Meditasi Harian 18 November 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XXXIII

image

MELAWAN TEROR DENGAN IMAN
Peringatan Fakultatif Pemberkatan Gereja Basilika St. Petrus dan Gereja Basilika St. Paulus di luar Tembok

Bacaan:
2Mak.7:1.20-31; Mzm.17:1.5-6.8b.15; Luk.19:11-28

Renungan:
Kitab Makabe dalam bacaan Liturgi hari ini mengisahkan, bagaimana seorang Ibu bersama 7 anaknya mempertahankan Iman mereka dihadapan penguasa dan orang-orang, yang hendak menjadikan mereka murtad.
Dengan detail diceritakan bagaimana si Ibu menyaksikan sendiri, di hari yang sama, ketujuh anaknya satu-persatu menjemput ajal dengan cara yang teramat keji. Lidah mereka dipotong, kepala dikuliti hidup-hidup, tubuh dimutilasi, kemudian potongan-potongan tubuh mereka dilemparkan ke dalam kuali untuk digoreng di atas api yang membara.
Kita pun membaca kebesaran hati si Ibu, yang menghibur dan menguatkan Iman anak-anaknya, untuk bertahan dalam penderitaan yang teramat hebat itu, dimana ketujuh anak-anaknya menjemput ajal dengan sikap beriman yang begitu heroik, hingga akhirnya kemartiran yang sama dialami pula oleh Ibu mereka.

Sebenarnya, sama seperti Ibu dan ke-7 anaknya ini, demikianlah pula Gereja Katolik yang Kudus ibarat seorang Ibu, setiap hari, terlebih di masa sekarang ini menyaksikan putra-putrinya harus mengalami rupa-rupa penolakan, ketidakadilan, penderitaan, penganiayaan, bahkan tak jarang dibunuh dengan cara yang teramat keji, semata-mata karena Iman Kristiani mereka.
Di tengah segala bentuk teror dalam hidup beriman, kita semua diingatkan untuk tidak goyah dan tetap berdiri teguh dalam Iman.
Tidak ada pembenaran bagi kekerasan dengan mengatasnamakan agama.
Oleh karena itu, putra-putri Gereja senantiasa diingatkan untuk menghadirkan Kristus Raja Semesta Alam bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kesaksian cintakasih, sambil tetap berpegang teguh pada satu Tuhan, satu Iman, dan satu Baptisan, dalam Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Berbagai kecenderungan dunia saat ini pun mengingatkan kita bahwa Iman Kristiani kita adalah sesuatu yang tidak bisa dikompromikan.
Memang benar bahwa Gereja harus jeli melihat tanda-tanda zaman, untuk membaharui diri, agar selalu bisa menemukan cara-cara baru dan tepat untuk mewartakan Imannya.
Akan tetapi, semangat dan kesadaran itu tidak pernah boleh dijadikan pembenaran untuk mengedepankan gagasan teologi “kerahiman yang keliru” yang membenarkan dosa, dengan merubah Ajaran/Doktrin Iman yang telah kita pegang teguh selama hampir 2000 tahun sejak Gereja Katolik didirikan, apalagi melihat tanda-tanda zaman dan kecenderungan-kecenderungan jahat dunia ini seolah Wahyu Ilahi, untuk membenarkan diri bahwa Gereja Katolik harus masuk dan terbawa hanyut oleh arus zaman.

Tuhan Yesus Kristus Raja Semesta Alam telah mempercayakan kepada kita masing-masing rupa-rupa karunia dan talenta. Janganlah melihatnya sebagai beban, tetapi lihatlah itu sebagai tanda cinta Tuhan, yang dengan murah hati mempercayakan semuanya itu kepadamu, untuk dilipat gandakan, sehingga mendatangkan sukacita bagimu, serta dipersembahkan demi kemuliaan Allah dan Kerajaan-Nya.
Ini bukan tugas yang membebani, melainkan suatu panggilan cinta Tuhan bagi kita hamba-hamba-Nya. Santo Agustinus dalam kesadaran akan hal ini pun tanpa ragu mengatakan bahwa sesungguhnya, “Cinta tidak pernah membebani“.
Percayalah bahwa bersamaan dengan karunia dan talenta, sebesar apapun itu, Tuhan selalu menyertakan pula rahmat dan kebijaksanaan yang cukup, asalkan kita pun memiliki penyerahan diri total dan cinta bakti yang seutuhnya kepada-Nya.

