Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan Biasa XV

image

SIAPA YANG TERUTAMA DALAM HIDUPMU ?

Bacaan:
Kel.1:8-14,22; Mzm.124:1-3,4-6,7-8; Mat.10:34 – 11:1

Renungan:
Perintah Allah untuk menghormati orang tua (Perintah 4) tidak pernah bertentangan dengan Perintah Allah untuk mengasihi Dia dengan segenap keberadaan kita (Perintah 1).
Demikian pula hendaknya kita memahami Injil hari ini. Tentu saja kehendak Allah harus selalu menjadi norma tertinggi dalam hidup seorang Kristiani. Jangan pernah mengabaikan norma ini dengan dalih kelekatan akan orang-orang yang kita kasihi, mereka yang terdekat di hati kita.
Meskipun keluarga dan orang-orang terdekat akan selalu mendapat tempat istimewa dalam hati kita, Allah harus selalu merajai hati kita. Dia harus selalu menjadi segala-galanya bagi kita. Hormat bakti kepada orang tua, dan kedekatan dengan orang-orang yang kita kasihi, hendaknya tidak menjadikan Allah berada di posisi ke-2.
Sembah bakti kepada Allah harus menempati posisi paling utama, pusat hidup kita, sedangkan yang lain seharusnya mengelilingi dan mengarahkan kita kepada Allah, bukan sebaliknya.
Seorang pengikut Kristus tidak pernah boleh bersikap tuli pada panggilan Tuhan, atau enggan melaksanakan kehendak-Nya, hanya karena tidak mau mengecewakan orang tua, keluarga, orang-orang yang ia kasihi.
Sepasang suami-istri tidak pernah boleh menunda-nunda untuk membaptis anak mereka, apalagi menundanya sampai bertahun-tahun, hanya karena mereka tidak mau mengecewakan atau melukai hati kakek-nenek mereka yang beragama lain.
Memang benar, penghormatan kepada leluhur adalah tradisi yang dijunjung tinggi, terutama dalam budaya Timur. Akan tetapi, jangan sampai ritual ini pada akhirnya justru menghalangi kita untuk menerima kebenaran-kebenaran Iman Kristiani, bahkan sampai melunturkan identitas ke-Katolik-an kita.
Oleh karena itu, renungkanlah dengan sungguh, “Siapa sebenarnya yang terutama dalam hidupmu?
Semoga Allah akan selalu dan selalu menjadi segala-galanya bagimu, jauh melebihi orang-orang yang terdekat di hatimu.

Pax, in aeternum.
Fernando