Meditasi Harian 13 Januari 2016 ~ Rabu dalam Pekan Biasa I

image

KERASULAN NOL BESAR

Bacaan:
1Sam.3:1-10.19-20; Mzm.40:2.5.7-8a.8b-9.10; Mrk.1:29-39

Renungan:
Disadari atau tidak, Allah telah memberi dalam hati setiap orang suatu luka cinta. Luka ini begitu istimewa, sebab luka ini memurnikan cinta dan sanggup menghanguskan jiwa, tetapi sekaligus pula mendatangkan sukacita tak terkatakan, karena menumbuhkan dalam jiwa kita suatu kerinduan untuk senantiasa mencari Dia.
Semua orang mencari Tuhan“. (bdk.Mrk.1:37)
Demikianlah diungkapkan oleh St. Markus dalam bacaan Injil hari ini. Kalimat sederhana dan begitu kuat ini seharusnya membuka mata iman kita, untuk menyadari keluhuran panggilan kita sebagai rasul-rasul Kristus.
Kita dipanggil bukan hanya mencari Tuhan dalam peziarahan iman kita. Hidup kita seharusnya ibarat buku yang terbuka, yang bercerita tentang Kristus secara benar dan otentik.
Orang-orang harus menemukan pengenalan yang sejati akan Kristus melalui kita, para pengikut-Nya, yaitu anda sekalian dan saya.
Jangan menjalani hidup Kristiani secara sia-sia, jangan “menahan diri atau membiarkan bibirmu terkatup” (bdk.Mzm.40:9-10).
Hidupmu seharusnya “menceritakan Kristus“.
Sebagaimana kamu dikenal, demikianlah Kristus dapat dikenal.
Maka, bilamana dunia mendapatkan gambaran atau pengenalan yang keliru tentang siapa Kristus itu, dan memilih berdiam dalam kegelapan ketimbang mendekati cahaya sejati yang dibawa-Nya, itu seringkali disebabkan karena para pengikut-Nya, mereka yang menyebut diri rasul-rasul Kristus, telah gagal menghadirkan Dia dalam hidup dan karya mereka. Kegagalan itu bersumber dari kurangnya kesadaran akan landasan utama dari semangat kerasulan itu sendiri, yaitu Doa.

Berbeda dengan kebohongan yang ditanamkan oleh “si jahat” (Bapa segala dusta), setiap orang beriman yang ingin berbuah dalam karya kerasulan, apapun itu, perlu memahami kenyataan berikut ini.
Kerasulan tanpa Doa itu “0” besar. Tidak ada omong kosong seperti itu.
Anda tidak akan pernah menjadi seorang rasul Kristus yang suci tanpa doa.
Tidak mungkin menyebut diri seorang rasul Kristus, namun tenggelam dalam kesibukan karya kerasulan tersebut sampai lupa atau enggan menjadikan doa sebagai prioritas utama. Anda haruslah menjadi seorang rasul Kristus yang pertama-tama mencintai Misa Kudus, tekun mendoakan Brevir, dengan Rosario di tangan dan Salam Maria didaraskan, dengan puasa dan laku tapa, dengan melakukan mati raga dan silih, dengan mendengarkan Dia dalam Lectio Divina, dan berbagai bentuk doa lisan maupun batin lainnya. Lakukanlah itu dengan hati dan ketekunan yang suci, agar tidak jatuh dalam kejenuhan dan rutinitas.
Belajarlah dari Tuhan Yesus, yang di tengah kesibukan-Nya untuk memaklumkan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, tidak pernah lupa untuk pergi ke tempat sunyi dan “berdoa” (bdk.Mrk.1:35).
Kalau Tuhan Yesus sendiri menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dan bagian penting dalam Hidup dan Karya-Nya, bagaimana mungkin kamu tidak demikian?