Semoga Santa Perawan Maria dari Lourdes, Pelindung Perancis dan seluruh dunia, menyertai kita dengan doa-doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita senantiasa menimba dari aliran air kehidupan kekal yang mengalir dari Hati Kudus Putra-Nya, sehingga kita dapat selalu berdiri teguh dalam Iman, melayani dan mengusahakan segala karunia dan talenta dari-Nya dengan hasil yang berlipat ganda, serta menghadirkan Kerajaan Allah di dunia ini bukan dengan kekerasan dan teror, melainkan dengan kuasa Cintakasih.

Regnare Christum volumus!

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 5 Oktober 2015 ~ Senin dalam Pekan Biasa XXVII

image

AKU TELAH DITEMUKAN – MAKA KINI AKU MENEMUKAN

Bacaan:
Yun.1:1-17 dan 2:10; MT Yun.2:2.3.4.5.8; Luk.10:25-37

Renungan:
Injil hari ini mengajak kita merenungkan pertanyaan penting ini, “Siapakah sesamaku?

Kisah Orang Samaria yang murah hati (The Good Samaritan) mungkin adalah salah satu bagian paling indah dan menyentuh hati dari Injil Tuhan kita Yesus Kristus.
Kebanyakan dari para Bapa Gereja maupun Penulis Kristiani awali mengatakan bahwa Orang Samaria yang murah hati itu adalah lambang Tuhan Yesus Kristus sendiri. Pria yang jatuh ke tangan para penyamun adalah gambaran kemanusiaan, kita semua yang jatuh ke dalam dosa asal dan dosa-dosa pribadi, luka yang merenggut kita dari keabadian, dan memenuhi sekujur tubuh kita dengan rupa-rupa borok serta kecenderungan jahat. Para penyamun adalah si jahat, yakni setan dan roh-roh jahat yang menjadi kaki tangannya. Orang Lewi dan seorang Imam melambangkan  umat Perjanjian Lama, yang tidak dapat menyembuhkan luka sedemikian, dan seringkali berbangga dengan status bangsa pilihan, enggan berhenti dan memilih lewat begitu saja, seolah tidak mau peduli dengan mereka yang dianggap “bukan sesama“.
Tempat penginapan adalah lambang Gereja yang Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, yang dipercayakan Tuhan menerima “siapapun” yang mencari perlindungan dan keselamatan.

Dapatkah kita membayangkan seandainya Orang Samaria yang murah hati dalam kisah Injil memilih untuk tinggal berdiam di Rumah-Nya dan tidak keluar untuk melakukan perjalanan melewati jalan tempat para penyamun merampok pria yang malang itu?
Demikian pula hidup kita.
Dalam diri Yesus, Putra-Nya, Allah telah turun dari surga dan masuk ke dalam dunia. Ia keluar ke jalan, mengosongkan diri ke dalam peredaran waktu, untuk mengambil rupa seorang manusia.
Dan tidakkah menggembirakan dan mendatangkan rasa syukur tak terhingga, bahwa Ia menemukan Anda sekalian dan saya, yang bagaikan seorang yang disamun, terbaring sekarat di jalan karena dosa, dipenuhi luka-luka kerapuhan dunia ini?

Inilah keindahan cinta Tuhan.
Dia menemukanmu, mengangkatmu yang sekarat akibat dosa dari jalan-jalan dunia ini, kemudian dengan penuh kasih Ia membalut lukamu, lalu mempercayakanmu pada pemeliharaan Gereja-Nya untuk dirawat, untuk dipulihkan dan hidup dalam segala kepenuhan rahmat, sampai tiba saat yang membahagiakan, yakni kedatangan-Nya yang kedua kali. Saat dimana Dia akan mengajakmu ke Rumah-Nya, untuk tinggal selamanya bersama Dia.

