Meditasi Harian 7 Oktober 2015 ~ Pesta Santa Maria Ratu Rosario Suci

image

DOA MENGUBAH SEGALANYA

Bacaan:
Kis.1:12-14 atau Yun.4:1-11; Mzm.86:3-6.9-10; Luk.1:26-38 atau Luk.11:1-4

Renungan:
Doa selalu sanggup mengubah segala sesuatu. Pertempuran di Lepanto adalah salah satu dari sekian banyak bukti kuasa doa, terutama doa Rosario. Bagaimana dalam keadaan dimana kemenangan seolah mustahil, armada Kristen yang kalah jumlah dapat mengalahkan armada Kesultanan Turki, tepat pada tanggal 7 Oktober 1571.
Itulah sebabnya, sebagai rasa syukur, hari ini dan sepanjang bulan ini, dipersembahkan oleh Gereja Kudus kepada St. Maria Ratu Rosario Suci.
Karena doa Rosario dan ke-pengantara-an Maria, Tuhan Allah berkenan menganugerahi umat beriman kemenangan dan sukacita di dalam Dia.

Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang dikasihi-Nya. Seringkali rahmat Tuhan itu semakin dirasakan justru dalam peristiwa-peristiwa paling menyulitkan, paling mendukakan, paling mencekam dalam hidup kita.
Dalam keadaan dimana segala daya upaya manusia seolah tak membuahkan hasil, pada waktu itu roh yang dihembuskan ke dalam jiwa kita sewaktu penciptaan berdoa dengan keluhan yang tak terucapkan, membuat jiwa semakin rendah hati untuk berlutut dalam doa dengan tangan terentang ke atas, dengan pandangan ke arah salib, untuk memohon belas kasih Allah.

Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam. Yang senantiasa berseru, “Abba – Bapa“. Bahwa kita boleh menyapa Allah sebagai Bapa, itupun seharusnya sudah lebih dari cukup menjadi hiburan rohani, yang memberanikan kita untuk menapaki padang gurun dunia ini. Suatu keyakinan bahwa Bapa tidak mungkin menelantarkan anak-Nya, apalagi membiarkannya binasa.
Di dalam Dia, tidak ada doa yang dibiarkan tak terjawab. Entah jawabannya, “Ya“, “Tidak“, atau “Belum Saatnya“, Tuhan selalu mendengarkan dan menjawab doa kita.

Akar kerisauan kita, ketidakmengertian kita, maupun kesulitan kita untuk menerima jawaban Tuhan, sebenarnya bersumber dari kegagalan kita untuk berlaku sebagai seorang anak.
Kita menyapa Dia “Bapa“, namun itu tidak disertai dengan cinta bakti sebagaimana layaknya seorang “Anak“.
Kita berteriak memanggil Dia “Bapa“, tetapi dalam hidup harian tak jarang kita tidak berlaku sebagaimana seharusnya seorang “Anak.”
Meminta pengampunan, tetapi tidak mau mengampuni; meminta pertolongan, tetapi tidak pernah menolong; meminta rezeki, tetapi tidak pernah memberi, apalagi untuk memberi dari kekurangan; meminta keselamatan jiwa sendiri, tetapi tidak mau merasul untuk menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa sesama; mengharapkan hujan berkat, tetapi menutup keran berkat bagi orang lain; meminta kekudusan, tetapi dengan tahu dan mau berulang kali jatuh dalam dosa yang sama; mengarahkan pandangan ke surga, tetapi tidak mau peduli untuk mengajak orang lain agar mengarahkan pandangan yang sama ke surga, malah lebih jahat lagi, turut serta menjadi rekan kerja si jahat, dan menyeret sesamanya ke dalam jurang kebinasaan, ke dalam kegelapan kekal.

Maka, sebenarnya doa tidak pernah tak terjawab. Doa itu selalu terjawab. Bagaimana kita memahami jawaban Tuhan, sangat ditentukan oleh relasi pribadi kita dengan Dia. Suatu relasi mesra, sebagaimana dimiliki oleh Ibu kita, Maria.
Keterpesonaan cinta yang memampukan Maria dalam segala situasi hidup, seberat apapun itu, bahkan sekalipun diselubungi awan ketidakmengertian, namun Maria tetap bersukacita dan berseru, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk.1:38)

Maria adalah teladan kerasulan doa. Dia tidak hanya menjadi teladan para guru rohani di puncak gunung kemuliaan, melainkan terlebih merupakan teladan bagi mereka yang baru mulai menapaki pendakian rohani menuju Allah. Lewat lereng dan lembah hidup, selama engkau melangkah dengan Rosario di tangan, Salam Maria didaraskan dari bibirmu, dan asalkan kamu sungguh mau merendahkan diri untuk dibentuk Tuhan, maka perjalananmu dalam doa perlahan-lahan akan mulai memurnikan dan membawa jiwamu pada kesempurnaan.
Jangan pernah mau dibodohi oleh si jahat untuk berhenti berjalan naik, untuk berhenti mendaki dalam doa. Rosario adalah senjata yang sangat ampuh mengalahkan setan dan segala kuasa jahatnya. Doa Rosario itu semakin bernilai apabila dilakukan dalam kekeringan dan ketiadaan niat untuk berdoa. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa.
Berbahagialah orang yang mencari Tuhan siang dan malam.

Dengan meneladani dan memiliki cinta yang sempurna seperti Maria, yang mencari kehendak Tuhan siang dan malam, setiap orang beriman pada akhirnya akan menyadari bahwa sejatinya doa itu bukanlah soal meminta, melainkan “mencinta“.
Pada saat engkau menyadari itu, pada waktu itulah mata rohanimu akan terbelalak karena menyadari bahwa “Sungguh…doa mengubah segala sesuatu.
Suatu kesadaran yang disertai keheningan dalam kekaguman serta rasa syukur.

Semoga doa yang diajarkan oleh Tuhan kita, tidak hanya memberanikan kita untuk menyapa Allah sebagai Bapa, melainkan juga menyadarkan kita untuk sungguh bersikap sebagaimana layaknya seorang anak.
Dan kiranya St. Maria Ratu Rosario Suci membimbing kita dengan tuntunan kasih keibuannya, agar di Bulan Rosario ini kita menjadi pribadi, keluarga, dan komunitas yang berdoa.
Semoga Salam Maria yang kita daraskan menjadi rangkaian bunga mawar yang indah di Tahta “Abba – Bapa” kita.
Tetaplah berdoa bagi Sinode Keluarga, yang kini memasuki hari-4, dan mohonkanlah karunia pertobatan dan doa bagi semua orang, khususnya mereka yang masih bersikeras mengandalkan kekuatan sendiri tanpa doa, tanpa Tuhan.

Sancta Maria, Mater Dei, ora pro nobis.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++