Panggilan untuk berdoa sama sekali bukan berarti meninggalkan karya kerasulan, atau mengabaikan dunia dengan menjadi pertapa. Tidak semua dipanggil untuk menjadi pertapa dalam kesunyian suci yang demikian. Tetapi kita semua dipanggil untuk menjadi pendoa, seorang insan Allah, sehingga sekalipun melangkah di tengah dunia, mata batin kita senantiasa terarah ke surga, karya kerasulan kita menjadi ibarat siraman air yang membasahi tanah di sepanjang perjalanan dan memberi hidup.
Jangan pernah lupa bahwa ada nilai adikodrati dari segala karya kerasulan kita. Belajarlah dari semangat suci para misionaris di masa lalu. Mereka melakukan berbagai karya kerasulan, pertama-tama dan terutama adalah untuk memuliakan Allah dan membawa jiwa-jiwa kepada Allah, bukan sekadar berbuat kebaikan tanpa nilai adikodrati. Sebab jikalau demikian, maka karyamu itu tidak ubahnya seperti yayasan amal, NGO, atau organisasi sosial karitatif sekuler yang dilakukan bahkan oleh orang-orang yang tidak beriman sekalipun.
Jangan pernah lupa bahwa kamu dipanggil untuk menghadirkan Kristus, menjala manusia ke dalam keluarga Kerajaan Allah. Itulah Misimu!

Mempunyai rumah sakit dengan fasilitas dan pelayanan kesehatan terbaik, mendirikan sekolah-sekolah dengan metode pendidikan yang paling unggul, mencanangkan program kerja yang sangat sistematis dan terukur untuk mensejahterakan umat, berada dalam komunitas yang aturan hidupnya disusun sedemikian rupa dan membanggakannya dalam idealisme yang keliru, bahkan bila kamu membangun rumah tangga dan membesarkan keluarga dengan pengetahuan akan psikologi maupun ekonomi rumah tangga yang cemerlang sekalipun, semuanya itu “NOL BESAR” tanpa “DOA“.
Anda boleh saja melabeli segala karya kerasulan itu dengan menambahkan kata “Katolik“, entah di depan atau di belakang, tetapi semuanya itu tidak akan menghasilkan buah bagi karya kerasulan yang sejati tanpa doa.
Kerasulan yang “memenangkan jiwa-jiwa” adalah kerasulan yang dilandasi doa.

Saat ini kita menyaksikan begitu banyaknya institusi (pernikahan, keluarga, komunitas, sekolah, rumah sakit, ordo, dll.) yang dalam kepongahannya berbangga memakai label “Katolik“, tetapi tidak punya keberanian untuk mengangkat tinggi-tinggi Salib; jatuh dalam kenyamanan dan kelekatan duniawi, mengalah pada desakan arus zaman, kehilangan kewarasan untuk berakar dalam doktrin dan ajaran sosial Gereja, tumpul hati dan tidak tergila-gila untuk mewartakan iman secara berani dan otentik; mengabaikan tugas suci untuk menghasilkan baptisan-baptisan baru yang teruji; tak peduli dan mengabaikan kewajiban untuk mewariskan iman kepada putra-putrinya, agar mereka kemudian tidak ragu-ragu menampilkan identitas ke-Katolik-an secara “benar” dan “tepat” dalam situasi sesulit apapun, termasuk pada kemungkinan merangkul kemartiran karenanya.
Inilah realita pahit dari hidup kekristenan saat ini yang mendesak untuk disikapi.
Kalau tidak, pada akhirnya dari institusi-institusi itu anda mungkin menghasilkan darinya manusia-manusia yang berkualitas menurut ukuran dunia, tetapi mereka bukanlah insan-insan Allah, kekurangan kesadaran untuk memandang Allah dalam keterpesonaan Cinta, dan kekurangan kehausan akan jiwa-jiwa.
Tidak turut berduka bersama dukacita Allah. Tidak meratapi apa yang diratapi Dia, tidak merindukan apa yang dirindukan-Nya, tidak mengingini apa yang diingini-Nya, tidak menolak apa yang dibenci-Nya, tidak mengasihi apa yang dikasihi-Nya.
Hidup keKristenanmu hanya akan menjadi kesaksian yang benar-benar hidup, otentik dan meyakinkan apabila engkau terlebih dahulu adalah seorang pendoa.