Jadi, jikalau Tuhan yang melihatmu terbaring sekarat di jalan, tidak berlalu begitu saja, tetapi berhenti untuk merangkulmu sebagai “sesama“, maka demikian pula kamu hendaknya melihat setiap orang, siapapun dia tanpa kecuali, sebagai “sesama“.
Injil hari ini berbicara dengan begitu kerasnya untuk mengingatkan mereka yang bersikap acuh tak acuh terhadap dunia, sibuk mencari kenyamanan dan keamanan diri; yang menutup mata terhadap mereka yang harus mengungsi karena peperangan; yang menderita karena kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan; menjauhi mereka yang dianggap berdosa dan dibenci oleh masyarakat; menganggap diri umat pilihan dan berbangga dalam keburukan hati dan kerapuhan jiwa.

Injil hari ini mengingatkan kita semua. Sebagaimana kita sekalian telah ditemukan dan diselamatkan Tuhan, demikian pula kita dipanggil untuk menemukan sesama kita di sepanjang jalan hidup kita. Kekristenan adalah panggilan untuk menjadi Orang Samaria yang baik hati, sama seperti Kristus sendiri. Kita dipanggil untuk mendatangkan penyembuhan, damai dan sukacita bagi dunia ini, bukan sebaliknya. Kita diutus ke dalam dunia untuk menjadi saksi-saksi Cinta.
Inilah tanggung jawab kerasulan kita sebagai putra-putri Gereja Katolik. Panggilan suci untuk menemukan jiwa dan memelihara jiwa karena dorongan Cinta.
Tuhan memanggilmu tepat di tengah pekerjaan, aktivitas, dan situasi hidupmu saat ini. Bukan untuk meninggalkan semua itu, tetapi menjadikan semuanya itu sebagai sarana keselamatan, sebagai jala untuk menangkap jiwa bagi Tuhan.
Memang ini menuntut keberanian untuk keluar dari ke-Aku-an, menuntut pengorbanan dan totalitas. Oleh karena itu, mohonkanlah selalu karunia yang sama dari Sang Cinta, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dan dikobarkan oleh Cinta Allah.
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk.10:27)

Kiranya dalam Gereja Katolik akan selalu ditemukan pintu yang terbuka dan hati yang mencinta. Gereja bukanlah menara gading yang kehilangan sentuhan akan dunia.
Lebih baik Gereja itu memar dan kumal karena orang-orangnya keluar ke jalan-jalan dunia ini untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, daripada menutup pintu rapat-rapat karena tidak mau dicemari oleh mereka yang dicap pendosa, yang menutup keran-keran keselamatan dari mereka yang datang mencari kelegaan.
Memang lebih mudah menunjuk jari dan menjatuhkan penghakiman, lebih nyaman dan aman melihat kebobrokan dunia ini, kemudian terus berjalan tanpa mau peduli.
Kita dapat saja menolak mencinta dan membawa seruan pertobatan serta cahaya keselamatan seperti penolakan untuk diutus sebagaimana dilakukan oleh Nabi Yunus dalam bacaan pertama hari ini.
Tetapi, itu bukanlah Kekristenan.
Kita tidak ditempatkan disini secara kebetulan, bukan untuk menjadi penonton dari kejahatan dan kegelapan dunia. Kekristenan menuntut keberanian untuk membawa cahaya, sekalipun untuk bersinar seperti lilin kita harus kehilangan hidup. Kekristenan adalah panggilan untuk mencintai sesama sampai terluka, untuk kehilangan hidup demi memberi hidup, sebagaimana telah lebih dulu dilakukan oleh Tuhan dan Penyelamat kita.
Hidup beriman kita menuntut keberanian untuk setiap hari menjawab “Ya” kepada Allah, dan dengan lantang berkata, “Ini aku, Tuhan. Utuslah aku.
Semoga dalam hidup dan karya putra-putri Gereja, dunia akan selalu menemukan orang-orang Samaria yang murah hati, sehingga Kekristenan bukan sekadar ajaran atau konsep hidup ideal dan berada di awan-awan, melainkan satu-satunya jawaban atas dunia ini, dimana orang dapat menemukan kebenaran dan hidup.
Hidupmu adalah karena kasih karunia.
Kamu telah ditemukan Tuhan dan diberi hidup. Kini saatnya kamu menemukan sesamamu untuk memberi mereka hidup.
Semoga Perawan Suci Maria, Hawa Baru, Ibu dari semua yang hidup, selalu menyertai kita di jalan dan lorong-lorong dunia ini, serta memberi kita kekuatan karena doa dan kasih Ke-Ibu-annya, agar kita semakin menjadi orang-orang Samaria yang murah hati bagi sesama, demi kemuliaan Allah.

