanya mau mencari urapan, mujizat, kemakmuran, kemapanan finansial, kehidupan yang serba nyaman, tanpa kerinduan untuk merangkul salib penderitaan, berarti mereka adalah pendusta. Mereka bukanlah anak-anak Allah. Iblislah bapa mereka. “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” [3]Kekristenan tanpa salib adalah palsu.

Lihatlah hidup Yohanes dari Salib dan belajarlah darinya. Dengan memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa selain Yesus[4], dan sambil bergantung sepenuhnya pada kekuatan Allah[5], dia memikul salibnya dengan penuh sukacita. Dia berhasil melalui segala kesukaran dan beroleh mahkota kemuliaan. Semoga hidup dan karya Yohanes dari Salib boleh menjadi lilin penerang, yang menuntun perjalanan rohani kita, menuju persatuan mesra dengan Allah yang tersembunyi.

“Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya…maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” [6]


[1] Lukas 14:26

[2] Lukas 14:33

[3] Lukas 14:27

[4] 1 Korintus 2:2

[5] Bdk. 1 Korintus 2:5b

[6] Mazmur 37: 5a & 4