Immaculata de Conceptione

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIKANDUNG TANPA NODA DOSA

“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” ~ Wahyu 12: 1

Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (7 Desember), kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa.
Maria Immaculata de Conceptione ( Maria Dikandung Tanpa Noda ) adalah Dogma Gereja, suatu ajaran Iman yang dipercaya dań dipegang teguh oleh semua umat beriman Katolik.

Sebagian orang secara salah beranggapan bahwa dogma tersebut berhubungan dengan Bunda Maria yang mengandung Kristus dari kuasa Roh Kudus. Sesungguhnya, dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa adalah keyakinan
“… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan ALLAH yang mahakuasa karena pahala YESUS KRISTUS, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal.” (Paus Pius IX, Ineffabilis Deus).

Dalam mempelajari sejarah seputar dogma ini, kita melihat keindahan Gereja yang didirikan oleh KRISTUS, yang para pengikutnya yang setia berjuang untuk memahami dengan lebih jelas misteri keselamatan. Perjuangan ini dibimbing oleh ROH KUDUS, yang disebut YESUS sebagai “Roh Kebenaran”, yang “akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”dan “akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran” (bdk. Yoh 14:17, 14:26, 16:13).

Sebagian dari “perjuangan” atas dogma Immaculata adalah tidak adanya kutipan Kitab Suci yang spesifik serta jelas dan gamblang tentangnya. Namun demikian, referensi dalam Injil mengenai Bunda Maria dan perannya dalam misteri keselamatan mengisyaratkan keyakinan ini. Dalam Injil St. Lukas, kita mendapati ayat indah tentang Kabar Sukacita, di mana Malaikat Agung St. Gabriel mengatakan kepada Maria (dalam bahasa kita), “Salam Maria, penuh rahmat. TUHAN sertamu.” Sementara sebagian ahli Kitab Suci berdebat atas “seberapa penuhnya rahmat,” kesaksian St. Gabriel secara pasti menyatakan kekudusan Bunda Maria yang luar biasa. Apabila orang merenungkan peran Bunda Maria dalam kehidupan KRISTUS – baik inkarnasi-Nya, masa kanak-kanak-Nya, ataupun penyaliban-Nya – pastilah ia sungguh luar biasa dalam kekudusan, sungguh “penuh rahmat” dalam menerima serta menggenapi perannya sebagai Bunda PENEBUS, dalam arti “Bunda” yang sepenuh-penuhnya. Sebab itu, kita percaya, bahwa kekudusan yang luar biasa, yang penuh rahmat ini diperluas hingga saat awal permulaan kehidupannya, yaitu perkandungannya.

Secara praktis, jika dosa asal diwariskan melalui orangtua, dan YESUS mengambil kodrat manusiawi kita dalam segala hal kecuali dosa, maka Maria haruslah bebas dari dosa asal. Pertanyaan kemudian muncul, “Bagaimana mungkin KRISTUS adalah Juruselamat Maria?” Sesungguhnya, banyak perdebatan mengenai Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam abad pertengahan berfokus pada masalah ini. Duns Scotus (wafat 1308) menawarkan satu solusi dengan mengatakan, “Maria lebih dari semua orang lain membutuhkan KRISTUS sebagai Penebusnya, sebab ia pastilah mewarisi Dosa Asal … jika rahmat sang Pengantara tidak mencegahnya.”
Dengan mengutip Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Katekismus Gereja Katolik menambahkan, “Bahwa Maria `sejak saat pertama ia dikandung, dikarunia cahaya kekudusan yang istimewa’, hanya terjadi berkat jasa KRISTUS: `Karena pahala PUTERA-nya, ia ditebus secara lebih unggul’” (no. 492). Pada pokoknya, karena Maria dipilih untuk berbagi secara intim dalam kehidupan YESUS sejak saat ia dikandung, IA sungguh adalah Juruselamatnya sejak saat perkandungannya.