+++ Fidei Defensor ~ Fernando +++

Meditasi Harian 29 Juli 2015 ~ Rabu dalam Pekan Biasa XVII

image

WANITA DALAM KELUARGA DAN GEREJA

29 Juli 2015: Peringatan St. Marta, Perawan & Sahabat Yesus

Bacaan:
Kel.34:29-35; Mzm.99:5,6,7,9; Yoh.11:19-27 atau Luk.10:38-42

Renungan:
Yesus begitu dekat dengan Marta, Maria, dan Lazarus. Rumah mereka merupakan tempat yang dipenuhi kehangatan cinta, dimana Tuhan Yesus boleh beristirahat sejenak di tengah segala karya-Nya. Mereka adalah “keluarga-Nya“.

Karena itu peringatan St. Marta mengingatkan keluarga-keluarga Kristiani akan panggilan luhurnya, untuk menjadi tanah yang subur bagi pewartaan sukacita Injil.
Keluarga-keluarga Kristiani harus selalu memiliki pintu yang terbuka bagi Tuhan, dan sesudah membuka pintu rumah mereka bagi-Nya, tidak pernah boleh lupa bahwa sukacita mereka bersama Tuhan adalah sukacita Injil yang harus senantiasa dibagikan, disaksikan, dan diwartakan dari “bubungan atap” (dengan berbagai cara, dan dalam berbagai kesempatan).

Kenyataan bahwa Tuhan kita juga begitu dekat dgn St. Marta dan wanita-wanita kudus di sekitar-Nya, menunjukkan bahwa sejak awal kaum wanita sungguh memiliki peran penting dalam perkembangan Gereja.
Meskipun seringkali karya atau pelayanan kaum wanita terlihat sederhana, tersembunyi, bahkan diabaikan atau disalahmengerti, Gereja justru tumbuh juga karena pemberian diri total dan ungkapan kerendahan hati mereka.

Semoga akan selalu ada wanita-wanita Kudus yang mencintai Keluarganya, setia pada suami dan membesarkan anak-anaknya dalam nilai-nilai Kristiani yang sejati, serta menyertai para Uskup dan Imam kita di masa sekarang ini secara “tepat dan bijaksana” melalui doa, puasa, kurban silih, mati raga, pelayanan kasih, dan segala karya baik lainnya, seturut teladan St. Marta yang kita peringati hari ini.
Santa Perawan Maria, Santa Marta, dan para Wanita Kudus, doakanlah kami.

Pax, in aeternum.
Fernando

Meditasi Harian ~ Selasa dalam Pekan VII Paskah

image

DUNIA TIDAK PERLU MENGENAL KAMU

Bacaan:
Kis.20:17-27; Mzm.68: 10-11.20-21; Yoh.17:1-11a

Renungan:
Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh.17:3)

Doa dan kerinduan Yesus ini hendaknya selalu menjadi doa dan kerinduan setiap orang yang menyebut diri “rasul Kristus“, atau “hamba Tuhan“.
Meskipun terkadang sulit di-Amin-kan oleh sebagian orang yang dengan bangga menyandang sapaan “hamba Tuhan“, sebenarnya suka atau tidak, siapapun yang memberi diri bagi karya kerasulan dan pelayanan Kristiani, harus menyadari kebenaran ini, yakni bahwa sukacita terbesar dari karya kerasulan dan pelayanan kita hanya bisa ditemukan dan mencapai kepenuhannya ketika “Kristus” semakin “dikenal“, dan “kita” yang melayani Dia, semakin “tidak dikenal“.