Kekudusan tanpa doa? Aku tidak percaya akan kekudusan semacam itu. Jika engkau bukan seorang pendoa, aku tidak percaya akan ketulusan niatmu saat engkau mengatakan bahwa engkau bekerja untuk Kristus.” Demikian kata St. Josemaría Escrivá, seorang Kudus besar, yang telah mengajarkan kita jalan suci tersebut setelah lebih dahulu melakukannya.
Jika kamu merasa sulit mengikuti hidup Kristus dan tuntutan-tuntutan Suci dari Injil-Nya, itu karena engkau tidak melakukannya di dalam doa.
Karena itu, bertekunlah dalam doa. Dalam kekeringan rohani dan situasi seburuk apapun, bertekunlah dalam doa. Doa selalu membuahkan hasil. Bahkan jika kamu tidak tahu bagaimana caranya mulai untuk berdoa, atau apa yang harus dikatakan, bilamana kamu dengan rendah hati mengakuinya di hadapan Allah, maka Hati-Nya pasti tergerak oleh belas kasihan, dan lihatlah betapa terkagum-kagumnya kamu nanti saat menyaksikan dan menyadari gerakan cinta Tuhan yang dengan penuh kelembutan menarikmu kepada-Nya. Dia sendiri yang akan mengajarimu berdoa.
Yang perlu kamu lakukan hanyalah menjawab “Bersabdalah, ya Tuhan, hamba-Mu mendengarkan.” (1Sam.3:10)
Serviam! Serviam! Serviam!

Semoga Perawan Suci Maria, Ibu Tuhan dan Ibu kita, menuntun putra-putri Gereja pada pengenalan dan persatuan sempurna dengan Putra-nya dalam doa, serta menyertai kita dalam karya kerasulan untuk membawa api yang sanggup menghanguskan seluruh dunia dalam kobaran Nyala Api Cinta.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan V Paskah

image

PAX VOBIS ~ DAMAI SEJAHTERA BAGIMU

Bacaan:
Kis.14:19-28; Mzm.145:10-11.12-13ab.21; Yoh.14:27-31a

Renungan:
Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu.” (Yoh.14:27ab)
Ungkapan salam damai yang dikatakan oleh Tuhan Yesus ini beberapa kali kita temukan dalam Injil. Salam damai serupa juga sering kita saat membaca surat-surat para Rasul maupun para Bapa Gereja perdana, yang terus-menerus diserukan oleh Gereja melalui karya kerasulannya, dan menjadi seruan kasih persaudaraan dalam liturgi suci, sampai hari ini.
Karena itu, dapat dikatakan pula bahwa sejatinya, dalam panggilan hidup Kristiani terkandung pula panggilan untuk selalu membawa “damai“, dimanapun dan dalam situasi apapun kita ditempatkan oleh Tuhan.
Damai ini berbeda dengan damai yang ditawarkan oleh dunia ini, karena dunia mengartikan damai sebagai ketiadaan masalah, pelarian dari kenyataan hidup. Damai yang dibawa oleh Yesus melampaui ketiadaan masalah, yaitu keberanian untuk berdiri dalam iman di tengah segala permasalahan dan badai pergumulan hidup, tanpa ketakutan dan keraguan, dalam keyakinan bahwa tidak ada dukacita, penderitaan, maupun bahaya yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus.
Ini hanya dapat disadari sepenuhnya, manakala seseorang memiliki pergaulan yang mesra dengan Allah.
Teladanilah hidup Bunda tersuci kita Maria, Ratu Damai. Hidupnya yang senantiasa dipenuhi kedamaian di tengah malam gelap bagi jiwanya, yang menembus kedalaman jiwanya bagaikan sebuah pedang, menjadi kesaksian sukacita Injil yang sejati bagi dunia, sekaligus memberikan semangat bagi Gereja untuk membawa damai melalui hidup dan karya putra-putrinya, dan melihatnya sebagai suatu panggilan suci serta tugas Ilahi, yang digambarkan dengan begitu indah dan tepat dalam doa damai dari tradisi Fransiskan, “Bila terjadi kebencian, jadilah pembawa cintakasih. Bila terjadi penghinaan, jadilah pembawa pengampunan. Bila terjadi perselisihan, jadilah pembawa kerukunan. Bila terjadi kebimbangan, jadilah pembawa kepastian. Bila terjadi kesesatan, jadilah pembawa kebenaran. Bila terjadi kecemasan, jadilah pembawa harapan. Bila terjadi kesedihan, jadilah sumber kegembiraan. Bila terjadi kegelapan, jadilah pembawa terang. Untuk menghibur daripada dihibur, memahami daripada dipahami, mencintai daripada dicintai, memberi daripada menerima, mengampuni daripada diampuni.”
Inilah sukacita Injil yang kita wartakan. Inilah damai sejahtera sejati yang kita bawa di sepanjang hari-hari hidup kita yang singkat laksana bayang berlalu ini.
Damai…damai…damai…