Mungkin salah satu alasan mengapa diskusi mengenai Dogma Immaculata ini berkepanjangan adalah karena Gereja Perdana dilarang dan di bawah aniaya hingga tahun 313, dan kemudian harus menyelesaikan berbagai macam masalah seputar YESUS tersendiri. Refleksi lebih jauh mengenai Bunda Maria serta perannya muncul setelah Konsili Efesus (thn 431) yang dengan segenap hati menegaskan keibuan ilahi Maria dan memberinya gelar, “Bunda ALLAH” sebab ia mengandung dari kuasa ROH KUDUS dan melahirkan YESUS yang adalah pribadi kedua dalam TRITUNGGAL MAHAKUDUS, yang sehakikat dengan BAPA.
Beberapa Bapa Gereja Perdana, termasuk Santo Ambrosius (wafat 397), Santo Efrem (wafat 373), Santo Andreas dari Crete (wafat 740) dan Santo Yohanes Damaskus (wafat 749) merenungkan peran Maria sebagai Bunda, termasuk disposisinya yang penuh rahmat, dan menulis tentang ketakberdosaannya. Suatu pesta guna menghormati Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa telah dirayakan di Gereja Timur setidak-tidaknya sejak abad keenam.

Sementara waktu berlalu, dilakukanlah pembahasan lebih lanjut mengenai keyakinan ini. Pada tahun 1849, Paus Pius IX meminta pendapat para uskup di seluruh Gereja mengenai apa yang mereka sendiri, para klerus ( rohaniwan ), dan umat rasakan mengenai keyakinan ini dan apakah mereka menghendakinya agar ditetapkan secara resmi.
Dari 603 uskup waktu itu, 546 memberikan tanggapan positif tanpa ragu. Dari mereka yang menentang, hanya lima yang mengatakan bahwa doktrin tersebut tidak dapat ditegaskan secara resmi, 24 tidak tahu apakah ini adalah saat yang tepat, dan 10 hanya menghendaki agar mereka yang menentang doktrin tersebut dinyatakan salah. Paus Pius juga melihat kelesuan rohani dalam dunia saat itu dimana kaum rasionalis sekolah filsafat telah menyangkal kebenaran dan segala sesuatu yang adikodrati, di mana revolusi-revolusi mengakibatkan gejolak sosial, dan revolusi industri mengancam martabat para pekerja dan kehidupan keluarga. Oleh sebab itu, Paus Pius menghendaki dibangkitkannya kembali kehidupan rohani umat beriman dan beliau melihat tidak ada cara yang lebih baik selain dari menampilkan kembali teladan indah Bunda Maria dan perannya dalam sejarah keselamatan.
Maka, pada tanggal 8 Desember 1854, Pius IX menegaskan secara resmi dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa dalam Bulla “Ineffabilis Deus”.

Akhirnya, menarik juga disimak bahwa dalam beberapa penampakan Bunda Maria, Santa Perawan sendiri menegaskan dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa. Pada tanggal 9 Desember (tanggal yang ditetapkan sebagai Perayaan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa di Kerajaan Spanyol) pada tahun 1531 di Guadalupe, Bunda Maria menampakkan diri dan mengatakan kepada Juan Diego, “Akulah Perawan Maria yang tak bercela, Bunda dari ALLAH yang benar, yang melalui-NYA segala sesuatu hidup…” Pada tahun 1830, dalam penampakan, Bunda Maria mengatakan kepada Santa Katarina Laboure agar dibuat Medali Wasiat dengan tulisan, “Maria yang dikandung tanpa noda dosa, doakanlah kami yang berlindung padamu.”
Terakhir, ketika menampakkan diri kepada Santa Bernadete di Lourdes pada tahun 1858, Bunda Maria mengatakan, “Akulah yang Dikandung Tanpa Noda Dosa.”