Dunia tidak perlu mengenal kamu. Kristus-lah yang harus mereka kenali di dalam dirimu, di dalam hidup dan karyamu, di dalam pelayananmu, di dalam setiap tugas pekerjaanmu, di dalam keluargamu, di dalam setiap langkah dan menit-menit kehidupanmu.
Kalau karya kerasulanmu berhasil memenangkan jiwa-jiwa bagi Allah, jangan pernah sekali-kali berpikir bahwa itu adalah jasa-jasamu.
Kalau pewartaan sukacita Injil yang kamu lakukan mengobarkan hati dan menyentuh kedalaman jiwa pribadi-pribadi yang mendengarkannya, singkirkanlah jauh-jauh dari pikiranmu bahwa itu karena kekuatan, kehebatan, atau kebijaksanaanmu semata, apalagi sampai tergoda untuk berpikir seakan-akan Tuhan tidak dapat bertindak tanpa kamu, atau karya keselamatan-Nya hanya dapat berbuah secara maksimal melalui kamu.

Salah satu kejatuhan terbesar dari rasul-rasul Kristus ialah ketika melupakan tujuan utama kerasulannya, yaitu agar Tuhan semakin besar, dan dia semakin kecil. Tuhanlah yang harus semakin dikenal, dicintai, dan dimuliakan. Tanpa kesadaran akan tujuan ini, seorang “hamba Tuhan” dapat jatuh dalam kelekatan, kesombongan dan pemuliaan diri, menjadi budak uang dan kerakusan, bahkan nabi-nabi palsu yang menyerukan nama “Tuhan“, padahal hatinya telah digelapkan menjadi seperti “iblis” yang menyamar sebagai “malaikat terang“.
Jangan sampai orang-orang lebih mengenal kamu dengan segala borok-borokmu, dan justru tidak bisa melihat sedikitpun cahaya kemuliaan Tuhan yang bersinar di dalam dirimu.

Mohonkanlah dalam hari-hari Novena Roh Kudus ini, karunia kerendahan hati dan kebijaksaan Ilahi, sehingga kita selalu disadarkan akan kerapuhan kita yang bagaikan bejana tanah liat, senantiasa diingatkan bahwa kita hanyalah alat, bagaikan kuas di tangan pelukis, untuk membiarkan Roh Allah berkarya seluas-luasnya dan menggerakkan kita untuk menghasilkan lukisan yang indah.
Pada akhirnya, bukan lukisan indah itu yang dipuji, bukan pula kuasnya yang dimuliakan, melainkan Sang Pelukis-lah yang dipuji dan dimuliakan.
Sukacita kita adalah dapat mengambil bagian dalam kemuliaan-Nya, dan pada akhirnya beroleh kekekalan di Surga.

Pax, in aeternum.
Fernando

HARI RAYA SANTO YOSEF, SUAMI SANTA PERAWAN MARIA

image

Bacaan I
2 Samuel 7: 4-5a.12-14a.16
Mazmur Tanggapan
Mazmur 89: 2-3,4-5,27,29
Bacaan II
Roma 4: 13,16-18,22
BACAAN INJIL
Matius 1: 16.18-21.24a
atau
Lukas 2: 41-51a