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Senin dalam Pekan V Paskah

image

HIDUPMU BERHARGA BAGI ALLAH

Bacaan:
Kis.14:5-18; Mzm.115:1-2.3-4.15-16; Yoh.14:21-26

Renungan:
Allah mencintai kamu seolah-olah hanya kamu satu-satunya orang di dunia ini untuk dicintai“, demikian kata St. Agustinus dari Hippo.
Setiap jiwa berharga di hadapan Tuhan.
Hujan diturunkan-Nya bagi orang benar maupun yang tidak benar, dan Dia membiarkan Sang Surya untuk bersinar bagi orang yang mensyukuri cahaya dan kehangatannya maupun bagi yang membenci dan mengutukinya.
Cinta Tuhan adalah total dan dicurahkan sehabis-habisnya bagi kita dalam situasi apapun, lebih-lebih dalam situasi paling menyedihkan dan gelap dalam kehidupan kita.
Meskipun manusia mengasihi Dia pada tingkatan dan kedalaman yang berbeda satu dengan yang lain, di hadapan Allah setiap jiwa sama berharganya.
Jiwa seorang terpidana mati atau penjahat paling bejat sama berharganya dengan jiwa seorang beriman yang saleh dalam pandangan belas kasih Ilahi.
Dialah yang meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari 1 ekor yang hilang. Yang datang bukan bagi orang benar melainkan bagi orang berdosa, untuk membawa mereka mendekat ke hati-Nya. Bahkan, dalam detik-detik terakhir hidup-Nya, Ia menunjukkan cinta sehabis-habisnya dengan kehilangan nyawa untuk memberi hidup bagi dunia yang menyalibkan Dia, termasuk bagi penjahat yang bertobat, yang dihukum mati tersalib bersama Dia.
Seorang Kristen tidak mungkin mengaku diri sebagai pelaku Firman secara total, tetapi pada kenyataannya menjalankan Firman Tuhan secara bersyarat. Barangsiapa mengasihi Allah yang mengasihi kita tanpa syarat, harus mengasihi sesamanya pula tanpa syarat.
Semoga Roh Cinta-Nya membuka mata iman kita untuk tidak mengalami kebingungan sebagaimana murid Tuhan dalam Injil hari ini yang bertanya, “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” (Yoh.14:22)
Sebabnya ialah karena Ia telah memilih kamu untuk menjadi tanda perbantahan bagi dunia.
Kalau dunia telah menolak Dia dan pengajaran-Nya, kamulah orang-orang pilihan yang dipanggil menjadi kekasih-Nya, untuk senantiasa tinggal di dalam Dia dan menaati perintah-Nya.
Kalau dunia mengatakan bahwa seseorang layak dihukum mati karena kejahatannya, kamulah yang seharusnya dengan lantang melawan suara dunia itu, karena kesadaran iman bahwa seandainya semua orang berdosa yang menyesal dan bertobat tetap layak dihukum, maka tidak ada satupun di antara kita yang dapat masuk surga. Surga akan menjadi tempat yang kosong dan sunyi.
Kalau dunia menentang perang dan pembunuhan massal, tetapi membenarkan seorang ibu melakukan aborsi untuk membunuh anak kandungnya sendiri dan seorang seorang sakit memilih menjalani euthanasia atas nama hak-hak asasi dan rasa kemanusiaan, kamulah yang seharusnya tanpa kenal lelah menentang sikap mendua hati yang demikian dan bercahaya sebagai putra-putri Paskah, untuk menerangi kegelapan hati mereka.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus telah menyatakan diri-Nya kepada kamu, bukan kepada dunia, agar kamu menjadi suara kenabian di tengah dunia, yang telah disesatkan oleh bapa segala dusta dengan nilai-nilai dan pembenaran-pembenarannya yang keliru dan jahat.
Belajarlah dari Paulus dan Barnabas, para rasul lainnya, para martir dan saksi iman, yang telah mendahului kita, yang dengan berani mewartakan Injil sekalipun harus dibenci, dimusuhi, dianiaya bahkan dibunuh karena kesetiaan iman ini. Jangan takut!
Semoga Roh Penghibur meneguhkan imanmu, menguatkan hatimu, agar kamu senantiasa berjalan di jalan-Nya dan melangkah dalam rencana-Nya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Jumat dalam Pekan IV Paskah