Dalam suatu homili pada Perayaan Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa yang disampaikan pada tahun 1982, Paus Yohanes Paulus II menulis, “Terpujilah ALLAH BAPA TUHAN kita YESUS KRISTUS, yang memenuhi engkau, ya Perawan dari Nazaret, dengan segala rahmat rohani dalam KRISTUS. Dalam DIA, engkau dikandung tanpa noda dosa! Telah dipilih sejak semula untuk menjadi Bunda-NYA, engkau ditebus dalam DIA dan melalui DIA lebih dari segala manusia lainnya! Dilindungi dari warisan Dosa Asal, engkau dikandung dan datang ke dalam dunia dalam keadaan rahmat. Penuh rahmat! Kami mengagungkan misteri iman yang kami rayakan pada hari ini. Pada hari ini, bersama dengan segenap Gereja, kami memuliakan Penebusan yang dilaksanakan atasmu. Partisipasi yang teramat luar biasa dalam Penebusan dunia dan manusia, diperuntukkan hanya bagimu, semata-mata hanya bagimu. Salam O Maria, Alma Redemptoris Mater, Bunda PENEBUS yang terkasih.”

Sementara kita melanjutkan persiapan Adven (4 Minggu sebelum Natal) kita, kiranya kita mohon bantuan doa Bunda Maria, Santa Perawan Yang Dikandung Tanpa Noda Dosa, agar kita semakin dekat pada KRISTUS, PUTRA-nya, di Hari Natal.

* Fr. Saunders is Pastor of Our Lady of Hope Parish in Potomac Falls and a professor of catechetics and theology at Notre Dame Graduate School in Alexandria.

Sumber : “Straight Answers: Immaculate Conception” by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©2003 Arlington Catholic Herald. All rights reserved; www.catholicherald.com

Cat: Dengan beberapa tambahan – with Keita, Julian Fransiskus Xaverius, Reiner, Romana, Stevano, j o y c e, Iwan, Pingkan, Rilly Anastasye, Adeline, Anita, Ladys, David, Grifit, Steiven, Fatlly, Santi, Faldo, Novri, Meivy, Onal, Deivy, Refino, Ladys, Vinno, Conny, Antonius, Morgan, Jenifer, Angela, Mariska, Jeffry, Yuliet, Yhunnie, Marsella, Meidy, Angky, Novita Maria, Angela, Hesty, Incent, Gerry, Fernando, Amelia, Oijoon, Jejhe, David, and Natasya Bianca

View on Path

Komersialisasi & Penyimpangan Tradisi Iman dari Perayaan Santa Claus / Sinterklas

Perayaan Santa Claus atau Sinterklas merupakan bagian yang kini tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Natal.
Namun, di banyak daerah dan negara, perayaan iman ini saat ini telah menyimpang dari tujuan awalnya dan cenderung mengaburkan arti Natal, yang berpusat pada kelahiran Putra Allah dalam diri Kanak-Kanak Yesus.
Santa Claus / Sinterklas telah menjadi tokoh komersil dan seringkali perayaannya di awal Desember telah menimbulkan berbagai dampak negatif lainnya, mulai dari kemacetan, pesta-pora, lahan bisnis, dll.

Karena itu, adalah tepat bagi kita untuk saat ini mencoba mengingat lagi siapa sebenarnya Santa Claus / Sinterklas, yang aslinya dalam Gereja Katolik dikenal sebagai Santo Nikolaus.

Bersama Gereja Katolik sedunia, setiap tanggal 6 Desember ( hari ini ), kita memperingati Santo Nikolaus dari Myra, Uskup dan Pengaku Iman.