Renungan:
Bersama Gereja Katolik sedunia, hari ini kita merayakan Hari Raya Santo Yosef, Suami dari Santa Perawan Maria dan Bapa Pemelihara dari Tuhan kita Yesus Kristus.
Sesudah Santa Perawan Maria, Santo Yosef adalah orang Kudus terbesar dan paling dihormati dalam Gereja.
Kenapa Gereja begitu menghormati St. Yosef, bahkan menjadikannya sebagai Pelindung Gereja universal?
Dalam Kitab Suci sendiri, tidak pernah tercatat sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef.
Kalau demikian, dimanakah letak kebesaran St. Yosef?
Kebesaran St. Yosef nampak dalam penyerahan dirinya secara total kepada kehendak Allah, tanpa banyak bicara. Dialah hamba yang lurus, bijaksana, tekun, dan setia. Dengan penuh tanggung jawab, St. Yosef memelihara Keluarga Kudus, menjaga serta melindunginya.
Kitab Suci mencatat betapa lurusnya hati St. Yosef, yang ketika mengetahui bahwa St. Maria sudah mengandung sebelum mereka berumah tangga, hendak menceraikannya secara diam-diam, karena tidak ingin mempermalukan St. Maria dan tidak ingin mendatangkan fitnah dan bahaya lainnya atas Perawan Suci.
Kitab Suci juga mencatat bagaimana St. Yosef bergumul dalam Tuhan, untuk sungguh-sungguh memikirkan keputusannya, membawanya dalam doa setiap hari.
Karena itu, manakala malaikat Tuhan menampakkan diri untuk memberitahukan bahwa St. Perawan Maria telah mengandung dari Roh Kudus, dalam kesetiaannya kepada Allah, St. Yosef menerima tugasnya untuk menjadi Bapa Pemelihara Keluarga Kudus.
Salah satu ujian terakhir St. Yosef, yang juga tercatat dengan begitu indahnya dalam Kitab Suci, adalah peristiwa diketemukannya Kanak-kanak Yesus di Bait Allah, setelah dengan susah payah dicari selama tiga hari. Untuk kesekian kalinya, tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut St. Yosef. Dalam keheningan, sekali lagi dia menunjukkan kebijaksanaan sejati yang tidak sedikitpun mempertanyakan rancangan Tuhan. Tanpa kata-kata, seluruh hidup St. Yosef adalah suatu pemberian diri yang total dan kepercayaan tanpa batas kepada Penyelenggaraan Ilahi.
Kenyataan bahwa St. Yosef melakukan semuanya itu di dalam suatu kegelapan iman, dan keberaniannya untuk melangkah di dalam gelap, menunjukkan betapa cahaya Tuhan bersinar begitu cemerlang di dalam hatinya, sehingga malam tidak lagi gelap baginya.

Bagi kita di masa sekarang ini, St. Yosef adalah teladan beriman. Bagi para pekerja, St. Yosef adalah teladan bagaimana menunaikan segala tugas dan tanggung jawab dengan hasil akhir yang mengagumkan dan mendatangkan pujian bagi karya Allah. Bagi keluarga-keluarga Kristiani dalam dunia yang serba instan dan modern ini, St. Yosef sungguh menjadi gambaran sempurna dari keluhuran Sakramen Perkawinan. Ketika menerima St. Maria yang mengandung dari Roh Kudus, dan kendati bukan ayah biologis dari Tuhan Yesus, perhatian dan kasih sayang yang total dari St. Yosef, menjadi tamparan bagi banyak pasangan hidup dewasa ini yang dengan mudahnya menyerah di saat mengalami berbagai tantangan dan badai pergumulan hidup. St. Yosef mengingatkan kita bahwa cinta yang sejati adalah cinta yang tak bersyarat. Kenyataan bahwa St. Maria tetap Perawan sesudah menikah sampai wafatnya St. Yosef, sekali lagi menjadi refleksi Iman bagi keluarga-keluarga Kristiani maupun bagi mereka yang menjalani hidup berelasi hanya sebagai sarana pemuas hawa nafsu belaka, bahwa cinta yang sejati tidak harus memiliki.