image

KESELAMATAN HANYA ADA DI DALAM DIA

Bacaan:
Kis.13:26-33; Mzm.2:6-7.8-9.10-11; Yoh.14:1-6

Renungan:
Akulah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh.14:6)
Sejarah kita telah menampilkan begitu banyak tokoh dunia di sepanjang zaman, yang begitu bijaksana dan mendatangkan kekaguman dalam pandangan dunia, tanpa harus disebutkan satu-persatu. Mereka mengajarkan bagaimana orang dapat memilih jalan yang tepat, dalam hal apa seseorang dapat dibenarkan dan menemukan kebenaran, dan mereka pun mengajarkan bagaimana caranya supaya kita dapat hidup dengan baik.
Mereka semua berbicara mengenai jalan, kebenaran dan hidup. Akan tetapi, tidak ada satupun diantara mereka yang sanggup meng-klaim dirinya sebagaimana yang dikatakan Yesus dalam Injil hari ini.
Hanya Yesus satu-satunya Pribadi yang bisa mengatakan, “Akulah Jalan. Akulah Kebenaran. Akulah Hidup“.
Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus bukanlah sekadar orang bijaksana yang menulis buku-buku pedoman bagi umat manusia. Dia bukan sekadar seorang yang dicerahkan sesudah meditasi bertahun-tahun, atau salah satu di antara guru besar dalam sejarah kemanusiaan.
Yesus, Sang Putra Allah, adalah satu-satunya Jalan, satu-satunya Kebenaran, dan satu-satunya Hidup.
Berbahagialah mereka yang telah menemukan kebenaran iman ini dalam Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Iman inilah yang akan menghantar kita kepada keselamatan kekal.
Extra ecclesiam nulla salus“, di luar Gereja tidak ada Keselamatan.
Kebenaran iman ini adalah mutlak adanya.
Tetapi, ini sama sekali tidak mengurangi penghormatan Gereja Katolik terhadap setiap hal yang baik dan benar dalam saudara-saudari seiman lainnya, maupun agama-agama lain. Injil hari ini dan pernyataan di luar Gereja tidak ada keselamatan, haruslah dimengerti secara benar, sebagaimana yang diajarkan oleh Magisterium Gereja.
Gereja mengajarkan bahwa semua orang yang bukan karena kesalahannya sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya, namun tetap mencari Allah dan mengikuti suara hati dengan tulus, bisa mencapai keselamatan kekal. Namun, orang yang telah mengakui bahwa Yesus Kristus adalah ‘Jalan, Kebenaran, dan Hidup’, tetapi tidak bersedia mengikuti Dia, tidak dapat mencapai keselamatan melalui cara lain” (bdk.YouCat).
Karena itu, “Janganlah gelisah hatimu! Jangan takut! Percaya saja!

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Pesta St. Markus, Penginjil (25 April)

image

JANGAN PERNAH LUPA MISIMU !