Santo Nikolaus a.k.a Santa Claus / Sinterklas tidak pernah hidup di Kutub Utara.
Santo Nikolaus lahir pada tahun 300-an di Parara, Asia Kecil dari sebuah keluarga yang kaya raya. Sejak masa mudanya ia sangat menyukai cara hidup bertapa dan melayani umat. Ia kemudian menjadi seorang pastor/imam yang sangat disukai umat. Harta warisan dari orangtuanya dimanfaatkan untuk pekerjaan-pekerjaan amal, terutama untuk menolong orang-orang miskin. Sebagai pastor/imam, ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Sekembalinya dari Yerusalem, ia dipilih menjadi Uskup dari kota Myra dan berkedudukan di Lycia, Asia Kecil (sekarang: Turki).
Santo Nikolaus dikenal di mana-mana. Ia termasuk orang kudus yang paling populer, sehingga dijadikan pelindung banyak kota, propinsi, keuskupan dan gereja. Di kalangan Gereja Timur, ia dihormati sebagai pelindung para pelaut; sedangkan di Gereja Barat, ia dihormati sebagai pelindung anak-anak, dan pembantu para gadis miskin yang tidak mampu menyelenggarakan perkawinannya. Namun riwayat hidupnya tidak banyak diketahui, selain bahwa ia dipilih menjadi Uskup kota Myra pada abad-4 yang berkedudukan di Lycia. Ia seorang uskup yang lugu, penuh semangat dan gigih membela orang-orang yang tertindas dan para fakir miskin. Pada masa penganiayaan dan penyebaran ajaran-ajaran sesat, ia menguatkan iman umatnya dan melindungi mereka dari pengaruh ajaran-ajaran sesat.

Ketenaran namanya sebagai uskup melahirkan berbagai cerita sanjungan. Sangat banyak cerita yang menarik dan mengharukan. Salah satu cerita yang terkenal ialah cerita tentang tiga orang gadis yang diselamatkannya: konon ada seorang bapa tak mampu menyelenggarakan perkawinan ketiga orang anak gadisnya. Ia orang miskin. Karena itu ia berniat memasukkan ketiga putrinya itu ke tempat pelacuran. Hal ini didengar oleh Uskup Nikolaus. Pada suatu malam secara diam-diam Uskup Nikolas melemparkan tiga bongkah emas ke dalam kamar bapa itu. Dengan demikian selamatlah tiga puteri itu dari lembah dosa. Mereka kemudian dapat menikah secara terhormat.

Cerita yang lain berkaitan dengan kelaparan hebat yang dialami umatnya. Sewaktu Asia Kecil dilanda paceklik/kemarau panjang yang hebat, Nikolaus mondar-mandir ke daerah-daerah lain untuk minta bantuan bagi umatnya. Ia kembali dengan sebuah kapal yang sarat dengan muatan gandum dan buah-buahan. Namun, tanpa sepengetahuannya, beberapa penjahat yang dirasuki iblis bersembunyi dalam kantong-kantong gandum itu. Segera Nikolaus membuat tanda salib atas kantong-kantong itu dan seketika itu juga para penjahat hitam itu berbalik menjadi pembantunya yang setia.

Nikolaus adalah Santo Nasional & Pelindung Negara Rusia. Kisah tentang tertolongnya ketiga puteri di atas melahirkan tradisi yang melukiskan Santo Nikolaus sebagai penyayang anak-anak. Salah satu tradisi yang paling populer ialah tradisi pembagian hadiah kepada anak-anak pada waktu Pesta Natal oleh orangtuanya melalui ‘Sinterklas’. Tradisi ini diperkenalkan kepada umat Kristen Amerika oleh orang-orang Belanda Protestan, yang menobatkan Santo Nikolaus sebagai tukang sulap bernama Santa Claus. “Sinterklas”, yaitu hari pembagian hadiah kepada anak-anak yang dilakukan oleh seorang berpakaian uskup yang menguji pengetahuan agama anak-anak, tetapi ia membawa serta hamba hitam yang menghukum anak-anak nakal.

Santo Nikolaus meninggal dunia di Myra pada akhir abad-4, dan dimakamkan di Gereja Katedral Katolik di kota itu. Relikuinya kemudian dicuri orang pada tahun 1807. Sekarang relikui itu disemayamkan di sebuah Gereja Katolik di Bari, Italia.

Kalau kita hendak memperingati beliau, maka hendaknya kita merayakannya dengan melakukan karya pelayanan cintakasih kepada sesama, bukan dengan pesta-pora, konvoi kendaraan, menjadikannya lahan bisnis, dan berbagai penyimpangan lainnya.
Kita memperingati-nya dengan berusaha melihat & mencintai dan melayani Yesus dalam diri semua orang di sekitar kita.

View on Path