Hari Raya St. Yosef mengajak kita untuk melihat kembali nilai-nilai luhur dari Sakramen Perkawinan, akan hidup sebagai keluarga Kristiani yang sejati, serta bagaimana menjadi hamba Allah yang lurus, tekun, setia, dan bijaksana, sehingga pada senja hidup kita, sebagaimana St. Yosef, kita pun boleh mendengar suara lembut dari surga yang menyambut kita, “Bagus, engkau hamba yang baik dan setia. Masuklah ke dalam kebahagiaan Tuhanmu.” (Antifon Komuni bdk. Mat.25:21)

Terpujilah nama Yesus, Maria, dan Yosef, sekarang dan selama-lamanya.

Pax, in aeternum.
Fernando

Cinta… cinta… cinta…

MINGGU BIASA VII ( Tahun Liturgi – A )

Bacaan I – Imamat 19: 1-2. 17-18

Mazmur Tanggapan – Mzm.103: 1-2. 3-4. 8. 10. 12-13

Bacaan II – 1 Korintus 3: 16-23

Bacaan Injil – Matius 5: 38-48

 

CINTA…CINTA…CINTA…

Saudara-saudari terkasih,

Dalam salah satu tradisi suci Kristiani diceritakan bahwa, di usia senjanya, Rasul Yohanes ditanya oleh murid-muridnya, “Guru, kenapa setiap hari engkau hanya berbicara tentang Cinta, cinta, dan cinta? Apakah tidak ada hal lain yang diajarkan oleh Yesus selain Cinta?” Dengan penuh kelembutan hati seorang bapa, Rasul Yohanes menjawab, “Karena dari seluruh ajaran Yesus, tidak ada satupun yang lebih penting selain Cinta, cinta, dan cinta.”

Hari ini Yesus memberi suatu Hukum Baru untuk menyempurnakan hukum yang lama. Pernyataan sabda, “Mata ganti mata dan gigi ganti gigi,” (Mat.5:38b) tidak boleh semata-mata dilihat sebagai pembenaran terhadap pembalasan dendam, melainkan sebenarnya hendak mengingatkan umat Allah di masa Pejanjian Lama, yakni mereka yang mengenal Allah dengan pemahaman yang sangat terbatas, bahwa pembalasan dendam ada batasnya, sebab dari semula kebencian dan dendam bukanlah kehendak Allah, jangan sampai kita menuruti dorongan kebencian dalam diri kita, sehingga pada akhirnya, kita melakukan tindakan yang justru berakibat putusnya relasi kita dengan Allah dan sesama. Sebab, sebagaimana kata pemazmur, “Tuhan itu pengasih dan penyayang, lambat akan marah dan penuh kasih setia.” (Mzm.103:8) Berulang kali Allah memperkenankan manusia mengenal Dia, agar sebagaimana Dia dikenal, demikian juga manusia, yang diciptakan oleh-Nya dan secitra dengan-Nya, seharusnya dikenal. Dengan perantaraan Musa, Allah kembali mengingatkan umat kesayangan-Nya dengan berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku ini Kudus. Janganlah engkau membenci saudaramu di  dalam hatimu…melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (bdk.Im.19:2.17-18) Kita kembali diingatkan akan kemurnian panggilan kita. “Panggilanku adalah Cinta,” demikianlah kata St. Theresia dari Lisieux. Bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini bagaikan sebuah jendela bagi kita untuk melihat ke dalam hati Tuhan, asal segala Cinta, dan serentak tersungkur dalam keharuan dan rasa malu yang mendalam dalam kesadaran akan ketidaksempurnaan kita. Pesan Injil hari ini, “haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu di surga sempurna adanya,” (Mat.5:48) merupakan panggilan untuk membentuk diri kita hari demi hari agar semakin serupa dengan-Nya, suatu panggilan yang menuntut kita untuk melepaskan segala sesuatu, entah dosa, kenginan-keinginan pribadi, kelekatan, dan segala hal lain yang di luar Allah, suatu panggilan untuk mengosongkan diri dari dunia, serta memenuhi diri kita dengan Allah dan kehendak-Nya. Karena belas kasih-Nya, Allah telah mengijinkan saudara dan saya untuk mendekati Dia dalam kelimpahan cinta. Namun, untuk bersatu secara sempurna dengan-Nya dalam cinta, adalah penting bagi kita untuk memahami hakekat Cinta Sejati di dalam Dia, yang berbeda dengan cinta semu yang ditawarkan oleh dunia.