Bacaan:
1Ptr.5:6b-14; Mzm.89: 2-3.6-7.16.17; Mrk.16:15-20

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini (25 April), kita merayakan Pesta St. Markus, Penginjil.
Pergilah ke seluruh dunia. Beritakanlah Injil kepada segala makhluk,” demikianlah seruan Antifon Pembuka (diambil dari Mrk.16:15) Misa hari ini.
Ini adalah pesan terakhir Tuhan Yesus sebelum naik ke Surga, yang diterima oleh Gereja Katolik bukan sebagai kata-kata perpisahan biasa, melainkan sebagai Mandat Apostolik, Amanat Agung, sebagai Misi Utama dari karya kerasulannya.
Gereja Katolik bukanlah lembaga sosial atau badan amal, bukan NGO atau penjaga perdamaian biasa, bukan pula pembela hak asasi manusia atau pemerhati lingkungan belaka. Bahwa Gereja Katolik melakukan peran-peran tersebut dalam karya kerasulannya, itu memang benar.
Akan tetapi, Evangelisasi yang dilakukan oleh Gereja tidak sama dengan advertising atau marketing.
Di balik itu semua, ada motif adikodrati yang sungguh Ilahi dari semua yang dilakukannya.
Ketika Gereja Katolik merawat orang-orang sakit di rumah-rumah sakitnya; mendidik manusia dari berbagai suku, agama dan bangsa di sekolah-sekolah serta universitas-universitasnya; merawat para lanjut usia, sekarat, pengemis dan gelandangan, korban narkoba maupun kekerasan seksual, anak-anak jalanan, dan para penyandang cacat di rumah-rumah perawatan dan pusat-pusat rehabilitasinya; bahkan ketika melakukan penggalian arkeologi, penelitian ilmiah di berbagai bidang dan menjelajah luar angkasa sebagaimana dilakukan oleh berbagai lembaga risetnya; itu semua semata-mata dilakukan oleh Gereja Katolik karena kesetiaan pada Mandat Apostolik, Amanat Agung, Misi Utama yang diterimanya langsung dari Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus, yakni “pergi ke seluruh dunia untuk memberitakan Injil kepada seluruh makhluk” (bdk.Mrk.16:15).
Sangat menyedihkan manakala ada begitu banyak putra-putri Gereja saat ini yang mulai melupakan motif adikodrati, tugas Ilahi, serta panggilan kerasulan suci dalam segala karya yang kita lakukan ini.
Adalah suatu kegilaan bilamana kayu Salib, arca Tuhan dan para kudus, atau simbol-simbol Katolik lainnya harus diturunkan dari sekolah-sekolah dan rumah-rumah sakit, doa dan Misa bersama ditiadakan, bahkan mengawali semua aktivitas dengan tanda salib pun harus dikesampingkan demi toleransi yang keliru.
Toleransi menjadi salah dan membinasakan jiwa, manakala identitas ke-Katolik-an dan panggilan serta tugas evangelisasi kita justru diabaikan karenanya.
Usaha menghilangkan identitas dasar Katolik semacam itu hanyalah awal dari kesesatan yang lebih besar, yang mencoba mengerdilkan atau malah menghilangkan sama sekali jiwa misioner yang justru mendasari semua karya Allah yang dengan setia dikerjakan oleh Gereja Katolik.
Tidak mungkin kamu berkarya bagi Allah tanpa membawa pula jiwa dan misi Katolik yang diperintahkan oleh Tuhan Yesus sendiri ke dalamnya.
Hai putra-putri Gereja, jangan pernah lupa misimu! Misimu adalah memberitakan sukacita Injil kepada segala makhluk secara otentik.
Segenap hidup dan karyamu, dalam situasi apapun, dan dimanapun Tuhan menempatkan kamu, kerasulan suci ini haruslah menjadi tugas dan misi utamamu.
Kalau apa yang kaulakukan saat ini tidak memiliki semangat misioner, kehilangan identitas Katolik, membuatmu harus berseberangan atau menentang ajaran Iman dan Tradisi Suci Gereja, maka sudah pasti apa yang kaulakukan bukanlah Evangelisasi. Kamu telah jatuh ke dalam jerat dan perangkap si jahat, bapa segala dusta.
Bukan Injil yang kamu beritakan, melainkan pemahaman pribadimu yang keliru dan sesat tentang tujuan eksistensimu, baik di dunia ini maupun di dalam Gereja.
Semoga Pesta St. Markus Penginjil, yang kita rayakan hari ini, membawa kita pada kesadaran iman akan panggilan suci kita untuk berbagi sukacita Injil secara otentik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah, dan yang dengan setia diwartakan oleh Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Kamis dalam Pekan III Paskah

image

BERIMAN BAGI DOMBA-DOMBANYA

Bacaan :
Kis.8:26-40; Mzm.66:8-9.16-17.20; Yoh.6:44-51

Renungan:
Kata-kata Tuhan Yesus yang kita renungan dalam bacaan hari ini, bukanlah sekadar perumpamaan biasa. Ketika Dia mengatakan bahwa Tubuh-Nya, yaitu Sakramen Ekaristi, adalah benar-benar makanan untuk beroleh hidup kekal, itu benar-benar realisme yang tidak memerlukan interpretasi atau penafsiran. Itu bukan kiasan atau perumpamaan. Tentu saja tanpa iman, kata-kata itu kehilangan makna. Seseorang haruslah beriman untuk bisa menemukan kebenaran misteri Ekaristi.
Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?” (Kis.8:31)
Inilah panggilan Gereja, untuk membuat seluruh dunia mengerti, membimbing sebanyak mungkin orang untuk beriman dan mengambil bagian dalam harta terbesar yang dimilikinya, bukti cinta kasih Allah yang tak terbatas, yakni Ekaristi.
Selain itu, adalah penting juga untuk dimengerti bahwa tidak mungkin ada Ekaristi tanpa seorang Imam. Umat beriman senantiasa diingatkan untuk menghormati para imam, karena dari tangan kemurahan merekalah, kita menerima Ekaristi.
St. Josemaría Escrivá mengingatkan kita, “Seorang imam, siapapun dia, adalah selalu ‘Kristus yang lain’. Betapa kita harus mengagumi kesuci-murnian imamat! Itulah kekayaannya. Tidak ada satupun kekuasaan di dunia ini yang sanggup merenggut mahkota tersebut dari Gereja. Mencintai Tuhan namun tidak menghormati imam…adalah mustahil.”

Gereja saat ini berada dalam masa paling suram sejak berdirinya. Ada berbagai berbagai bentuk semangat zaman yang keliru, ada rupa-rupa penyesatan dari dalam maupun dari luar Gereja, yang mencoba membelokkan hidup beriman umat Allah dari jalan kekudusan, dari ketaatan mutlak pada kemurnian iman Gereja.
Itulah sebabnya, disaat Gereja sekarang ini berada dalam masa paling gelap dalam sejarahnya, di tengah krisis panggilan untuk menjadi seorang imam, seiring dengan itu muncul pula kebutuhan mendesak akan imam-imam yang sungguh beriman dan kudus.
Apakah ini suatu keharusan? Tentu saja.
Seorang imam pertama-tama haruslah menjadi seorang yang “mempertahankan iman” sebagaimana yang diimani oleh Gereja, seorang pribadi yang memiliki pergaulan mesra dengan Allah. Jika tidak demikian, segala karyanya akan menjadi sia-sia dan tidak berbuah. Melalui kemurnian imannya, dia dapat menghadirkan Allah dalam karyanya, dia dapat secara sempurna menjadi “alter Christi“. Bila seorang imam kurang beriman atau tidak setia pada ajaran Gereja, akan selalu ada kekurangan dalam karyanya. Menjadi lebih mendukakan lagi jika seorang imam kendati menyadari kemunduran rohani atau keadaan kurang ber-iman-annya, tetapi dengan sengaja mengharapkan Tuhan menyempurnakan apa yang kurang.
Tentu saja Tuhan dalam kerahiman-Nya sanggup melakukan hal itu, tetapi janganlah menambah luka pada Hati Kudus-Nya dengan kesengajaan yang demikian.