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Cinta selalu siap untuk terluka & mengampuni

Pertama. Cinta sejati selalu siap untuk terluka. Cinta tanpa luka, bukanlah cinta. Cinta tanpa salib, bukanlah cinta. Cinta tanpa kerelaan untuk melepaskan, bukanlah cinta. Sama seperti Yesus yang mengosongkan diri dari ke-Allah-an-Nya dan mengambil rupa seorang hamba, demikianlah kita diminta untuk mengosongkan diri dari segala ke-Aku-an dan membiarkan kehendak Allah memenuhi diri kita. Sama seperti Kristus yang terluka, dimana semakin paku menghujam menembus tangan dan kaki-Nya, yang ada bukan kekurangan cinta melainkan kelimpahan cinta, demikianlah juga hendaknya kita. Kesejatian cinta kita semakin sempurna bilamana kita menerima segala luka, ketidakadilan, fitnah, hinaan, perlakuan kasar, dan berbagai kemalangan lainnya yang ditimpakan kepada kita oleh sesama kita, serta membiarkan luka cinta ini menghantar kita pada hakekat cinta yang kedua, yakni, mengampuni. Cinta sejati selalu bersedia untuk mengampuni. Pengampunan bagi jiwa merupakan suatu obat ilahi yang memurnikan jiwa dan memampukannya untuk mencintai tanpa syarat dan tanpa batas. Sama seperti Kristus, yang selalu dan selalu mengampuni, demikian juga hendaknya kita. Keengganan untuk mengampuni sama artinya dengan tunduknya jiwa pada belenggu setan, membiarkan diri kita untuk dirantai oleh amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan bagaikan kunci yang membebaskan kita dari belenggu dosa, yang membuat kita terlepas dari rantai amarah, kebencian dan dendam. Pengampunan mengubah kemanusiaan kita yang rusak karena dosa, menjadi sempurna dalam segala keutuhannya. Bilamana kita sungguh-sungguh menerima hakekat cinta ini, dan hidup di dalam kesejatian cinta yang demikian, maka pada saat itulah kita menjadi sempurna, sama seperti Bapa adalah sempurna.

Saudara-saudari terkasih,

Sejak awal, Kekristenan telah menjadi penyangkalan terhadap dunia. Nilai-nilai Kristiani serta berbagai tuntutan moral yang terkandung dalam panggilan Kristiani, seolah bertentangan dengan dunia ini. Kita dipanggil untuk merasul di tengah dunia, yang awalnya tercipta karena Cinta, tetapi yang sekarang memalingkan wajahnya dari Sang Cinta. Perang saudara, pembunuhan massal, diskriminasi, kemiskinan dan kelaparan, aborsi, perceraian, hubungan bebas dan narkotika, semuanya seolah menjadi tanda zaman bahwa dunia ini semakin kehilangan arti Cinta yang sejati. Di tengah semuanya ini, kita semua dipanggil sebagai putra-putri Sang Cinta, untuk menjadi tanda yang menimbulkan perbantahan, sekaligus menjadi tanda iman dan seruan pertobatan, agar dunia ini, yang telah dibawa si jahat ke dalam jurang kegelapan yang dingin karena ketiadaan cinta, kelak boleh kembali dihangatkan oleh kobaran api cinta. Jadilah pelita-pelita yang dengan segala daya upaya dan karya, membawa cahaya bagi sesama. Semoga Perawan Tersuci Maria, Bunda Gereja, senantiasa memohonkan karunia-karunia Roh Kudus bagi hidup dan karya kita, agar karenanya, kita boleh mendatangkan api yang membakar seluruh dunia dalam nyala api cinta. (By: Verol Fernando Taole)