Seorang imam haruslah sungguh-sungguh menjadi seorang “Insan Allah“.
Ketika umat yang digembalakan sungguh-sungguh merasakan bahwa imam mereka adalah seorang Insan Allah, dalam diri mereka yang beriman itu berkobarlah sukacita Injil, bahwa pengharapan tidaklah mengecewakan, karena mereka melihat itu menjadi kenyataan, melalui hidup dan karya imam terkasih mereka.
Keseluruhan hidup beriman Gereja adalah “iman bersama“, bukan personal. Itulah sebabnya, hidup beriman para kudus yang telah mendahului kita, saudara-saudari seiman kita, dan terutama bercahaya dalam diri para imam kita, sangatlah penting agar “iman bersama” itu dapat tumbuh serta berbuah baik.
Sebenarnya, dapat pula dikatakan bahwa iman umat begitu bergantung pada iman dari para imam mereka.
Iman umat seringkali lebih rentan terhadap pencobaan, karena iman mereka sebenarnya atas satu dan berbagai cara, mendapat peneguhan dari dan dalam kebersamaan dengan hidup beriman para imam mereka.
Jika iman dari para imam kuat, demikian juga iman umat gembalaan mereka. Ibarat prajurit, umat tidak akan ragu melangkah ke dalam pertempuran, kendati lawan jauh lebih banyak, karena mereka memandang keberanian panglima perang mereka, yakni para imam, dan mereka menemukan kekuatan untuk bertempur melawan si jahat, karena melihat tidak ada ketakutan dalam diri para imam mereka.
Oleh sebab itu, setiap saat, 24 jam sehari, dan dalam situasi apapun, seorang imam dituntut untuk memiliki hidup beriman yang baik, melebihi domba-domba gembalaannya.
Dia harus memiliki hidup doa, puasa, laku tapa dan mati raga melebihi umatnya, sehingga dia dapat berdiri sebagai benteng perlindungan yang aman bagi umatnya, serta melindungi domba-dombanya dari kawanan serigala dan pencuri.
Kerinduannya untuk memenangkan jiwa-jiwa, haruslah jauh melebihi kerinduan umatnya.
Air mata dan silih yang dilakukannya bagi pertobatan dunia, haruslah tercurah lebih banyak dibandingkan air mata seorang ibu bagi pertobatan anaknya.
Dalam terang Ekaristi, dia hendaknya juga melihat hidupnya sebagai “Roti Hidup” (Yoh.6:48), seorang rasul Ekaristi, yang memecah-mecahkan dirinya, untuk “memberi mereka makan pada waktunya” (bdk.Mat.24:45; Mat.14:16).
Dia harus mengimani apa yang Gereja imani tanpa keraguan, agar dia dapat membimbing kawanan domba yang sesat untuk kembali ke pangkuan Gereja.

Seorang imam tentu saja harus dengan rendah hati mengakui bahwa sebagaimana benih panggilan, iman juga tidak dapat muncul seketika.
Iman harus dihidupi dan bertumbuh seiring dengan semakin mesranya pergaulan seorang imam dengan Allah.
Jangan pernah mengorbankan hidup doa demi karya pastoral, dan jangan pernah pula mengharapkan buah yang baik dalam karya pastoral tanpa doa.
Kesucian tanpa doa adalah mustahil, tidak ada kesucian semacam itu.
Seorang imam dapat mengajar dalam bahasa malaikat, mendirikan sekolah dan rumah sakit, membela hak-hak kaum miskin dan terpinggirkan, melawan rezim yang korup atau menjadi penasihat negara sekalipun, tetapi jika melupakan panggilan dasarnya sebagai seorang imam yang sungguh-sungguh beriman, bila kehilangan kasih dan hidup doa, semua pemberian diri dan karya pastoralnya itu sia-sia dan tak bernilai di mata Allah. Orang yang tidak beriman dan kafir pun bisa melakukan hal yang sama.
Umat beriman dapat merasakan apakah karya pastoral, pelayanan sakramental, dan pewartaan sabda seorang imam bersumber dari hidup doa yang tekun di hadirat Allah, atau hanya berasal dari rancangan manusia belaka dari balik meja kerjanya.
Semoga Allah senantiasa membangkitkan dalam diri para imam, kerinduan akan Dia, ketekunan dalam doa dan merenungkan Sabda-Nya, kesetian untuk mempersembahkan Misa bagi dunia, dan semangat yang berkobar untuk bekerja segiat-giatnya bagi Tuhan Semesta Alam.

NB:
Hari ini Bapa Suci Paus Fransiskus merayakan Pesta Nama Baptisnya (St. Georgius yang diperingati setiap 23 April). Mari kita mendoakan kesehatan Bapa Suci dan bagi intensi-intensinya di bulan ini.
Bersama Prelatur Opus Dei, kita juga memperingati Komuni Pertama (23 April 1912) dari Bapa Pendiri mereka, St. Josemaría Escrivá. Mari kita berdoa bagi para Imam Karya Allah dimanapun berada, agar mereka dapat mempersembahkan Misa Kudus setiap hari dengan setia, serta membawa umat Allah pada kerinduan dan penuh hormat untuk menerima Komuni Kudus setiap hari.

Pax, in aeternum.
Fernando